Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Kejadian yang Tidak Disangka


__ADS_3

Jam 6 sore Aldin tiba di apartemen. Saat itu Nara sedang mengambil wudhu. Lalu keluar kamar mandi dengan wajah yang masih meneteskan air. Nara terkejut saat melihat Aldin sudah ada di dalam apartemen.


"Kak Aldin!" kejutnya. Nara buru-buru ke kamar satunya lagi.


"Nara, sholatnya bareng!" Tiba-tiba Aldin mangajak Nara. Nara diam sambil memakai mukena.


Aldin masuk dan menggelar sajadah di depan Nara. Nara hanya kaget, "*rajin sholat benaran atau* *hanya karena melihat Nara sholat*?"


"Kenapa, kamu kaget saya sholat? Aku Muslim dan wajib sholat, memangnya sholatku harus dilihat kamu?" gertaknya jutek sampai Nara terkejut.


"*Ya ampun begitu amat sih, Kak Aldin*!" Nara bengong.


"Kok malah bengong, kamu mau tidak jadi ma'mun saya?" tanyanya kembali formal, kata-kata saya diucapkannya lagi.


"Mau Kak, mau." Nara spontan menjawab seraya mempersiapkan dirinya.



Menyudahi shalatnya, Aldin kembali ke kamarnya tanpa mempedulikan Nara yang benar-benar keder dan serba salah. Entah apa yang Aldin lakukan, padahal Nara sudah lapar. Aldin tidak sedikitpun bertanya Nara sudah makan atau belum?



Nara duduk termenung di ranjang, sambil memikirkan dirinya harus melakukan apa? Ingin dia pergi dari apartemen ini, tapi tidak bisa. Dan jika bisapun, mau ke mana dia pergi? Masih dua hari lagi besok dan lusa masa skorsing dari pekerjaannya. Nara menyesal kenapa tadi bisa telat bangun dan akhirnya telat masuk kerja, padahal dia masih ingin bekerja. Walaupun orang tuanya tidak pernah meminta, akan tetapi selama masih melajang, Nara ingin bekerja dan menabung untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya.



Tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi, ada orang bertamu. Nara sampai ketakutan, jika tamu itu melihat dirinya sedang di rumah seorang laki-laki, nanti takutnya disangka sedang melakukan perbuatan mesum bersama Aldin, karena terbukti dia kini berada di sebuah apartemen bersama seorang laki-laki singel.



Terdengar suara Aldin berbicara dengan tamunya lantas mengucapkan terimakasih dan kembali bunyi 'klik' diperdengarkan sebagai tanda pintu telah tertutup.



Aldin menuju kamar yang ditempati Nara, terdengar dari derap langkah kakinya menuju kamar. Nara menyiapkan mental, hal jutek apa lagi yang akan Aldin perlihatkan padanya, dan Nara harus benar-benar siap menghadapinya.


__ADS_1


"Aku tunggu di meja makan!" beritanya, persis sebuah perintah yang harus segera dilaksanakan.


Nara keluar kamar dan berjalan menuju meja makan. Di meja makan sudah banyak makanan laut dan darat terhidang, seperti cah sawi, sambal cabe hijau. Untuk makanan lautnya, cumi asam pedas, kerang gonggong, juga lobster asam manis. Minumannya juga sudah tersedia, dua gelas sirup rasa melon. Tentu saja bukan makanan hasil olahan tangan Aldin.


"Duduklah, jangan bengong terus, kamu lapar, kan?" Nara tidak menjawab, kemudian dia duduk dengan ragu.


"Makanlah, anggap saja ini dinner kita pertama kali," ucapnya seraya membalikkan piring Nara. Nara tiba-tiba terbatuk-batuk mendengar ucapan Aldin tadi "dinner" pertama kali.


"Kamu kenapa?" Nara menggeleng menyembunyikan perasaan kaget di dalam dirinya.



Akhirnya mereka makan dalam diam, Nara yang benar-benar lapar mengambil nasi dan lauknya agak banyak, dan seperti biasa cara makan Nara yang tidak menyisakan sisa membuat Aldin memujinya dalam hati, "*benar-benar pantas* *aku miliki, kayaknya aku tertarik padanya*." Aldin berguman sambil menerbitkan senyum tipis.



Mereka kini telah kembali ke ruang tamu. Aldin sengaja membawa Nara ke sana.


"Bagaimana, apa yang mau kamu katakan pada kedua orang tuamu besok tentang kamu yang diskorsing dari pekerjaan?" Aldin tiba-tiba membahas diskors Nara. Nara diam tidak bisa menjawab, tiba-tiba hatinya dilanda sedih. Nara sedih harus bohong apa lagi sama kedua orang tuanya untuk menutupi kebenaran yang ada.


Bisa saja Nara jujur tentang keadaannya. Namun, Nara takut Bapaknya tidak mengizinkan dia kembali bekerja.


"Pekerjaan apa lagi yang Kakak tawarkan?" Aldin berdecak kesal mendapatkan pertanyaan Nara yang menurutnya tidak penting itu.


"Beristirahatlah dulu, menuju jam sepuluh masih lama."


