Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Parah


__ADS_3

Angga merapikan kembali kertas foto yang tadi direm-asnya. Ia pasang kembali foto ke dalam bingkainya semula. Ya ia telah membuat keputusan untuk mengikuti saja permainan mama Sherly yang licik.


Angga merasa ada yang terlupa olehnya. Saat ia mengambil phonselnya seketika ia ingat. Ia belum menghubungi Toni.


Belum juga ia mengetikan nomor tujuan, saat sebuah panggilan masuk. Dari Toni.


"Halo... selamat pagi pak... maaf tadi hp saya tertinggal di kantor. Pak...Bu Ana pendarahan. Saya tidak tahu pasti penyebabnya. Tadi saya dengar desas-desus kalau pak Hardi manager pemasaran berniat buruk pada bu Ana, sehingga mengakibatkan bu Ana pendarahan." Toni memberikan penjelasan.


"Bagaimana nasib anak ku? Apakah mereka baik-baik saja?" Tanya Angga tak sabar.


"Untunglah Pak... Bu Ana dan janinnya baik-baik saja. Sekarang masih dirawat intensif. Bu Ana juga sudah didampingi Bu Romlah." Jawab Toni menenangkan Angga.


"Hhhh... Toni, aku sangat mengandalkan bantuan mu. Saat ini aku tidak tahu percaya pada siapa lagi. Tolong jaga bu Ana untuk ku. Dan tolong tetap rahasiakan ini dari siapapun termasuk bu Ana ya. Aku tidak ingin istri dan anak ku jadi korban kejahatan orang." Kata Angga putus asa.


Toni hanya mengangguk, meskipun ia tahu Angga tidak mungkin bisa melihatnya.


"Toni kalau aku mengangkatmu jadi Direktur "Palm" apakah kamu bersedia?" Tanya Angga menguji Toni.


"Tuan... kapasitas saya belum sampai di sana. Saya masih dalam proses belajar. Jangan mengangkat saya karena kepentingan pribadi, namun sebaiknya dipertimbangkan juga kemampuannya." Jawab Toni tegas.


Seketika Angga tersenyum, ia tidak salah memilih orang. Toni bukanlah orang yang haus kekuasaan. Angga merasa tidak salah memilihnya sebagai tangan kanannya di perusahaan minyak goreng Palm. Toni selain sebagai asisten di devisi pemasaran, Ia juga sebagai mata-mata Angga di sana.


"Toni, kamu akan menggantikan posisi Hardi sebagai manager pemasaran. Siap tidak siap kamu harus menerima pekerjaan ini." Kata Angga tegas. Kali ini perintah Angga tidak bisa ditawar.


Toni sangat terkejut, apakah ia tidak salah dengar? Bagaimana bisa ia serta merta naik jabatan menjadi manager pemasaran? Ketakutan Toni lebih kepada ketidak percayaan pada kemampuan dirinya untuk menghandel tanggung jawab ini.


"Maaf Pak...." Kata-kata Toni langsung di potong Angga.


"Ini adalah perintah. Toni... persiapkan diri saja! Kumpulkan bukti-bukti pelanggaran Hardi secepatnya. Ia harus menerima balasan lebih parah dari yang dialami Ana. Secepatnya semua bukti-bukti itu harus sudah saya terima kalau bisa dalam minggu ini juga!" Kata Angga mengultimatum.

__ADS_1


"Baik Pak." Jawab Toni bersemangat. Ia merasa sangat antusias, karena ini waktunya untuk membalas semua kesalahan Hardi di masa lalu.


Dua tahun lalu adik perempuan kandung Toni bunuh diri. Penyebabnya karena Hardi memperkosanya dan tidak mau bertanggung jawab padanya. Dengan susah payah Toni berusaha menyusup masuk ke perusahaan Palm. Ia berniat membuat perhitungan pada Hardi. Setahun ini ia menjadi staf di perusahaan Palm. Namun sepertinya tidak ada jalan untuk mewujudkan rencananya.


Tanpa disangkanya, saat pembalasan akhirnya segera tiba. Ia akan membuat Hardi kehilangan nama dan memaksanya merasakan tekanan penderitaan yang juga dialami adiknya. Juga bu Ana.


Sebuah kebetulan yang diatur oleh nasib baik.


