
Sakti dan Pengacaranya mengadakan pertemuan, mereka membicarakan perihal surat penyerahan hak milik rumah dan tanah yang dulu pernah Sakti tinggali saat berumah tangga bersama Meta. Masalah satu beres, tinggal membuat surat perjanjian hitam di atas putih yang ditandatangani kedua belah pihak di atas materai. Yaitu atas kesanggupan Meta untuk tidak pernah mengganggu ataupun mengusik kehidupan Sakti bersama keluarga barunya.
Untuk sementara, dibalik dukungan Ibu dan saudara sepupunya, Sakti menunda dahulu rencana meluluhkan hati Nafa untuk diajak serumah dengannya. Sakti maupun Bu Sukma sengaja memberi ruang supaya Nafa lebih tenang.
Satu minggu kemudian, sidang gugatan perceraian antara Sakti dan Meta digelar. Dan ketok palu perceraian diperdengarkan 3 kali. Yang artinya Sakti dan Meta resmi bercerai. Meta diwakili Kuasa Hukumnya kembali tidak hadir, dia menyerahkan semuanya pada Kuasa Hukumnya, toh dia tidak mengajukan banding apa-apa. Dalam persidangan kali ini terjadi kesepakatan besaran uang iddah dan harta gono- gini yang diminta Meta dan disetujui Sakti.
Sakti keluar dari ruangan sidang, dengan raut muka yang sangat lelah. Sidang perceraian yang menguras waktu dan tenaga ini akhirnya tuntas sudah, menyisakan berbagai rasa dalam hati Sakti. Pernikahan yang terbangun kurang lebih 6 tahun itu, kini harus kandas di meja hijau. Sakti tidak menyangka akhirnya harus begini. Namun Sakti harus tetap berjalan kedepan, dan tidak boleh menoleh lagi ke belakang.
Sebelum Sakti benar-benar meninggalkan halaman gedung Pengadilan Agama, Sakti menyempatkan bersalaman dahulu dengan Kuasa Hukum Meta lalu dengan pasti Sakti meninggalkan gedung itu dengan hati berjuta rasa.
Sakti kembali ke rumah Mama Sukma untuk mengistirahatkan segala mumet yang tadi mendera. Dan kini dia harus mempersiapkan diri untuk meyakinkan Nafa agar Nafa mau diajaknya pindah dan tinggal bersamanya.
Kembali ke POV Nafa
Seminggu sudah sejak kepergian aku dari rumah Bu Sukma, aku merasakan ada sesuatu yang seakan hilang. Hal yang masih belum aku percayai bahwasanya aku ini adalah menantunya Bu Sukma. Dulu sebelum aku diketahui adalah istri kedua Mas Sakti, sikap Bu Sukma begitu baik dan perhatian. Juga terhadap kehamilanku, Bu Sukma sengaja membuat asinan dan rujak selain buat anaknya, juga buatku. Bu Sukma sengaja membuat banyak, karena sebagian adalah diberikan kepadaku.
Dan rupanya anak Bu Sukma yang selama ini selalu pengen dibikinkan rujak dan asinan, tidak lain adalah Mas Sakti, suamiku sendiri. Padahal sebelumnya aku berpikir bahwa anak Bu Sukma adalah seorang perempuan. Namun kini jelas sudah, Mas Sakti adalah anak Bu Sukma. Dan aku adalah istri kedua Mas Sakti yang tidak sengaja masuk ke dalam rumah mertuanya.
Ahh..., aku tidak yakin Bu Sukma mau menerima aku sebagai menantu. Aku yakin aku hanya akan jadi bahan cemoohan, seperti orang-orang di tempat tinggalku dahulu. Mencapku sebagai pelakor bahkan mereka ikut-ikutan menghakimi dan menyebut aku pelakor dan membicarakan aku disaat mereka sedang ngumpul.
Nyatanya sudah seminggu ini, apakah ada dari pihak Mas Sakti menemuiku dan menginginkan aku bersama mereka? "*Ohhh... jangan berharap* *Nafa, sekalinya kamu istri kedua. Pasti akan tetap* *buruk di mata mereka*," desisku dalam hati.
__ADS_1
"Neng... jangan melamun terus! Sejak pulang dari rumah Bu Sukma, Uwa lihat Neng Nafa murung dan sedih, bahkan sejak itu keram yang Neng Nafa rasakan jadi sering." Wa Rasih nampak khawatir. Betul apa yang Wa Rasih bilang, sejak aku pulang dari rumah Bu Sukma, keram yang aku rasakan sangat sering. Aku seperti stress, pikiranku tidak tenang dan selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk setelah bertemu Bu Sukma.
Aku mengangkat wajah dan menatap Wa Rasih dengan sedih. "Begini rasanya Wa jadi yang kedua. Padahal Nafa tidak menginginkan hidup dengan keadaan seperti ini. Menikah dengan suami orang yang tidak Nafa ketahui sebelumnya, sehingga jadi bahan cemoohan orang-orang. Betapa berat hidup Nafa, Wa." Wa Rasih memelukku yang kini mulai menangis.
