Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Panggil Mama


__ADS_3

Hubungan yang dilandasi keegoisan adalah sebuah hubungan yang rapuh.


****


Aku menangisi kepergian Bapak yang tidak mengindahkan panggilanku. Aku hanya bisa menangis dan menangis hingga suara ku habis, tak ada lagi suara yang keluar dari tenggorokan ku. Aku terisak.


Sebuah tangan menggenggamku erat, ikut menangis bersama ku. Aku tidak tahu siapa yang menggenggam tangan ku. Namun aku bisa merasakan kehangatan nya, kepedulian nya, ketulusannya.


Saat ini aku hanya melihat seberkas sinar putih hangat. Membuat ku merasa nyaman dan tenang. Aku ingin sekali menyelami cahaya hangat itu. Namun seakan tubuh ku ditahan sesuatu. Ada selang yang menjerat tangan kanan ku. Juga ada beberapa selang yang tertanam di dada ku.


Sebuah selang besar menghembuskan udara di hidungku terasa sangat mengganggu. Seakan memompa udara hingga memenuhi paru- paru. Aku berusaha melepaskan selang- selang yang mengganggu ku. Usaha ku masih belum berhasil. Seakan selang- selang itu tertanam kuat dalam tubuh ku.


Tangan ku masih terlalu lemah hingga hanya mampu menggantung sesaat di udara. Kemudian terkulai lemah takberdaya. Pandangan mata ku kabur, aku terbawa kedalam cahaya hangat. Aku merasa nyaman terbuai dalam mimpi tak berwujud. Sayup- sayup ku dengar suara. Suara seorang wanita yang sangat lembut. Suaranya hangat dan keibuan. Tapi itu bukan suara emak.


"Tolong ya sust... jaga pasien baik- baik." Kata lembut wanita itu. Aku ingin membuka mata ku. Namun rasanya mata ku begitu berat seperti ada lem melekat dikelopak kedua mata ku. Aku ingin mengangkat tangan mu, namun jari- jari ku pun terasa seperti membeku.


Apakah dia emak? Aku ingin memeluknya. Aku ingin merasakan kehangatan pelukan emak. Namun wanita itu berlalu menjauhi ku.


Suasana kembali senyap, cahaya hangat itu terus menemani ku. Beberapa waktu yang cukup lama aku terkurung dalam cahaya hangat, membuat ku terhipnotis dalam kesenyapan. Sampai aku merasakan sebuah pelukan. Pelukan hangat, menjalar ke seluruh tubuh ku. Seperti selimut membungkus rapat seluruh prrmukaan tubuh ku.


Bisikan lembut singgah di kuping ku, "Ana... cepat sadar... Bangun Ana..." Bisikan lembut yang membuat damai hati ku. Suaranya sangat merdu. Membuat ku merasa nyaman untuk selalu bisa mendengar suara itu. Aku ingin menggapai suara itu, namun lagi- lagi tangan ku tak bisa ku gerakkan. Tangan ku seperti dahan kayu, tak ada saraf yang terasa.


Sebenarnya aku kenapa... apakah aku sudah benar- benar mati? Mengapa kehampaan datang kembali saat suara itu tak terdengar?


Dengan sekuat tenaga, ku gerakkan tangan ku. Namun semua upaya ku tak juga berhasil.


"Dokter.... pasien merespon..." Ku dengar suara wanita yang lain berteriak.

__ADS_1


Seketika kesadaran ku langsung terkumpul. Aku belum mati, dan saat ini aku harus berjuang. Ku gerakkan sekuat tenaga ke dua tangan ku. Meskipun sepertinya tidak membuahkan hasil, aku terus berusaha. Aku ingin bangun.


Ku lihat ada sebuah cahaya kecil, cahaya itu menembus bola mata ku. Semakin lama semakin menyilaukan.


"Bagaimana Dok...? Apakah Ana sudah sadar?" Terdengar suara wanita yang sangat lembut. Suara itu terdengar dari tempat yang sangat dekat dengan ku. Aku berusaha mencari sebentuk wajah yang membingkai suara lembut itu. Namun yang dapat tertangkap oleh netra ku hanya lah cahaya lembut yang hangat.


"Syukurlah bu, pasien sudah melewati masa kritisnya. Sudah ada tanda- tanda sebentar lagi pasien akan segera sadar." Kata suara pria.


"Syukurlah..." kata suara wanita dengan penuh kelegaan.


Aku berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan jari- jari ku. Aku berhasil. Aku sudah bisa mengontrol pergerakan jari ku. Samar- samar aku bisa melihat bayangan dua orang di depan ku. Ku kerjabkan mata untuk mempertegas pandangan mata ku.


