
"Assalamu'alaikum ... Ne, Nene .... !" salam Rafa sedikit melengking. Tidak berapa lama pintu depan terbuka, Bi Nia yang membukakan pintu.
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk Den, Non!" Bi Nia mempersilahkan masuk pada mereka bertiga.
"Mama mana, Bi?'
" Nene ... Rafa datang, Ne!" Disambung Rafa yang berteriak.
"Ibu, di kamarnya. Barusan Ibu ada tamu, mantan mertuanya Den Sakti. Mungkin Ibu pikir, yang mengetuk pintu barusan adalah mantan mertuanya Aden," ungkap Bi Nia. Kami semua sontak terkejut mendengar pengakuan Bi Nia.
Sakti segera berlari menuju kamar Bu Sukma seraya memanggil mamanya.
"Ma, Mama ... ini Sakti, Ma!" teriak Sakti. Tidak berapa lama, pintu kamar Bu Sukma terbuka dan Bu Sukma keluar dengan wajah yang sedikit muram.
"Mama, kenapa? Apa tadi Bu Mala menyakiti Mama?" Sakti bertanya panik.
"Mama tidak apa-apa, Mama hanya kesal saja. Dia tadi datang dan bilangnya ingin bertemu Rafa. Mama bilang yang sejujurnya kalau Rafa sudah tidak tinggal di sini, namun dia tidak percaya. Mantan mertuamu malah teriak-teriak dan hampir saja mau mengobrak-abrik rumah ini. Tapi Mama ancam pakai sapu lidi, Mama menakutinya dengan sapu," cerita Bu Sukma masih kesal.
Mendengar cerita Mamanya, Sakti bukan prihatin tapi tertawa. "Hahahhaha .... "
"Kamu ini, Mama sedang dapat musibah malah tertawa. Tidak lucu tahu!" sergah Bu Sukma.
"Sakti bukan mentertawakan Mama, tapi cara Mama lucu sampai menakuti Bu Mala dengan sapu lidi, hahaha .... " Sakti tertawa ngakak tidak tahu kalau Mamanya sangat kesal.
"Nene ... Rafa dan Bunda datang." Rafa berteriak sembari memburu ke arah Nenenya yang masih kesal gara-gara Bu Mala, mantan besannya.
"Ayo kita ke ruang tamu saja, kita ngobrol di sana," ajak Bu Sukma menggiring Sakti dan Rafa.
__ADS_1
"Ma, apakabar, sehat?" Nafa berdiri dan menghampiri Mama Sukma lantas menyalaminya.
"Baik, Sayang. Gimana kehamilanmu, lancar, tidak ada keluhan berarti?"
"Alhamdulillah, Ma, sehat-sehat saja. Malah bayinya semakin aktif dalam perut," sahut Nafa senang.
"Alhamdulillah, sebentar lagi Mama akan punya cucu lagi. Mama rasa bayinya berjenis kelamin perempuan. Lengkap sudah keluarga kalian Sakti." Bu Sukma antusias.
Selang beberapa menit, Bi Nia datang membawa minuman buat tamu Nyonyanya, bersama beberapa toples cemilan.
"Bi Nia, bawa sekalian asinannya," titah Bu Sukma.
"Baik, Bu." Bi Nia ngeloyor ke dapur membawa pesanan majikannya.
"Nah, ini dia asinan mangganya, kebetulan sekali kalian datang, kemarin Mama bikin banyak dan mau Mama toplesin, tapi belum sempat."
"Segar kayaknya, Ma. Kebetulan Nafa lagi pengen yang segar-segar. Mama pandai bikin asinan," puji Nafa tulus sembari meraih toples yang disodorkan Bu Sukma.
"Pasti segar buat kamu, Sayang. Sakti ciciplah asinan Mama, bukankah selama ini kamu sering ngidam asinan buatan Mama," seru Bu Sukma sembari menuangkan asinan ke dalam piring kecil buat Nafa. Nafa merasa terharu, mertuanya itu begitu perhatian sampai-sampai asinan saja diambilkan.
"Makasih, Mam."
"Jadi, ceritanya bagaimana Bu Mala sampai Mama takuti pakai sapu lidi?" tanya Sakti menyinggung masalah Bu Sukma tadi yang ingin mengusir Bu Mala.
"Seperti yang Mama ceritakan tadi, si Mala itu ngamuk, teriak-teriak sampai mau obrak-abrik rumah Mama ini. Mama kesal, yang ada di otak Mama, bagaimana caranya si Mala diam dan pergi dari rumah Mama. Kebetulan di sudut rumah, Mama melihat sapu lidi. Jadilah sapu lidi itu dipakai Mama buat mengusir si Mala," cerita Bu Sukma bersemangat.
"Mama hebat bisa mengusir Bu Mala dengan cara yang tidak terpikirkan Sakti. Saat kami melihat mobil Meta keluar dari komplek ini, kami sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang Mama, dan kami takut Mama kenapa-kenapa. Karena kami yakin Bu Mala habis dari rumah Mama. Tapi, Alhamdulillah jika Mama baik-baik saja." Sakti merasa lega sebab Mamanya baik-baik saja setelah kedatangan mantan mertuanya ke rumah Bu Sukma.
