Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Kontraksi Semu


__ADS_3

Sakti sangat panik melihat Nafa kesakitan di atas brangkar. Lalu dia berusaha menenangkan Nafa dengan mengusap-usap memberi kekuatan.


"Sayang yang kuat ya!" hibur Sakti, raut mukanya sedih seakan merasakan kesakitan yang dirasakan Nafa.


Di ruang pemeriksaan, Bidan Dina sudah siap memeriksa Nafa. Nafa berbaring, kemudian perutnya diolesi gel, lalu diusap-usap melingkar oleh sebuah alat yang diarahkan langsung ke sebuah monitor. Terlihat di sana janin yang dikandung Nafa.



Bidan Dina menjelaskan posisi bayi saat ini sungsang, namun belum waktunya melahirkan. Rasa mules tadi hanyalah kontraksi semu. Kemudian Bidan Dina memberikan sedikit tekanan mengarahkan kepala bayi agar kepalanya di posisi jalan lahir.



"Ini posisinya perlahan-lahan akan kembali normal, Mbak Nafa dan suami disarankan cek kembali seminggu sekali untuk memastikan posisi bayi sudah bagus atau masih sungsang. Tapi ini Insya Allah, tiba saatnya lahiran dede bayinya akan normal dengan posisi kepala tepat di jalan lahir."



Mendengar penjelasan Bidan Dina seperti itu, membuat Sakti dan Nafa menjadi sedikit lega. Bidan Dina menyarankan Nafa untuk lebih banyak istirahat, minum air putih, berendam air hangat, dan sekali-sekali dipijat supaya rileks.



"Dan jangan lupa, ketika berhubungan suami istri untuk suaminya jangan terlalu menggebu-gebu ya, karena ditakutkan akan mengganggu kondisi janin. Dan untuk Mbak Nafa, selain saran di atas, jangan lupa minum susu yang teratur. Jangan bekerja yang berat-berat dan usahakan pikiran selalu positif." Peringatan Bidan Dina sedikit banyak menyentil Sakti. Sakti tersipu malu saat Bidan Dina mengingatkan supaya tidak terlalu menggebu-gebu saat berhubungan.



Pemeriksaanpun selesai, Sakti dan Nafa boleh pulang. Mereka kembali ke rumah.


"Tuh, makanya Mas dengarkan apa kata Bidan Dina, jangan terlalu menggebu-gebu, nanti mengganggu dede bayi," tegur Nafa menyinggung kata-kata Bidan Dina tadi.


"Iya, Sayang. Mas minta maaf. Mas tidak akan sekali-sekali seperti itu lagi. Mas akan lakukan dengan lembut," janjinya sembari mencubit kecil hidung Nafa.



"Bagaimana Sak, apa yang terjadi? Apa istrimu tidak kenapa-kenapa?" Aldin tiba-tiba muncul dan menanyakan keadaan Nafa.


"Alhamdulillah, Nafa hanya kontraksi palsu. Itu karena kondisi janin yang sungsang, tapi Bidan Dina sudah memberi tekanan supaya posisi janin berada dijalan lahir."


"Ohhh syukurlah, Sak, jika istrimu baik-baik." "Makanya jangan terlalu sibuk dong, Kakak ipar," lanjut Aldin meledek Nafa sambil duduk santai di samping Sakti.

__ADS_1



"Nyebelin deh, Kak Aldin ini. Belum merasakan istri hamil jadi ya begitulah tanggapannya, datar," balas Nafa kesal.



"Aku memang belum pengalaman dan belum punya istri. Maka dari itu aku akan perhatikan istriku kelak supaya tidak menggebu-gebu jika saat berhubungan." Sindiran Aldin langsung mengena Sakti yang saat itu juga merasa tersindir.



"Sudah, kalian ini seperti Tom dan Jery yang setiap kali dipertemukan ada saja yang diperdebatkan, lama-lama kalian ini persis adik kakak tapi beda rahim dan tidak pernah akur. Jangan-jangan istriku adalah jelmaan dari adikmu yang meninggal saat dilahirkan itu, Al."



"Masa iya aku punya adik bandel begitu, sibukkkk terus dan kerja terus, padahal punya banyak anak buah," oceh Aldin.



"Apaan sih Kak Aldin, ledekin Nafa terus. Sudah deh, kalau tidak pernah ngerasain hamil, maka mulutnya diam saja, jahit sekalian biar rapat dan tidak ngomong lagi," balas Nafa kesal. Aldin senyum-senyum jahil tanda puas sudah mengusili Nafa.




