Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Memalukan


__ADS_3

Tangan kiri tuan Angga menekan punggung ku. Membawa ku semakin merapat di tubuhnya, membuat tubuh kami menempel tanpa jarak. Tubuh tuan Angga memberikan kehangatan yang belum pernah ku rasakan. Sebuah kedekatan yang mengikat batin kami. Sebuah kenyamanan yang tak ingin berakhir.


Setelah beberapa saat bergumul dalam ******* bergelora, nafas kami pun memburu seperti baru berlomba lari marathon. Aneh nya itu tidak membuat kami berhenti. Seperti ada dorongan primitif dari dalam tubuh kami masing- masing. Aku telah kehilangan rasa canggung. Tanpa ada rasa malu aku pun semakin gencar membalas tiap pilinan, hisapan dan kecupan bibir tuan Angga. Sebuah petualangan yang menuntun tubuh kami saling mengekplorasi.


Tuan Angga mengabsen rongga mulut ku. Saat itulah kurasakan ada sesuatu menggelegak dalam diri ku. Perasaan panas menggelora. Rasa bahagia yang membuncah. Membuat ku semakin berani mengeluarkan desahan kenikmatan.


Namun gelora panas itu tiba- tiba terhenti saat tiba- tiba saja...


'Kruyuk....kruyuk...'


Ada bunyi memalukan keluar dari perut ku. Membuat ku segera menjauhkan diri dari tuan Angga.


"Maaf," kata ku menahan malu. Aku sudah tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi wajah ku. Pasti sudah bersemu merah padam karena kejadian tadi. Kenapa perut ku tidak mau kompromi sih? Padahal lagi seru- serunya kami bercumbu.


"Kamu belum makan?" Tanya tuan Angga dengan penuh pengertian. Sepertinya ia tidak merasa terganggu atau marah. Tuan Angga dengan santai bisa memberikan perhatian nya pada ku.


"Belum," aku menggelengkan kepala. Aku masih terus tertunduk malu. Bagaimana kalau tuan Angga ilfil pada ku? Gara- gara perut ku berbunyi tiba- tiba?


"Honey, gak usah malu. Perut berbunyi bukan aib kok. Aku pesankan makanan ya biar diantar ke sini." Kata tuan Angga menawarkan diri.


"Tadi pagi, makanan sudah diantar ke kamar emak. Sebaiknya aku ambil makanan ke sana saja. Lagian mereka pasti menunggu ku." Kata ku seraya beranjak dari duduk. Namun tangan tuan Angga menahan ku.


"Sudah disini saja, Emak dan adik- adik mu tidak akan menunggu. Mereka sudah diantarkan ke mall untuk belanja." Kata Tuan Angga dengan penuh kemenangan.


"Tanpa aku?" Tanya ku keheranan.


"Ya... karena aku memerlukan mu sekarang." Senyuman penuh hasrat tuan Angga langsung membuat ku malu setengah mati. Bagaimana mungkin aku begitu menikmati ciuman monster ini?


Tidak berapa lama, petugas hotel mengantarkan sarapan yang sudah kesiangan ke kamar ku. Aku tidak tahu nama- nama makanan pesanan tuan Angga. Ada mie goreng, tapi bentuknya lebih mirip cacing tanah, dimasaknya tanpa kecap. Membuat ku tidak berselera untuk memakannya. Untungnya ada nasi komplit dengan ayam goreng krispi, oseng- oseng jamur, lalapan, juga sambal matah. Seketika membuat air liur ku menetes saat melihatnya.

__ADS_1


"Udah makan saja." Kata tuan Angga menyuruh ku untuk segera makan.


"Darling... tidak makan?" Tanya ku berbasa- basi demi kesopanan. Ternyata basa-basi ku malah menjadi penyesalan ku.


"Suapi aku pake tangan!" Tuan Erlangga tersenyum puas saat melihat keterkejutan ku.


Akhirnya aku makan juga dengan sambil sesekali menyuapi tuan Angga. Seperti tidak bisa kenyang, tuan Angga terus membuka mulutnya saat ia minta disuapi. Aku benar- benar seperti baby sister dengan bayi besar. Akhirnya semua makanan ludes, masuk ke dalam perut kami. Setelah ku bereskan piring- piring bekas makanan kami, aku pun mencuci tangan di wastafel.


Tanpa ku sadari tuan Angga sudah memeluk ku dari belakang. Dan membisikkan kata- kata yang membuat hati ku menghangat.


"Aku akan menikahi mu." Kata- kata tuan Angga membuat ku tersipu malu. Aku sangat bersyukur dalam hati. Setidaknya hubungan paksaan ini sah dimata agama dan mendapat Ridho dari Allah SWT. Aku mengeringkan tangan ku dengan hand dryer di samping wastafel.


Tangan kekar tuan Angga membalikkan tubuh ku, hingga kami berhadap- hadapan.


"Kamu senangkan akan segera ku nikahi?" Tanya Tuan Angga seperti memastikan perasaan ku. Aku hanya bisa mengangguk lemah.


"Kenapa sepertinya engkau tidak senang aku nikahi? Apakah engkau takut ketahuan sudah tidak perawan?"


Aku tidak berani untuk marah. Aku hanya menundukkan kepala menahan nya. Kalau pun aku membela diri, aku tidak siap kalau mendapat olok- olok nya lagi.


