
Aku dan Angga keluar kamar untuk memeriksa apa yang terjadi di luar. Ternyata seorang wanita paruh baya sedang memunguti pecahan guci yang berserak dilantai. Mungkin saat ia bersih- bersih tadi, tidak sengaja menjatuhkan guci koleksi Angga.
"Apa yang kau lakukan? Dengan gajimu seumur hidup, kau tidak akan bisa menggantinya. Dasar ceroboh!" Teriak Angga meluapkan amarah.
"Hari ini juga kau ku pecat !!! Dasar pembantu sia*an!!"
Damprat Angga dengan marah yang menyala- nyala. Angga seperti orang kesurupan, mata nya mendelik marah, tangan nya berkacak pinggang. Membuat ku terkejut.
Aku juga merasa kasihan melihat pembantu itu terus memunguti pecahan keramik sambil menangis tersedu- sedu. Namun apa daya ku, aku memilih untuk menuruti Angga saat ia mengajak ku kembali masuk dalam kamar.
"Honey, ayo kita masuk kembali. Jangan sampai kamu terkena pecahan kaca!" Ajak Angga menggandeng ku masuk ke dalam kamar.
Aku mengikuti langkah Angga masuk kembali ke dalam kamar. Terus terang aku shock melihat kemarahan Angga yang begitu menakut kan. Belum pernah aku menghadapi orang se kasar Angga. Meskipun tidak main tangan, tapi kata- kata sarkasme nya menyakitkan hati. Apakah Angga tidak pernah diajari keluarganya untuk menghormati orang lain?
Di rumah ku tidak pernah ada teriakan marah, baik itu dari almarhum Bapak atau pun emak. Kalau pun ada masalah, kami akan mendiskusikan bersama. Seringkali bapak hanya menasehati bukan memarahi. Itulah sebabnya kami tidak terbiasa bertengkar. Kata Almarhum Bapak, marah - marah tidak akan menyelesaikan masalah. Malah akan membuat masalah baru. Aku ingin meluruskan ini pada Angga.
"Darling.... kalau aku memecah kan guci apakah engkau akan mengusirku seperti pembantu itu?" Tanya ku hati- hati.
"Apa maksud mu? Honey kamu istri ku, gak bakalan aku usir kamu, karena masalah sepele seperti itu?" Kata Angga mulai menurunkan emosinya.
"Darling... apakah guci itu sangat mahal? Lebih mahal dari harga diri seseorang?" Tanya ku kembali.
"Apa sih Honey... kamu mau membela pembantu sia*an itu?" Kata Angga menuduh ku. Angga sudah mulai terlihat emosi. Aku harus cepat- cepat meredakan nya supaya ia tidak sampai meledak.
"Tidak, aku tidak membela siapa pun. Tapi ini bisa aja terjadi di masa mendatang, engkau akan menyakiti ku dengan kata- kata pedas mu. Karena darling terbiasa mengatakan itu pada orang- orang di sekitar Darling. Tolonglah sedikit saja menghargai orang lain. Dan Darling akan melihat bagaimana mereka mencintai Darling dengan tulus. Bukan ketakutan. Aku menyayangi Darling dengan tulus."
Aku berusaha menasehati Angga, agar ia bisa merubah tempramen buruknya. Ia mengangguk dan aku mencium bibir nya. Aku tahu sebuah perubahan perlu proses yang panjang. Aku akan sabar membantu Angga berubah menjadi lebih lembut dan dapat mengontrol emosi, pastinya akan menjadi lebih baik.
"Darling, tidakkah sebaiknya kita memberikan kesempatan lagi pada pembantu di depan itu. Dia pasti akan lebih berhati- hati ke depannya. Dari pada nanti kalaupun ada pengganti biasa nya orang baru selalu melakukan kesalahan."
Aku berusaha mengubah pola pikir Angga, untuk ia bisa lebih terbuka dan bisa memaafkan kesalahan orang. Karena lebih mudah memaafkan dari pada menghukum orang. Toh kita tidak selama nya diatas, kalau saat nya nanti kita sedang terpuruk dan diperlakukan seperti itu pasti menyakitkan. Seperti perlakuan bu Tini pada keluarga ku kemarin.
