
"Ana... kami tidak menyalahkan mu. Semua ini terjadi karena ketulusan mu ingin membantu Sella. Emak sudah tahu seperti apa Sella, itu sebabnya emak menyuruh mu menjauhinya." Kata- kata Emak mengejut kan ku. Selama ini emak bersikap wajar setiap kali Sella datang ke rumah. Rahasia apa yang sebenarnya emak simpan selama ini?
"Emak tahu?" Tanya ku keheranan. Apakah mungkin emak tahu kalau Sella telah menikah dengan suami orang. Bisa dikatakan Sella jadi wanita simpanan.
"Iya... waktu itu emak mengantar kan setrikaan ke rumah bu Tini. Tak sengaja emak melihat Sella melakukan hal tak pantas dengan seorang pria di ruang tamu. Waktu itu Emak langsung pulang. Emak pura- pura tidak tahu, karena waktu itu emak takut kalau- kalau Sella membuat masalah dengan keluarga kita." Kata emak dengan penuh penyesalan.
Entah lah aku merasa lega, ternyata emak tidak tahu status Sella yang sebenarnya. Sekalipun Sella sudah mengecewakan ku. Namun aku tidak ingin orang lain berpandangan lebih buruk terhadap nya. Saat ini aku baru mengetahui, kalau selama ini emak melarang ku dekat dengan Sella karena emak punya alasan yang kuat. Dan tentunya nasehat itu demi kebaikan ku juga.
"Emak... maaf kan Ana. Seandai nya Ana mau menuruti emak. Pastinya kejadian ini tidak akan terjadi," sesal ku.
"Ini untuk pembelajaran buat kita. Selalu terbuka dalam setiap masalah. Supaya kita bisa saling mendukung dan masalah kita pun dapat terselesaikan dengan baik. Juga dengar- dengaran nasehat emak ya?" Nasehat emak pada kami.
"Iya mak.. kami akan nurut." Kata kami bersamaan. Kami pun kembali berpelukan satu sama lain.
Memang aku tidak punya harta yang bisa ku banggakan. Tapi aku punya Emak, Nita dan Doni ketiga orang yang paling ku sayangi. Merekalah harta terbesar dalam hidup ku.
"Sudah... jangan pelukan terus." Emak mulai mencairkan suasana. "Ayo kita kumpulkan barang- barang yang bagus saja untuk kita bawa nanti." Emak bangkit, memunguti baju yang tersebar di halaman. Kami pun akhirnya mengikuti emak. Ku ambil koper kami yang sudah usang dan ku isi dengan dua buah foto bapak yang tersisa. Baju- baju juga coba ku masukkan ke dalam nya namun sudah tidak muat lagi.
Tiba- tiba sebuah mobil berhenti depan rumah. Sebuah pemandangan tak biasa. Karena belum pernah sekalipun ada mobil sampai masuk ke dalam gang kecil depan rumah kami. Membuat kami berempat spontan menoleh.
Dari mobil keluar seorang pria muda yang sangat tampan. Membuat ku langsung terpesona. "Sepertinya aku mengenalnya" bisik ku lirih. membuat Nita yang berdiri dekat dengan ku menoleh kearah ku.
__ADS_1
"Kak Ana mengenal nya?" Tanya Nita penasaran.
Aku menggeleng karena tidak bisa mengingat dimana aku bertemu dengan pria tampan itu.
Pria itu berjalan semakin mendekat ke arah ku. Setelah dekat, aku baru ingat kalau pria itu Deni. Asisten tuan Angga. Seperti yang tadi dikatakan tuan Angga saat vc dengan ku. Aku tidak menyangka kalau Deni bisa datang lebih cepat.
"Nona Ana... Saya di suruh tuan Angga untuk menjemput kalian. Tuan Angga juga berpesan bahwa kalian bisa membawa barang namun hanya sebanyak kotak ini." Kata Deni sambil menyodorkan sebuah kotak sepatu pada ku.
"Apa maksudnya?" Tanya ku keheranan. Bukan aku gak ngerti perkataan Deni. Tapi... barang- barang ku yang lain mau dikemanain?
"Perintah tuan Angga tidak boleh dibantah Non. Nona Ana tahu sendiri kan, bagaimana tuan Angga kalau sedang marah?" Deni mencoba mengingatkan ku. Membuat ku hanya bisa mengangguk pelan. Ancaman tuan Angga tidak pernah main- main. Gara- gara kena gelas aja, aku di polisikan. Aku bergidig mengingat nya. Aku tidak ingin terkena amarah tuan Angga lagi.
"Non, setengah jam lagi saya harus menjemput tuan Angga. Hari ini beliau ada meeting penting. Nona tolong agak cepat ya. Saya tunggu di mobil." Selesai berkata, Deni langsung pergi menuju mobilnya.