__ADS_1
"Tapi, Mama heran. Kenapa mantan ibu mertuamu tidak datang bersama mantan istrimu, apakah Meta benar-benar sudah melupakan anaknya?" Bu Sukma keheranan.
"Sakti tidak tahu, Ma. Bisa jadi Bu Mala datang hanya ingin bikin masalah tanpa membawa Meta. Karena selama ini menurut pengakuan Meta, ibunyalah yang selalu menjerumuskan Meta sehingga menjadi Meta yang pembangkang," ujar Sakti.
"Mungkin saja. Tapi, kalian masih harus hati-hati, sebab bisa jadi suatu waktu si Mala akan berbuat sesuatu yang tidak-tidak," peringat Bu Sukma was-was.
Sementara itu di tempat lain. Bu Sukma memasuki sebuah apartemen mewah. Memasuki salah satu unit dan mengetuk pintu apartemen itu. Tidak berapa lama, pintu terbuka. Seorang perempuan muda, yang tidak lain adalah Meta membuka pintu apartemen.
"Masuk Ma!" Meta mempersilahkan Mamanya masuk, dia merasa heran Mamanya tiba-tiba datang ke apartemen yang baru dua bulan ini dia tempati.
"Bagus ... apartemen ini benar-benar bagus. Keren, kamu, Sayang. Setelah lepas dari si Sakti, kamu bisa mendapatkan lelaki tajir yang jauh lebih kaya dari lelaki brengsek itu," umpat Bu Mala dengan wajah kesal.
"Sudahlah Ma, jangan ungkit lagi Sakti. Dia masa lalu aku. Kita bercerai juga akibat ulah Mama yang selalu ikut campur dalam kehidupan aku. Aku jadi membantah karena Mama, padahal Mama tahu aku sangat mencintai Sakti. Tapi, gara-gara Mama selalu pengaruhi aku, akhirnya hidup rumah tangga aku kayak gini," ujar Meta menyalahkan Bu Mala.
"Apa kamu bilang, kamu nyalahin Mama? Kenapa tidak dari dulu kamu pertahanin si Sakti yang tidak ada apa-apanya dibanding pacar kamu yang sekarang ini, dia bisa belikan kamu apartemen, perhiasan, dan lain-lain. Kenapa dulu kamu mau Mama ajak kesana kemari, harusnya kamu punya pendirian. Kok sekarang jadi nyalahin Mama," sentak Bu Mala tidak terima.
"Sudahlah, Ma. Sekarang sudah terlanjur. Aku sudah seperti ini, dulu aku masih muda dan selalu Mama pengaruhi, anggap saja itu pembelajaran buat aku. Kalaupun aku nyalahin Mama, Mama tidak akan pernah ngaku. Sekarang aku ingin menyetir hidup aku sendiri tidak mau disetir oleh Mama," tandas Meta berkaca-kaca.
"Kamu ini seenaknya bilang hidupmu disetir Mama, harusnya kamu punya pendirian dong saat itu. Ah ... sudahlah. Mama ke sini cuma ingin kasih tahu kamu, bukan diajak debat sama kamu. Mama tadi ke rumah mantan ibu mertuamu untuk berpura-pura mencari Rafa. Kamu tahu, kata si Sukma anakmu sudah dibawa pindah sama mantan suamimu itu."
"Aduh ... sudah, deh, Ma! Aku sekarang ingin hidup tenang dan damai. Jangan lagi Mama perkeruh keadaan aku yang sekarang ini. Dan aku mohon sama Mama, tolong jangan bikin gara-gara lagi. Kalau Mama tidak kapok, maka Sakti tidak segan-segan memenjarakan kita lagi. Mama mau itu?" tegas Meta jengah.
"Kamu digertak begitu saja takut, dia tidak akan berani memenjarakan kamu, karena kamu Mamanya Rafa. Dan jika kamu dipenjarakan, maka sudah pasti Rafa jadi bahan bullyan. Dan kamu tahu, Sakti tidak mungkin membiarkan Rafa dibully oleh teman-temannya," seloroh Bu Mala percaya diri.
"Terserah Mama mau berbuat apa, yang jelas aku tidak mau terbawa-bawa, dan tidak mau kesangkut kasus hukum apapun gara-gara Mama. Pokoknya, setelah aku nikah nanti sama pacar aku ini, aku akan pergi jauh dari kota ini. Aku ingin hidup tenang," tandas Meta menyudahi perdebatan dengan Mamanya.
"Sekarang, kamu ingin pergi meninggalkan Mama setelah menikah. Kamu tidak akan kuat jauh-jauh dari Mama," ucap Bu Mala yakin.
__ADS_1
Meta diam, dalam pikirannya dia terngiang ucapan Sakti ketika di depan Pengadilan Agama, saat proses cerai diketuk palu hakim. Selama masih dalam pengaruh Mamanya, maka Meta tidak akan pernah hidup bahagia dalam berumah tangga. Ucapan Sakti diakui Meta memang betul. Dan kini dia yakin, harus jauh dari Mamanya jika kelak menikah lagi.