
"Darling, hari sudah terlalu malam. Emak tidak memboleh kan aku pergi dari rumah malam- malam."
Ku putuskan lebih baik menolak perintah tua Angga dari pada membuat Emak nanti cemas. Kalau sampai anak gadisnya keluyuran malam- malam.
"Darling, malam ini minta pembantu aja dulu ya buat masakin. Kalau hubungan kita sudah syah. Baru... kapan pun Darling minta pasti ku masakin."
Aduh... keceplosan aku. Mana mungkin hubungan ku dengan tuan Angga bisa dihalalkan di atas penderitaan orang lain?
Aku berdoa dalam hati, semoga saja tuan Angga tidak memaksakan kehendaknya.
"Honey... enak nya malam- malam gini makan apa ya?"
Pertanyaan tuan Angga membuat ku sedikit lega. Aku mulai memikirkan berbagai macam menu yang biasa disantap orang kaya. Tapi terus terang saja aku kurang mengerti karena pergaulan ku tidak sampai merambah ke sana.
"Ehm... Darling, kalau sesuatu yang berprotein saja gimana?" Tanya ku asal.
"Iya itu bagus, supaya aku tidak gendut" jawab tuan Angga gembira. Sepertinya usulku diterima dengan baik.
Aku teringat cerita Sella, kalau ia sering malam- malam diner dengan steak daging. Seperti apa makanan itu sebenarnya aku belum pernah melihat dan memakannya.
"Darling, kalau steak daging atau ayam?" Tanya ku ragu.
"Ehm... ya.. itu pasti enak dimakan malam- malam gini." Sepertinya tuan Angga puas dengan jawaban ku.
"Kalau begitu, Darling cepat suruh koki di rumah untuk masak ya. Oh iya Darling... aku sedikit lelah boleh kan aku istirahat?" Kata ku berusaha mengakhiri panggilan ku.
"Ya matikan saja!" Reflek ku pencet tombol off dan menghela nafas lega. Aku segera mandi dan bersiap menyusul emak dan adik- adik ku untuk tidur. Baru saja aku membaringkan tubuh lelah ku. Tiba- tiba terdengar nada panggilan masuk.
Ternyata Vidio Call, membuat ku sedikit jengah. Namun aku tidak bisa menolak panggilan tuan Angga. Aku enggan untuk bangun jadi kuangkat saja sambil baring.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" Kata ku malas- malasan.
"Temani aku makan!" Kata tuan Angga tanpa rasa bersalah.
"Darling... ini sudah malam. Apa darling tidak kasihan membangun kan emak dan adik-adik ku nanti?" Sengaja kamera kuarahkan ke arah emak dan adik- adik ku yang sedang tidur di samping ku.
"Kenapa tidak tidur di kamar mu sendiri?" Tanya tuan Angga tanpa rasa bersalah. Ingin rasanya ku jambak rambutnya. Dasar pria tidak peka. Biasanya wanita simpanan akan dibelikan rumah mewah juga dengan segala fasilitas. Sementara aku? Eh... kenapa tiba- tiba aku jadi cewek matre. Mana harga diri yang selama ini ditanamkan Emak dan Bapak? Kenapa tiba- tiba lenyap? Aku mengutuki diri ku sendiri.
"Darling... rumah kontrakan ku cuma ada satu kamar..." Tiba-tiba aku teringat kalau bulan ini aku belum bayar uang kontrakan.
"Darling, bolehkah aku pakai kartu kredit mu untuk bayar uang kontrakan? Bulan ini aku belum bayar." Kata ku jujur.
"Ya bayar aja sebulan. Oh ya besok ku suruh Deni untuk cari rumah buat kalian." Kata tuan Angga ringan, sambil terus ia menikmati makan malam nya.
"Benarkah?" Tanya ku tak percaya.
Tanpa menunggu jawaban ku ia langsung menutup panggilannya. Rasanya aku tak percaya pada apa yang ku dengar barusan. Tuan Angga mau membelikan ku rumah? Semudah itu? Aku belum melakukan apa-apa untuk nya dan dia sudah memberi kartu kredit dan sekarang dia menjanjikan ku akan membelikan rumah.
