Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Konspirasi


__ADS_3

Melihat penampilan seksi nyonya Sherly, seketika membuat sesuatu di balik celana Deni mengeras. Mencoba mendesak keluar untuk memperlihatkan power nya.


Melihat keterpanaan Deni membuat Sherly gemas. Ia segera menarik tangan Deni masuk ke dalam kamar.


"Kenapa baru mengunjungi ku? Apa kamu tidak kangen sama aku?" Cecar Sherly dengan suara lembutnya manja.


"Angga tidak pernah kasih kesempatan untuk ku bisa sedikit bersenang-senang dengan mu." Kata Deni sambil mengecup bibir Sherly.


"Sabar aja dulu. Apa saja jerih lelah mu semua itu nantinya toh akan jadi milik mu juga."


Kata Sherly menenangkan Deni. Sherli membalas pagutan bibir Deni. Ia memeluk pinggang Deni, sementara badan nya menempel rapat di dada Deni. Membuat pemuda itu semakin terbakar gairah.


Gundukan kenyal Sherly, mengirimkan getar yang tak dapat dielakkan nya.


Dua pasangan itu bergelut memuaskan hasrat terpendam mereka. Umur yang berpaut sangat jauh. Serly lebih tua, umurnya dua kali lipat dari usia Deni. Namun hal itu tidak menyurutkan kedekatan mereka.


Sebuah skandal, yang tidak diketahui oleh Angga sama sekali


***


"Mak... kenapa belum juga tumbuh tanaman nya?" Tanya Doni saat kami sedang bersantai di teras rumah di sore hari.


"Itu ... sudah mulai bertunas bibit nya." Jawab emak sambil menunjuk berbaris- baris galuran tanah. Emak tersenyum bahagia. Kerja keras nya selama ini sudah mulai terlihat hasil nya.


Aku malah sedikit pesimis. Kalau sayur kami nanti melimpah, apakah bisa laku di jual? Pikiran ku sempat down karena. Tempat kami sangat jauh dari pasar. Semoga emak tidak akan kecewa nantinya.


Halaman sekitar rumah, semua sudah bersih, di sepanjang galur sudah mulai menumbuhkan tunas- tunas muda. Rasa nya sudah tidak sabar menantikan panen berbagai macam sayur dan juga jagung manis.


***


Di ruangan kantor Angga, siang itu nampak dua orang sedang bersitegang.


"Angga... paman tidak terima. Kamu sudah mempermalukan paman di depan jajaran direksi. Sedemikian bencinya kamu sama paman mu ini??!!"


Teriak pria paruh baya itu sambil melemparkan tumpukan map di hadapan Angga. Membuat Angga seketika naik pitam.


"Paman yang tidak tahu malu. Kalau tidak mengingat engkau adalah adik almarhum papa, tentu sudah lama paman ku tendang dari perusahaan ini. Aku dulu sangat menghormati mu paman. Bahkan aku tidak mempersoalkan, saat aku tahu kebusukan paman. Aku tidak pernah mencampur- aduk kan urusan pribadi dengan perusahaan. Namun paman sudah keterlaluan. Paman menghianati kepercayaan ku. Uang yang paman gelapkan itu sebagai bukti bahwa paman tidak pernah bisa dipercaya. Dan sekarang, buat apa aku mempertahankan paman di perusahaan ini?"


Kata Angga berapi- api. Nada kekecewaan begitu kental menguar dalam teriakan kemarahan Angga. Ia kecewa pada satu- satu nya paman yang dimiliki nya. Ia sudah menganggap Danu Wijaya sebagai pengganti papanya yang telah lama meninggal. Walaupun sempat ia dulu pernah kecewa setelah tahu paman nya lah penyebab papa nya terkena serangan jantung. Namun seiring waktu ia melupakan kekecewaan nya.


"Angga... supaya kamu tahu. Bukan karena aku tidak ada usaha lain hingga aku tetap bertahan di Star Group. Aku sudah punya beberapa perusahaan yang cukup maju. Aku bertahan di sini semata- mata untuk menjaga mu seperti pesan almarhum papa mu." Kata Danu lirih, meredakan tensi amarah nya.