"Ya... baik lah, aku akan memberi kesempatan sekali lagi pada pembantu itu. Ini semua ku lakukan demi kamu." Kata Angga seperti anak- anak yang merajuk karena kalah. Aku menghela nafas lega.
"Tidak Darling, bukan karena diri ku. Sadar atau tidak sadar, sebenarnya Darling berhati lembut dan bijak. Aku sangat kagum pada mu."
Kata ku sembari menghadiahi ciuman di bibir nya. Angga begitu kegirangan, ia membalas ciuman ku dengan sangat bernafsu. Pagi ini sekali lagi kami menyatukan diri. Baik aku ataupun Angga berhasil mencapai puncak kenikmatan. Meskipun lelah, batin kami merasakan kepuasan tak terkira.
Kami saling berpelukan, mengambil waktu beberapa lama untuk saling meresapi kehangatan satu sama lain.
"Darling hari ini tidak ke kantor?" Tanya ku mengingatkannya.
"Malas... enakan di rumah aja. Bermanja- manja dengan mu." Katanya sambil memencet hidung ku.
"Trus... kantor gimana?" Tanya ku masih penasaran. Setahuku pengusaha muda yang berhasil pasti sangat bersemangat dalam bekerja.
"Sudah ku delegasikan pada Deni, dia yang akan mengurus nya. Sebenarnya hari ini jadwalku untuk inspeksi PT Star Light. Tapi bisa kuundur besok aja." Kata Angga datar.
Saat PT Star Light disebut, seketika aku menjadi penasaran. Apa hubungan Angga dengan perusahaan di mana aku kerja?
"Sebenarnya apa jabatan Darling?" Tanya ku penasaran.
__ADS_1
Angga tersenyum bangga, "Suami mu ini seorang CEO di Star Group, pemilik saham terbesar. Masakan honey tidak tahu? Padahal kamu kan karyawan di Star Light. Sangat aneh kalau tidak kenal aku. Gimana Honey... kamu gak nyangka kan pada suami mu ini?" Tanya Angga menggoda ku.
Seketika lidah ku tercekat, mungkinkah suami yang menikahi ku ini adalah Dirut PT Star Group yang dipuja- puja oleh semua karyawati di kantor ku. Dicemburui karyawan pria.
Selain tampan, ia juga kaya, adalah pemilik sekaligus CEO PT Star Group. Namun yang paling menarik diantara semuanya, Angga tidak pernah di gosipkan dengan seorang wanita mana pun.
Tuan Angga sangat dingin terhadap wanita. Sisi inilah yang menjadi daya tarik kaum hawa. Secara tidak langsung Angga telah jadi publik figur diantara para karyawan nya. Meskipun jarang ada interaksi dengan nya, Angga telah jadi idola para karyawati.
Namun aku beda dengan karyawati- karyawati yang lain. Aku cukup tahu diri, aku tidak mau seperti pungguk merindukan bulan.
Aku menahan hati ku untuk tidak tertarik pada nya. Bahkan aku pernah sesumbar pada Bu Dhea kalau gak bakalan jadi fans nya tuan Angga yang sombong dan dingin itu. Ternyata sekarang aku harus menelan kata-kata ku saat itu. Karena sekarang, bukan hanya menjadi fans Angga tetapi sudah jadi Budak Cinta nya Angga. Aku pun tersenyum sendiri.
"Jadi... darling, Tuan Angga Lesmana Wijaya?" Tanya ku tidak percaya. Aku mengerjap kan mata.
Angga mengangguk, spontan aku segera bangun dan berlari ke kamar mandi. Mandi dengan terburu- buru. Angga melihat ku keheranan. Ia mengikuti ku ke kamar mandi dan ikut mandi bersama ku.
Tidak ingin menyia - nyiakan waktu, aku bergegas menyiapkan baju kerja untuk Angga juga untuk diri ku sendiri. Kupilihkan setelan jas hitam dengan kemeja merah hati yang serasi dengan baju ku. Sementara untuk dasinya kupilihkan warna yang mathcing dengan kemejanya.
