
"Kami pulang ya, Ma!" ucap Nafa berpamitan pada Bu Sukma. Bu Sukma mengantar kepergian anak cucu dan menantunya dari pagar rumah. Betapa dia masih sangat merindukan mereka. Namun mau diapakan lagi, Bu Sukma masih banyak kesibukan yang tidak bisa dia tinggalkan..
"Ma, nanti kita sering-sering ke sini. Saat Rafa libur panjang, Insya Allah kita nginap di sini," ujar Sakti saat berpamitan pada Mamanya yang sebenarnya berat untuk ditinggalkan.
Sakti menyalami Bu Sukma, diikuti Nafa dan Rafa. "Dah ... Nenek! Hati-hati di rumah ya!" ujar Rafa mengingatkan Nenenya. Bu Sukma tersenyum dan mencium Rafa sebelum mobil siap melaju.
"Assalamu'alaikum .... !" ucap mereka menutup perjumpaannya dengan Bu Sukma. Bu Sukma menatap haru kepergian mereka bertiga.
"Semoga kalian selamat dan lancar dalam segala hal," batin Bu Sukma berdoa.
Tiba di sebuah mall masih di kota *Cemara*, Sakti membelokkan mobil dan memarkirkannya. Sakti bermaksud membawa Rafa bermain di mall.
"Ayo, Sayang, kita bermain dulu. Katanya Rafa mau main dulu di mall," ucap Sakti seraya mematikan mesin mobil, membuka seatbelt lalu membuka pintu mobil dan memutar untuk membukakan pintu untuk Nafa.
"Asikkk ... ayo Pah!" Rafa sangat kegirangan dia melonjak sampai tidak menyadari telah menabrak seseorang.
"Rafa .... !" pekik seseorang, yang rupanya orang itu kenal Rafa.
"Hati-hati Sayang, 'kan jadi nabrak orang!" seru Nafa sembari menghampiri Rafa yang kini sudah berdiri dengan benar. Begitupun dengan Sakti, menghampiri Rafa dengan sedikit panik.
Rafa menatap orang yang ditabraknya tadi, namun setelah melihatnya, Rafa berlari ke arah Sakti dan merangkulnya.
"Kamu!" seru Sakti kaget, begitupun Nafa sama kagetnya dengan Sakti. Rupanya orang yang bertabrakan dengan Rafa adalah Meta. Nafa sedikit menjauh dan menjaga jarak, karena dia takut jika Meta akan menyakitinya lagi.
"Sakti, tolong sebentar, mungpung kita tidak sengaja bertemu di sini. Aku mau bicara sebentar, sekalian di hadapan istri baru kamu. Tolong, ini penting buat aku!" ucap Meta menahan langkah Sakti yang ingin menjauh dari Meta.
"Aku mohon, Sakti. Beri aku kesempatan terakhir," Meta memohon membuat iba.
"Ada apa lagi Meta, setelah semua perbuatan ibumu yang mengancam nyawa keluarga aku, sekarang mau kamu perkeruh apa lagi?" tanya Sakti sewot. Nafa memberi kode supaya Sakti tenang.
"Biarkan Mbak Meta bicara, beri kesempatan, Siapa tahu ini benar-benar penting." Nafa membujuk. Sakti diam seakan memikirkan apa yang diucapkan Nafa barusan.
__ADS_1
"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan? Dan jika membuang waktu kami, maka lebih baik tidak usah berbicara dengan kami. Sudah cukup ibumu selalu bikin onar, dan kini kamu ingin membuat onar lagi," tuding Sakti masih nampak emosi. Nafa memegang lengan Sakti untuk tidak terbawa emosi.
"Aku tidak melakukan perbuatan onar seperti yang kamu tuduhkan, Sakti. Semua itu Mama yang lakukan, aku tidak tahu apa-apa. Bahkan sudah berulang kali aku ingatkan Mama, namun Mama selalu saja meremehkan peringatanku. Sekarang aku tidak peduli lagi jika Mama berbuat onar dan kamu melaporkannya, karena Mama memang tidak mau mendengarkan aku," sangkal Meta.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan di sini mungpung ada istri kamu. Aku mohon dengarkan aku sampai selesai." Meta memohon sekali lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Silahkan Mbak Meta, bicaralah!" Nafa menimpali mewakili Sakti yang masih belum mau percaya pada Meta.
"Aku, sebentar lagi akan menikah, dan setelah itu aku akan pergi jauh dari sini. Suami aku kebetulan tinggal di Australia dan setelah menikah aku akan dibawa ke sana, ...."
"Lantas apa hubungannya dengan kami? Kalau kamu mau menikah, ya menikahlah," respon Sakti memotong pembicaraan Meta.
