Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Seperti Kencan


__ADS_3

Nara sudah siap dengan kaos panjang berwarna kuning dan rok semata kakinya. Wajahnya dipoles *skincare* tipis dengan dibubuhi sedikit chusion, lipstik warna natural, dan tidak lupa bawah matanya pakai celak. Waaawww, sekilas Nara mirip artis Sandy Auliya yang selalu terlihat sederhana namun cantik. Tepatnya sederhana namun cantik dan elegan.


Nara memang terlahir dari keluarga yang sederhana. Namun, keluarga Nara tidak hilang adab karena kesederhanaan. Mereka tetap menerapkan kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral serta norma agama.


"Mau kemana, Nak, pagi-pagi sudah sangat cantik?" puji ibu Melati, ibunya Nara. Kebetulan saat itu keluarga Nara sedang berada di rumah, karena hari Minggu. Bapaknya Nara ikut menoleh saat anaknya dipuji Bu Melati.



"Betul tuh kata Ibu, kamu sangat cantik. Mau kemana, Nak? Tumben?" timbrung pak Kusuma diiringi senyum.



"Bapak, Ibu, boleh tidak pagi ini Nara pergi keluar bersama teman Nara? Emmm ... sebentar lagi Nara akan dijemputnya, Pak, Bu," ucap Nara meminta ijin dengan perasaan ragu.



"Tumben, dengan siapa, Nak? Laki-laki atau perempuan?" tanya pak Kusuma heran.


"Teman Nara, Pak. Sebenarnya ... dia saudara dari suaminya Nafa. Hari ini katanya mau jemput Nara ke rumah," jawab Nara takut.


"Saudara suaminya, Nak Nafa? Ada apa dia ingin mengajak kamu keluar, apa kalian ada hubungan?"

__ADS_1


"Tidak, Pak. Kami hanya kenal biasa saja. Lagipula Nafa menganggap Kak Aldin sudah seperti ke kakak sendiri," tandas Nara.


"Kalau Nak Aldin serius, bapak juga tidak masalah, Nak. Semoga saja kalian ada jodoh," cetus Pak Kusuma tiba-tiba,membuat Nara terbelalak tidak percaya.



"Tidak kok Pak, kami hanya kenal biasa dan sekarang jadi kenal karena kami sering bertemu, dan kebetulan Hp Nara rusak saat bertabrakan dengan Kak Aldin," kelit Nara malu. Nara memang jujur, dia tidak ada hubungan khusus sama Aldin. Namun saat digoda seperti ini oleh bapaknya, Nara otomatis menjadi tersipu malu.



"Ohhhh, jadi Hp kamu yang rusak dan diservis itu karena bertabrakan sama saudara suami Nak Nafa?"


"Kalau begitu, kamu harus berterimakasih sama dia, Nak. Dia sudah menunjukkan rasa tanggung jawab meskipun dia tidak sepenuhnya salah," ucap pak Kusuma bijak.



Untuk menghindari rasa malu yang berkelanjutan atas godaan Pak Kusuma, Nara melangkahkan kaki ke kamarnya.



Di kamar, Nara masih menahan rasa malu. Ucapan bapaknya tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya, seakan sebuah kode alam bahwa lelaki seperti Kak Aldinlah yang pantas menjadi pasangan hidup karena dia punya tanggung jawab.

__ADS_1



Hp yang kemarin sudah diservis itu, kini sudah bisa menyala. Dan bisa digunakan, namun Nara masih ragu untuk memakainya, padahal Aldin sudah mewanti-wanti supaya Nara menghubunginya jika dia sudah siap dan akan dijemput.



Lama Nara berada di kamar untuk sekedar memikirkan keputusannya yang membuat bingung. Akhirnya Nara mengikuti kata hatinya, dia tidak menghubungi Aldin. Nara merasa malu untuk menghubungi Aldin. Nara membiarkan Aldin yang berinisiatif menjemput, tanpa memberitahu dia sudah siap atau belum. Bahkan inginnya Nara, Aldin tidak jadi datang menjemputnya.



Tidak berapa lama dari itu, saat Nara merasa bingung. Tiba-tiba terdengar seseorang di depan pintu mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum ..." salamnya tenang namun lantang. Bapak dan ibu saling pandang heran.


Namun salam itu dijawab juga oleh mereka bertiga.


"Waalaikumsalam!" sahut mereka kompak. Nara berdiri tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


"Kak Aldin .... " lirih Nara seraya menunduk. Aldin menatap dalam ke arah Nara, entah apa yang dipikirkan.


"Ayo!" ajaknya.

__ADS_1


__ADS_2