
Kak Aldin menatapku tajam seraya mendongak, wajahnya tegas dan nampak ada sebuah tanya besar.
"Maksud kamu tadi apa?"
"Apa yang mana Kak, Nafa lupa lagi?" Aku balik bertanya.
"Yang tadi kamu bilang aku mau melamar Nara, apa maksudnya?" tanyanya kesal.
"Nafa hanya berkata apa adanya, Nafa berharap Kak Aldin melamar seseorang supaya Kak Aldin tidak marah melulu dan kaku. Sebab Kak Aldin bisanya cuma marah dan pemaksa!" ejekku santai.
"Terus maksud perkataan kamu tadi apa, tentang aku yang akan melamar Nara?"
"Kali aja Kak Aldin mau melamar, Nafa hanya memberi masukan bahwa perempuan yang cocok sama Kak Aldin hanyalah Nara, bukan perempuan tadi," ucapku sesantai mungkin.
"Apa maksudmu? Aku tidak sedang menjalin hubungan dengan Shera, Sekretarisku!" tandasnya kesal.
"Ya syukur deh. Lagian kenapa sih Kak Aldin geram banget sama Nafa, memangnya salah Nafa apa sama Kak Aldin. Itulah makanya Kak Aldin jomblo terus tidak menikah-nikah, rasain kalau jadi bujang lapuk," ejekku lagi mendadak punya keberanian.
"Seenaknya mengatai orang bujang lapuk. Kamu ingin tahu kenapa aku bersikap seperti ini sama kamu?"
Aku mengangkat bahu tanda tidak tahu.
"Dengar ini wahai Kakak iparku, selama Sakti belum mendapatkan kebahagiaan, maka aku tidak akan berpikir tentang pernikahan. Ingat itu!"
"Wah... ada apa nih Al, kalian sedang membicarakan apa, kelihatannya akrab begitu?" Tiba-tiba Mas Sakti datang dari arah toilet. Kami yang sedang bicara serius tadi mendadak diam.
"Ahh... tidak, kami tidak sedang membicarakan apa-apa. Aku hanya bilang sama istrimu supaya jangan membuat kamu cemburu. Sebab kalau dia sudah berada di kota ini, aku hanya takut istrimu akan sering bertemu dengan anak ingusan itu yang naksir istrimu."
Mendengar Kak Aldin bicara tanpa hambatan mirip jalan tol itu, aku hanya bisa ternganga tidak percaya. Kal Aldin ini mengada-ngada hanya ingin mengalihkan hal yang sesunguhnya. Hatiku dibuat geram.
"Kak Aldin... siapa maksud Kakak?" sergahku melotot.
"Siapa lagi kalau bukan Raka lelaki yang pernah menolong kamu. Jangan karena dia pernah menolong kamu, kamu berbalik menyukainya dan membuat Sakti cemburu," peringatnya seakan-akan aku ini seorang perempuan yang mudah berpaling. Aku diam merengut sampai akhirnya Mas Sakti mengajak aku pulang.
"Ok deh Al, daripada aku melihat kalian saling berantem tidak jelas, sebaiknya aku pamit. Perjalanan ke kota Cemara membutuhkan waktu dua jam. Kamu baik-baik di sini ya! Jangan lupa handle juga Rafasya Restoran."
"Ok, Bro....!"
Akhirnya Mas Sakti pamit dan aku terbebas dari pria kaku dan dingin seperti Kak Aldin.
"Ayo.... !" ajak Mas Sakti sambil menarik lenganku lembut menuju lift.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang ke kota Dingin, aku baru ingat ingin menjumpai Nara sahabatku. Namun perjalanan sudah seperempat jalan, jika aku minta putar balik pastinya jauh lagi. Padahal aku sangat kangen Nara.
"Tadi, apa yang kalian obrolkan dengan Al?"
"Sayang... melamun?"
"Eh... kenapa Mas?" tanyaku gugup, tersadar dari lamunanku yang tadi memikirkan Nara.
"Kamu melamun ya, melamunkan apa sih?" Mas Sakti menyelidik seakan penasaran.
"Tidak ada, Nafa hanya sedang berpikir rindu sama Nara."
"Cekittttt....!" Tiba-tiba Mas Sakti memberhentikan mobilnya secara mendadak, sampai aku terkejut.
"Mas... kenapa?" tanyaku penasaran.
"Kamu ingin ketemu Nara, kan?" Mas Sakti bertanya sambil menatapku.