"Setelah menikah, aku akan pergi jauh. Mungkin dengan jauh sama Mama bisa membuat aku sedikit hidup tenang dalam berumah tangga, karena selama ini Mamalah yang berhasil menyetir hidup aku. Dan aku betapa bodohnya mau disetir oleh Mama. Untuk itu, aku sekalian ingin minta maaf sama kamu Sakti, selama aku jadi istri kamu, aku selalu jadi pembangkang. Semua itu, Mama yang selalu mempengaruhiku," lanjut Meta bicaranya menunduk dengan mata berkaca-kaca. Nampak kesedihan dan penyesalan di sana.
Nafa menghampiri Meta, dengan berani dia mengusap-usap bahu Meta memberikan kekuatan. Meta membalikkan badannya menghadap Nafa, lalu dia berkata dengan pandangan mata menatap wajah Nafa menyiratkan sebuah permohonan.
"Aku mohon, sayangi anakku. Aku yakin kamu bisa menjadi Ibu sambung bagi Rafa. Dan aku yakin, Sakti tidak salah memilih kamu. Maka bahagiakan dia, sebab selama ini aku hanya menyia-nyiakan kasih sayangnya." Meta mengakhiri ucapannya, lalu merangkul Nafa dengan sejuta harapan.
"Jangan khawatir Mbak, Insya Allah saya akan berusaha menjadi Ibu sambung yang baik untuk Rafa. Dan sampai kapanpun, Mbak adalah Ibu kandung buat Rafa," balas Nafa tulus sambil mengusap punggung Meta. Air mata Meta kini mengalir deras, terlebih kini dia melihat Rafa yang seakan takut padanya.
"Aku ingin memeluk Rafa, bantu aku untuk mendekatinya!" pinta Meta berharap. Nafa mengangguk sembari menghampiri Sakti yang kini merangkul Rafa.
__ADS_1
Nafa memberi kode kepada Sakti untuk bisa merayu Rafa supaya mau dipeluk ibunya. Sakti paham, lalu dia perlahan mendekati Meta. Nafa mengikuti di belakangnya.
"Ayo, Sayang. Peluk Mama, sebentar saja. Sama Papa dan Bunda kita peluk Mama," bujuk Sakti pada Rafa yang terlihat semakin takut.
"Sayang ... Rafa, ini Mama, peluk Mama sebentarrr saja," Meta memohon sembari menengadahkan kedua tangan ke arah Rafa.
"Ayo, Sayang. Peluk, jangan takut ini Mamanya Rafa. Ayo, Sayang." Nafa membujuk seraya mengarahkan Rafa ke hadapan Meta.
Akhirnya dengan bantuan dan bujukan Nafa, Rafa mau dipeluk Meta walaupun tangannya masih memegang bahu Nafa. Meta menangis pilu sambil mengusap lembut kepala Rafa.
"Mama minta maaf, Nak. Mama sayang Rafa. Jangan lupain Mama ya!" Tiga kalimat itu diucapkan Meta dengan tergesa, dia tidak ingin Rafa berontak dan lepas dari pelukannya sebelum dia menumpahkan semua unek-uneknya sebelum dia pergi jauh dari kota ini. Nafa berusaha menahan Rafa supaya dia tidak terlepas dari Meta.
Meta menangis seraya mempererat pelukannya di bahu Rafa. Kali ini dia benar-benar merasa sangat terpukul harus jauh dengan Rafa, terlebih sikap Rafa yang menjauh seiring sikap yang ditunjukkan Meta selama dua tahun sebelum cerai dari Sakti. Meta sadar dia tidak lagi memberi perhatian pada Rafa anak semata wayangnya.
Meta benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan Sakti dan Rafa selama ini. Meta sungguh bodoh telah salah memilih pergaulan selama ini, dia yang selalu mengikuti kemauan Ibunya yang ternyata membawanya terjerumus dalam pergaulan yang salah.
Meta mengurai rangkulannya, dia usap air mata yang basah di pipinya lalu menghujani Rafa dengan ciuman kasih sayang yang selama ini sudah tidak pernah dia beri untuk Rafa.
"Maafkan Mama, Mama pergi ya. Tapi Rafa harus jadi anak yang baik, patuh sama Papa dan Bunda ya!" ucap Meta sebelum mengakhiri pertemuan tidak disengajanya ini.
"Titip Rafa ya, aku percayakan sama kamu. Aku pergi!" bisik Meta serak pada Nafa. Nafa mengangguk lalu merangkul Meta dengan tulus memberi kekuatan supaya Meta yakin bahwa Rafa akan baik-baik saja.
"Rafa, akan baik-baik saja Mbak. Jangan khawatir." Meta tersenyum sembari melepaskan rangkulannya, sekilas terbit senyuman yang lega.
__ADS_1
"Aku pamit ya," ucapnya, masih dengan tatapan sendu, kepada Nafa dan melihat sekilas pada Sakti lalu pergi.