
Masih POV Author
Tiba di kota Kaktus, Nafa kembali dengan kesibukannya. Naufara Butik, selain bekerjasama dengan Syafana dan Delia Butik, juga merambah bekerjasama dengan Butik lain atau sebuah perusahaan besar yang khusus memesan seragam karyawan. Jadi, Naufara Butik tidak saja menjual dan memajang gaun atau pakaian formal sejenisnya, namun Naufara Butik kini dipercaya oleh berbagai perusahaan ternama untuk menyediakan seragam karyawan.
Makin besar pundi-pundi yang dihasilkan Naufara Butik, karyawan pun ditambah. Angka pengangguran di sekitar wilayahnya terbantu dengan adanya Naufara butik.
Pagi itu Nafa kedatangan Bu Delia. Bu Delia yang kini jadi partner tetap Naufara Butik, sengaja mendatangi Naufara Butik. Bu Delia langsung disambut dengan sukacita oleh Nafa.
"Naf, saya sengaja datang ke sini ingin melihat butik kamu. Alhamdulillah kerja sama kita rupanya sangat menguntungkan. Saya dan para karyawan sangat berkah memiliki kamu, dulu sebagai pelayan butik, lalu merangkak menjadi Asisten Desiner, kemudian menghasilkan suatu rancangan gaun malam yang banyak digandrungi kaum perempuan muda. Sungguh pencapaian yang luar biasa." Bu Delia berkata seraya matanya berkaca-kaca, merasa terharu dan membayangkan saat Nafa di titik terendah sehingga kini menjadi Nafa yang dikenal. Bahkan karyanya sudah ada yang melanglangbuana ke mancanegara.
"Sukses buat kamu dan kita semua, sukses juga buat kehidupan keluarga kita masing-masing. Sungguh saya merasa beruntung kenal kamu. Kamu yang seorang pelayan butik, kemudian bermetamorfosis menjadi Perancang gaun, dan kini sudah memiliki butik yang mulai dikenal masyarakat luas. Sekali lagi, selamat ya Nafa."
"Justru saya yang berterimakasih sama Bu Delia, sebab tanpa Bu Delia saya tidak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa. Saya diberikan kesempatan oleh Bu Delia, dan sampai sekarang Ibu mau menjalin kerjasama dengan saya."
Nafa menjeda sejenak bicaranya, dia tidak kuasa menahan air matanya yang menggenang.
"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih pada Bu Delia dan semua orang yang ada di Butik Delia, tanpa Bu Delia dan orang-orang di sana, saya tidak mungkin di titik ini," lanjut Nafa sembari terisak.
Bu Delia merangkul pundak Nafa memberi semangat dan berhenti memikirkan masa sulit saat masih di Butik Delia maupun di Butik Syafana.
"Bulan depan saya akan ke Australia. Semua kerjasama kita saya limpahkan pada Asisten saya. Jadi, kita tetap berjalan seperti biasanya."
"Siap Bu, saya doakan perjalanan bisnisnya lancar tanpa hambatan," harap Nafa tulus. Bu Delia kemudian berpamitan setelah menyampaikan maksud dan tujuannya. Nafa mengantarkan Bu Delia dari pintu depan dengan tatapan matanya. Rasa haru seketika menyeruak dalam dada mengingat kembali perjuangannya dulu saat masih jadi pelayan butik hingga sekarang menjadi salah satu Perancang yang diperhitungkan.
*
__ADS_1
*
Beberapa hari kemudian setelah pertemuan tidak sengajanya dengan Kak Aldin di sebuah mall, Nafa meraih HPnya dan memanggil Nara, sahabatnya. Namun beberapa kali dihubungi, nomer Nara tidak kunjung aktif. Nafa merasa heran. Jangan-jangan HP Nara rusak sejak kejadian tabrakannya dengan Aldin.
"Kemana Nara, kok Hpnya tidak aktif?" guman Nafa sedikit kesal, sebab siang ini dia ingin mengajak Nara makan siang.
Ketika Nafa sedang bingung di mana keberadaan sahabatnya. Tiba-tiba Sakti kedatangan tamu. Nafa menghampiri ruang tengah yang terhubung langsung dengan ruang tamu. Nafa melihat Aldin di sana dan menghampiri.
"Maaf, Nafa ganggu, tidak?" tegurnya ragu.
"Tidak, dong, Sayang. Kami sedang membicarakan bisnis. Kamu mendengarpun tidak masalah," ujar Sakti.
"Kebetulan ada Kak Aldin datang, Nafa mau menyampaikan sesuatu tentang Nara." Mendengar penuturan Nafa, Aldin langsung mengerutkan keningnya heran.
