Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Perceraian dan Kesepakatan


__ADS_3

Kepulangan aku ke Mess membawa sejuta rasa. Rasa yang belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi di rumah Bu Sukma. Aku hempaskan tubuhku di ranjang dengan sakit kepala yang tiba-tiba menyerang. Ada apa ini? Secepat kilat aku merasakan kebahagiaan, namun secepat kilat juga merasakan kekecewaan.



Perutku tiba-tiba keram dan sakit kepalaku semakin terasa. Padahal tadi di rumah Bu Sukma, aku sama sekali tidak merasakan keluhan apa-apa. Aku hanya bisa meringis merasakan rasa sakit yang kini aku rasakan.


POV Author


Sidang perceraian yang dijalani Sakti kini menemui babak baru, yaitu ketok palu perceraian. Meta kali ini hadir, entah keberanian dari mana. Setelah 3 kali persidangan, dia berani muncul di hadapan publik saat Majelis Hakim memutuskan ketok palu perceraian. Setelah Bu Sukma dihadirkan menjadi saksi, kini semakin jelas sudah. Posisi Meta kian tersudut, kesaksian Bu Sukma yang menyatakan bahwa Meta dua tahun terakhir ini abai terhadap anaknya, Rafa.


Sidang beberapa detik lagi akan diputuskan, namun Meta tiba-tiba mengajukan banding. Sakti dan Bu Sukma heran, apalagi yang mau Meta hadirkan sebagai barang bukti untuk menghambat proses perceraian ini?


Meta menyatakan banding dan sidang ditunda minggu depan. Sakti semakin geram, terlebih apa yang Meta ungkapkan sebagai pengajuan bandingnya adalah, melaporkan Nafa sebagai perusak rumah tangganya. Jadi perceraian ini harus ditinjau kembali. Dan Meta keukeuh menolak diceraikan Sakti. Sakti tidak habis pikir dibuatnya.


"Apa maksudmu mengajukan banding dan menyeret nama Nafa? Pernikahan aku bersama Nafa sah dimata hukum negara dan agama. Dengan menyeret Nafa sebagai pelakor dalam rumah tangga kita, maka kamu telah mengingkari isi dari surat ijin menikah yang kamu tandatangani diatas materai secara sadar, Meta!" serang Sakti geram.


"Ok, aku paham. Tapi sebagai materi banding, aku tetap menyeret nama Nafa sebagian pelakor dalam rumah tangga kita."


"Ok, baik. Silahkan lanjutkan siasatmu. Tapi kamu harus ingat resikonya, aku tetap akan menceraikanmu dan kamu tidak membawa apapun. Dan resiko dari perbuatanmu menyeret nama Nafa, maka aku akan mengajukan bukti baru di persidangan, aku akan melaporkan kamu atas penggelapan keuangan Kafe RafaSya. Aku akan hadirkan saksi-saksi yang mengetahui perbuatanmu," gertak Sakti membuat Meta nampak ciut.


Mendengar apa yang diucapkan Sakti barusan, Meta terdiam, dia ciut dan merasa takut.


"Akan aku beberkan di Pengadilan sebagai laporan baru untukmu. Jadi selain kita bercerai, kamu juga akan sekalian dituntut secara pidana maupun perdata akibat kasus penggelapan ini, yang merugikan sebagian besar karyawan sehingga gaji mereka terlantar," serang Sakti yang langsung mengena pada ulu hatinya Meta.

__ADS_1


Meta masih terdiam, dia seperti sedang berpikir. "Ok... aku tidak akan melaporkan istri keduamu sebagai pelakor, tapi sebagai kompensasinya aku meminta harta gono gini dan Kafe RafaSya, aku yang akan mengelolanya."


Akhirnya Sakti bisa sedikit bernafas lega. "Baik, jika itu maumu, aku akan memberikan secara keseluruhan rumah kita beserta isinya dan tanahnya menjadi hak milikmu, dan Kafe RafaSya, aku serahkan padamu sebagai usaha kamu kedepannya setelah bercerai dariku," putus Sakti akhirnya.


"Ok, kita deal ya. Dan semua kesepakatan ini akan tertulis diatas kertas dan ditandatangani kedua belah pihak dengan disaksikan Kuasa Hukum masing-masing. Aku juga akan segera mengurus pengalihan kepemilikan rumah dan tanah menjadi atas milikmu," tandas Sakti sungguh-sungguh.


"Ok, aku sepakat. Tapi... aku masih punya beban berat yang harus aku tanggung Sakti," ucap Meta akhirnya, namun diakhir kalimat wajahnya memancarkan kesedihan. Sakti menatap penuh curiga.


