Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Sebuah Hadiah Kecil


__ADS_3

Aldin masih memperhatikan Nara yang sedang makan dengan lahapnya, kali ini gadis di depannya benar-benar lapar. Aldin selalu melihat Nara malu-malu dan dia menyukainya. "*Dasar* *gadis pemalu, tapi aku menyukainya*," Aldin bermonolog.



Aldin membayangkan kejadian tadi di apartemennya, saat tubuhnya terpelanting bersama tubuh Nara. Dia menindih tepat di atasnya. Aldin melihat Nara sangat panik dan kaget. Namun beberapa saat kemudian terlihat tersenyum-senyum bahagia dan pasrah. Sebetulnya Aldin heran, apa yang sedang Nara khayalkan? Perubahannya sungguh cepat, dari panik langsung senyum-senyum.


"Jangan-jangan gadis kecil ini berkhayal mesum," seperti itu dugaan Aldin.


Nara menyudahi makannya dengan habis, Aldin sangat menyukainya, malu-malu tapi Nara tidak jaim menghabiskan makanannya. Sikap tidak jaim ini nilai plus untuk Nara masuk dalam kriteria gadis yang disukainya.


"Bagaimana, mau nambah lagi, tidak?"


"Tidak, Kak, terimakasih. Nara sudah kenyang. Alhamdulillah makanannya enak dan mengenyangkan." Nara menyusut sisa makanan di ujung bibirnya padahal tidak ada bekas.


"Apakah kamu ada basic mengurus masalah keuangan sebelum ini?" Aldin membelokkan pembicaraannya pada masalah lain. Nara termenung heran.



"Tidak, Kak. Nara hanya mengurus keuangan, tapi hanya bagian Kasir dan tidak pernah dilibatkan dalam urusan laporan keuangan," jawab Nara meyakinkan. Aldin mengangguk, dia mengakui kemampuan gadis itu lebih dari sekedar Kasir. Aldin menyunggingkan senyuman penuh makna.



"Ini, terimalah ini," sebuah kotak segi panjang di balut kertas kado disodorkan di hadapan Nara. Nara heran melihat Aldin menyodorkan sesuatu ke hadapannya.



"Ini apa, Kak?" heran Nara. Tapi tidak berani disentuhnya.


"Ambillah! Itu hadiah kecil dari aku, karena kamu mau aku ajak jalan hari ini. Nara mengerutkan keningnya tidak paham.


"Kak Aldin membayar Nara?"


"Tapi, Nara tidak minta bayaran," ujarnya yang secara tidak langsung menolak pemberian Aldin.


"Aku tidak membayar kamu, tapi ini hadiah."


"Hadiah? Hadiah apa, Kak?"


"Hadiah anniversary kita." Sontak Nara terperangah dan sukses mengerutkan keningnya kembali.


"Kenapa, apa yang kamu kejutkan? Jangan sering-sering mengerutkan kening, nanti cepat tua!" gertaknya menyadarkan keterkejutan Nara.



"Maksud Kak Aldin, anniversary siapa?"


"Kita dong, kita kan sudah pacaran selama lima tahun." Lagi-lagi Nara mengerutkan keningnya, kali ini herannya berkali lipat dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kapan kita pacaran Kak, Nara tidak pernah pacaran dengan Kak Aldin?" herannya.


Aldin geleng-geleng kepala dibuatnya, dia merasa kesal dengan Nara yang tulalit ini.


"Kita tidak akan pernah pacaran, tapi **MENIKAH**," tekan Aldin sembari memelototkan matanya yang hampir keluar. Nara menjauhkan wajahnya saat Aldin mendekat.



"Nara, Nara, kamu itu polos atau tulalit? Saya memberikan kotak itu untukmu sebagai hadiah. Bukalah!" perintahnya tegas. Nara terkejut, ketakutan dengan tatapan tegas Aldin. Wajah Nara tiba-tiba memerah jambu, takut plus malu menyatu.



"Hadiah, tapi buat apa, Kak? Nara tidak butuh hadiah," tampiknya membuat Aldin kesal.


"Ambillah, itu hadiah khusus buat kamu karena aku pernah merusakkan Hpmu tempo hari saat kita tabrakan," jelas Aldin kesal.


"Emmm, tapi .... "


"Sudah, tidak perlu tapi, tapian. Aku tidak suka ditolak!" sungutnya keras. Nara mendadak diam, tapi tetap tidak menyentuh kotak itu.


"Ayo, pulang!" ajaknya sembari meraih kotak itu dan memberikannya pada Nara, lalu beranjak meninggalkan cafe tersebut. Nara mengekorinya dari belakang.



