
"An... sepertinya kamu kurang tidur. Sebaiknya setiap ada kesempatan buat tidur ya An. Takut nya kamu jatuh sakit," nasehat emak pada ku.
"Bilang sama emak, kamu pingin apa? Kata orang- orang tua, kalau ngidam gak keturutan bisa ngeces nanti anak nya. Hehe," kelakar emak membuat ku tersenyum simpul.
Saat ini yang kuinginkan hanyalah bertemu Angga. Namun ini sebuah kemustahilan. Bagaimana kalau aku benar- benar bertemu dengan nya. Trus kalau ia berbuat jahat lagi pada ku.... Ku tepis perasaan rindu yang membuat ku tidak bisa menikmati setiap suapan makanan ku. Rasa yang ku cecap hanya hambar semata.
Saat aku tidak bisa menahan rasa di hati ku, seketika rasa mual itu datang melanda. Hingga semua makanan yang baru masuk lambung ku terpompa keluar. Hingga cairan kuning pekat ikut keluar meninggalkan rasa pahit di tenggorokan ku.
Beberapa hari ini, tak ada makanan yang bisa kumakan. Tubuh ku terasa sangat lemah. Emak sudah sangat kuatir. Ia sudah memesan sebuah mobil carteran untuk membawa ku ke rumah sakit. Namun sayang nya, mobil yang dipesan sedang dibawa mengantar orang ke kota. Jadi kami harus menunggu beberapa waktu. Saat ini aku hanya pasrah karena aku sendiri sudah tidak bisa berbuat apa- apa lagi.
Seharian aku hanya bisa berbaring di kamar. Karena setiap kali aku bangun tidur, seketika itu juga perut ku terasa mual. Dan ujung- ujung nya, aku akan memuntahkan seluruh isi perut. Itulah sebab nya aku memilih untuk tiduran saja di dalam kamar.
Siang ini, katanya akan ada kunjungan dari perusahaan sawit yang akan memberikan bantuan csr pada warga desa. Emak sedari pagi membantu memasak di rumah pak Sugeng.
Hampir jam dua siang, rombongan datang dalam tiga buah mobil. Mereka membawa berbagai sembako yang cukup banyak. Juga uang tunai cukup besar diserahkan kepada pak Sugeng sebagai perwakilan sesepuh warga.
Acara kunjungan diakhiri dengan acara makan siang. Tamu dari perusahaan sangat terkesan dengan menu makanan yang di sajikan. Emak berhasil menyulap bahan makanan sederhana menjadi makanan elit selayak nya makanan ala restoran.
Terlebih mereka takjub dengan kenyataan bahwa sayur yang dihidangkan adalah sayuran organik yang ditanam sendiri oleh emak.
Seorang istri salah satu bos memaksakan diri untuk melihat sendiri tanaman sayuran emak. Juga mau membeli ikan nila hasil budi daya keramba emak.
Terpaksa aku keluar dari kamar untuk membantu emak. Beberapa ibu- ibu membeli tanaman dalam polibag yang sudah mulai berbuah. Ada hampir lima puluh polibag semuanya diborong ibu- ibu itu.
Aku mulai menjelaskan, bagaimana cara perawatan tanaman tanpa pestisida dan obat kimia. Saat aku memberi penjelasan ada seorang bapak dengan kumis tebal dan berkaca mata hitam, menarik perhatian ku. Sepertinya aku mengenal nya.
Jantungku berdetak sangat kencang. Pria itu mengingat kan ku pada Angga. Apakah ia benar- benar Angga? Pikiran ku tiba- tiba kalut. Hingga aku tiba- tiba pingsan.
Saat terbangun aku sudah di dalam klinik perusahaan. Emak menunggui di samping ku.
"Mak... dimana tuan Angga?" Tanya ku spontan saat aku terbangun dari pingsan ku. Ku rasakan nyeri di lengan kanan ku yang tertancap selang infus.