"Kenapa kamu tidak menjawab ku?" Tanya tuan Angga tidak sabar. Membuat ku menarik nafas panjang. Kenapa juga dia memaksakan kehendaknya atas diri ku. Kalau ia meragukan ku? Bukankah harus nya aku yang mempertanyakan tentang status nya yang tidak jelas?


"Darling kalau mau cari istri baik- baik bukan kah sebaiknya menyelidiki latar belakang calon terlebih dahulu? Setidak nya Darling tidak akan salah pilih."


Kata ku dengan masih mempertahankan untuk tidak menatap mata Tuan Angga.


"Ya... aku sudah menyelidiki mu luar dalam. Aku yakin tidak akan salah pilih." Kata tuan Angga dengan senyum simpul nya yang ambigu. Aku segera mencari kebenaran dari kata- kata tuan Angga. Apakah ia benar- benar jujur atau hanya gurauan. Kulihat ada tekat yang kuat dimata hitam pekat nya, tidak ada kebimbangan di sana. Tapi ada perasaan yang mengganggu ku. Sebuah rasa minder.


"Darling, engkau yakin akan menikahi gadis miskin seperti aku?" Tanya ku meyakinkan hati ku yang kembali bimbang.

__ADS_1


"Ya... aku sangat yakin, kau adalah calon istri terbaik." Katanya sambil mencuri kesempatan mengecup bibir ku.


Ada pertanyaan yang masih mengganggu fikiran ku. Hari ini aku harus tahu segala sesuatunya. Aku memberanikan diri mendorong dada nya agar ia berhenti menciumi ku.


Setelah lepas dari cumbuannya aku segera mengungkapkan pertanyaan yang selama ini mengganggu ku. "Ba... gai mana istri pertama mu? Apakah ia sudah tahu kalau Darling mau menikah lagi?" Tanya ku memberanikan diri menekan rasa takut yang tiba- tiba datang menyergap ku.


"Kamu kan istri simpanan ku. Bagaimana mungkin aku memberitahukannya pada istri pertama ku? Apakah kamu merasa terancam?" Tanya tuan Angga dengan pandangan penasaran.


"Ya... aku takut, bagaimana kalau dia menjambak dan mencakar wajah ku?" Tanya ku kembali dengan tidak bisa menyembunyikan ketakutan ku.


"Makanya kita harus sangat hati- hati agar tidak ketahuan oleh nya." Kata tuan Angga sambil terus menciumi bibir ku. Aku mengangguk seperti kerbau dicucuk hidungnya. Ya, dari awal ini keputusan ku dan beberapa waktu ini bantuan tuan Angga buat keluarga ku telah membuat ku berhutang budi.


Saat ada kesempatan lepas dari pagutannya, aku tidak membuang waktu untuk bertanya lagi pada nya.


"Seperti apa istri pertama Darling, Apakah ia cantik?" Tanya ku penasaran.


"Ya... ia sangat cantik, ia lebih tua dari ku, ia sangat posesif dan mandiri." Kata tuan Angga mengulum senyum. Membuat ku merasa seperti wanita yang diselingkuhi.


"Kalau kau ingin mendapat perhatian lebih dari ku. Kau harus berusaha lebih keras. Melayani ku dengan baik dan pastinya kamu harus bisa memuaskan ku." Kata- kata tuan Angga membuat ku serba salah.


"Ti... tidak, aku tidak akan bersaing dengan istri pertama mu. Karena dia lebih berhak atas diri mu. Aku hanya akan berusaha memberikan apa yang ia tidak bisa berikan pada mu." Kata ku takut sekaligus ada perasaan bersalah menyelinap hadir dalam hati ku.


"Hemmmm jadi kau sudah menyerah?" Tuan Angga terlihat gemas pada jawaban ku hingga ia mengucak pucuk kepala ku.


"Bu.. bukan begitu Darling, aku sadar posisi ku hanya wanita simpanan. Yang kau perlukan saat engkau butuh. Aku tidak mau jadi Pelakor juga. Aku sudah puas dengan posisiku ini." Kata ku serba salah. Hati ku mengingkari kata- kata yang kuucapkan. Karena aku hanya wanita biasa yang sebenarnya tidak rela untuk di dua kan. Aku ingin menjadi wanita satu-satu nya dalam hati tuan Angga. Apakah aku egois? Ya mungkin itulah diri ku sekarang. Saat ada seorang pria menunjukkan perhatiannya pada ku. Menjadi malaikat penolong saat aku membutuhkan pertolongan. Pria dengan sejuta pesona memberikan sentuhan kemesraan yang belum pernah ku dapatkan dari siapa pun. Apakah aku akan rela membagi nya?


"Kalau begitu tidak masalah, kalau ada wanita lain? Aku bisa mengambil beberapa wanita simpanan lain?" Tanya tuan Angga menguji ku.


"Cukup aku saja!" Spontan ku jawab. "Jangan lagi ada wanita lain! Aku akan membuat darling merasa cukup dengan ku saja." Dengan tegas ku katakan tekat ku.

__ADS_1


"Kalau begitu, tunjukkan kalau Honey bisa membuatku merasa cukup dan tidak perlu wanita lain!" Kata- kata tuan Angga memprovokasi diri ku. Dengan nekat dan penuh tekat segera ku kecup bibirnya.


__ADS_2