
"Kak Aldin! Masuk dulu, Kak!" perintah Nara ragu. Ada rasa malu yang teramat besar menguasainya. Setelah Aldin dipersilahkan masuk Aldin hanya memberi kode dengan tangannya, tidak akan masuk hanya akan berpamitan pada orang tua Nara.
"Orang tuamu, ada? Saya akan berpamitan dengan orang tua kamu dan minta ijin mengajak kamu keluar," ujar Aldin berubah formal lagi dengan sikap yang datar. Jantung Nara berdegup seketika.
"Ada, Kak. Sebentar Nara panggilkan, ya," sahut Nara seraya ngeloyor ke dalam. Tidak berapa lama, kedua orang tua Nara keluar dan menghampiri Aldin. Aldin dengan sigap, menyambut dan memberi senyum terbaik dan termanisnya pada kedua orang tua Nara.
"Selamat pagi, Pak, Ibu, perkenalkan saya Aldin, teman dekat Nara. Maksud kedatangan saya ke sini ingin minta ijin mengajak Nara jalan keluar. Hanya sebentar," ujarnya meminta ijin dengan bahasa yang benar-benar formal dan sopan. Wahhh di sini nilai plus Aldin di mata kedua orang tua Nara, terutama bapaknya. Dia melihat Aldin sebagai lelaki yang beretika, sopan, dan tahu adab. Dengan meminta ijin meminta Nara untuk diajak jalan saja sudah merupakan etika yang bagus baginya.
Namun, Pak Kusuma tidak begitu saja mengijinkan anak perempuannya keluar dengan sembarangan laki-laki, justru selama ini Pak Kusuma membatasi pergaulan dengan lelaki pada anak perempuan satu-satunya ini. Akan tetapi, Pak Kusuma tidak mengekang, jika lelaki itu sendiri yang datang dan meminta ijinnya untuk membawa anaknya pergi dengan baik-baik, maka itu jadi pertimbangan.
"Silahkan masuk, Nak Aldin." Pak Kusuma berbasa basi.
"Tidak, Pak. Saya mohon maaf tidak masuk dulu. Apakah boleh saya langsung mengajak anak Bapak pergi? Saya janji tidak akan lama, hanya dua jam saja," ucap Aldin membuat Nara terbelalak.
"Saya tidak keberatan, tapi .... "
"Jangan khawatir, Pak. Saya akan menjaga anak Bapak dengan sebaik-baiknya dan pulang dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apapun," potong Aldin membuat Pak Kusuma terkejut, namun akhirnya lega setelah mendengar ucapan Aldin yang akan menjaga Nara dengan sebaik-baiknya.
"Baiklah kalau begitu, saya ijinkan. Tapi, jangan lama-lama ya, dan saya minta tolong jaga anak saya!" peringat Pak Kusuma. Aldin mengangguk. dan memberikan senyuman tanda setuju dan siap menjalankan amanah bapaknya Nara.
"Kalau begitu, saya pamit, Pak, Bu," ujar Aldin seraya menyalami tangan kedua orang tua Nara. Kemudian menoleh ke arah Nara memberi kode supaya mengikutinya dari belakang. Nara pamit dan mencium kedua tangan orang tuanya, kemudian berjalan mengikuti Aldin.
"Assalamu'alaikum!" ucap Nara dan Aldin hampir bersamaan yang dibalas keduanya.
"Wa'alaikumussalam!"
*
Aldin dan Nara sudah berada dalam mobil yang sama. Perlahan Aldin melajukan Corolla Crosnya membelah jalanan kota itu. Keduanya masih diam dalam kebekuan masing-masing. Beberapa saat Aldin menoleh dengan ujung matanya ke arah samping, memperhatikan Nara yang kali ini begitu cantik. Rupanya gadis kecil ini sungguh mempesona, dengan make up tipisnya semakin menegaskan kecantikannya.
"Sederhana, tapi cantik dan elegan," pujinya dalam hati sembari menerbitkan sebuah senyuman.
