
Aldin menghubungi Rifki untuk pulang duluan, kemudian dia bergegas meninggalkan kantor Adrian Wood. Kebetulan jam di tangannya hampir menunjukkan jam 15.45 WIB, sebentar lagi Nara keluar dari mall tempatnya bekerja.
Cukup 15 menit, Aldin tiba di depan Pioneer Mall, masih ada waktu menunggu Nara, pikirnya. Aldin menepikan mobilnya di tepi kiri jalan. Dia mulai membuka pintu mobil, tidak lupa kacamata hitam bergayanya dia kenakan. Semakin tampan dan berkharisma saja sosok Aldin ini, sehingga beberapa wanita yang lewat di depannya, menyempatkan diri menoleh ke arah Aldin dengan tatapan kagum.
Aldin berjalan menuju pintu parkiran mall itu untuk mencegat Nara. Cukup kesal Aldin berdiri di sana, padahal hanya baru 5 menit. Jam 16.00 tepat, Aldin sudah gelisah menunggu Nara.
"Lamanya gadis kecil ini," gerutunya kesal. Saat ada pegawai mall yang sama mengenakan baju Kasir, Aldin mencegatnya.
"Maaf Mbak, Kasir di mall ini 'kan?"
"Betul, Pak. Ada apa ya?"
Aldin termenung sejenak, memikirkan ucapan pegawai mall barusan. "Pak? Tidak salah? Aku masih muda dan tampan begini masa dipanggil, Pak?" gerutunya dalam hati merasa dongkol.
"Pak?" Teguran pegawai mall itu mengejutkan Aldin yang termenung.
"Oh, iya, iya, maaf saya tadi melamun. Saya mau bertanya apakah Kasir yang bernama Nara, hari ini bekerja?"
"Ohhhh, Nara? Dia tadi ke toilet dulu kayaknya, Pak. Sebentar lagi pasti keluar," jawab pegawai mall itu seraya berlalu.
"Terimakasih," ucap Aldin.
10 menit kemudian orang yang ditunggu Aldin muncul. Aldin mencak-mencak kesal. Jam di tangannya sudah hampir lecet diusapnya.
"Naraaa!" panggil Aldin saat Nara berlalu begitu saja dari hadapannya. Aldin semakin kesal, sudah menunggu lama, sekarang dicuekin.
Nara menoleh dengan heran. "Siapa?" tanyanya benar-benar heran.
"Aku, Aldin," jawab Aldin seraya mendekati Nara. Nara meyakinkan penglihatannya, mengucek-ngucek matanya, merasa tidak yakin bahwa pria dewasa di hadapannya, adalah Aldin sepupu suami sahabatnya.
"Kak Aldin, ada apa Kakak sampai ke parkiran mall ini?" Setelah Aldin menurunkan kacamatanya, Nara baru yakin itu Aldin, Nara keheranan.
"Kenapa, kamu terpesona dengan ketampanan saya?" tanya Aldin mendadak formal dengan tiba-tiba menggunakan kata 'saya' untuk menyebutkan dirinya. Nara diam.
"Begini, aku mau ajak kamu sebentar," ujarnya mengejutkan Nara.
__ADS_1
"Ajak, ajak Nara kemana?" Nara mengkerut heran.
"Aku ada perlu sebentar dengan kamu, plisss ikut, hanya sebentar!" janjinya memaksa. Nara diam nampak kebingungan.
"Tapi, Nara harus pulang, Kak, Ayah dan Ibu Nara pasti bertanya-tanya kalau Nara telat." Nara memberi alasan sebagai penolakannya secara tidak langsung.
"Anak Mama, rupanya," cibir Aldin tidak percaya.
"Bukan begitu, Kak, tapi Nara harus tepat waktu. Dan lagi, Nara hari ini mau ke konter HP dulu mau ambil HP Nara yang diservis," jawab Nara membuat Aldin terhenyak dan berpikir sejenak.
"Jangan-jangan benar HP Nara rusak olehku, itu sebabnya Nafa tidak bisa menghubungi Nara?" tanya Aldin dalam hati.
"Konter Hp, memangnya siapa yang memperbaiki Hp, dan Hp siapa yang rusak?" tanya Aldin memberondong.
"Hp Nara rusak Kak, sejak tabrakan dengan Kak Aldin sebulan yang lalu, rupanya Hp Nara tidak bisa nyala setelah dicek di rumah. Nah, dua minggu yang lalu Nara bawa ke konter Hp untuk diservis. Janjinya hari ini beres. Nara mau pulang sekalian ambil Hpnya," jelas Nara.