"Ada apa, apa kaitannya Nara sama aku?" tanya Aldin penasaran.
"Lho, kalian kapan bertemu?" tanya Sakti menimpali.
"Itu sudah lama, Mas. Sudah ada sebulan yang lalu. Saat itu Nafa mohon ijin makan siang ke Mas Sakti. Dan di food court Mall Buana, tidak sengaja kami bertemu dengan Kak Aldin yang sedang berkencan dengan Sekretaris seksinya," tukas Nafa sambil tersenyum jahil.
"Apa kamu bilang, kencan dengan Sekretaris seksi? Enak saja berkencan, aku itu sedang ada pertemuan dengan Bos-bos besar guna menandatangani sebuah kerjasama. Istrimu ini, cantik tapi sembarangan kalau bicara," sangkal Aldin kesal.
"Kalian ini seperti Tom n Jery, ada apa sih kalian? Kalau disandingkan kalian pantas jadi sepanjang musuh. Sayang, apa sebetulnya yang ingin kamu sampaikan sama Aldin?" Sakti menengahi ketegangan antara Nafa dan Aldin sepupunya.
"Nafa hanya mau sampaikan bahwa HP Nara tidak aktif, sudah beberapa kali Nafa hubungi, namun tidak aktif. Nafa berpikir, mungkin saja HP Nara rusak gara-gara sejak bertabrakan dengan Kak Aldin tempo hari. Nafa melihat HP Nara sampai pecah, Mas," jelas Nafa.
"Ohhh ....!"
__ADS_1
"Al, kamu tanggungjawab dong. Siapa tahu, Hpnya Nara mati karena tabrakan itu," tekan Sakti.
"Kalian ini sama saja, bilang saja kalian menyuruh aku mengganti HP bocah kecil itu, memuakkan!" dengus Aldin kesal dan nampak tidak terima.
"Kak Aldin, pelit amat sih. HP Nara betulan rusak lho, layarnya pecah. Siapa tahu saat di rumah kerusakannya bertambah, layarnya mati, dan ICnya kena. Kak Aldin ini benar-benar tidak punya perasaan. Masa iya mengganti HP Nara yang rusak saja tidak mampu," balas Nafa kesal.
"Aku bukan tidak mau menggantinya, tapi saat itu si Nara bilang cuma layarnya saja yang retak, dalamnya tidak. Jadi aku tidak salah dong. Lagipula bukan aku yang salah dalam tabrakan itu. Kami sama-sama tabrakan, dan itu tidak disengaja," protesnya tidak terima jika disalahkan.
"Kak Aldin ini jahat, tidak punya perasaan. Kalau layarnya retak, tidak mungkin sampai sekarang HP Nara tidak bisa dihubungi," cetus Nafa sebal.
"Sudah sayang, nanti kalau kamu ingin ketemu Nara, biar Mas antar. Lagipula perutmu sudah besar, Mas tidak mau membiarkan kamu pergi bersama grab," ujar Sakti menenangkan Nafa yang galau, karena sudah hampir sebulan tidak bisa menghubungi Nara sahabatnya.
"Benar Mas? Tapi tidak hari ini, sebab Nafa bakal ada customer dari negeri jiran. Mereka ingin memesan gaun di Naufara Butik."
"Benaran, Sayang? Alhamdulillah, ternyata usahamu semakin merambah ke luar negeri. Hebat kamu, Sayang," puji Sakti seraya merangkul bahu Nafa.
"Ok deh, Sak. Daripada aku di sini melihat kalian yang sedang happy, alangkah baiknya aku segera melancarkan misi kita. Aku pamit ya."
"Baiklah, itu lebih bagus, Al. Kasih kabar ya, jika sudah selesai."
"Sip. Aku benar-benar balik ya!" pamit Aldin sekali! lagi. Sakti menganggukkan wajahnya setuju.
"Kak Aldin, jangan lupa ganti HP Nara," Nafa mengingatkan Aldin sebelum Aldin menjauh. Aldin menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya sesaat dan menatap Nafa.
"Bawel," ledeknya seraya memberi kode dua jari diangkat lalu dicolokkan ke matanya dan dibalikkan juga dicolokkan ke mata Nafa.
"Kak Aldin nyebelin.... " ujar Nafa seraya ingin menimpuknya dengan bantal sofa.
"Sayang, kalian ini mirip sepasang adik kakak tapi tidak akur. Jangan-jan kamu jelmaan adik Aldin yang sudah meninggal dulu sejak bayi."
"Ihh ... Nafa tidak ikhlas, membayangkan saja tidak mau," cebik Nafa mengakhiri perbincangannya siang ini bersama Sakti.
__ADS_1