"Ana... tenang di sini tidak ada tuan Angga. Hanya sedikit mirip saja Ana. Kamu tenang ya nak... jangan banyak pikiran. Kamu harus segera sehat." Nasehat emak membuat ku sedikit tenang. Namun perasaan ku berkata, pria itu Angga suami ku yang jahat namun kurindukan.
Emak menyuapi ku, aneh nya kali ini makanan yang ku makan rasanya nikmat sekali meskipun kata emak makanan di klinik kurang bumbu. Tapi di mulut ku rasa makanan nya sangat nikmat. Hingga tidak berapa lama sepiring nasi ludes tak tersisa.
Doni dan Nita dititipkan di pak Sugeng, karena sore tadi saat aku pingsan semua jadi panik. Dan sangat tidak memungkinkan membawa adik- adik ku serta. Jadinya, mereka ditinggal di rumah.
Pria berkumis itu mirip Angga, aku sangat yakin. Entahlah tiba- tiba saja rasa kangen itu semakin menjadi. Bahkan saat pria tinggi tegap berkumis lebat itu mengunjungi ku di kamar. Aku benar- benar yakin dia adalah Angga, suami ku.
Saat pria itu menjenguk ku, emak sedang keluar karena suatu keperluan. Pria itu menanyakan keadaan ku.
Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi perasaan di hati ku.
"Angga... kamu datang mencari ku? Apakah engkau akan menyakiti ku lagi?" Tanya ku dalam isakan.
Pria itu sangat terkejut, ia membuka kaca mata hitamnya. Memperlihatkan mata elang yang pernah membuat ku jatuh cinta.
__ADS_1
"Ana.. sekian lama aku mencari mu. Akhirnya aku menemukan mu. Kau tahu, aku seperti orang gila telah kau buat. Mengapa engkau tega pergi meninggalkan ku?" Tanya Angga dengan nada pedih.
"Angga... engkau hampir membunuh ku. Tidak kah engkau ingat? Kau menenggelamkan ku di bathup kemudian meracuni ku. Bahkan mama mu Sherly berencana menenggelamkan aku dan keluarga ku di laut." Ana menangis terisak.
Angga segera mendekatinya, kemudian memeluknya erat- erat. Ia tidak ingin berpisah lagi dengan nya. Namun ada hal yang harus dibereskan sebelum Ana benar- benar kembali ke sisi nya.
"Ana... aku mencintai mu. Terlebih saat aku tahu kamu mengandung anak ku. An... ada orang- orang yang bersekongkol melawan ku. Mereka menyusup sedemikian rupa, membuat ku tidak bisa mengenali mereka. Tujuan mereka menghancurkan aku dan orang- orang yang kucintai. An... aku minta berpura- puralah tidak mengenalku supaya tidak ada seorang pun yang berniat menyelakai mu." Pinta Angga dengan sangat. Ia mengecup kening ku.
Angga menyerahkan sebuah handphone dan meletakkan nya di bawah bantal ku. Juga sebuah amplop berisi uang yang cukup banyak. "Simpan ya... supaya kita bisa tetap berhubungan, juga untuk keperluan anak kita. Ana jaga diri baik- baik, aku akan datang kembali untuk menjemput mu." Kata Angga sambil menggenggam kedua telapak tangan ku.
Angga sudah berjalan keluar saat emak datang.
"Ana.... kamu menangis nak?" Tanya emak kuatir.
"Tadi Bapak berkumis datang menjenguk ku mak, beliau sangat baik dan perhatian. Beliau memberikan handphone dan uang tunai." Kata ku sambil menunjukkan seamplop uang dan handphone pemberian Angga.
"Baik banget bapak itu. Tadi sore waktu kamu pingsan, Bapak itu juga yang membopong mu." Kata emak dipenuhi kekaguman.
"Emak tadi dari mana?" Tanya ku penasaran.
"Tadi dipanggil ibu direktur, kata nya besok pagi emak disuruh masak." Kata emak bangga.
"Oh... bagus lah. Mak, Doni dan Nita gak papa kah ditinggal di rumah sendiri?" Tanya ku mengingatkan emak.