"Paman, aku tidak butuh sosok seorang yang berpura- pura jadi pahlawan. Sekarang putuskan saja. Paman resign atau ku pecat. Aku harap paman bisa membuat keputusan yang benar." Kata Angga angkuh.


Sejenak tercipta ketenangan yang menegangkan. Dua orang itu saling membungkam dengan beribu pikiran.


"Ok. Kalau ini yang kamu mau, aku akan resign. Tapi ingat, ada syarat yang harus kamu pahami terlebih dahulu. Sebelum kamu membuat keputusan." Paman Danu beranjak dari duduk nya, ia mengambil sebuah surat yang terlipat dari balik kantong jas nya. Surat itu dilemparkannya tepat di hadapan Angga.

__ADS_1


"Baca baik- baik sebelum membuat keputusan." Ultimatum paman Danu membuat Angga semakin gusar. Tanpa memperdulikan surat yang dilemparkan paman Danu, Angga segera bangkit dari kursinya. Ia berjalan membuka pintu. Angga mau menunjukkan kalau ia sudah tidak ingin paman nya berlama- lama di ruangannya.


Dibantingnya pintu ruangan nya sesaat setelah paman Danu keluar.


"Bodoh... bodoh...," Angga memukul- mukul kepalanya sendiri. Ia benar- benar tidak habis mengerti telah dibohongi habis- habisan oleh paman nya sendiri. Paman Danu yang dihormatinya adalah orang yang menggelapkan dana besar di perusahaan nya. Kalau dibiarkan terus, bisa jadi sebentar lagi perusahaan nya gulung tikar merugi.


Angga menekan amarah nya. Ia memang belum punya bukti yang cukup kuat untuk dapat menyeret paman nya ke jeruji besi. Namun ia bertekat akan segera melakukan nya setelah semua bukti terkumpul.


Angga kembali duduk ke kursinya hendak memulai kembali pekerjaan nya. Saat sebuah surat dalam amplop coklat menarik perhatiannya. Surat yang dilemparkan paman nya tadi. Ia berpikir mungkin itu adalah surat pengunduran diri paman nya.


Angga membuka surat itu dan memeriksa isinya. Beberapa lembar surat teketik rapi. Salah satu surat mengusik perhatiannya. Surat dengan kop Rumah Sakit Medika Farma. Seingat nya itu rumah sakit dimana papa nya meninggal. Ada apa dengan rumah sakit Medika Farma? Ia semakin penasaran.


Angga segera membaca surat itu, alangkah terkejutnya ia saat mengetahui isinya. Ternyata sebuah surat ver mayat (hasil otopsi mayat atas nama papa nya). Surat hasil otopsi itu menjelaskan kalau penyebab kematian papa nya karena keracunan sianida.


Angga tidak habis pikir. Manakah informasi yang benar? Waktu ia masih kecil, ibunya sering menceritakan kisah kematian papanya. Papa nya meninggal karena serangan jantung setelah bertengkar dengan Danu, paman Angga. Namun selembar kertas di tangannya seketika membuat hatinya bimbang.


Ia mengecek tanggal surat, 23 September 1992. Bertepatan dengan tanggal kematian papanya. Bisa jadi ini adalah surat otopsi yang asli. Pikir Angga, sudah waktunya ia mencari kebenaran atas kematian papa nya dua puluh tahun yang lalu.


Ia memeriksa kertas berikutnya. Sebuah fotocopyan Akta kelahiran. Atas nama Angga Lesmana Wijaya. "Apa- apa an ini? Apakah paman kurang kerjaan hingga ia menyalin akte kelahiran ku?" Gumam nya.


Ditengah kekesalannya, Angga terus saja menyelesaikan membaca salinan akta kelahiran nya. Ia melihat ada yang janggal. Nama ibunya Niara, bukan Sherly. Apa maksudnya ini? Apakah ini keisengan paman nya?


Angga membuka lembar ke tiga. Kertas terakhir bertulisan tangan seketika menarik perhatiannya. Ia mengenalinya, itu tulisan tangan paman nya. Angga segera membaca surat paman Danu.


