
"Lho, Kak Aldin ada di sini, jangan-jangan Kakak buntuti kami ya? Ada apa Kakak di sini? Kenapa Kakak pegang-pegang kening Nara?" tanya Nafa curiga sambil meletakkan es krim boba di meja. Aldin dan Nara terkejut, sontak keduanya menggeser posisi tubuhnya yang tadi sedikit berdekatan.
"Nar, ini es krim bobanya. Kamu pasti suka," sodor Nafa ke hadapan Nara. Nara yang tadi terkejut, kini terlihat santai, namun raut wajahnya masih muram seperti tadi, saat melihat Hpnya jatuh dan retak. Nafa yang melihatnya jadi heran.
"Kak Aldin, maaf, Nafa tidak belikan buat Kakak, soalnya Nafa tidak tahu Kakak akan ke sini," maaf Nafa pada Aldin.
"Aku tidak suka minuman kesukaan anak kecil seperti itu, jadi tidak perlu kamu menawari aku," tandas Aldin ketus.
"Ih ... biasa-biasa saja kali Kak, ketus amat, sih. Kita bukan anak kecil, dan penyuka es krim boba bukan cuma anak kecil seperti yang Kak Aldin bilang," kesal Nafa sembari mendelikkan matanya tanda tidak suka. Selalu saja bersikap begitu sepupunya Sakti itu, tidak pernah ramah sama Nafa.
"Kenapa, sih, Kakak selalu jutek terus sama Nafa, salah Nafa, apa?" heran Nafa kesal.
"Kamu sudah ijin sama Sakti makan siang di luar?" Bukannya menjawab, Aldin malah memberi pertanyaan yang bernada tidak suka.
"Sudah, emangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya takut kamu merepotkan dan membuat Sakti sedih lagi. Minggat-minggat tidak jelas lagi," sahut Aldin datar.
"Bukan Mas Sakti yang sedih kali, Kak, tapi Nafa yang selalu dibuat sedih oleh Mas Sakti. Kak Aldin pun sama saja, selain selalu ikut campur masalah rumah tangga orang, posesif pula. Lebih-lebih posesif dibanding Mas Sakti. Mas Sakti saja tidak begini," protes Nafa geram. Lama-lama Aldin bikin Nafa geram juga. Kakak bukan, suami juga bukan. Tapi posesifnya melebihi seorang Kakak atau suami.
"Bukan apa-apa, aku hanya mengingatkan jangan sampai kamu menyusahkan Sakti, sebab kebahagiaan Sakti segala-galanya buatku. Jadi, kamu tidak usah macam-macam. Cukup jadi istri Sakti yang baik, patuh, dan tidak neko-neko."
"Huhhh ... jadi, ceritanya kalian trauma akan masa lalu Mas Sakti karena kegagalan dengan istri pertamanya? Kenapa harus Nafa yang kena marahnya? Kak Aldin itu lucu. Makanya, cepat nikah deh supaya hidup Kak Aldin tidak ngurusin rumah tangga orang lain," cibir Nafa kesal sembari mengunyah es krim boba ke dalam mulutnya. Nara yang sejak tadi muram, matanya mengarah silih berganti menuju Nafa dan Aldin.
"Nara ... kening kamu kok biru, terus Hp kamu kenapa jadi retak begini? Tadi belum retak 'kan?" tanya Nafa heran melihat kening dan Hp Nara yang retak. Nara diam dan sibuk mengaduk es krim boba dengan perasaan masih kesal pada Aldin seperti saat pertama melihat Hpnya jatuh dan retak tadi.
__ADS_1
"Perasaan, sejak aku beli es krim boba, wajah kamu muram dan tidak seceria pertama datang ke *food court* ini, kenapa, ada apa, Nar?" cecar Nafa heran. Nara masih diam, dia malas berbicara di depan Aldin, pria jutek dan menyebalkan bagi Nara itu.
"Tadi jatuh di depan toilet saat bertabrakan sama seseorang," jawab Nara akhirnya mengakui namun masih abu-abu bagi Nafa.
"Terus, kening kamu?"
"Ini juga hasil dari tabrakan tadi, kening dan Hp semua hasil tabrakan tadi, Naf?" jelas Nara lesu.
"Lantas dengan siapa kamu tabrakan, jangan-jangan .... !" Ucapan Nafa menggantung, saat tiba-tiba seorang perempuan berpakaian modis namun seksi menghampiri meja yang ditempati Nafa dan Nara.
"Pak Aldin! Saya cari-cari rupanya di sini. Ayo, Pak, sebentar lagi kliennya datang, dan Bapak harus segera bertemu mereka," cerocosnya tergesa sembari mengarahkan Aldin mengikutinya. Nafa dan Nara menatap pada sosok modis dan seksi itu.
"Shera, kamu duluan. Aku masih ada urusan yang belum selesai di sini, sebentar saja. Lagipula kenapa Hp aku kamu tahan, aku jadi tidak bisa kamu hubungi 'kan?" protes Aldin pada perempuan yang bernama Shera dengan nada kurang suka.
