Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Tanda-tanda Melahirkan


__ADS_3

Kembali ke Nafa


Masih POV Author


Nafa duduk manis di balkon rumah sembari menikmati secangkir teh hangat dibarengi kue sebagai camilan. Naufara Butik yang dirintisnya kini sedang berkembang pesat dan mendapatkan kerjasama dari berbagai pihak.


Nafa, kini tinggal menikmati hasilnya. Dia hanya duduk manis menerima hasil yang diluar dugaannya, sebab makin hari pundi-pundi dari Naufara Butik semakin meningkat.



Saat sedang menikmati teh pahit dan camilan, terlihat dari atas balkon mobil. seseorang yang sering adu argumen dengannya tiba-tiba datang. Sudah pasti dia akan menemui Sakti, suaminya.



Deru mobil Aldin terdengar dan berhenti di depan rumahnya. Tidak berapa lama suara salam Aldin menggema.


"Assalamu'alaikum!" salamnya lantang. Dari bawah terdengar suara Wa Rasih menyahut salam Aldin.


Suara itu menghilang tergantikan gelak tawa Aldin dan Sakti di ruang sebelah, yakni ruangan kerja Sakti. Nafa masih santai dengan teh hangat dan camilannya. Dia sejak tadi tahu Sakti ada di ruang kerjanya. Namun Nafa sengaja tidak ingin mengganggunya.


__ADS_1


Tiba-tiba Hp Nafa berbunyi, sebuah panggilan masuk memanggilnya. Saat dilihatnya rupanya dari Nara, sahabatnya. Nafa alangkah bahagia tiada terkira. Dia langsung mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Nara, apakabar? Kemana saja, aku sudah beberapa kali menghubungi kamu tetapi selalu tidak aktif, kemana saja Nar? Kamu sudah tidak ingat aku?" cecar Nafa memberondong pertanyaan.


"Aku ada dan kerja Naf, aku minta maaf karena tidak bisa menghubungi atau dihubungi kamu. Hp aku sejak saat itu rusak, dan blank," jawab Nara dari sebrang sana.


"Kapan kita bisa ketemu Nar, aku sudah kangen. Nanti aku traktir lagi."


"Besok siang saja Naf, di mana?"


"Di Cafe Merkuri saja, bagaimana?"


"Ok, aku setuju," ucap Nara di ujung telpon mengakhiri pembicaraannya.


"Awwwww, aduhhhh .... " ringisnya menahan rasa mulas yang tiba-tiba menyerang perutnya. "Apakah ini waktunya?" tanyanya berdesis menahan rasa sakit.


"Wa Rasih ... Wa ....!" pangginya seraya memegangi pinggangnya yang sakit. Namun Wa Rasih yang dipanggilnya tidak kunjung datang. Namun lima menit kemudian rasa mulas itu menghilang dan biasa lagi.



Lima belas menit kemudian Nafa merasakan rasa mulas kembali, Nafa kembali meringis dan ini rasanya lebih dari yang pertama.

__ADS_1


"Benarkah aku akan melahirkan sekarang?" Nafa masih bertanya-tanya.


Nafa berusaha menurunkan tangga dengan tangan memegangi dinding tangga. "Wa Rasih ....!"


Kembali Nafa memanggil Wa Rasih, dan kini Wa Rasih muncul dengan rasa terkejut.


"Neng, Neng Nafa kenapa?"


"Den, Den Sakti, tolong, Den. Neng Nafa kesakitan!" teriak Bi Narti panik. Sakti dan Aldin yang sedang di ruang kerjanya berhamburan keluar ruangan.


Saat melihat ke bawah, mereka melihat Nafa tengah terduduk kesakitan seraya memegangi pinggang dan perutnya.


"Mas Sakti ... apakah Nafa akan melahirkan, Nafa mulas, Mas," ucap Nafa terengah-engah saat Sakti sudah berada di dekatnya. Sakti yang melihat itu, sungguh merasa kasihan dan sedih.


"Ayo, kita ke RS. Kamu kayaknya mau melahirkan," ucap Sakti seraya menggendong Nafa yang kini semakin merasakan sakit mulas kembali. Air mata tidak bisa ditahan lagi, mengucur deras persis keringat di kening.



Sakti menyiapkan mobil dan memasukkan Nafa lalu membawa Nafa ke klinik Sejati, klinik sejati tempat bidan Dina praktek.


__ADS_1


Tiba di klinik, Nafa disambut para Perawat klinik. Dibaringkan dibrankar untuk pemeriksaan lanjutan oleh Bidanw Dina.


__ADS_2