Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Ide Cemerlang Nafa buat Aldin


__ADS_3

"Nafa... kenapa dia ikut?" Kak Aldin menunjuk tepat ke arahku.


"Oh iya Al, aku belum kasih tahu kamu kalau Nafa sudah sejak kemarin pindah ke kota Dingin?" berita Mas Sakti.


"Pindah...? Maksudnya?" Kak Aldin nampak kaget mendengar aku pindah ke kota Dingin.


"Di kota Cemara keselamatannya terancam. Meta dan mantan ibu mertuaku selalu berusaha mencelakai Nafa, aku takut terjadi apa-apa jika membiarkan Nafa terus di sana."


"Kenapa harus takut, jika mereka melakukan tindakan yang membahayakan, maka laporkan saja ke pihak berwajib," ujar Kak Aldin remeh.


"Itu dia Al, aku sedang menunggu itikad baik dari pihak Meta. Aku memberi kesempatan 1x24 jam untuk pihak Meta agar meminta maaf. Dan jika dalam waktu 1x24 jam pihak Meta tidak minta maaf maka kami akan membuat perhitungan... "

__ADS_1


"Baiklah Al aku sungguh sudah stress dibuatnya Al. Aku kasihan melihat Nafa. Dia merasa terancam."


"Jadi kalian pindah ke kota Dingin?"


"Iya, demi menghindari Meta dan mantan mertuaku yang kayaknya masih dendam."


Ketika Mas Sakti dan Kak Aldin sedang terlibat obrolan, tiba-tiba seorang perempuan berbusana formal masuk dan permisi, dia menghampiri meja Kak Aldin dan memberikan sebuah lapangan merah. Rupanya melihat dari percakapan mereka, perempuan yang aku kira berusia 3 tahun diatasku itu adalah seorang Sekretaris.


Walau berpakaian formal, namun sepertinya pakaiannya terlalu sempit dan kurang bahan. Rok diatas lutut sehingga paha putihnya kelihatan, serta belahan dada blazernya rendah memperlihatkan dua pemandangan yang perih di mata. Sebagai kaum sesama perempuan, aku jujur merasa malu.


Aku merasa kesal yang entah kenapa. Cemburu bukan, namun ada perasaan yang tidak rela jika Kak Aldin harus dimiliki oleh orang lain. Sayang banget rasanya.

__ADS_1


"Kak, ngomong-ngomong Kak Aldin kapan akan melamar?" Sebuah pertanyaan konyol yang tiba-tiba keluar dari mulutku, dengan tujuan membuyarkan pikiran busuk Shera yang seakan memiliki perasaan lain selain urusan pekerjaan.


"Melamar, siapa yang akan melamar?" tanya Kak Aldin heran.


"Bukankah Kak Aldin sebentar lagi akan melamar Nara?" tanyaku membuat Kak Aldin termasuk Shera terbelalak tidak percaya.


"Apa maksudnya Nafa, aku melamar Nara?"


"Iya Kak, mungkin Kak Aldin lupa lagi agendanya ya? Kak Aldin sih terlalu sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini, " ucapku semakin membuat Kak Aldin bengong.


"Sher... tolong kerjakan yang ada dalam surat perjanjian itu, saya akan hubungi kamu setelah ini ya!" Kak Aldin mengusir Shera secara halus. Sekarang giliran aku menghadapi Kak Aldin yang tentunya akan mempertanyakan maksud perkataan kumpulan tadi.aku melamar Nara?"

__ADS_1


"Iya Kak, mungkin Kak Aldin lupa lagi agendanya ya? Kak Aldin sih terlalu sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini, " ucapku semakin membuat Kak Aldin bengong.


"Sher... tolong kerjakan yang ada dalam surat perjanjian itu, saya akan hubungi kamu setelah ini ya!" Kak Aldin mengusir Shera secara halus. Sekarang giliran aku menghadapi Kak Aldin yang tentunya akan mempertanyakan maksud perkataan kumpulan tadi.


__ADS_2