"Baiklah, aku ikut di belakangmu ke konter Hp. Aku yang akan nebus Hp itu," ucap Aldin.
"Tidak usah Kak, biar Nara sendiri saja. Lagipula Nara ada kok uangnya untuk menebus Hpnya," tolak Nara halus.
"Jangan menolakku, ayo ambil motormu! Dasar gadis kecil," umpatnya kesal pada Nara yang berani menolak bantuannya.
Tiba di sebuah konter Hp di pinggir jalan, Nara menepikan motornya lalu turun dan berjalan menuju salah satu konter. Aldin segera turun dan mengikuti Nara yang duduk di salah satu kursi konter. Aldin mengikuti Nara, dia pun duduk di salah satu kursi.
"Hp saya sudah selesai belum, Mas? Atas nama Nara," ujar Nara sembari memberikan secarik kertas bon.
"Ohhh, yang ICnya kena ya?" Pelayan konter membalikkan badannya dan berdiri menuju etalase Hp.
"Mbak Nara, ya? Semuanya 580 ribu," ujar pelayan konter itu menyebutkan biaya servis Hp milik Nara. Nara mengangguk seraya merogoh dompet di tas kerjanya.
Sebelum Nara berhasil mengambil uang di dalam dompetnya, Aldin terlebih dahulu sudah mengambil sesuatu dari balik saku celananya. Dengan cepat membuka dompet dan memberikan sesuatu berupa kartu ATM kepada pelayan konter.
__ADS_1
"Bayarnya boleh pakai kartu debit 'kan?" tanya Aldin memastikan.
"Tentu saja boleh, Mas," jawabnya seraya mengambil kartu dari tangan Aldin. Transaksipun berjalan lancar.
"Kak Aldin, jangan!" cegah Nara, namun terlambat, Aldin sudah menggesekkan kartu debitnya, dan pembayaranpun berhasil.
"Ini, Hpnya. Kondisinya sudah Ok dan bisa langsung digunakan."
"Terimakasih, Mas," ucap Nara sembari meraih Hpnya yang sudah diservis.
Nara berjalan ke arah motornya yang tadi diparkir di tepi jalan. Aldin menghampirinya.
"Besok aku jemput ke rumah jam 8 pagi. Tidak boleh telat!" peringat Aldin seraya berlalu menghampiri mobilnya.
Nara mengejar Aldin yang kini telah masuk mobil dan bersiap menjalankan mobilnya. "Kak Aldin terimakasih," ucap Nara seraya memasukkan kepalanya ke dalam jendela mobil yang kacanya masih terbuka.
"Ok," jawab Aldin pendek.
"Tentang besok, emmm ... Nara .... " Nara tidak selesai mengutarakan maksud kata-katanya, Aldin keburu memotong omongannya.
"Sudah aku katakan, besok kamu siap jam 8 pagi. Kamu libur 'kan?"
Nara mengangguk, dia bingung mau menolak. Ajakan Aldin seakan perintah dari seorang atasan yang harus selalu siap dia laksanakan.
"Jangan telat, gadis kecil!" umpatnya sambil menatap Nara yang bingung.
"Gadis kecil, gadis kecil, dari awal kenal selalu bilang gadis kecil, memangnya aku ini anak SD apa?" Nara menggerutu dalam hati.
"Memangnya, Kak Aldin mau ajak Nara kemana?" tanya Nara heran.
"Tidak usah banyak tanya, kamu siap-siap saja seperti apa yang aku katakan. Dan, aku minta tolong cepat keluarkan kepalamu dari jendela mobilku!" perintahnya keras, sehingga Nara tersadar. Rupanya sejak tadi kepalanya masih di dalam mobil Aldin.
"Iya, Kak, maaf, Kak," ujarnya malu.
"Dan satu lagi, aktifkan segera Hpmu! Besok jika kamu sudah siap, segera hubungi saya!" ujarnya bernada perintah, seraya memberikan kartu nama pada Nara.
"Cepat, pergilah! Aku tidak akan pergi sebelum kamu pergi duluan," sentak Aldin gemas melihat Nara berdiri di pinggir jalan seperti orang bingung. Nara tersadar, dia terkejut dan gelagapan.
__ADS_1
"Ok, ok," ucapnya seraya menghampiri motornya dan menghidupkan mesin motor lalu berlalu meninggalkan Aldin yang mengawasi dirinya dari dalam mobil.