"Apa...? Kamu pasti meminta uang lagi, kan?" Sakti sudah bisa menebaknya.


"Kita belum ketok palu. Kamu masih ada kewajiban menafkahi selama masa iddah belum berakhir."


"Itu sudah tertulis dalam kesepakatan dan aku akan memenuhinya, sebulan 10 juta dikali 3 bulan kan? Kamu jangan khawatir, aku bukan lelaki yang suka ingkar janji."


"Tapi... ada tanggungan lain yang kini masih harus ku bayar dan masih mengejar-ngejarku. Aku... terlibat hutang rentenir lagi," ucap Meta ragu.


"Ini semua gara-gara ibu yang memperkenalkan aku pada pedagang Berlian, aku menyukai berlian itu yang harganya seratus juta. Saat itu aku kekurangan uang dan berhasil meminjam uang pada salah satu teman Ibu, tapi sampai tiga bulan ini aku tidak mampu membayar sehingga hutangku membengkak menjadi 500 juta," ungkap Meta diiringi mata yang berkaca-kaca.


"Apa... 500 juta, tidak salah kamu Meta? Aku tidak percaya, kamu... bisa melakukan itu. Rupanya perlahan-lahan kamu ingin membuat suamimu hancur dan jatuh miskin. Baguslah... sekarang aku mantap menceraikanmu tanpa embel-embel penyesalan."


"Dengar Meta, selama kamu masih bisa dikendalikan oleh ibumu, maka jika kamu berumah tangga, aku yakin rumah tangga yang kamu bangun tidak akan pernah awet."


"Tolong Sakti, jadi kamu mau membantu aku dalam membayar hutang aku pada rentenir itu?" Meta memohon. Sakti geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Perabotan rumah yang ada di rumah itu, sebagian bisa kamu jual dan kamu bayarkan pada rentenir itu." Meta dengan cepat menggeleng.


"Tidak Sakti, aku tidak mau menjualnya. Aku takut nanti tidak bisa terbeli lagi," tolak Meta.


"Terus langkah apa yang akan kamu tempuh guna membayar hutang pada rentenir itu?"


"Aku mohon, berikan aku uang 500 juta untuk membayar pada rentenir itu!" Meta masih memohon.


"Jika kamu mampu memberi aku 500 juta, maka aku tidak akan pernah sekalipun mengganggu kamu juga istri keduamu. Aku janji, sama sekali aku tidak akan menggangu kebahagiaan kalian berdua. Dan kalau kamu masih ragu, perjanjian itu bisa dibubuhkan hitam diatas putih yang ditandatangani aku diatas materai. Plisss Sakti ini permohonan aku terakhir," ucapnya sungguh-sungguh.


"Kamu janji, dan jika kamu melanggar maka konsekuensinya apa?" Meta menganggukkan kepalanya paham.


"Aku minta nomer telpon rentenirnya, biar aku yang bayar langsung dan bernegosiasi terhadapnya."


"Tapi....!" Meta mendadak ragu dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Sudah kuduga kamu pasti melebihkan 2 kali lipat hutangmu, kan?"


"Aku mohon Sakti, ini yang terakhir kali. Aku butuh modal juga buat aku usaha saat aku menghadap hari-hari di masa jandaku. Aku mohon, aku hanya melebihkan 200 juta dari uang hutang aku ke Rentenir. Aku mohon, kamu lebihkan aku 200 juta itu. Tolonglah Sakti!" Meta memohon sambil mencucurkan air mata.



"Ok, aku usahakan menolongmu dari rentenir. Dan ingat perjanjian dan kesepakatan ini akan tertuang dalam surat perjanjian yang akan kita tandatangani langsung disaksikan Kuasa Hukum kita masing-masing. Poin-poin pentingnya juga akan aku bubuhkan disana, yaitu kamu tidak akan pernah menggangu kehidupan keluarga baruku, serta kamu akan hidup lebih baik lagi," tegas Sakti yang akhirnya disetujui Meta.

__ADS_1



"Ingat ya Sakti, setelah kamu bayar hutang ke rentenir itu, jangan lupa sisanya 200 juta kirimkan ke rekening aku," ucap Meta mengingatkan. Sakti mengangguk setuju seraya mengakhiri perbincangan penting itu bersama Meta. Mulai besok Sakti akan mengurus surat-surat perjanjian bersama Meta, dan pengalihan rumah dan tanah atas nama Meta.


__ADS_2