"Kak Aldin, mau kemana kita?" tanya Nara heran. Aldin tidak menjawab, dia hanya tersenyum smirk.
"Ikuti saja kemana arah mobil ini melaju. Kamu tidak perlu banyak tanya, gadis kecil!" ujarnya dan selalu saja menganggap Nara sebagai gadis kecil. Nara diam dengan tangan yang dipermainkan.
Melihat Nara diam dan sedikit merengut, kembali Aldin memperhatikan Nara dengan ujung matanya. Di matanya, Nara benar-benar beda, sangat menarik dan membuat hasrat ingin menjadikan miliknya begitu menggebu. Baru kali ini Aldin merasakan hatinya terketuk untuk memiliki seorang gadis, dan itu adalah Nara.
__ADS_1
Aldin jadi teringat akan ucapan Nafa tempo hari di kantornya, saat Nafa dan Sakti berkunjung. Nafa seakan memberi provokasi supaya dirinya mendekati Nara dengan cara melamarnya. Saat itu dalam ruangan kebetulan ada Shera, Sekretarisnya yang berpakaian formal namun seperti kurang bahan. Nafa kelihatannya tidak menyukai Shera, sehingga dia berbicara seakan memprovokasi supaya Aldin melamar Nara. Padahal Aldin tidak kepikiran melamar siapa-siapa, Nara saja tidak ada dalam kamus hatinya.
"Kenapa kamu tadi tidak memberi tahu saya kalau kamu sudah siap dijemput?" tanya Aldin tiba-tiba. Nara yang sedang fokus melihat jalanan, terperanjat dengan pertanyaan Aldin yang tiba-tiba.
"Nara, minta maaf, Kak. Soalnya, Nara merasa malu untuk menghubungi Kak Aldin," ucap Nara beralasan.
"Dan ... kamu berharap saya tidak jadi jemput kamu, kan?" tebak Aldin mengena. Nara dibuat terperanjat lagi.
"Tidak, Kak, bukan begitu. Nara benar-benar malu kirim pesan duluan ke Kak Aldin." Nara beralasan lagi. Aldin tidak menyahut, dia tidak percaya alasan Nara.
"Kamu memiliki pacar?" Tiba-tiba Aldin bertanya yang aneh menurut Nara. Nara diam, ujung matanya sedikit menoleh ke arah Aldin. Dan pada saat itu Aldin sedang menatap Nara, sehingga tatapan mereka bertemu.
Nara mengalihkan kembali tatapannya keluar jendela. "Kenapa kamu tidak menyahut? Kamu sudah punya pacar, kan?" Saat mendapat pertanyaan seperti itu, Nara langsung menggeleng.
Aldin menyunggingkan senyum, seiring dengan kecepatan *Corolla Crosnya* yang semakin cepat. Nara dibuatnya takut seraya memegangi pegangan mobil dengan kuat. Aldin tersenyum puas.
Aldin berjalan seraya memegangi tangan Nara. Memasuki gedung berlantai tinggi, lalu memasuki sebuah lift. Tepat di lantai 10, lift berhenti. Aldin segera keluar dan masih memegangi tangan Nara, seolah takut Nara kabur.
Nara semakin takut, ketika mereka berdua sudah berada di depan pintu yang bisa dibuka dengan sebuah kartu.
"Klik," bunyi itu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu unit.
Nara bingung, di manakah ini dan gedung apa? Pintu unit terbuka lebar, Aldin menarik tangan Nara masuk ke dalamnya, lalu pintu itu kembali tertutup secara otomatis. Nara semakin kaget, dia merasa akan dijahati Aldin dan langsung berpikiran negatif tentang Aldin. Bayangan-bayangan yang negatif seketika bermunculan, tentang disekapnya seorang gadis dan diperkosa kemudian dibunuhnya. Nara bergidik ngeri membayangkannya.
"Kak Aldin, di mana ini, kenapa Nara disekap di sini, apa salah Nara?" tanya Nara ketakutan.
