
Sakti bingung dengan permintaan Nafa yang ingin kembali tinggal di Mess. Tidak mungkin dia membiarkan Nafa tinggal di Mess sementara dia enak-enakan di rumah Mamanya.
Keinginan ini tidak lepas dari kejadian yang tidak mengenakan Nafa. Sejak pulang dari butik sore itu, tetangga rumah Bu Sukma kasak kusuk membicarakan Nafa dan menyebut Nafa dengan sebutan pelakor. Rupanya penderitaan Nafa belum berhenti meskipun Sakti sudah bercerai dari Meta. Para tetangga Bu Sukma menjadi tahu satu sama lain gosip yang bilang bahwa Nafa sebagai pelakor dalam rumah tangga Sakti dan Meta. Ini semua tidak lepas dari perbuatan mantan mertuanya Sakti yang menurut pengakuan Bu Sukma datang siang tadi dan menyebarkan berita tidak benar pada mereka.
"Sakti tidak akan membiarkan mantan mertua Sakti atau Meta berbuat jahat pada Nafa. Jika mereka tidak minta maaf dalam waktu 1x24 jam, maka Sakti akan membuat laporan pada pihak yang berwajib," sungut Sakti sungguh-sungguh di depan Bu Sukma.
"Mama jadi khawatir dengar keadaan Nafa, ini pasti pengaruh pada janin yang dikandungnya. Mama perhatikaƱ istrimu moodnya cepat turun naik, dia kepikiran dengan omongan tetangga tadi." Bu Sukma menjadi risau.
"Sakti juga Ma, khawatir," guman Sakti seraya memijit pelipisnya yang seakan terasa sakit.
"Kalau menurut Mama, jika Nafa begitu terus dan kepikiran dengan omongan tetangga, alangkah baiknya Nafa kamu ajak pindah saja. Mama rasa ke kota Dingin itu akan lebih bagus." Bu Sukma mencoba memberi saran.
"Tapi Ma, bagaimana dengan pekerjaan Nafa? Dia begitu cinta dengan pekerjaannya," tanya Sakti bingung.
"Kenapa harus bingung sih Skati. Kamu bicarakan. saja dengan Bosnya." Sakti merasa mendapatkan ide dari ucapan Ibunya barusan.
"Sakti akan coba bicarakan pada Bu Delia, dan semoga Bu Delia mau memaklumi keinginan Sakti," putus Sakti akhirnya.
__ADS_1
Back To POV 1 ( Nafa)
Aku masih duduk lesu di dalam kamar, seraya memikirkan omongan tetangga Mama Sukma yang membicarakan aku dan menuding aku sebagai pelakor.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka seseorang, Mas Sakti muncul dengan membawa segelas teh jahe hangat kesukaan aku. Aku sedikit malu dan menundukkan kepala.
"Sayang... minumlah dulu teh Jahe hangatnya, biar badan terasa segar kembali," titah Mas Sakti yang langsung aku turuti.
"Yang benar Mas? Nafa mau Mas pindah sekarang," ujarku senang.
"Tapi pindahnya bukan ke Mess seperti yang kamu minta. Tapi... keluar kota," ujar Mas Sakti sedikit ragu.
"Keluar kota? Itu kemana Mas? " tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Ke kota Dingin tempat kita waktu itu pernah bermalam."
"Apa....? Tidakkah kejauhan Mas dengan tempat kerja Nafa?"
"Tidak, Sayang. Malah dekat banget kok."
"Maksudnya, Mas? Dekat bagaimana?"
"Mas akan meminta pada Bu Delia bahwa pekerjaan kamu sebagai perancang gaun bisa di bawa ke rumah, dan kamu masih bisa bekerja seperti biasa di rumah. Atau... bagaimana jika kamu yang buka butik sekalian? Kamu bisa bekerjasama dengan Bu Delia jika Bu Delia mau."
Mendengar pendapat Mas Sakti seperti itu aku merasa ada peluang besar untuk bisa mendirikan butik sendiri. Semoga keinginan aku ini terwujud.
Hari berganti malam dan malam berganti siang. Hari ini rencana kepindahan aku ke kota Dingin. Walaupun jauh dari kota asal, namun aku tidak peduli yang penting aku masih bisa menyalurkan hobi dan merancang gaun.
"Terimakasih Mas Sakti... semoga Bu Delia mau mengijinkan Nafa membawa pekerjaannya ke rumah.
__ADS_1