Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Ke Rumah Bu Sukma


__ADS_3

POV 1 (Nafa)


Sore sekitar jam 5, aku pulang dari food court. Mobil Mas Sakti sudah terpampang di halaman rumah.


"Assalamualaikum!" salamku. Wa Rasih muncul dari ruang tengah dan menyambutku.


"Waalaikumsalam," balas Wa Rasih tergopoh.


"Wa, sudah lama Mas Sakti pulang?"


"Baru saja, Non. Mungkin ada sekitar 15 menit yang lalu."


Aku langsung menuju kamar, namun Mas Sakti tidak aku temui. Aku mencari ke kamar Rafa juga tidak aku temui. Akhirnya aku kembali ke kamar namun sebelum sampai kamar, aku berbelok ke ruang produksi. Untuk sekedar mengecek barang atau kesiapan launching barang untuk minggu besok.



"Mbak, gimana hari ini, ok?" tanyaku pada salah satu pekerja di bagian penjahitan yang rupanya masih berada dalam ruangan.


"Mbak, lembur ya?" sambungku lagi.

__ADS_1


"Tidak, Non. Saya hanya menyelesaikan bagian detail ini, kebetulan ini bagian saya. Tadi siang saya ijin dulu sebentar, sebab anak saya ada yang sakit." Pegawai itu memberi alasan.


"Lho, kenapa Mbak tidak ijin saja? Itu anaknya 'kan sakit. Biarlah urusan ini ada yang lain. Jika ada pekerja yang anggota keluarganya yang sakit, anaknya atau siapapun yang sekiranya tidak ada orang yang mengurus, saya ijinkan tidak masuk kerja," ucap Nafa bijaksana.



Pekerja yang bernama Linda itu segera mengemasi barang-barangnya. Dengan ijinku dia segera pulang dan mengurus anaknya yang sakit. "Terimakasih Non Nafa, kalau begitu saya permisi dulu," pamit pekerja itu dengan tubuh membungkuk.



Sedangkan aku masih belum mau keluar dari ruangan itu, rasanya betah melihat barang hasil rancangan sendiri memenuhi ruangan butik ini.


"Terimakasih, Ya, Allah, telah memberi jalan dan mempermudah usahaku," doaku lirih.



Nafa kembali ke rumah, menyusuri ruangan demi ruangan di butik yang kini sudah berdiri berkat suami maupun kegigihannya.


__ADS_1


"Sayang, dari mana saja. Sejak tadi aku mencari kamu bersama Rafa?" Saat aku akan kembali ke rumah, aku berpapasan dengan Mas Sakti yang katanya mencari aku.



"Nafa tadi dari butik dulu Mas, melihat gaun Nafa yang akan launching minggu besok."


"Doakan Nafa, ya, supaya sukses!"


"Iya dong sayang, Mas selalu mendoakan apapun yang kamu jalankan asalkan positif," tandas Mas Sakti seraya meraih lenganku.


"Hari ini, Mas mau mengajak kalian ke rumah Mama. Bersiaplah!" ujar Mas Sakti senang. Aku yang mendengarnya, alangkah senangnya.



Akhirnya sore itu itu kami berangkat menuju kota Cemara, kota di mana ibunya Mas Sakti tinggal. Rafa yang memang sudah lama tidak bertemu Bu Sukma hari itu dia terlihat sangat antuias dan gembira.



Saat mobil Mas Sakti akan memasuki komplek, sontak kami melihat mobil Mbak Meta keluar dari kawasan komplek. Aku berpikir mau apakah mereka, dan aku sangat khawatir akan keselamatan ibu mertuaku, Mama Sukma.

__ADS_1



"Mas, bukankah mobil yang lewat barusan adalah mobil Mbak Meta? Nafa jadi khawatir dengan Mama," ucapku cemas. Mas Saktipun nampak cemas setelah mendengar ucapanku barusan.


__ADS_2