Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Insiden dan Perjumpaan dengan Aldin


__ADS_3

Tiba di mall yang dituju. Nafa dan Nara segera menuju *food court* dan menempati meja yang masih kosong. Letaknya di ujung dan *view* dari meja itu cukup bagus. Tepat di samping kaca pembatas tempat makan cepat saji itu.



"Pesan apa, Mbak?" Seorang pelayan food court menghampiri seraya memberikan buku menu pada Nafa.


"Saya ini saja, nasi ayam bakar sama minumannya jus jambu merah, kamu pesan apa, Nar?" sahutku, lalu bertanya pesanan apa yang akan Nara pesan.


"Aku, nasi campur ayam kremes, sama jus melon," pesan Nara. Pelayan menuliskan pesanan mereka lalu beranjak meninggalkan Nafa dan Nara.


Nafa dan Nara terlibat obrolan yang nampak seru, kadang mereka tertawa renyah entah apa yang mereka obrolkan, sampai pelayan food court datang menyajikan pesanan mereka berdua.


Nafa dan Nara menikmati makan siang berdua dengan diiringi obrolan santai.


"Naf, gimana kabar mantan istrinya Mas Sakti, apakah dia masih suka gangguin hubungan rumah tangga kamu?"


"Sekarang sudah tidak, Nar. Sejak ibunya Mbak Meta mau disomasi sama Mas Sakti atas tindakan terornya sama aku. Bu Mala, ibunya Mbak Meta minta maaf sehari setelah disomasi, dikiranya Mas Sakti akan main-main dengan ancaman somasinya, dan rupanya benar. Bu Mala takut dan sempat ketar-ketir jika harus dipenjarakan."


"Oh, jadi bukan si Meta yang meneror kamu tempo hari itu?"


"Bukan, Nar, tapi ibunya Mbak Meta. Dia sengaja ingin mencelakai aku dan bayiku. Ini semua tidak lepas akibat dari perbuatan Mas Sakti yang menceraikan anaknya, jadi Bu Mala menyimpan dendam, imbasnya aku jadi sasaran."


"Rumit ya, hidup kamu. Itulah jika berurusan dengan suami yang sudah ada pasangan sebelumnya, imbasnya kita sebagai perempuan yang kena. Sudah dikatai pelakor, padahal jelas-jelas kamu dibohongi," ujar Nara.



"Bahkan sampai kini masih ada tetangga sebelah rumah aku dulu, jika ketemu dia masih bisik-bisik dan bersikap memusuhi aku. Di matanya aku bagai kotoran, kadang rasanya aku pengen menyerah dalam rumah tangga ini karena tidak kuat dengan omongan orang-orang," ungkap Nafa diiringi air mata yang tiba-tiba menggenang, ingat akan perlakuan buruk orang-orang dan tetangga sebelah rumahnya yang masih menganggapnya sebagai pelakor.



"Sudah, Naf. Aku minta maaf! Gara-gara aku bertanya tentang mantan istrinya suamimu, kamu jadi sedih dan kepikiran. Aku minta maaf ya," mohon Nara menyesal.



"Sudah tidak apa-apa, Nar, ini bukan salah kamu. Aku memang akan selalu menangis jika ingat ini. Terlalu menyakitkan buat aku," pungkas Nafa sembari mengaduk makanannya yang kini terasa hambar sejak mengingat lagi masa-masa menyedihkan itu.



"Dan, sampai sekarang saja, aku masih harus menebalkan muka dan hati, supaya tidak sakit hati sama cemoohan mereka yang tidak tahu kisah aku sebenarnya," sambung Nafa lagi sambil menyusut air matanya yang mulai jatuh. Rasanya kini dia mulai cengeng lagi. Nara yang melihat, merasa bersalah kemudian berdiri dan menghampiri Nafa, mengusap pundak Nafa memberi kekuatan.


__ADS_1


"Aduuh ... gimana nih, sudah dong Naf, aku jadi tidak enak. Gara-gara aku, kamu jadi keterusan sedih begini. Aku menyesal telah bertanya tentang mantan istrinya Mas Sakti. Sudah Naf, aku jadi ikut sedih nih," bujuk Nara salah tingkah.



"Biarkan aku begini dulu, Nar. Maka aku akan lepas semua kesedihan yang tadi ada. Kalau ditahan-tahan justru aku tidak akan kuat, hanya akan tambah menumpuk sakitnya. Ini sebentar lagi juga berhenti dan aku akan plong jika sudah menangis," kelit Nafa membuang rasa khawatir Nara.



"Benaran? Kalau begitu, cepatlah selesaikan tangismu, rasanya aku kebelet nih, ingin buang air," ujar Nara berbisik.


"Ya, sudah, kamu pergi deh ke toilet. Aku tunggu di sini. Namun, jika aku tidak ada dan kamu sudah sampai, maka aku sedang membeli es krim. Jadi tunggu saja di sini," tunjuk Nafa pada meja yang ditempati mereka. Nara mengangguk paham dan berlalu menuju toilet food court itu.


Nara berjalan menuju lorong toilet, rasanya kantung kemihnya sudah memanggil-manggil ingin segera dikosongkan. Akhirnya tiba di depan toilet, Nara segera memasuki toilet kosong dan menghempas semua beban derita di kantung kemihnya. Puas rasanya. Nara segera keluar, lalu merapikan sebentar rambut dan memoles bibirnya dengan *lip tint*. Segar dan cerah kembali nampaknya wajah ayu gadis muda ini.