"Neng Nafa kangen sama Den Sakti?" Aku tidak menjawab, pertanyaan Wa Rasih malah semakin membuat rasa sakit hatiku kambuh. Aku bagaikan orang tersisih yang tidak dihiraukan. Bayang-bayang kebaikan dan keramahan Bu Sukma, kini hanya membuat aku sakit hati. Sakit hati yang entah kenapa, aku juga tidak mengerti.
Aku masih menangis di kamar ini, setelah berhasil membujuk Wa Rasih keluar kamar, sebab aku hanya ingin sendiri.
Saat sendu seperti ini, aku sangat begitu merindukan Mas Sakti. Bisa saja sekarang Mas Sakti sudah berbaikan dengan Mbak Meta istri pertamanya, seperti apa yang aku harapkan selama ini. Namun mengapa aku begitu mengharapkan kehadiran Mas Sakti dan Bu Sukma?
Tanpa terasa aku tertidur dan melupakan sejenak rasa sakit hatiku karena merasa disisihkan dan karena lelah menangis.
"Wa Rasih... ada apa, Wa?" heranku dengan suara yang serak dan kantuk masih terasa.
"Di depan ada tamu istimewa, Neng! Cepat ke kamar mandi dan bersihkan muka!" titah Wa Rasih diiringi senyuman. Aku menatap Wa Rasih heran.
"Siapa, Wa?"
"Ayo, Neng! Ke kamar mandi dulu." Wa Rasih menarik lenganku menuju kamar mandi. Aku patuh dan melangkahkan kaki ke kamar mandi. Lagipula aku memang belum melaksanakan sholat Ashar yang hampir terlewat. Artinya aku tadi tidur begitu lama.
"Wa... siapa sih Wa? Jangan sembarangan terima tamu Wa kalau tidak jelas orangny. Nafa mau sholat dulu. Biarlah orang itu menunggu. Dan jika memang dia butuh kita, maka dia akan menunggu kita," putusku tegas. Wa Rasih manggut tanda mengerti.
Setelah aku selesai melaksanakan kewajibanku. Aku keluar kamar dan mencari Wa Rasih yang rupanya sedang duduk menata gaun-gaun yang akan dipajang di butik Syafana Senin lusa.
__ADS_1
"Neng tamunya masih menunggu, Wa Rasih tadi suruh mereka menunggu, sesuai yang Neng Nafa bilang tadi," ujar Wa Rasih memberitahu. Aku heran, tamu siapa sampai masih setia menunggu?
"Ayo, Neng temui saja, mereka bukan orang jahat kok."
"Mereka?" heranku bertanya-tanya.
"Iya, Neng. Makanya dilihat dulu. Ayo....!" ajak Wa Rasih seraya menarik lenganku.
Saat pintu yang perlahan dibuka Wa Rasih, yang aku lihat pertama adalah punggung seorang lelaki dan perempuan. Punggung lelaki yang sepertinya aku kenal.
"Iya... mau ke siapa ya?" tanyaku penasaran. Saat kedua orang itu membalikkan tubuhnya, seketika aku tersentak dan terkejut. Untung saja Wa Rasih sejak tadi memegangi bahuku, sehingga aku tidak oleng karena terkejut.
"Menantu Mama...!"
"Sayang....!" ujar Bu Sukma dan Mas Sakti bersamaan.
"Menantu Mama?" kalimat itu seketika membuat aku merasa melayang. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba menyeruak dalam dada. Bu Sukma tiba-tiba memelukku erat.
"Sayang... maafkan Mama ya, baru bisa datang kesini. Mama dan Sakti sengaja belum menemuimu hanya untuk membuat kamu sedikit tenang, setelah kamu seakan merasa disentak dengan keadaan dan fakta bahwa Mama adalah mertuamu, dan Sakti adalah anak Mama. Kita sudah saling kenal sebelum Mama tahu bahwa kamu adalah istri kedua Sakti. Namun... sekarang bukan yang kedua lagi, tapi kamu adalah istri satu-satunya Sakti dan satu-satunya menantu Mama," ucap Bu Sukma sedikit panjang dan masih memelukku.
...----------------...
"Tujuan kami kesini adalah ingin membawamu pulang ke rumah Mama. Mama khawatir dengan keselamatan kamu dan janin kamu. Maka dari itu, Nak Nafa harus mau ya, ikut Sakti dan Mama. Sekarang kamu adalah istri Sakti. Jadi kamu harus ikuti Sakti," bujuk Bu Sukma setelah aku persilahkan masuk dan duduk.
Aku menjadi bingung apa yang harus aku katakan. Menolak atau menuruti permintaan Mas Sakti? Sementara Bu Sukma menatapku dengan penuh harap.
Jawabannya tentu ada di episode selanjutnya.... ditunggu ya guys... love❤❤❤❤
__ADS_1