Dua orang di depan ku, seorang pria dan wanita paruh baya sedang serius bercakap- cakap. Aku berusaha menarik perhatian mereka karena tenggorokan ku kering kehausan.


"To...to...long, ai....r" Usaha ku berteriak hanya menyisakan bisikan. Mungkin hanya aku yang bisa mendengar nya. Ternyata wanita bersuara lembut itu mendengar bisikan ku. Ia menoleh ke arah ku.


"Syukurlah...khirnya kamu sadar nak!" ibu takut melihat keadaan mu sangat mengenaskan." Kata nya dengan raut penuh penyesalan.


"A... air." Bisik ku berharap segera mendapat air minum yang sangat ku butuhkan.


Wanita itu segera mengambilkan air mineral botol. Di sodorkan nya sedotan ke bibir ku. Aku segera menyesap air mineral itu untuk segera membasahi kerongkongan ku yang kering.


"Tri...ma ka..sih." Ucap ku terbata. Aku mulai mengumpulkan ingatan ku. Kenapa aku sampai ke tempat ini? Aku ingat Angga. Dimana laki- laki jahat itu yang telah berusaha membunuh ku? Menenggelamkan aku di bathtup dengan tanpa perasaan. Hanya karena cemburu, Angga berubah menjadi monster yang sangat jahat.


Air mata ku mengalir deras. Meratapi kepedihan yang tiba- tiba merasuki hati ku.


"Sabar ya nak...." Tangan halus wanita itu membelai kepala ku. Memberikan ketenangan, yang langsung menular. Membuat tangis ku terhenti.

__ADS_1


Wanita tengah baya itu memandang ku dengan pandangan iba. Ada rasa sakit membayang dari sorot matanya.


"Di mana aku?" Tanya ku mencoba mencari tahu. Karena meskipun alat- alat medis yang ada disekitar ku namun, tatanan kamar menunjukkan ini bukan kamar rumah sakit.


"Ana... kamu aman. Kamu di rumah ibu. Tenang ya... apakah Ana lapar? Mama suapi ya?" Tanya wanita itu dengan penuh perhatian.


"Ibu siapa?" Tanya ku bingung karena wanita itu menyebut diri nya mama? Sementara aku tidak mengenalnya sama sekali. Seketika aku terkesiap, teringat pada cerita Angga. Apakah wanita di hadapan ku adalah mamanya? Mama yang posesif terhadap anak semata wayang nya?


"Ana... kenalkan, nama ku Bu Sherly, mama nya Angga. Tapi sebaiknya Ana panggil mama ya. Mama benar- benar minta maaf atas perlakukan Angga terhadap mu. Tapi syukurlah kalian belum menikah. Itu akan lebih baik." Kata bu Sherly penuh penyesalan.


"Kami sudah menikah." Gumam ku. Aku sudah pasrah kalau bu Sherly akan meluapkan amarahnya dan menyiksa ku seperti perlakuan Angga pada ku.


Tapi sepertinya dugaan ku salah, Bu Sherly langsung memeluk ku. Ia menangis dan berkali- kali meminta maaf pada ku.


"Ana... maaf kan mama. Seandainya mama tahu lebih cepat, engkau tidak perlu mengalami kejadian seperti ini." Bu Sherly masih terisak, seakan ini semua karena kesalahannya.


"Nyonya permisi, ini saya antar bubur non Ana." Kata seorang gadis berseragam perawat. Ia membawa sebuah nampan berisi semangkok bubur dan segelas susu.


"ya... makasih ya sust..." Bu Sherly menerima bubur itu dari tangan perawat. "Gak papa biar saya yang suapi. Suster pasti capek semalaman menjaga Ana. Suster istirahat saja." Kata bu Sherly dengan ramah.


"Iya nyonya, trimakasih. Kalau begitu saya permisi." Si perawat minta diri, ia keluar dari ruangan.


Bu Sherly membantu ku untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Ia sengaja menumpuk dua buah bantal di punggung ku agar aku bisa duduk tegak. Bu Sherly mengambil mankok bubur dari meja. Ia menyuapi ku dengan sangat sabar. Hingga bubur dalam mangkok habis.


"Bagus... dengan cukup makan, kamu akan segera kembali pulih." Kata bu Sherly sambil tetap membantu ku meminum segelas susu hangat.


"Trimakasih Bu..." Kata ku tulus.

__ADS_1


"Panggil mama ya...!" Tuntut bu Sherly.


__ADS_2