"Aku sudah bilang tidak akan kerja hari ini, kenapa kau siapkan baju kerja buat ku?" Tanya Angga kebingungan, ia memprotes ku.
"Hari ini tuan Angga Lesmana Wijaya selaku CEO PT Star Group harus mengadakan inspeksi ke PT Star Light, juga mengangkat karyawan berprestasi naik pangkat. Termasuk Anarista yang sudah dipromosikan menjadi Asisten Manager." Kata ku bangga.
Secepat kilat ku selesaikan merias diri. Juga membantu Angga memakaikan dasi dan Jas nya. Suami ku terlihat sangat tampan. Postur tubuhnya tinggi tegap, dengan anugrah wajah yang ganteng. Wanita manapun pasti tidak akan ragu mengagumi kesempurnaannya. Membuat ku sedikit was- was takut kalau suami ku direbut wanita lain.
Saat tersadar dari pikiran ku, aku membuang rasa cemburu dan takut kehilangan karena aku tidak mau disamakan dengan mama nya yang posesif.
"Honey di promosikan jadi Asisten Manager? Sebaik nya langsung jadi Dirut aja. Masak istri CEO cuma asisten?" Protes Angga membuat ku tersenyum.
"Honey ingin lanjut kuliah dimana? Emang kalau kuliah lagi otaknya masih sanggup?"
Kelakar Angga sambil mencium keningku. Aku cuma tersenyum masam.
"Sampai S3 pun, suami mu bisa membiayai mu kuliah. Cuma gimana nasib suami mu ini nanti? Jangan - jangan aku terlantar karena kamu sibuk dengan tugas kuliah dan sosialisasi dengan teman di kampus?" Tanya Angga membuat ku tersenyum.
"Darling, aku pasti akan memprioritas kan keluarga." Jawab ku sungguh- sungguh.
Angga telah selesai bersiap- siap. "Honey, Kau kuantar dulu ya. Setelah itu aku baru ke Star Group." Kami pun bergegas keluar kamar. Di depan kamar sudah menunggu dua orang berseragam pembantu. Seorang pria dan pembantu wanita yang tadi memecahkan guci. Wanita itu segera maju mendekat ke arah kami sambil memohon.
Kata- kata nya bergetar. "Tuan... tolong jangan pecat saya. Anak saya sedang sakit butuh biaya pengobatan. Tolonglah tuan, saya butuh pekerjaan ini." wanita paruh baya itu terisak.
"Pak Jody... berikan wanita ini berapa pun dana pengobatan untuk anaknya. Dan pastikan dua hari lagi ia harus sudah bekerja kembali di sini." Kata Angga datar.
"Oh Tuan... trimakasih banyak." Pembantu itu sangat senang dengan kebaikan hati Angga. Ia meluapkan kebahagiaannya dengan tangisan bahagia. Aku ikut terharu melihatnya.
"Ayo berangkat, nanti terlambat!" Ajakan Angga menyadarkan ku.
Di mobil aku tidak bisa menahan rasa lega dalam hati ku. "Darling... Kau baik sekali, aku kagum pada mu." Angga hanya tersenyum. Seperti janjinya, Angga mengantar ku sampai ke kantor. Tapi aku meminta nya untuk berhenti ditempat yang agak jauh dari kantor. Untuk menghindari gosip yang akan tersebar kalau ada yang memergoki ku diantar mobil mewah.
Di halte dekat kantor aku diturunkan. Aku berlari- lari kecil ke kantor. Ini sudah sangat terlambat, namun lebih baik dari pada aku tidak ke kantor sama sekali.
Drrtttt....drrttt
__ADS_1
Ada panggilan telephon, aku segera mengangkatnya.
"Syukurlah... akhirnya kau angkat juga telephon ku. Dimana kamu An..?" Tanya bu Dhea tidak sabaran.
"Sudah di depan kantor Bu." Jawab ku tersengal.
"Cepat masuk...!" Teriak bu Dea, dan memutuskan panggilan.
"Untunglah... kau bisa datang, aku perlu banyak penjelasan dari mu. Tapi nanti saja. Sekarang cepat siapkan laporan keuangan Divisi dua dan segera buat presentasi kemajuan perusahaan selama satu tahun terakhir."