"Mak... tuan Angga menyuruh asisten nya untuk menjemput kita. Tapi kita hanya boleh membawa barang sebanyak kotak sepatu ini." Kata ku dengan penuh penyesalan.
Emak dan kedua adik ku terbengong.
"Oh. gak papa An... Kita bawa yang penting- penting saja." Emak terlihat tegar. Ia segera membongkar koper, mengambil dua buah foto berbingkai. Ia keluarkan foto bapak juga foto keluarga kami dari bingkainya. Ibu hanya mengambil fotonya saja. Bingkainya ia tinggalkan diantara barang- barang lainnya.
Sementara Nita dan Doni membawa boneka dan baju- baju kesayangan mereka. Aku mengambil tiga pasang baju kerja, juga satu- satunya sepasang sepatu kerja ku. Aku kebingungan saat kesulitan mengaturnya ke dalam kotak sepatu. Karena barang- barang itu tidak bisa masuk semua ke dalam kotak sepatu yang kecil itu.
__ADS_1
Doni punya ide memakai baju rangkap tiga. Aku tertawa melihatnya, namun aku juga mengakui kalau idenya cukup cemerlang. Benar juga, tadi kan Deni bilang nya untuk barang yang dibawa tidak boleh lebih dari kotak sepatu. Tidak mengatakan berapa baju yang boleh dipakai ya kan? Aku dan Nita langsung mengikuti ide Doni. Ku pakai baju berlapis.
'Thin....thin'
Sepertinya Deni sudah tidak sabar menunggu kami. Aku segera mengajak Emak dan adik- adik untuk segera ke mobil. Deni keluar dari mobil bermaksud membukakan pintu mobil buat kami. Tapi ia kelihatan heran melihat kami. Mungkin ia tidak menyangka kalau kami akan memakai baju berlapis- lapis.
"Ehm... mungkin tadi saya tidak menyampaikan pesan tuan Angga dengan jelas. Mengenai pakaian, cuma yang melekat di badan aja yang boleh di bawa." Deni tersenyum- senyum geli melihat kami.
Ku akui tingkah kami memang sangat udik. Pantas saja kalau Deni menertawakan nya. Kami pun segera melepas baju rangkap yang kami pakai. Deni segera meminta baju yang baru kami lepas dan membawanya menjauh. Ia melemparkan baju- baju itu ketumpukan barang- barang kami yang lain.
Saat Deni berbalik kearah kami, terlihat asap mengepul. Aku terkejut melihat asap yang semakin tebal.
"A... a...pa yang kamu lakukan?" Tanya ku pada Deni penuh kemarahan. Baju- baju kami, meskipun bukan baju bermerk masih layak pakai. Setidaknya kalau nanti ada pemulung yang menemukan masih bisa memakainya.
"Kalau bukan saya yang bakar, bu Tini pasti membakarnya juga. Lebih baik Nona dan keluarga cepat masuk ke dalam mobil. Takutnya banyak warga datang, dan akan mempersulit kita nantinya." Kata Deni seraya membukakan pintu mobil. Emak dan adik- adik ku duduk di kursi belakang. Sementara aku duduk di bangku sebelah sopir.
Mobil melaju dengan halus. Aku masih menata kata- kata untuk ku ungkapkan pada Deni. Belum juga ku lemparkan pertanyaan, Deni sudah membuka perkataan.
"Non... Seminggu ini untuk sementara tinggal di penginapan, sambil menunggu renovasi rumah selesai. Hari ini nona tidak usah ke kantor, tadi tuan Angga sudah memintakan ijin pada atasan nona. Jadi hari ini gunakan waktu sebaik- baiknya untuk nona dan keluarga berbelanja pakaian. Nanti ada sopir yang akan mengantarkan. Dan pesan tuan Angga, belanja hanya di tempat yang ditunjukkan saja. Jangan di tempat lain. Untuk daftar belanja yang harus dibelanjakan, nanti saya kirim lewat WA. Oh iya ada jatah makan, tiga kali sekali di restoran di dalam penginapan itu juga." Deni menutup penjelasan panjang lebarnya. Aku hanya mengangguk.
"Mas Deni... saya sangat berterimakasih atas bantuannya buat keluarga kami," ucap ku tulus.
__ADS_1
"Nona saya hanya menuruti perintah tuan Angga. Sebaik nya ucapan terimakasih itu disampaikan pada beliau saja." Kata datar Deni membuat ku sedikit kesal. Aku tulus mengucapkan trimakasih padanya. Kalau urusan tuan Angga pasti nanti aku telephon dia secara khusus nanti.