"Sudah aku bilang kamu duluan, kamu tinggal bikin alasan bahwa aku sedang di toilet, apa susahnya sih? Lama-lama kamu tidak ada gunanya jadi Sekretaris," kesal Aldin seraya menatap Shera jengah. Shera terpaksa pergi meninggalkan Aldin dengan perasaan dongkol. Aldin kembali duduk menghadap Nara dan Nafa, setelah tadi merasa diganggu Shera.
"Ayo, Naf kita pergi saja," ajak Nara seraya berdiri dan berjingkat meninggalkan meja, membuat Aldin nampak kesal padahal dia akan menjelaskan insiden tabrakan tadi. Nafa terpaksa mengikuti Nara dengan berjalan di belakangnya, sambil meraih es krim boba yang belum habis.
"Nara, Nafa, tunggu aku!" teriak Aldin tertahan, dengan raut wajah kesal. "Dasar gadis-gadis kecil!" umpat Aldin seraya berdiri dan berlalu dengan perasaan yang masih kesal dengan kelakuan Nara dan Nafa yang tidak menghiraukannya.
Sementara Nafa dan Nara berjalan beriringan menuju halte. Mereka bermaksud pulang dan mengakhiri kebersamaan mereka di sana.
__ADS_1
"Nar, kamu tidak kenapa-napa 'kan?"
"Tidak, Naf. Aku mau pulang naik angkot saja dari sini," ujar Nara seraya melihat jalan raya mencari angkot tujuannya.
"Ok, deh. Tapi benar kamu tidak apa-apa? Soalnya kamu sejak dari toilet jadi berubah muram?" Nafa masih penasaran dengan sikap sahabatnya yang nampak berubah.
"Aku kesal Naf. Kesal sama Kak Aldin sebab dia yang menyebabkan Hp sama kening aku memar begini." Akhirnya Nara menceritakan kejadian tabrakan tadi pada Nafa. Nafa kaget dan tidak menduga.
"Jadi benar kalian bertabrakan? Kenapa kamu tidak ngomong dari tadi, Nar. Kalau Hp kamu rusak, biar diganti sama Kak Aldin. "
"Tapi, ini kayaknya pecah kaca luarnya saja Naf, dalamnya tidak. Biar sajalah. Hanya kening aku ini, rasanya sakit kalau disentuh."
"Emangnya, kenapa kalian bisa tabrakan? Kamu lagi melamun, atau bagaimana?"
"Tadi saat keluar toilet, aku jalan sambil ambil Hp dalam tas. Tumben juga itu Hp susah aku ambil, pas sudah aku raih dan aku angkat dari tas, tiba-tiba aku merasa bertabrakan dengan seseorang. Hp aku jatuh, dan kening aku kejedot entah kena benda apa, yang jelas hasilnya sakit dan biru begini," terang Nara sedikit meringis saat tangan meraba keningnya yang membiru.
"Ihhh ... Kak Aldin ini sudah ketus, tidak bertanggungjawab pula." Nafa ngedumel kesal dengan kelakuan sepupu suaminya itu.
"Nanti, saat nyampe rumah. Cepat-cepat kamu kompres luka memar di keningnya, biar tidak melebar," lanjutnya memberi saran.
"Iya, deh."
"Jangan-jangan kalian jodoh deh, Nar. Soalnya saat sebelum kita pergi, aku sempat ngomong dan nyebut kamu Nyonya Aldin, mana tahu ini jalan dari Tuhan bahwa kalian ini akan berjodoh," simpul Nafa seraya senyam-senyum senang,
"Apaan sih, jangan bikin kesimpulan yang ngaco deh, Naf. Kecelakaan kok jodoh? Kebetulan saja Kak Aldin berada di *food court* itu, dan kita bertemunya dengan cara bertabrakan. Kamu ini ngarep banget aku berjodoh sama pria dingin dan jutek. Ihhh ... ogah," tampik Nara sambil bergidik.
"Ih, Nara, awas lho jangan sok nampik, nanti malah jodoh. Bayangin, tadi sebelum kita berangkat ke *food court* aku manggil kamu Nyonya Aldin, nah pas di sana malah ketemu Kak Aldin. Gimana tidak jodoh, aku percaya ini semua sudah diatur Allah bahwa kalian berjodoh." Nafa keukeuh dengan pendapatnya.
"Ah, sudah deh, jangan ngawur! Itu cuma kebetulan saja, Nafa!" sangkal Nara sambil mengibaskan tangannya. Merekapun akhirnya berpisah setelah mendapatkan tumpangannya masing-masing. Nara naik angkot dan Nafa naik grab, menuju rumahnya masing-masing.
__ADS_1
Bersambung, Guys..... mohon bantu like dan komen ya. Jangan lupa tiap hari Senin, kasih votenya buat karya saya. Terimakasih....