***


"Lepaskan....lepaskan.... jangan sakiti aku..." Teriak Ana menggigau.


"An... Ana... emak di sini, kamu baik-baik saja. Sadarlah An...." Kata emak berusaha menyadarkan ku.


"Emak....." Aku menangis terisak.


"An... sudah Nak... jangan menangis, kasihan anak dalam kandungan mu." Kata emak menasehatiku.


"Iya... anak mu baik-baik saja. Sudah... lebih baik kamu berbaring memulihkan kondisimu masih sangat lemah." Kata emak kembali menasehati ku.


"Berarti aku mimpi ya mak..." Tanya ku bingung.


"Ana mimpi apa?" Tanya emak penasaran.


"Angga datang mencekikku, ia marah karena aku tidak menjaga anaknya dengan baik." Kata ku sambil menangis. Mengingat mimpi itu terasa sangat nyata. Membuat jalan nafasku seakan tersumbat.


"Tidak Ana... tuan Angga tidak datang ke sini. Yang jelas anak mu baik-baik saja. Sudah An... jangan terlalu banyak mikir. Kasihan anak dalam kandungan mu. Sekarang lebih baik berbaringlah dulu. Banyak-banyak istirahat. Sebentar lagi adik-adik mu menyusul kemari. Apakah kamu pingin dibawakan sesuatu?" Tanya emak.


"Ana pingin puding." Jawab ku seketika. Entahlah tiba-tiba hanya itu yang terlintas di pikiranku.

__ADS_1


Emak langsung menelephon Nita menyuruhnya membuat puding dan membawanya saat ke rumah sakit nanti.


"Ana... apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana bisa kamu sampai pendarahan?" Tanya emak hati-hati.


Saat mengingat kejadian pagi tadi seketika hati ku terasa perih. Mengingat seringaian pak Hardi membuat hati ku panas. Ingin sekali aku memukul wajahnya yang tidak merasa berdosa sama sekali itu.


"Gak apa apa An... kalau gak ingin cerita. Emak hanya ingin agar kamu tidak terbawa pikiran yang akhirnya nanti membuatmu semakin terpuruk." Kata Emak menenangkan ku.


Beberapa waktu aku memilih diam. Namun ini menyangkut keselamatan ku juga bayi yang ku kandung. Aku harus terbuka pada Emak, siapa tahu ada solusi untuk masalah ku.


"Mak... tadi pagi di kantor ada yang menggodaku. Aku berusaha menghindar, namun kaki ku terantuk kursi. Aku jatuh terduduk hingga keluar darah segar." Kata ku berterus terang.


Saat mendengar kisah ku, emak serta merta memelukku.


"Ana... semua ini ujian. Yang sabar ya nak... Gimana kalau keluar saja dari kerjaan mu? Lagian masa kehamilan mu ini kamu harus ekstra hati-hati." Kata Emak memberikan nasehatnya.


"Tapi mak... kalau aku kerja, setidaknya aku bisa meringankan keuangan kita." Kata ku menyangkal nasehat emak.


"Tabungan kita sudah cukup untuk menopang hidup kita beberapa tahun ke depan. Kamu gak perlu kuatir." Emak meyakinkan ku.


Kuelus perut ku. Ada sebentuk perasaan kasih pada janin yang mulai berbentuk dalam perut ku. Aku mencintainya. Apa pun akan ku lakukan untuk menjamin keamanan nya sampai terlahir di dunia.


"Iya Mak... Aku akan segera mengajukan resign. Aku tidak mau kehamilan ku sampai terganggu." Putusku pada akhirnya.


Ku usap perut ku. Aku berbisik dalam hati.


"Sayang... baik-baik di dalam ya... ibu akan menjaga mu dengan lebih baik. Ibu tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti mu." Aku mendesah dalam-dalam.


Aku masih saja dihinggapi kecemasan. Apakah kami tidak sebaiknya pergi jauh-jauh dari sini? Agar kehidupan kami kembali damai. Seperti saat kami masih tinggal di tempat pak Sugeng.

__ADS_1


"An... sudah jangan banyak mikir. Nanti saja mikirnya kalau kamu sudah pulih dan diperbolehkan pulang." Kata Emak mengusir segala gundah ku.


__ADS_2