"Iya Mas, tapi ini sudah seperempat jalan. Jadi tidak mungkin Mas Sakti putar balik," sergahku.
"Biarlah sekalian kamu jalan-jalan, Mas tidak apa-apa."
"Tapi....!" Aku tidak melanjutkan ucapanku karena Mas Sakti sudah memberi kode dengan mengangkat tangannya supaya aku tidak banyak protes. Mobilpun putar balik dan kembali ke kota Kaktus.
"Nafa....!" pekik Nara senang sambil melonjak kegirangan. Aku ikut terbawa suasana sehingga aku tidak sadar melonjak mengikuti Nara, saking senangnya. Aku bahagia bisa bertemu kembali bersama Nara.
"Entar dulu ya Naf, aku selesaikan pekerjaan dulu," ucap Nara sambil berlalu. Lima belas menit kemudian Nara selesai dan kembali.
Kami berjalan menuju sebuah food court Mall besar itu. Mas Sakti sengaja tidak mengikuti sebab dia baru saja mendapat telpon dari rekan bisnisnya yang kebetulan berada di kota itu.
"Sayang, nanti telpon saja ya!" ucapnya sambil berlalu dan melambaikan tangan. Aku mengangguk dan kembali berjalan bersama Nara ke arah food court.
Tiba di Food Court, kami sengaja memilih meja yang paling ujung, kebetulan Pelayan menyajikan menu untuk dipilih.
"Silahkan Mbak dipilih menunya?"
"Terimakasih, Mas!"
Aku dan Nara memesan makanan dan minuman. Tidak berapa lama pesanan kami datang. Tidak menunggu lama kami menyantap pesanan kami.
"Bagaimana dengan kehamilanmu, Naf? Sepertinya kamu tidak mengalami morning sickness?" tanya Nara ingin tahu.
__ADS_1
"Alhamdulillah Nar, aku memang tidak mengalami morning sickness parah, hanya sesekali saja aku merasakannya," jelasku.
"Wah... hamil yang menyenangkan....!"
"Nafa.... ini benar kamu Nafa? Kenapa bisa ad dikota ini, bukankah kemarin-kemarin masih di kota Cemara?" kejut seseorang mengejutkan aku dan Nara. Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat siapa orang tersebut.
"Mas Raka....!" kejutku.
"Kamu kenapa ada di sini?" tanyanya lagi.
"Nafa kebetulan sedang bertemu Nara, sahabat Nafa," ucapku seraya menunjuk ke arah Nara. Nara menoleh ke arah Mas Raka lalu mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda perkenalan.
"Naf... aku ke toilet dulu ya. Kalian ngobrol saja dulu. Aku kebelet." Nara meminta izin ke toilet dan berlalu. Tinggallah aku dan Mas Raka. Mas Raka masih berdiri dan aku tidak mempersilahkan dia duduk.
"Aku duduk ya?" ucap Mas Raka meminta persetujuan.
"Iya, Mas...."
"Ngomong-ngomong kenapa kamu berada di sini? Terus kamu dengan siapa di sini?" Mas Raka nampak penasaran dan ingin tahu.
"Iya Mas, Nafa di sini bersama suami Nafa. Tapi berhubung tadi Mas Sakti ada telpon mendadak dari rekan bisnisnya jadi kami berpisah dulu sebanyak," jawabku.
"Ngomong-ngomong bagaimana kehamilan kamu, apakah sehat-sehat saja?" Mas Raka bertanya sembari menoleh ke arah perutku.
"Alhamdulillah Mas baik!"
"Alhamdulillah dong ya, semoga sehat sampai lahiran, ibu dan debaynya," doanya tulus.
"Terimakasih Mas. Tapi, ngomong-ngomong kenapa Mas Raka ada di dini juga?"
"Aku sedang mencari kain disini, untuk menyuplai kain ke Butik Syafana dan Butik Delia."
"Oh ya....!"
Saat kami sedang asik ngobrol, tiba-tiba tanpa diduga dari arah belakangku, Mas Sakti menghampiri dan meraih tanganku.
"Sayang... makannya sudah kan? Ayo... kita harus segera kembali. Kamu sudah makannya kan dengan Nara?" Mas Sakti menarik tanganku lalu membawaku berdiri. Sedangkan Mas Raka bengong.
__ADS_1
"Sorry.. ini istri gue, mau gue bawa!" ucap Mas Sakti seraya menarikku menjauh dari Mas Raka. Mas Raka masih bengong melihat aku yang dibawa oleh Masa Sakti.