Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Kantor Adrian Wood


__ADS_3

Masih POV 3 (Author)


Adrian Wood


Setelah Aldin berpamitan pada Sakti dan Nafa, Aldin langsung meluncur ke kantor Adrian Wood. Tiba di lobby kantor, Aldin langsung disambut sang Asisten.


"Maaf, Pak Aldin, Anda sudah tunggu klien kita di ruangan Bapak," berita Rifki sang Asisten.


"Oh ... ok," seru Aldin seraya menuju lift untuk ke ruangannya.


.


Tiba di dalam ruangan, Aldin sudah mendapati Pak Donal, klien yang disebut Rifki tadi.


"Selamat Siang Pak Donal, apakah sudah menunggu lama?" tegur Aldin ramah sembari mempersilahkan duduk.



"Siang Pak Aldin, tidak juga Pak Aldin. Saya baru 10 menit yang lalu tiba di sini," ujar Pak Donal sembari duduk di sofa yang dipersilahka Aldin.



Akhirnya mereka memulai membicarakan bisnis di antara mereka sehingga menemukan kesepakatan bersama dan dimulailah kerjasama keduanya. Aldin segera menghubungi Shera sang Sekretaris untuk segera membawa surat kesepakatan kerjasama guna ditandatangani kedua belah pihak.

__ADS_1



Shera masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Kemudian Shera menyerahkan sebuah map biru pada Aldin. Saat Shera memberikan map itu, ada pemandangan yang mengganjal di mata Aldin. Pakaian formal yang digunakan Shera menurut Aldin sangat tidak pantas dan memalukan.



Saat bersamaan, Pak Donal juga melihat ke arah Shera dengan pandangan yang tidak berkedip. Pandangan lapar dari seorang laki-laki mata keranjang. Pak Donal hanya bisa menelan ludah saat menyaksikan pemandangan di depan matanya, yang hanya bisa dipandang tanpa bisa dinikmati.



Walaupun disuguhi sebuah pemandangan yang bikin melek mata bagi Pak Donal, namun penandatanganan kesepakatan kerjasamapun dimulai, kedua belah pihak menandatangani surat perjanjian kerjasama itu dengan kata *deal*.




Shera duduk di samping Aldin dengan kaki bersilang, sehingga memperlihatkan pahanya yang mulus. Nampaknya Shera sengaja ingin merayu Aldin.


"Selamat, ya, Pak Aldin, akhirnya kerjasama dengan Pak Donal terjalin sudah dengan sebuah kesepakatan," ucap Shera sambil tersenyum genit.


"Shera, bisa tidak untuk besok dan seterusnya kamu menggunakan pakaian kantor kamu yang lebih sopan dari ini. Pakaian yang kamu gunakan ini sungguh menyakitkan mata saya. Saya tidak mau tahu, besok pakaian kantormu harus diganti dan disesuaikan dengan aturan yang berlaku," tegas Aldin tiba-tiba, membuat Shera terbelalak tidak percaya. Shera pikir Aldin akan luluh dengan pesonanya.


__ADS_1


"Pergilah, Shera. Dan ingat, besok pakaianmu harus sudah kamu ganti. Rok harus dibawah lutut serta blazermu tidak rendah seperti ini. Yang kamu pakai ini sungguh memalukan," tandas Aldin lagi tidak suka.



"Tapi, Pak," protes Shera, namun Aldin segera mengangkat tangannya menghentikan ucapan Shera serta menyuruhnya segera keluar. Akhirnya Shera keluar dengan perasaan dongkol dan kecewa.



Seperginya Shera dari ruangannya, Aldin kembali ke kursi kebesarannya seraya membawa map. biru bukti kerjasama dengan perusahaan Meubeul Donal Furniture, yang merupakan perusahaan Meubeul terbesar di kota se Indonesia.



Aldin duduk dengan raut wajah yang sedikit murung. Sebetulnya sejak kepulangan dari rumah Sakti, sepupunya, Aldin sudah merasakan gundah, sebab ucapan Nafa tentang Nara masih terngiang-ngiang sampai kini.



"Benarkah HP gadis kecil itu rusak karena tabrakan itu, sehingga kini Hpnya tidak bisa dihubungi lagi?" tanya Aldin dalam hati.



Tidak berapa lama Aldin membereskan semua meja kerjanya, lalu berdiri. Dia bertekad akan menemui Nara di mall tempat Nara bekerja.


__ADS_1


"Kasihan sekali gadis kecil iti jika Hpnya benar-benar rusak olehku," serunya seraya beranjak dari kantornya.


__ADS_2