"Semoga mereka gak papa, emak juga merasa gak enak ninggalin mereka sendiri di rumah." Kata emak galau.
"Semoga Nita dan Doni baik- baik saja di rumah." Doa emak yang segera ku amini.
Emak membukakan pintu. Betapa terkejut nya kami, melihat Nita dan Doni diantar seorang pria.
Saat melihat kami Nita dan Doni langsung menghambur. Emak memeluk mereka seperti sudah seminggu berpisah.
"Saya mengantar anak- anak ibu, kasihan mereka kalau ditinggal sendiri." Kata pria itu menjelaskan.
"Terimakasih pak, telah repot- repot mengantarkan anak- anak saya." Kata emak dengan kelegaan dalam suaranya. Kami tadi sempat mengkawatirkan keadaan Nita dan Doni. Syukurlah kami sudah berkumpul bersama.
"Buk, sebaik nya anak- anak menginap di mes. Supaya nona Ana bisa istirahat dengan cukup." Kata pak Ari, sopir itu dengan sopan. Ia pun mengantarkan emak, Nita dan Doni ke sebuah rumah tempat mereka menginap malam ini.
Aku ditinggalkan sendiri. Mata ku tak juga terpejam. Ada banyak beban pikiran yang mengganggu ku. Pertemuan ku tadi sore dengan Angga sangat tidak masuk akal. Benarkah pria berkumis lebat tadi sore adalah Angga?
Aku meraba bantal ku. Benar, di bawah bantal masih ada amplop uang juga sebuah handphone. Ini membuktikan bahwa pria tinggi besar, berkaca mata dan berkumis tebal tadi sore adalah Angga suami ku.
"Ana..." panggil sebuah suara. Pria itu telah berdiri di dekat ku. Aku terkejut karena tidak menyadari kedatangan nya sama sekali.
Pria itu Angga, lelaki yang sangat ku rindukan. Aku pun spontan melemparkan senyum manis ku pada nya.
Angga mendekati bangsal ku. Ia merebahkan tubuh nya di samping ku. Lengan kekarnya di letakkannya dibawah kepalaku. Menjadi tumpuan bantal untuk ku. Aku bisa merasakan kehangatan tubuh nya yang seketika membuat ku merasa nyaman.
__ADS_1
"Ana..., maafkan aku, sudah membuat mu menderita selama ini. Aku janji setelah semua berakhir. Aku akan membahagiakan kalian." Tangan Angga yang bebas membelai perut ku. Ia juga semakin merapatkan tubuh nya membuat ku merasa nyaman. Dalam sekejab aku terlelap dalam pelukan nya.
"Apa... ini?!" Teriakan emak melengking mengagetkan ku. Aku terkesiap bangun. Angga juga buru- buru turun dari ranjang.
Mata Emak berkaca- kaca, ia terlihat shok saat melihat aku dan pria yang tidak dikenalnya tidur seranjang.
Aku masih kebingungan mencari kata untuk memberi penjelasan kepada emak. Hingga aku gagu tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Angga mendekati emak yang terlihat kalut. Ia membuka kumis palsunya.
"Mak... ini Angga." Penjelasan Angga semakin membuat emak ketakutan.
"Mak... jangan takut, Angga tidak berniat jahat. Angga sangat mencintai Ana, kejadian yang lalu itu sebuah kekeliruan. Angga tidak sejahat itu." Kata Angga mencoba memberi penjelasan pada emak.
Emak berjalan menuju ke sebuah kursi. Ia terduduk sambil menghela nafas dalam.
"Nak Angga, kami memang orang miskin. Tapi kami ini juga manusia yang berhak untuk hidup juga. Tolong lah, jangan ganggu kami lagi." Kata emak tergugu di bangkunya.
"Mak, aku sudah menjelaskan segala sesuatu nya pada Ana. Aku hanya minta kepercayaan kalian. Bila saat nya nanti, semua orang jahat itu tertangkap. Aku akan membawa kalian kembali. Namun tolong untuk beberapa waktu bersembunyilah. Jaga diri kalian. Terlebih jaga anak kita ya An. Aku tidak punya banyak waktu. Pagi ini aku harus segera kembali ke Jakarta. Jaga diri mu ya An... semoga kita bisa bertemu kembali." Kata Angga seraya mencium kening ku.