Perintah beruntun Bu Dhea, tidak mengagetkan ku karena sudah biasa. Biasanya lebih parah. Dalam satu helaan nafasnya ia bisa memberi sepuluh perintah buat ku. Kalau hari ini cuma dua, itu masih terlalu ringan. Aku tersenyum optimis.
"Baik Bu." Aku segera menuju ruangan Divisi dua untuk segera mengerjakan tugas yang baru diberikan bu Dea pada ku.
Aku memang cuma lulusan SMA tapi untuk berbagai skill perkantoran aku sudah cukup mahir. Selama tiga belas tahun aku bekerja di PT Star Light.
Apalagi pada waktu mendesak seperti ini, pasti aku yang diandalkan. Harusnya sekarang aku sudah bisa jadi manager. Namun karena aku hanya lulusan SMA itu menjadi kendala hingga karir ku begini- begini saja. Mau lanjut kuliah, tidak ada biaya membuat ku mandeg. Tidak bisa naik jabatan.
Aku segera mempersiapkan berkas- berkas yang diminta bu Dhea. Juga membuat prsentasi mengenai kemajuan perusahaan dengan aplikasi terbaru. Saat kerjaan ku setengah jalan sekitar lima puluh persen pesentasi itu ku buat, saat ada panggilan masuk.
Angga vidio call aku. Kupasang headset. "Hai Darling... sudah sampai kantor?" Tanya ku pelan, takut bu Ina menegor ku.
"Udah. Lagi apa Honey?" Tanya Angga.
"Menyelesaikan laporan. Harusnya kemarin sudah ku selesaikan, tapi karena ada yang menculik dan mengajak ku nikah. Jadinya baru sekarang ku kerjakan." Aku mengarahkan kamera pada hasil kerja ku. Memamerkan hasil karya ku. Angga tertawa terbahak- bahak, sepertinya ia merasa geli terkena sindiran ku.
"Masih lama?" Tanya Angga, sepertinya ia mengkawatirkan ku.
"Udah selesai. Tinggal menyerahkan pada kepala divisi." Kata ku lega.
"Jam 11 aku baru ke sana. Ini masih ada pertemuan dengan investor dari Jepang." Kata Angga menjelaskan.
"Nanti makan siang temani aku ya Honey." Ajak nya bersemangat. Aku hanya mengangguk mengiyakan masih tetap fokus dengan pekerjaan di depan ku.
"Oke Darling. Sukses ya meeting nya. Semoga investasinya bisa cair." Kata ku memberinya semangat.
"Trimakasih honey. I love you." Kata Angga sambil memberikan kiss bay pada ku.
"I love you too." Jawab ku sambil menutup panggilan Angga. Aku mengusap dada ku. Aku bangga punya suami seperti Angga yang profesional dalam pekerjaannya.
"Wah rupanya sudah ada gandengan nich, makanya tumbenan sehari kemarin gak datang kerja." Bu Dea tiba- tiba sudah di belakang ku.
Jangan- jangan dia tadi sempat melihat Angga? Aku jadi ketakutan. Bagaimana kalau bu Dhea mengenali Angga? Pastinya bu Dea yang super cerewet ini akan menggosipkan hubungan ku sampai ke ujung dunia.
"Lain kali kenal kan sama ibu ya?" Kata Bu Dhea menggoda ku. Bu Dhea adalah senior sekaligus atasan ku di devisi dua. Ia cerewet dan tegas namun menjadi sahabat yang sangat menghibur. Aku memang hanya berteman di kantor. Sementara di luar kantor kami tidak pernah bertemu.
Sehingga tidak banyak yang ku tahu kehidupan pribadi Bu Dhea. Menurut pengakuan nya ia janda tanpa anak. Mungkin itu sebab nya di kantor ia begitu genit sama cowok. Hobi nya juga menggosip. Tapi aku juga salut dengan nya. Karena kalau mengenai pekerjaan, ia sangat disiplin. Pantas lah kalau ia diangkat menjadi kepala devisi dua.
"Gimana laporan dan presentasinya sudah siap?" Tanya bu Dea minta laporan ku.
"Sippp... sudah beres Bu."
__ADS_1