Isi surat paman Danu:


Sejak lama paman menyembunyikan kebenaran dari mu. Paman tidak ingin kamu terluka kembali. Namun sudah saat nya kamu tahu kebenaran tentang segala yang terjadi di sekeliling mu.


Ada konspirasi dalam perusahaan hingga membuat papa mu terbunuh. Sekelompok orang berkedok malaikat yang selama ini berdiri di samping mu berniat mencelakakan mu. Sama seperti yang dilakukan nya pada papa mu.


Angga, kalau kamu ingin tahu kebenarannya. Temui paman di Rosseta Cafe. Ingat, ada mata- mata yang selalu mengawasi mu. Berhati- hati lah."


Angga melipat surat paman Danu dan menyimpannya di saku jas nya. Ia termenung memikirkan isi surat paman Danu. Benarkah apa yang dikatakan paman Danu? Pikiran nya terasa makin ruwet. Dihempaskan nya tumpukan file dari atas meja kerja nya. Membuat ruangan seketika berantakan.


Ia paling benci dengan penghianatan. Kalau sampai ia tahu siapa pembunuh papa nya. Angga bertekat akan membuat perhitungan pada nya. Dengan tangan nya sendiri Angga akan menghukum pembunuh itu.


Alarm bahaya menggema di pikirannya. Sekarang ia harus sangat berhati- hati. Mungkin hilang nya Ana juga karena sebuah konspirasi. Karena sangat tidak masuk akal baginya. Bagaimana cctv di rumahnya tiba- tiba rusak saat Ana melarikan diri?


Angga menuliskan worning buat dirinya sendiri. Sekarang ia adalah target. Ia tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Sebaiknya ia waspada, mengantisipasi setiap orang di dekatnya.


Ia mulai berfikir, apakah mungkin ada mata- mata di sekeliling nya? Ya, bukan tidak mungkin. Kalau gerak- gerik nya selalu diawasi.


Ia harus selangkah lebih maju dari musuh- musuh nya. Ia akan membuat para musuh itu menampak kan hidung nya satu persatu dan menerima balasan dari nya.


Angga menjungkir balikkan mejanya. Mengacak semua dokumen yang tertata rapi di laci lemari. Semua terhambur berantakan. Setelah meluapkan amarah nya, ia berlalu meninggalkan ruangan nya.


Di depan ruangan nya, ia berhenti di depan meja Deni. "Deni... bereskan ruangan ku. Dekor ulang. Besok ruangan ku harus sudah siap dengan tatanan yang baru!"

__ADS_1


Kata Angga datar, seakan apa yang barusan dilakukan nya hanyalah masalah kecil.


Deni melemparkan senyum munafik nya. "Baik Tuan, akan segera saya kerjakan." Kata Deni berusaha menjilat Angga.


Tanpa berkata- kata lagi, Angga langsung berjalan menuju ke lobi dan memesan taxi online. Tidak perlu menunggu lama, mobil yang dipesan nya sudah datang. Angga duduk tenang di kursi penumpang. Sambil menyalakan handphone nya.


Ia memeriksa tampilan cctv yang terhubung dengan smart phone nya. Melalui earphone nya ia menangkap suara marah- marah Deni.


"Dasar bos si*lan, sekarang kau boleh sesuka mu. Setelah ini akan ku balas semua perlakuan mu selama ini padaku." Terlihat Deni berkeliling seluruh ruangan. Memeriksa kondisi ruangan yang terlihat kacau balau.


"Ban*sat, dihancurkan nya cctv yang kupasang beberapa waktu lalu." Kata Deni kembali. Ia sibuk membuat panggilan kepada beberapa orang.


Angga mendesah, ia sangat kecewa. Deni yang dianggapnya tangan kanan kepercayaan nya telah menghianatinya. Deni salah satu mata- mata komplotan penghianat itu yang memasang cctv di ruangan kantor nya. Kemungkinan juga ada mata- mata di rumah kediaman nya.


Angga kembali fokus mengamati Deni yang masih marah- marah. Saat ada telephon masuk, Deni mengubah ekspresinya.


