
Tiba di kota Dingin kota yang mengingatkan aku saat pertama kali datang ke sini, saat itu Mas Sakti seolah menyekapku dan memaksaku pulang dari Butik Delia. Niat Mas Sakti ingin menahanku tinggal di kota Dingin supaya aku tidak diketahui istri pertama Mas Sakti pada saat itu.
Dan kini aku kembali ke kota .Dingin dengan sebuah harapan baru. Harapan bisa mengembangkan karirku sebagai Perancang busana.
Besoknya, Mas Sakti mengajak aku ke kota Cemara untuk mengantarku menemui Bu Delia. Kebetulan Mas Sakti memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kota ini.
"Sayang... nanti jika urusannya dengan Bu Delia beres, segera hubungi Mas ya! Mas mau bertemu Aldin dan menyesaikan pekerjaan," pesan Mas Sakti saat aku sudah tiba di Butik Delia.
"Nafa....!" teriak Mbak Nira dan Mbak Titik hampir bersamaan. Mereka merangkulku dengan penuh rasa gembira. Aku juga sama, rasa rindu pada mereka kini terobati. Untuk beberapa saat sebelum aku bertemu Bu Delia, aku melepas kangen dulu dengan mereka. Teman-temanku saat masih di Butik Delia ini yang begitu solid dan baik.
Kini tiba saatnya aku bertemu Bu Delia. Bu Delia sengaja mengajak aku ke rumah makan sebelah Butik Delia, biar santai dan leluasa ngobrolnya, alasan Bu Delia.
"Nafa... bagaimana kabar kamu selama si kota Cemara?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, Bu. Seperti yang Ibu lihat sekarang ini."
"Itulah alasan mengapa saya menyembunyikan identitas kamu di Butik Syafana, saya hanya ingin melindungi kamu dari istri pertama suami kamu."
"Mereka sudah mantan suami istri, Bu!" ralatku.
"Oh ya....!!??" Bu Delia terkejut.
"Iya Bu, dan ini juga kenapa saya diajak pindah ke kota Dingin. Tidak lain hanya ingin melindungi diri saya dari ancaman terornya Mbak Meta."
Obrolan kami berlanjut mengalir begitu saja termasuk membahas kepindahan aku ke kota *Dingin*. Juga Bu Delia mengijinkan aku untuk mengerjakan gaunnya di rumah. Dan yang lebih membahagiakan, Bu Delia malah memberi idenya supaya aku mendirikan butik khusus gaun malam yang temannya sudah lama aku usung, yaitu gaun malam yang menganak muda dan kekinian.
__ADS_1
"Terimakasih Bu Delia atas kepercayaan nya pada saya," ucapku yang merasa bahagia. Karena kesepakatan yang telah disetujui Bu Delia. Akhirnya aku ada jalan untuk bisa mengembangkan hobiku menjadi sebuah karir.
Akhirnya, obrolan kami berakhir dan aku berpamitan pada Bu Delia. Namun pada saat aku mau keluar dari rumah makan , tiba-tiba aku bertemu dengan orang seseorang yang aku kenal.
"Mas Raka....!" pekikku. Rupanya orang ya berpapasan dengan aku adalah Mas Raka.
Mas Raka adalah orang yang selalu menolong aku saat aku memerlukan bantuan!
"Nafa... rupanya kamu di sini? Sejak kapan kamu di sini bukankah kemarin kamu masih di kota Cemara?
Saat yang bersamaan, tiba-tiba Mas Sakti datang menjemput. Mas Sakti melihat aku sedang berbicara dengan Mas Raka.
__ADS_1
" Sayang... ayo pulang!" Ajak Mas Sakti sambil merengkuh tanganku. Wajah Mas Sakti diliputi rasa cemburu dan kesal.
Aku patuh dan mengikuti Mas Elang keluar dari kawasan Butik Delia. Mas Raka menatap kepergainku dengan kecewa, lalu dengan tanpa sengaja aku melihat tinjunya mengayun di udara. Aku tahu Mas Raka kecewa melihat aku segera di bawa oleh Mas Sakti. Aku sebagai istri Mas Sakti harus. patuh dengan ajakan suami.