
Tuan Angga semakin mengetatkan pelukannya. Hingga tidak ada jarak tersisa antara kami. Tubuh tuan Angga yang tinggi tegap, serta merta menenggelamkan tubuh ku yang mungil. Ya... pelukan tuan Angga begitu hangat membuat ku terbuai dengan kenyamanan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya.
"Honey, Sore ini kita menikah." Bisik tuan Angga penuh gelora. Aku tidak meresponnya, pikir ku terserah kapan pun dia akan menikahi ku. Aku tidak masalah. Saat ini aku ingin menikmati kebersamaan dengan pria yang mulai ku sukai.
Drrrttt... drrrttt...
Hp tuan Angga bergetar. Lagi- lagi menginterupsi aktifitas kami yang mulai memanas.
Tuan Angga menghentikan cumbuannya, ia segera menjauhi ku untuk menerima panggilan telephon.
Saat melihat tuan Angga menjauhi ku. Ada rasa tidak nyaman merasuk dalam hati ku. Mungkin tuan Angga menerima telephon dari istrinya. Seketika ada rasa cemburu menguasai hati ku. Rasanya perih sekali. Inikah rasanya hati wanita yang tersakiti karena diselingkuhi. Padahal hubungan ku dengan tuan Angga baru hitungan 2x 24 jam. Namun rasanya seperti sudah berhubungan lama.
Aku berusaha mengalihkan pikiran ku dengan berias. Menyisir rambut yang mulai kusut, menyapukan bedak di pipi ku yang kusam dan memoles kan lipstik tipis di bibirku yang pucat.
Ternyata menjadi wanita simpanan pun tidak selalu menyenangkan, apalagi harus bersaing mendapat kan cinta dengan istri pertama. Mungkin seperti ini juga yang dirasakan Sella. Tiba- tiba ada rasa simpati pada nasib Sella.
Ia tidak seberuntung diriku. Aku ada emak tempat berbagi masalah, sementara Sella tidak punya teman berbagi. Aku kenal sekali bu Tini yang sangat mengekang pergaulan Sella. Itu mungkin yang membuat Sella mencari kasih sayang dari suami orang.
Mungkin aku tidak lebih baik dari Sella, tapi aku berjanji pada diri ku sendiri. Aku memang hanya wanita simpanan namun aku akan berusaha tidak mengambil tuan Angga dari tangan istri syah nya.
"Honey... kenapa kamu berias? Apakah kamu ingin menggoda ku?"
Tanya tuan Angga seraya langsung memeluk dan menciumi tengkuk ku. Seketika ada gelenyar yang mengalir dalam darah ku. Keinginan untuk sebuah penyatuan yang semakin dalam.
Kembali tuan Angga memagut bibir ku, mencicipi dan menghisap bibir ku yang baru ku poles lipstik. Akupun tidak bisa menolaknya. Sepertinya tubuh ku langsung memberikan respon otomatis tanpa ku sadari. ******* dan pagutan semakin intens.
"Darling... sudah... sudah... hentikan dulu." Kata ku sambil mendorong tubuhnya menjauh.
"Kenapa?" Kata tuan Angga menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Aku takut kita nanti kebablasan. Nikahi aku dulu." Kata ku sambil mengucak ujung gaun ku.
"Ya aku mengerti." Kata tuan Angga melepaskan pelukannya. Ia melangkah menuju ke ranjang.
"Aku mau tidur dulu, nanti jam empat kita pergi untuk menikah." Kata tuan Angga datar. Membuat ku hanya tersenyum.
Tuan Angga segera tertidur di ranjang yang belum ku tiduri sama sekali. Sementara aku berbaring di sofa, belum juga bisa memejamkan mata.
Hari ini pengalaman pertama ku berciuman dengan pria. Sebuah pengalaman luar biasa. Saat aku menutup mata, seakan aku dibawa kembali pada kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat bibir ku dan bibir tuan Angga bertemu, saling memagut, menghisap dan memilin. Hangat nya nafas tuan Angga serasa menyelubungi tubuh ku. menghantarkan getaran yang semakin menggelora.
Sepertinya tuan Angga sudah memelet ku dengan segala pesonanya. Membuat ku terus terbayang pada ciuman panasnya, dekapan nyaman nya. Aroma wangi tubuhnya yang memabukkan ku. Hingga saat aku mencoba memejamkan mata. sentuhan- sentuhan tuan Angga di sepanjang permukaan wajah dan leherku tambah terasa nyata.
Tidak benar ini... seperti nya aku sudah gila. Masakan tuan Angga sampai hadir dalam mimpi ku juga. Aku memilih untuk bangun dan langsung menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi aku kebingungan. Baju yang kupakai tadi tak sengaja jatuh dilantai yang basah. Sementara di dalam kamar mandi hanya ada handuk saja.