"Ya Tuan, ada hal lain yang perlu saya kerjakan?" Tanya Deni sopan.


"Laptop ku mungkin rusak. Perbaiki ! Kalau tidak bisa setidak nya selamatkan data- data penting perusahaan." Kata Angga datar. Ia segera memutuskan panggilan nya. Angga ingin tahu apa lagi yang akan dilakukan Deni.


Deni tidak tahu sedang diawasi Angga. Ia segera mengambil laptop yang terjatuh di lantai. Dicobanya menghidupkan laptop Angga. Rupanya, meskipun laptop itu terhempas ke lantai tidak mengalami kerusakan berarti. Dengan sekali tekan, laptop itu menyala dan baik- baik saja.


Deni dengan mudah membobol sandi laptop Angga. Ia segera mentransfer semua data- data dari laptop Angga. Setelah beberapa saat, ia telah menyelesaikan meretas data- data penting Angga. Seringaian puas menghiasi wajah Deni. Tanpa merasa bersalah, Deni melemparkan laptop Angga hingga terhempas keras di lantai.


Sebuah notif pesan masuk ke handphone Angga. "Maaf tuan, lap top nya rusak parah. Perlu beberapa waktu untuk memperbaikinya." Pesan Deni.


Angga menghela nafas berat. Betapa sakit hatinya, melihat penghianatan Deni di depan matanya. Deni bisa dikatakan adalah satu- satunya orang yang sangat dia percaya selama ini. Bahkan ia tidak segan memberikan gaji tinggi untuk nya. Susu dibalas dengan toba. Kebaikan dan kepercayaan nya dibalas dengan kejahatan dan penghianatan.


Angga menutup handphone nya. Ia harus berfikir lebih keras agar bisa bertahan diantara konspirasi musuh- musuh nya. Angga menyuruh taxi on line menuju ke hotel Permata Inn. Ia harus berhati- hati disetiap langkah nya.


Angga segera masuk ke dalam hotel. Dengan goldcart nya ia langsung naik menuju ke sebuah kamar president suit di lantai tujuh. Angga membuat panggilan ke pada resepsionis untuk memesankan taxi on line langsung menjemputnya di rooftop.


Setengah jam kemudian, mobil yang ditumpangi Angga melaju menuju Rosseta cafe. Ia sudah berganti baju. Celana jeans dipadu dengan kaos Denim dan jaket senada dengan celana jeans nya, sebagai pelengkap penampilannya sore itu.


Rosseta cafe yang ditujunya adalah sebuah bar yang dikamuflase sedemikian rupa. Hanya orang- orang penting dan khusus anggota saja yang bisa mengakses nya.


Orang biasa akan melihat Rosseta cafe sebagai sebuah tempat tongkrongan para pemuda. Disana hanya ada berbagai jenis minuman kopi yang nikmat dan aneka makanan yang lezat. Namun di dalam nya juga tersedia sebuah tempat khusus. Dimana dunia malam tersaji lengkap di sana.


Mulai berbagai jenis bir sampai minumam beralkohol dengan kadar tinggi ada di sana. Tak ketinggalan, keberadaan wanita- wanita penghibur dengan bayaran selangit juga siap sedia memuaskan nafsu para borjuis kesepian.


Angga melangkah menuju kesebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kantor. Itulah satu- satu nya akses menuju ke ruangan rahasia. Dengan kartu keanggotaan nya meloloskan Angga bisa memasukinya.


Sore itu suasana masih lengang. Hanya ada beberapa pengunjung. Angga mengedarkan pandang nya, mencari- cari sosok paman nya. Di ujung ruangan di sebuah sofa paman nya sedang menunggu nya. Kepulan asap rokok sedikit menyamarkan keberadaan nya.


Angga berjalan mendekati paman nya. Tampak senyuman lebar menghiasi wajah paman nya.


"Hahahaha... Angga.... angga, bagaimana kamu begitu mudah percaya pada ku hanya dengan lembaran- lembaran kertas tak berharga itu?" Kata paman Danu seketika memprofokasi Angga.

__ADS_1


__ADS_2