"Tidak, Nara tidak akan tidur," tolak Nara cepat. Aldin merasa kini Nara mirip Nafa, yang sama keras kepalanya.


"Kenapa tidak mau? Nanti aku bangunkan tepat waktu."


"Nara hanya takut kejadian kemarin akan terulang."


"Tidurlah, aku bilang tidur!" Aldin memerintah dengan tegas. Nara menjadi ciut, akhirnya dia mengikuti kemauan Aldin. Nara ke kamar dan membaringkan tubuhnya. Namun lama kelamaan matanya lelah dan mengantuk.


Dua hari berturut-turut Aldin selalu mampir ke rumah orang tua Nara. Alasan utamanya kebetulan lewat dan mampir sejenak. Nara tidak bisa menolak, akhirnya Aldin dibiarkan jadi tamunya sudah hampir tiga hari ini. Hingga kejadian yang tidak disangka-sangka berawal di sini.


__ADS_1


"Aku kebelet, ingin kencing. Dimana toiletnya?" tanya Aldin seraya menahan rasa ingin buang air. Nara berdiri dan sedikit berjalan menuju pintu depan.


"Lurus, belok kiri, masuk sedikit," terang Nara sambil menunjukkan jarinya ke arah kamar mandi di rumahnya. Tidak berapa lama Aldin menyudahi buang airnya dan kembali ke depan seraya mempermainkan rambutnya yang tadi sengaja dia basahi.


Namun suatu hal yang tidak dia sangka terjadi, Aldin menabrak sesuatu di depannya.


"Gubrak," tiba-tiba keduanya terjatuh, baik Nara dan Aldin sama-sama terpelanting dengan posisi Nara di atas Aldin, dan yang rugi bagi Nara ternyata tangan kanan Aldin tepat memegang salah satu gunung kembar Nara. Sungguh posisi yang sangat memalukan jika dilihat orang.


Sialnya bagi mereka, rupanya kejadian ini tidak luput dari pengawasan salah satu tetangga dekat rumah Nara, yang lumayan mulut dan sikapnya suka usil dengan urusan orang lain. Dia mengendap dan berhasil mendokumentasikan kejadian yang tengah live dilihatnya.



Nara dan Aldin tidak sadar ada seseorang yang merekam kejadian mereka tabrakan dan jatuh saat ini. Aldin baru sadar rupanya saat dia berjalan dan menata rambutnya dengan tangan, dia tabrakan dengan Nara. Nara yang asyik bengong tengah menunggu Aldin di muka pintu, tidak menyadari bahwa Aldin menyudahi dari kamar mandinya. Dan tabrakan itu seolah terulang kembali, seperti saat tabrakan di depan toilet *Foodcourt* tempo hari.



Nara melihat dirinya kini menindih Aldin dengan tangan menumpu lantai seakan dia tengah memeluk Aldin, sedangkan tangan kanan Aldin menahan tubuh Nara tepat di salah satu gunung kembar Nara. Mata Aldin melotot, dia terkejut dengan apa yang dilihatnya sekilas dia seakan sedang meremas gunung kembar Nara.



Menyadari hal itu, keduanya segera membenahi keadaan pada posisi yang benar. Perlahan Nara mengangkat tubuhnya dari tubuh Aldin, dan kini posisi keduanya telah sama-sama berdiri.



"Aku minta maaf, itu ta-tadi tanganku benar-benar tidak bermaksud memegang dada kamu, aku spontan dan tadi itu hanya bermaksud menahan tubuh kamu supaya tidak menekan tubuhku. Percayalah, aku tidak bermaksud melecehkanmu," ucap Aldin jujur, walau sebenarnya dalam hati bersorak bisa merasakan hal lain dari gadis kecil di depannya tanpa dia sangka.



Nara cukup shock, diapun percaya Aldin memang tidak melakukan hal itu dengan sengaja. "Duhhh, kalau dilihat orang lain, ini akan terlihat memalukan, dan kami nanti malah dikira mesum, selamat, selamat." Nara berujar sedikit tenang dalam hatinya. Namun belum sampai sedetik senang, tiba-tiba suara cempreng tetangga sebelahnya memecahkan segalanya.


Hai Guys Episode Jangan Sebut Aku Pelakor Season 2 cukup sampai di sini saja ya, sebab kisah Aldin dan Nara kayaknya lebih bagus dipisah saja dengan episode yang pendek. Mungkin akan saya buat 50 sampai 60 bab saja. Tapi ceritanya akan saya pisahkan dengan judul yang berbeda. Bagi kalian yang masih penasaran kisah Aldin dan Nara, pantengin Profil saya di situ akan ada judul baru, tapi saya saya belum bilang di sini sebab saya masih bingung dengan judulnya. Kira-kira apa yang pas ya menurut kalian?


Terimakasih banyak untuk kalian yang telah mendukung karya Jangan Sebut Aku Pelakor sampai habis. Semoga kebaikan kalian dibalas yg Maha Kuasa, doa saya sebagai Author semoga kalian selalu sehat, dilimpahkan rizki, serta dalam lindungan Allah SWT. Aamiin...


Kisah ini akhirnya


T A M A T

__ADS_1


T A M A T


Sampai jumpa dikisah Aldin dan Nara.....


__ADS_2