Tiba di dalam mobil, Aldin langsung membunyikan mesin mobil dan melajukan *Corolla* *Crossnya* membelah jalanan kota itu menuju rumah Nara. Dalam diam Nara melihat Aldin dari ujung matanya.


"*Tampan juga Kak Aldin, meskipun sering* *marah dan agak pemaksa, tapi rupanya dia baik*. *Dia tidak sejahat yang aku pikirkan. Hanya* ... *kenapa insiden terpelanting tadi harus terjadi*? *Ohhh tidakkkk, aku harus cuci mata* *banyak-banyak karena telah melihat sesuatu yang* *bergerak dari bawahnya Kak Aldin, dan* *membayangkan Kak Aldin mencuri ciuman* *pertamaku*." Nara membayangkan kejadian tidak disengaja tadi dengan rasa sesal yang dalam.



Aldin memergoki Nara yang menatapnya lama. Dalam hatinya bersorak, Nara naksir dirinya. "Terpesona dia," bisiknya dalam hati.


"Kak Aldin, apakah Kak Aldin serius memberikan hadiah ini untuk Nara?" Nara tiba-tiba bertanya yang sontak membuat Aldin tidak bersemangat nyetir lagi. Bawaannya kesal.


"Ihhhh, gadis ini, lama-lama benar-benar mirip anak kecil." Aldin merutuk dalam hati sembari memukul setirnya.


Nara melihat Aldin dengan perubahan air mukanya serta pukulan setir oleh tangannya. "*Kenapa lagi dengan Kak Aldin*?"



"Buka saja hadiah ini di rumah atau di kamar kamu, atau kalau perlu di atas atap rumahmu," sinis Aldin geram dengan ketulalitan Nara.



" Sudah hampir jam 11 siang, aku harus mengantarmu," ujarnya seraya meraih memutar kembali setirnya. Kini Aldin menjalankan Corolla Crossnya dengan lebih cepat. Nara nampak ketakutan, tapi dia hanya bisa pasrah dan diam, karena dia tahu Aldin sedang kesal karena padanya.


__ADS_1


Tidak berapa lama, mobil Aldin sampai di depan halaman rumah sederhana Nara. Nara segera turun dan berdiri di samping pintu mobil.



"Kak Aldin masuklah dulu,"


"Tidak, lain kali saja, aku masih ada urusan dengan suaminya Nafa. Salamkan saja pada Ibu dan Bapak kamu."


"Oh, ya sudah, Kak, hati-hati ya!" ujar Nara melambai! seraya menatap kepergian mobil Aldin yang melaju ke arah barat.


Setelah mobil Aldin sudah tidak kelihatan lagi, Nara segera beranjak dan masuk ke halaman rumahnya. Sejenak dia berhenti dan menyapa sang Bapak yang tengah menyibukkan diri di samping rumah.



"Assalamu'alaikum, Pak!" sapa Nara seraya menghampiri.


"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Pak Kusuma sembari melihat Nara dari atas sampai bawah. Nara yang menyadari itu, langsung meminta ijin untuk masuk rumah.


"Nara masuk dulu ya, Pak," pamit Nara membuyarkan pikiran Pak Kusuma.


"Iya, Nak. Masuklah." Ucap Pak Kusuma sembari fokus kembali dengan aktifitasnya yang tadi sempat terganggu oleh kedatangan Nara.


Nara mengucapkan salam seraya pingak pinguk mencari Ibunya. "*Ibu kok tidak ada*, *kemana ya*?" gumannya heran.



Karena belum menemukan Ibunya, Nara langsung masuk kamar dan ingin segera membuka kado persegi panjang dari Aldin itu. Nara masuk lalu mengunci pintu.



Segera dibukanya kado itu, seraya komat kamit berdoa terlebih dahulu.


"Srek, srek," bunyi bungkus kado yang sengaja disobek Nara. Dia tidak sabar untuk mengetahui isi dalam kado itu.


Perlahan Nara mengeluarkan isi dari kotak kecil itu, dan isinya sungguh mencengangkan.


"Hp?" kejutnya. "Kenapa Kak Aldin memberikan HP, bukankah kemarin sudah menebuskan HP Nara yang diservis?" Nara bertanya-tanya dalam hati.


Ditangannya, kini terdapat sebuah HP mahal seharga empat kali lipat harga Hpnya yang diservis kemarin. Nara ternganga namun tidak bisa apa-apa, kecuali menerima pemberian itu.


Bersambung


Mohon mampir juga ke karya lain Author



Dijebak Nikah Paksa

__ADS_1


Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah.



__ADS_2