Badan ku jadi panas dingin. Tidak mungkin aku keluar hanya pakai handuk. Bagaimana kalau tuan Angga dibutakan nafsu dan memper*osa ku? Ku bebatkan handuk menutupi tubuh ku. Aku hanya bisa bolak- balik berjalan dalam kamar mandi. Kebingungan mencari jalan keluar.
Tiba- tiba suara gedoran pintu mengejutkan ku.
Dengan santai nya ia buang air kecil saat aku masih di dalam kamar mandi. Aku ketakutan setengah mati. Saat aku mau diam- diam keluar, bersamaan tuan Angga melepas bajunya. Sontak aku kaget dan berteriak.
'Aaaa....'
Tuan Angga hanya terbengong melihat ku.
"Honey... kamu mengintip aku buang air kecil? Sebegitu tidak sabaran nya kah kamu menunggu malam pertama kita nanti?" Goda tuan Angga membuat ku sangat malu. Tanpa menjawab nya aku langsung berlari keluar kamar mandi. Ku sambar selimut untuk menutupi tubuh ku.
Ku dengar sower kamar mandi menyala. Mungkin tuan Angga sedang mandi. Tak berapa lama kemudian ia keluar hanya dengan sebuah handuk terlilit di perutnya. Ia mendekati ku.
"Honey... aku juga gak ada baju, bolehkah aku ikut bersembunyi di balik selimut bersama mu?" Tuan Angga tak henti- hentinya menggoda ku. Aku benar- benar mati kutu di buatnya.
__ADS_1
"Jangan dekat- dekat...!!" kata ku mencoba mengusirnya.
Tapi seperti nya tuan Angga sudah gelap mata, ia terus berjalan mendekat ke arah ku.
'Ding... dong' Suara pintu bel kamar menyelamat kan ku.
Seorang petugas hotel mengantarkan paket. Tuan Angga segera membawa paket itu ke arah ku. Aku tetap waspada dan segera beringsut menjauhinya.
"Honey mau pake selimut terus? Ini baju ganti untuk kita."
Kata tuan Angga sambil mengeluarkan baju- baju yang masih terbungkus plastik ke hadapan ku. Ia meletakkan sebungkus baju di dekat ku. Aku mengambilnya namun hanya ku pegang saja. Karena kalau aku ke kamar mandi pasti akan jalan melewati tuan Angga. Bagaimana kalau nanti handuk ku terlepas? Aku tidak berani ambil resiko.
"Honey cepat pakai baju nya! Kita sudah sangat terlambat dari waktu yang ditentukan. Takutnya penghulunya keburu pulang!"
Tuan Angga segera membuka bungkusan bajunya dan tanpa malu segera dipakainya di depan mata ku. Tuan Angga dengan sengaja hendak menodai mata ku yang masih perawan. Aku pun segera menyembunyikan pandangan ku dengan selimut.
"Kalau kau lambat- lambat berpakaian, nanti ku gendong ke bawah hanya pakai handuk!"
Ancaman tuan Angga, membuat ku tidak berani mengulur waktu. Aku segera mengenakan baju ku dibalik selimut. Meskipun menyulitkan terpaksa aku lakukan. Dari pada tuan Angga benar- benar melakukan ancamannya.
Saat ku lihat pakaian yang disiapkan buat ku, Aku sempat merasa bingung. Mengapa aku harus pakai baju seperti ini? Kebaya putih dengan rok batik? Aku tersenyum. Apakah hari ini aku benar- benar dinikahi tuan Angga? Aku segera menepis fikiran ku. Aku takut kecewa nantinya. Mungkin saja tuan Angga akan mengajak ku ke pesta. Dengan dresscode baju tradisional.
"Honey, waktu mu sepuluh menit. Apa honey bisa make up sendiri atau aku panggilkan MUA nanti di perjalanan?" Pertanyaan tuan Angga membuat ku geli. Masak mau ke pesta aja sampai pakai jasa MUA dalam mobil.
"Darling aku make up sebentar saja." Kata ku sambil memeriksa box yang baru dikirim sepertinya itu kemasan make up. Dan benar perkiraan ku. Satu set make up artis lengkap, telah disiapkan untuk ku. Aku terlongo melihat merk nya ternyata merk terkenal dan pastinya sangat mahal.
Dengan cekatan segera ku aplikasikan make up sesuai urut- urutan yang telah ku hafal diluar kepala. Karena saat SMA aku sempat membantu membantu di salon waktu itu untuk menambah tabungan uang kuliah.
Kurang sepuluh menit, riasan wajah dan rambut ku sudah selesai. Tuan Angga yang sedari tadi mengamati ku, sepertinya terpesona. Aku pun mengagumi hasil karya ku. Ternyata harga merk make up yang mahal juga membantu mendapatkan hasil yang cemerlang. Aku lebih terlihat sebagai calon pengantin, bukan orang yang akan pergi pesta.
__ADS_1
"Honey... kamu cantik banget, boleh kah aku mencium mu?" Tanya tuan Angga yang seakan tidak sabar untuk menghancurkan hasil riasan ku.