Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Kecurigaan Sakti


__ADS_3

Mas Sakti memapahku ke atas tangga dan memasuki kamar. Segera aku dibaringkan dengan hati-hati di atas ranjang. Rasa sakit karena keram masih aku rasakan.


"Sayang... masih terasa sakitnya?" Mas Sakti sangat khawatir.


"Iya, Mas. Perut Nafa keram," ringisku. Mas Sakti berdiri lalu mengambil obat yang tadi diambilkan Mas Raka untukku di Apotek.


"Mas, bukankah Mas Sakti masih ada pekerjaan di kota Kaktus, tapi kenapa Mas Sakti datang menyusul Nafa ke sini?"


"Mas khawatir sama kamu, Sayang. Saat Mas dengar kamu tadi menjerit di telepon, Mas langsung menghentikan pekerjaan Mas, lalu segera bergegas ke sini. Mas takut terjadi apa-apa sama kamu dan janin yang kamu kandung." Mas Sakti memberi alasan.


"Sudahlah jangan banyak bicara dulu, ini diminum dulu obatnya ya. Setelah itu kamu istirahat," titah Mas Sakti perhatian. Aku patuh dan segera meminum obat yang diresepkan Dokter tadi.


"Padahal Mas Sakti tadi tidak usah datang kesini, Nafa jadi tidak enak telah menggangu pekerjaan Mas Sakti diluar kota," ucapku menyesalkan. Mas Sakti menatapku mesra sembari mencolek hidungku.


"Sudah... jangan pikirkan itu. Kamu istriku dan sekarang jadi prioritas utama bagi, Mas. Jadi jangan merasa tidak enak, karena Mas adalah suami kamu."


"Dan semua pekerjaan itu, bagaimana?"


"Mas sudah percayakan sama Aldin, dia kan Asisten handal dan calon CEO Adrian Woods. Dia bisa handle keduanya sekaligus, jadi kamu jangan khawatir dong sayang." Mas Sakti membujuk.


"Makanlah asinan ini sambil menunggu kantuk datang." Mas Sakti memberikan satu pisin (piring kecil) kecil asinan beserta garpunya.


"Terimakasih, Mas!"


"Sayang... manis banget kamu saat bilang terimakasih. Mas bersyukur telah Allah pertemukan dengan kamu. Kamu adalah anugerah terindah yang Mas miliki setelah Rafa," puji Mas Sakti tidak lupa bersyukur.


"Mas, jika Rafa melihat kita dalam satu kamar ini, apa yang harus Nafa katakan? Nafa takut, Rafa tidak menerima Nafa." Aku tiba-tiba menjadi khawatir akan sikap Rafa terhadapku nanti.


"Jangan terlalu khawatir, sayang. Mas akan berusaha bicara pada Rafa. Jadi, sekali lagi kamu harus tetap tenang menyikapinya." Aku mengangguk paham.


"Oh iya sayang, tadi saat ada yang menyerempet kamu, warna mobil yang menyerempet itu warna hijau metalik ya?"

__ADS_1


"Iya Mas, sayangnya Nafa tidak melihat nomor polisi mobil itu. Saat itu Nafa keburu terpelanting dan hampir terjatuh." Mas Sakti mengangguk mencoba mencerna semua ucapanku.


"Memangnya kenapa Mas?"


"Tidak apa-apa. Mas akan menyelidikinya sampai orang itu Mas dapatkan," janjinya penuh tekad.


Tiba-tiba Rafa datang menghampiri kamar yang kami tempati, aku sontak terperanjat. Sebab Rafa melihat aku berada satu kamar dengan Mas Sakti.


"Papa... kata Nene, Papa sama Tante Nafa boleh tidur bersama. Tapi... aku juga pengen tidur sama Tante Nafa kalau begitu," sungutnya seraya menaiki ranjang dan berbaring di sisiku.


"Boleh dong... kalau Rafa mau. Tante Nafa juga tidak masalah. Iya kan, sayang?" Mas Sakti melihat ke arahku meminta jawaban.


"Boleh... kita malam ini tidur bersama," ucapku setuju. Rafa nampak bahagia mendengar ucapanku yang membolehkan Rafa tidur di kamar ini.


"Rafa... kalau Rafa mau tidur sama Tante Nafa, maka mulai sekarang Rafa harus memanggil Tante Nafa dengan sebutan Bunda ya," bujuk Mas Sakti meminta pengertian Rafa yang notebene masih anak kelas 1 SD.