Hati ku berdesir perih, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi pada Angga. Namun aku tidak mungkin menahan nya.
Pagi itu Angga pulang ke Jakarta membawa hati ku ikut terbang bersamanya. Setelah pertemuan ku dengan Angga, semakin menyisakan kepedihan semata.
Dalam waktu dua hari ia membawa keceriaan ku. Namun seketika juga membuat ku seakan kehilangan harapan saat ia harus kembali ke Jakarta.
Emak dikontrak untuk jadi tukang masak para staf perusahaan. Sehingga kami pun diberikan tempat tinggal yang layak di perusahaan. Aku juga mendapatkan kerja sebagai office girl. Pekerjaan yang sudah ku geluti cukup lama. Sehingga tidak ada kesulitan yang berarti untukku.
Nita dan Doni bersekolah di sekolah yang disediakan perusahaan. Hingga tidak perlu berjalan jauh kalau mau berangkat sekolah.
Usia kandungan ku bertambah, perut ku pun sudah terlihat membesar. Akhirnya aku bisa menyelesaikan trisemester awal kehamilan dengan baik. Ngidam ku pun sudah tidak begitu bermasalah. Nafsu makanku juga bertambah baik.
Pekerjaanku di kantor tidak terlalu berat namun ada seseorang yang membuat ku merasa tidak nyaman selama aku bekerja. Namanya pak Hardi, beliau adalah manager pemasaran. Beberapa kali ia merayuku, berniat menjadikan aku sebagai istri simpanannya.
Setiap ada kesempatan ia selalu mengiming-imingi uang belanja yang besar kalau aku mau melayaninya. Aku tidak berani menolak terang-terangan, takut kalau ia akan menyulitkan aku nantinya. Jadi selama ini aku hanya bisa menghindar.
Pagi itu aku berangkat lebih awal karena ada tugas merekap laporan keuangan yang kemarin belum selesai. Aku sedang fokus bekerja saat sepasang tangan tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku terkesiap dan mencoba menghindarinya. Namun naas, kakiku terantuk kursi saat aku menghindari tangan usil pak Hardi. Hingga aku jatuh terduduk. Perutku seketika terasa sangat sakit. Seperti diremas-remas.
Aku ingat, ada bayi dalam perut ku. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada bayi ku? Aku menahan rasa sakit dan berusaha untuk berjalan tertatih. Ada cairan basah merembes di paha ku. Itu darah segar. Tubuhku bergetar, sendi-sendiku seakan lepas dari engselnya. Kakiku seakan tidak mampu menopang tubuh ku. Aku kembali terduduk lemas.
Aku ketakutan, sementara pak Hardi tersenyum lebar dengan seringaian kejamnya. Ia hanya berdiri menontonku. Tidak peduli kesakitan yang harus kutanggung karena keisengannya.
"Tolong.... tolong!!" teriakku berharap ada seseorang yang menolongku. Namun suara yang keluar hanya desahan karena kesakitan yang harus ku tahan. Sebelum aku jatuh pingsan sempat ku lihat ada beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan.
Keadaan berubah menjadi gelap. Keheningan seketika menyekapku. Membuatku sesak dan susah bernafas.
"Ana... kenapa kamu seceroboh itu? Apakah ini memang kamu sengaja untuk membunuh anakku? Katakan saja kalau kamu tidak mencintaiku. Tapi jangan kau lenyapkan anakku!!!"
__ADS_1
Suara Angga menggelegar. Aku tidak bisa melihatnya. Aku hanya merasakan ada sebuah tangan mencengkeram leherku. Mencekikku. Aku menggapai-gapai berusaha melepaskan diri. Cekikan itu semakin mengetat membuatku kehabisan nafas.
Suasana kembali gelap, kesunyian tiba-tiba kembali mengurungku.