Aldin mendekat, seraya memegangi tangan Nara dan berbicara di depan wajah Nara sangat dekat, sehingga tercium wangi mint dari mulut Aldin menghembus wajah Nara.
"Anggap saja ini sebuah hukuman, karena kamu tidak menghubungiku saat kamu telah siap dijemput tadi. Dan kamu malah berharap aku tidak menjemput kan?" tandas Aldin menakutkan. Nara berontak dan ingin kabur dari ruangan itu segera.
__ADS_1
"Mau kemana? Aku tidak akan membiarkan kamu lolos dari apartemen ini, kecuali .... " cekal Aldin seraya menggantungkan kata-katanya. Nara termenung sejenak, "*jadi ini apartemen*?" batin Nara.
"Kak Aldin, Nara mau pulang. Ijinkan Nara pulang. Kak Aldin pasti mau berbuat jahat pada Nara, kan?" tuding Nara memohon dengan wajah takut, membuat Aldin tertawa karena wajah Nara yang ketakutan sangat lucu dilihatnya.
"Ini balasan buat gadis kecil yang berani mempermainkan Aldin Aldama," tegasnya dengan senyum menyeringai licik. Nara dibawanya ke dalam sebuah ruangan, tepatnya kamar.
Nara sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang Aldin. Dalam pikirannya sudah terbayang hal-hal yang tidak-tidak. Nada ketakutan dan hampir menangis. Sementara Aldin keluar dari kamar itu, Nara waspada mencari celah saat Aldin lengah.
Nara meraih satu bantal yang terbaring di sana, lalu dia persiapkan untuk menimpuk Aldin.
"Jangan main-main dengan bantal itu, gadis kecil! Aku tidak akan sampai sakit atau terjungkal hanya gara-gara kamu lempari bantal," peringat Aldin seraya masuk ke dalam. Nara ternganga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Aldin menuju kamar dengan dua buah gelas bercawan berisi minuman. Dari tampilannya seperti sirup biasa, tapi Nara yakin itu bukan sirup biasa. Nara membayangkan bahwa minuman itu mengandung zat perangsang seperti novel-novel yang dia baca. Nara bertekad tidak akan pernah menyentuh minuman itu.
Aldin menyimpan minuman di sebuah meja kerja. Meja yang terdapat sebuah laptop yang telah menyala.
"Sebagai hukuman, kerjakan map-map ini!" tukasnya memberi perintah sembari menghempas beberapa map di meja kerja itu. Nara terbelalak, dia tidak menyangka bahwa dia dibawa ke kamar ini untuk mengerjakan sebuah map.
"Jangan bengong, kamu pikir aku membawamu ke kamar ini, mau bersenang-senang denganmu. Cepat kerjakan, aku hanya memberimu waktu satu jam dari sekarang," tegas Aldin tidak kira-kira.
"Ini apa, Kak?" heran Nara dengan suara yang sedikit bergetar.
"Kamu punya tangan, buka sendiri," sungutnya.
Nara membuka map itu perlahan, dan saat dibuka rupanya isi dari map itu sebuah laporan keuangan yang harus dilaporkan selama bulan November kemarin.
"Isi dengan benar laporan keuangan ini, jangan sampai salah, jika sampai salah maka kamu akan tahu akibatnya!" peringat Aldin tegas membuat Nara takut.
"Aku kasih waktu satu jam mulai dari sekarang," putusnya sembari membaringkan tubuhnya di ranjang king size di kamar itu. Nara menarik nafasnya dalam.
"Kak, ini banyak dan Kak Aldin hanya memberi Nara waktu satu jam, apa tidak salah?"
__ADS_1
"Tidak usah banyak bicara, kerjakan saja. Dan jangan berisik, aku mau tidur!" peringatnya seraya menyelimuti tubuhnya dan tidur. Lima menit kemudian Aldin benar-benar tidur dengan suara dengkuran halus.