Aku tersenyum- senyum membayangkan saat aku dan keluarga ku pindah ke rumah baru. Rasanya tidak sabar menantikan pagi. Hayalan ku seketika buyar. Ada sebuah tangan menggoncang kaki ku. Reflek ku buka mata, ternyata emak. Ia memberi kode mengajak ku keluar kamar. Aku pun segera menyusul emak ke ruang tamu.
Emak sudah duduk menunggu. "Ana... sini, ada yang emak ingin tanyakan," kata emak tegas namun tetap lembut.
"Iya Mak, mau tanya apa?" Tanya ku balik. Aku merasa was- was. Apa emak tadi mendengar ku bertelephonan dengan tuan Angga? Seketika rasa takut menyergap ku. Bagaimana kalau emak marah pada ku?
"An... emak tadi dengar kamu berteleponan dengan seorang pria. Apakah kamu tidak ingin bercerita pada Emak mu ini?" Tanya emak masih dengan lembut.
Aku benar- benar bingung, aku takut kena marah. Tapi kalau aku tidak terbuka, nantinya emak pasti tahu juga. Saat ia tahu bukan dari ku, pasti emak akan sedih dan kecewa pada ku.
"Mak... pria itu memaksa untuk menjadikan ku wanita simpanan nya," Kata ku takut - takut.
__ADS_1
Sepintas ku lirik raut wajah emak. Ada keterkejutan disana, namun sepertinya emak menahan diri untuk tidak memarahi ku.
"Kamu mencintai nya?" Tanya emak masih dengan suara lembutnya.
"E... sebenarnya, Ana baru kenal pria itu hari ini." Kata ku jujur.
"Terus bagaimana kamu dipaksanya jadi wanita simpanannya?" Tanya emak bingung.
"Tadi siang waktu makan siang, ada ibu- ibu menuduh Ana pelakor dan mencakar wajah Ana. Ana berusaha mengelak dan mengancamnya akan melempar gelas padanya, namun ibu itu tidak mau berhenti. Ana lempar gelas itu asal, tapi malah mengenai tuan Angga. Tuan Angga melaporkan Ana ke polisi dan katanya kalau Ana tidak mau jadi wanita simpanan nya, Ana akan dimasukkan ke penjara. Ana takut Mak, makanya Ana mau menuruti kemauan tuan Angga. Hiks...hik..." tangis ku seketika pecah.
Emak langsung merengkuh ku membawa ku ke dalam pelukannya.
"Ana... kamu anak Emak yang sangat berbakti. Kalau ini semua terjadi pada mu, emak percaya ini ujian. Kamu harus kuat ya nak... Emak akan selalu mendukung mu." Kata- kata emak menenangkan ku. Aku lega banget, emak tidak memarahiku tapi malah mendukung ku.
"Nak... apakah tuan Angga minta dilayani sebagai suami istri?"
Spontan aku menggeleng, "Belum Mak, dan aku takut. Suatu saat ia pasti minta itu pada ku."
"An... sebaiknya sebelum hubungan ini berlanjut, mintalah dengan sangat agar hubungan kalian di sahkan menurut agama. Berdosa nak, kalau hubungan kalian tidak di sahkan."
Setelah ku pikir- pikir, memang benar Kata-kata emak. Kalau aku tidak menikah, sama saja aku berzinah. Aku tidak mau dilaknat Allah.
"Ya.. mak, besok aku akan katakan ini pada tuan Angga." Emak mengangguk sebagai persetujuannya.
"An... apa pun beban mu, jangan kamu simpan sendiri ya Nak... kita harus saling berbagi. Kita adalah keluarga sepenanggungan. Dengan kita terbuka, maka masalah sebesar apa pun akan dapat kita selesaikan. Ayo tidur... kamu besok kan harus berangkat ke kantor pagi- pagi!" Emak menutup pembicaraan dan berjalan duluan masuk ke dalam kamar.
Aku masih bertahan duduk di bangku sederhana. Aku tidak boleh menunggu sampai besok pagi. Aku harus segera memberi tahu tuan Angga. Apa pun keputusannya nanti aku serahkan pada nasip ku.
Segera ku ketik pesan pada tuan Angga.
__ADS_1