Keluar dari toilet, Nara berjalan sembari meraih HPnya dalam tas. Namun sayangnya, HP yang dimaksud susah dicari, sebab letaknya berhimpitan dengan tisu, dompet, dan alat *make* *up* miliknya. "Ini dia," bisiknya sembari mengeluarkan Hp itu dari dalam tas. Namun tanpa disadarinya, tiba-tiba Nara bertabrakan dengan seseorang. Keningnya terasa sakit, entah dengan apa Nara bertabrakan. Hp Nara juga terpelanting jatuh.



"Gubrak ...." Nara berdiri lemas melihat Hp satu-satu dan kesayangannya jatuh menghempas lantai lorong toilet.


"Sial .... " umpat seseorang sedikit terhuyung setelah dirinya merasakan bertabrakan dengan seseorang. "Siapa juga orang ini yang menghalangi jalanku? Jalan tidak pakai mata atau benar-benar buta!" rutuknya kesal.



Pria matang yang sedang kesal itu mencari sosok orang yang bertabrakan dengannya. Lalu saat dia melihat ke samping kirinya, dia melihat sosok perempuan muda memungut sebuah Hp yang layarnya sudah pecah. "Apakah dia yang bertabrakan denganku tadi?" batin pria matang itu bertanya-tanya.



Nara memungut Hpnya yang kini kacanya pecah. Melihat itu, Nara sangat sedih. Sebab ini Hp pertama yang dibelinya, sejak pertama kali kerja di mall menjadi Kasir. "Pecah," desisnya sedih lalu dipungut dan ditatapnya. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba seseorang menghampiri dan menepuk pundaknya.



"Nara ... kamu Nara? Sedang apa kamu di sini? Dan, barusan yang bertabrakan dengan saya itu, kamu?" kejut pria matang itu yang rupanya pria yang dikenal Nara. Dia Aldin, sepupu suaminya Nafa.



"Kak Aldin!" seru Nara terkejut. Nara menatap Aldin dengan tatapan sedih.


"Jadi, yang barusan itu kamu, kamu yang nabrak saya?" tuding Aldin membuat Nara meradang, namun di dalam hati. Nara memang gadis yang jarang memperlihatkan kemarahan, jika dia kesal cukup diam saja dan pergi. Begitulah uniknya Nara, gadis ayu yang tidak memiliki kekasih ini.

__ADS_1


"Nara tidak sengaja, Kak. Kalau begitu Nara minta maaf," ucap Nara sambil mengusap layar Hpnya yang pecah dan berlalu dari hadapan Aldin.



"Nar, Nara ... !" panggil Aldin meneriaki Nara yang pergi dari hadapannya. Karena Aldin kebelet, dia tidak mengejar Nara yang kecewa. Aldin segera masuk toilet menuntaskan hasrat buang air kecilnya, lalu segera keluar dan bermaksud menyusul Nara yang tadi pergi.



Aldin memutar matanya di area *food court*, dia yakin Nara berasal dari lantai tempat makan siap saji Mall ini. Puas menelisik, akhirnya membuahkan hasil orang yang dia cari ketemu juga. Nara tengah duduk di salah satu meja di ujung *food court* itu.



" Nara!" panggilnya seraya duduk di kursi pengunjung sebelah Nara. Nara terperanjat melihat Aldin sudah berada di sampingnya.


"Kak Aldin, kenapa Kak Aldin menyusul Nara? Bukankah tadi Nara sudah minta maaf. Dan, Nara rasa Kak Aldin tidak mengalami kerugian apapun, justru Nara yang rugi," ucap Nara mengungkit insiden tabrakan tadi di depan toilet.


"Kamu dengan siapa ke sini?" Aldin bertanya sembari mencari sosok orang yang bersama Nara, namun nihil tidak dia jumpai. Nara diam tidak menjawab pertanyaan Aldin yang penasaran.



Aldin menatap Nara yang sedih, wajah murungnya membuat dia kasihan sekaligus merasa lucu. Aldin seketika tersentak saat melihat kening Nara berwarna biru memar, seperti kena benturan.



"Kening kamu, kenapa?" Sekonyong-konyong Aldin kaget dengan kening Nara yang lebam. Nara meraba keningnya yang disebutkan Aldin tadi, saat diraba rupanya sakit.


"Awww .... !" ringisnya kesakitan. Aldin langsung respon, dan spontan memegangi kening Nara mencoba mengusap, untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Sakit ya?" tegurnya sambil berniat meniup kening Nara yang lebam. Aldin yakin kening Nara lebam akibat benturan antara jam tangan dan kening Nara, sebab saat tubuh Aldin merasa bersentuhan dengan sesuatu, tangannya langsung menghalau ke atas, mencoba melindungi tubuh atas Aldin. Rupanya tangan yang ada arlojinya tadi membentur kening Nara sekuatnya. Sontak dia merasa bersalah.



Ketika Aldin akan meniupkan mulutnya pada kening Nara. Saat bersamaan tiba-tiba muncul Nafa, sembari membawa dua buah es krim cup yang isinya tinggi dan penuh. Rupanya Nafa memesan es boba dengan toping es krim buat dirinya dan Nara.



"Kak Aldin ....?"


"Nafa ....?" Dua-duanya saling terkejut dan heran.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2