Sejenak Rafa nampak heran, mungkin dia sedang berpikir. "Memang kenapa, Pah?"


"Bunda....!" Diwaktu yang tidak disangka-sangka Rafa tiba-tiba memanggil Nafa dengan sebutan Bunda. Betapa senangnya Sakti, dia tidak percaya Rafa begitu cepat menerima kehadiran Nafa sebagai ibu sambung.


...----------------...


Pagi menjelang, matahari mulai menampakan sinarnya dan kokok ayam jantan saling bersahutan. Aku menggerakkan tubuh. Bergeliat meregangkan semua otot-otot tubuhku supaya tidak kaku. Saat bersamaan, Mas Sakti melakukan hal yang sama. Ini hal pertama setelah sekian lama kami berpisah, tidur satu ranjang dengan Mas Sakti serta Rafa.


Aku segera ke kamar mandi dan membersihkan diri, setelah itu giliran Mas Sakti. Rafa yang masih terlelap, nampak tidak terganggu dengan pergerakan kami. Bocah kecil itu nampak bahagia bisa tidur bertiga seperti malam tadi.



Di meja makan adalah kebersamaan kami untuk yang pertama kali di rumah Mama Sukma. Kami sarapan bersama dalam suasana yang akrab.


__ADS_1


Setelah menyudahi sarapan pagi, kami semua kembali pada rutinitas masing-masing. Aku yang telah bersiap berangkat ke butik mendadak dicegat oleh Mas Sakti yang melarang aku untuk masuk kerja.



"Nafa harus masuk kerja Mas, sebab ada gaun yang harus Nafa presentasikan hari ini di depan karyawan, khususnya bagian pelayan," alasanku.


"Tapi, Mas khawatir dengan keadaan kamu jika membiarkan kamu masuk kerja. Mas takut kejadian kemarin terulang kembali." Mas Sakti nampak risau.


"Kalau begitu, Mas saja yang antar Nafa bekerja. Dengan begitu Mas bisa melihat dan memantau Nafa," ujarku memberikan penawaran. Mas Sakti sejenak berpikir namun kemudian berseru.


"Baiklah, Mas ijinkan kamu bekerja hari ini, asal Mas yang antar dan jemput."


Setelah menemui kesepakatan, akhirnya aku diijinkan bekerja oleh Mas Sakti. Mama Sukma yang semula tidak setuju, kini sedikit lega setelah Mas Sakti menyatakan akan mengantar dan menjemput aku bekerja. Saat bersamaan, pagi ini selain aku yang akan pergi bekerja, Rafa juga berangkat sekolah diantar Pak Maman.



Tiba di butik aku bekerja seperti biasa, namun di meja kerjaku ada sebuah notice. Saat kubaca ternyata dari Bu Delia.


"Nafa, apa kabar? Kalau tidak keberatan ku tunggu kamu di butik Delia!" Notice yang isinya begitu aneh, tapi aku menyimpulkan bahwa Bu Delia mungkin saja sedang merindukan aku.


POV Author


Jam 4 sore tiba, saatnya Sakti menjemput Nafa dari butik Syafana. Sakti memarkirkan mobilnya di parkiran sebrang jalan. Suasana jalan mulai ramai.


Saat Sakti fokus melihat lalu lalang jalanan, tiba-tiba sekelebatan Sakti melihat bayangan Meta dan ibunya. Dia awasi bayangan itu, dan jelas apa yang dilihatnya. Rupanya benar, itu Meta dan Bu Mala mantan istri dan mertuanya.


"Ada apa dengan mereka, seperti mencurigakan?" Sakti terus mengawasi gerak gerik kedua orang itu. Kemudian Meta dan Bu Mala menuju mobilnya yang di parkir di tepi jalan. Dan Sakti seketika terhenyak, mobil yang Meta dan Bu Mala naiki warnanya sesuai dengan warna mobil yang kemarin menyerempet Nafa.



"*Jadi, kecurigaan aku selama ini benar adanya*. *Kurang ajar Meta! Tidak ada kapoknya*," sungutnya penuh amarah....

__ADS_1


"Lihat saja, akan aku buat perhitungan." Sakti bertekad raut wajahnya diliputi amarah.


__ADS_2