"Pak Donal, Meubeul Donal Furniture. Sudah *deal* kemarin Sak. Dengan kata sepakat. Dia memang dari dulu ingin bekerjasama dengan Adrian Wood, yang tidak diragukan lagi kualitas kayunya."



"Alhamdulillah, dari sejak Kakek Adrian mendirikan perusahaan, memang Adrian Wood tidak pernah mengecewakan, dan kualitas kayunya nomor wahid."



"Iya. Kakek Adrian memang dedikasinya tinggi dalam bidang perkayuan. Selalu memperlakukan klien atau pelanggannya dengan sebaik-baiknya."


"Betul, itu makanya Adrian Wood semakin kesini semakin maju, terlebih dipimpinnya oleh seorang Aldin Aldama," ungkap Sakti memuji Aldin. Aldin yang dipuji menjadi kembang kempis seperti air dalam wadah lembek.


"Tuh ...lihat bangganya minta ampun, kembang kempis deh hidungnya Kak Aldin," ledek Nafa tidak suka. Aldin yang diledek begitu hanya tertawa kecil.

__ADS_1



Tiba-tiba HP Nafa berbunyi, panggilan telepon dari Nara. Nafa melipir sejenak untuk mengangkat telpon. "Sebentar ya Mas, angkat telpon dulu dari Nara," pamit Nafa saat dia melihat siapa yang nelpon. Aldin yang mendengar siapa yang menghubungi Nafa, sontak menjadi serba salah. Dia ingat akan kejadian kemarin saat di apartemen. Bukan kejadian mesum, hanya kejadian yang tidak disengaja saat mereka sama-sama terjerembab dan jatuh, lalu Aldin menindih tubuh Nara tepat di atasnya.



"Shittt!" batin Aldin mengumpat, untung saja tidak dia ucapkan dari mulutnya langsung. Seketika bayangan Nara menari-nari di otaknya. Gaya bicaranya, malu-malunya, tidak jaimnya serta tidak pemarahnya itu menjadi sebuah hal yang selalu membayangi pikiran Aldin.



Entah kenapa baru kali ini diusianya yang sebentar lagi 30 tahun, Aldin merasakan getaran aneh pada seorang gadis. Hanya Nara gadis pertama yang membuat kelelakiannya menginginkan seorang pasangan.



Dulu saat ditanya akan pasangan, dia selalu berkata, jika Sakti sudah bahagia maka dia akan mencari pasangan. Dan kini Aldin melihat Sakti sepertinya telah bahagia, bersama Nafa. Gadis yang hampir sebelas dua belas sikapnya dengan Nara. Namun bedanya Nafa dengan Nara adalah, Nafa lebih bawel dibanding Nara. Kesamaannya adalah, sama-sama gadis yang sederhana dan tidak banyak tingkah, meskipun Nafa kini sudah mulai sukses, akan tetapi dia tetap rendah hati.



"Al ... Al! Kamu melamun, ya? Apa sih yang kamu lamunkan? Sudah hampir 10 menit kamu bengong tidak jelas." Sakti yang menyadari Aldin sedang melamun, sukses mengejutkan Aldin yang memang lagi melamun.



"Aku tidak melamun, aku hanya sedang berpikir keras bagaimana caranya bisa mendapatkan Na ... eeh," sontak ucapannya menggantung, saat Aldin menyadari bahwa ucapannya hampir saja keceplosan menyebut nama Nara.



Sakti mengerutkan keningnya, dia kurang paham dengan yang diucapkan Aldin barusan. Aldin bersyukur, bahwa Sakti tidak ngeuh dengan apa yang diucapkan Aldin. Jika Sakti menyadarinya, alamat Aldin akan mendapatkan malu atau dipermalukan oleh Sakti.



Tidak berapa lama Nafa datang, dia telah menyudahi teleponnya dengan Nara. Muka Nafa terlihat berseri dan bahagia.


"Wahhh ... ada yang bahagia rupanya, bahagia banget istri, Mas." Sakti merasa penasaran dengan sikap Nafa yang terlihat berseri-seri.


"Jelas dong Mas, Nafa kan sudah bicara banyak dengan Nara. Sudah lama Nafa tidak berhubungan dan ketemu langsung sejak Hpnya rusak. Besok kita akan ketemuan, Nafa mau ajak Nara makan sore sambil mengenalkan Nara pada sese--orang," ucap Nafa bahagia sambil melirikkan matanya ke arah Aldin, ketika dia menyebutkan akan mengenalkan Nara pada seseorang. Nafa sengaja memancing reaksi Aldin. Dan ... hasilnya, Aldin menjadi salah tingkah.


Jangan lupa bagi yang masih punya Vote, di vote karya Author ya biar Author tambah semangat nulisnya.... terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2