
Nella segera mengecek handphone nya. Dilihatnya sebuah pesan masuk dari Deni.
"Sayank... pagi ini kamu cantik sekali. Oh ya kapan pun kamu ada kesempatan masuk ke ruangan Angga, jangan lupa pasang cip nya di tempat strategis. I love you sayank." Bunyi pesan Deni di handphonenya.
Jantung Nella seketika berpacu cepat. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyusup di hatinya. Namun ia bernafas lega, melihat pesannya belum terbuka. Tandanya, rahasianya aman.
"Oh... syukurlah... pesan Deni tidak dibaca tuan Angga. Sebaiknya aku tidak perlu memberitahu Deni. Bisa-bisa dia akan marah-marah lagi pada ku. Sebenarnya aku ragu, apakah Deni benar-benar cinta sama aku atau tidak ya? Kalau dia beneran cinta kenapa aku gak ngerasa nyaman ya?" Tanya hati Nella.
Hampir satu tahun Nella jadian dengan Deni. Baru beberapa kali ia diajak makan malam romantis. Deni memesan tempat di restoran mewah. Tapi bukannya menyatakan cinta padanya. Deni malah sibuk telephon sana-sini. Ujung-ujungnya mereka hanya makan biasa saja. Membuat Nella kesal, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kedudukan Deni di kantor lebih tinggi dari nya. Membuatnya sedikit segan padanya.
Pernah Deni membelikannya cincin dan kalung berlian. Saat itu ia merasa sangat bahagia. Ia mengira Deni akan segera meningkatkan status hubungan mereka. Namun sampai sekarang pun ia merasa hubungannya Dengan Deni masih digantung.
Alasan Deni merahasiakan hubungan dengannya, benar-benar tidak masuk akal. Katanya ia merahasiakan hubungan dengannya, semata-mata untuk menjaga posisinya aman di kantor.
Emangnya apa ada kontrak tertulis kalau Deni tidak boleh terikat dengan wanita? Apa Deni akan dipecat hanya gara-gara punya kekasih? Semua itu menurut Nella sangat tidak masuk akal.
Terlebih dua bulan lalu, Deni marah besar padanya. Karena ia tidak memberitahu keberangkatan tuan Angga ke Kalimantan. Selain keberangkatan tuan Angga yang mendadak. Juga beliau berpesan kalau perjalanan tuan Angga tidak boleh ada yang tahu.
Alasan tuan Angga waktu itu ingin refreshing, sedikit melupakan kejenuhan kantor. Sekaligus dalam rangka mengecek perusahaan minyak sawit "Palm" yang barusan berhasil dibelinya melalui lelang.
Tentu saja Nella menyimpan rapat-rapat mandat bosnya.
Namun yang terjadi, Deni begitu marah besar. Deni menuduh Nella Seakan-akan ia telah menghianati Deni. Tamparan Deni di wajah Nella semakin membuatnya meragukan cinta Deni padanya. Meskipun Deni meminta maaf padanya, juga memberikan gelang emas. Namun Nella merasa permintaan maaf Deni hanya pura-pura.
__ADS_1
Nella akhirnya mengerti, kalau sebenarnya selama ini, ia hanya dimanfaatkan. Ia telah ditarik masuk melibatkan diri pada persekongkolan yang tidak dimengertinya. Mungkin sebuah konspirasi bertujuan perebutan kekuasaan dalam perusahaan.
Nella mendesah dalam-dalam, ia sangat kecewa dan sedih. Bagaimana bisa ia menerima kalau hubungannya dengan Deni yang hampir setahun hanyalah sebuah hubungan pura-pura?
Mulai saat ini, ia tidak mau lagi diperalat oleh Deni. Sudah cukup setahun kesabarannya. Sekarang ia akan membuat keputusan. Ia mesti berontak, karena kalau ini tetap diteruskan semuanya akan sia-sia. Bagaimana ia akan menghadapi tuan Angga yang cukup baik dengannya?
Thut..... thut....
Panggilan intercom berbunyi. Menyadarkan Nella yang cukup lama melamun.
"Mana Deni??? Cepat suruh menemui saya...!" Teriak Angga dari seberang ruangan melalui intercom.
"I... iya tuan, saya hubungi lagi." Kata Nella terbata. Ia lupa tadi, belum sempat menghubungi Deni.
"Ya hallo, ada apa La?" Tanya Deni dari seberang.
"Diminta menghadap sama tuan Angga." Jawab Nella gugup.
"Iya... sampaikan pada tuan Angga kalau saya sedang meeting dengan klien." Kata Deni santai.
Nella sudah akan menutup telephonnya saat ia mendengar suara seorang wanita. "Deni.... jangan pergi dulu sayank... tunggu lah, aku belum puas. Kita main satu ronde lagi yukk...." Suara lembut seorang wanita merayu Deni.
"Angga menyuruhku menemuinya. Kalau aku tidak segera menemuinya, bisa-bisa aku dipecat." Kata Deni penuh kecemasan.
__ADS_1
"Anak itu sangat tergantung pada mu. Percayalah, Angga gak bakalan berani berbuat itu. Lagi pula bukankah semua file penting perusahaan sudah ada di tangan mu? Itu bisa jadi kartu As mu bukan?" Kata halus wanita itu merayu.
"Kalaupun sampai dipecat, kamu tetap dapat bagian setengah saham ku di perusahaan. Jadi tidak ada yang bisa memecat mu. Bahkan tidak akan sekali-kali orang bisa mengancam akan memecatmu, Oke? Lebih-lebih anak sia*an itu!" Ayo kita main lagi... Deni... aku mencintaimu.... mmmmhhhh...hmmmh...."
Suara-suara yang membuat tengkuk Nella seketika meremang. Ada kekecewaan yang dirasakannya. Ternyata rasa sakit itu tetap terasa. Nella memutuskan mengubur perasaannya pada Deni. Sebelum ia semakin dalam mencintai Deni yang ternyata mendekatinya hanya untuk dimanfaatkan.
Nella melakukan panggilan pada Angga melalui intercom. Ia segera melaporkan sesuai dengan apa yang dikatakan Deni pada nya.
Angga termangu di tempat duduk nya. Ia baru saja menerima notif dari aplikasi shadow di ponselnya. Pemberitahuan bahwa ada aktifitas panggilan suara di receiver ponsel Nella. Ia pun sama terkejutnya saat suara lembut itu merayu Deni. Ia mengenali suara itu. Membuat Angga frustasi. Benarkah wanita yang selama ini sangat disayanginya menganggapnya sebagai anak sia*lan?
Seketika matanya berkabut, saat kesedihannya menyesakkan dada nya. Apakah ini berarti bahwa perkataan paman Danu sebelum kematiannya adalah benar adanya?
Apakah ia sebegitu tak berharganya sampai mama Sherly berkata seperti itu tentang dirinya. Usaha Angga memajukan perusahaannya selama ini, ia dedikasikan hanya untuk mama Sherly tercintanya. Namun apa yang di dengarnya barusan mematahkan hatinya.
Angga mendekatkan foto dirinya sewaktu kecil digendong sama mama Sherly. Ia memandangi foto itu. Hatinya terasa nyeri.
Saat Angga tahu sebuah kenyataan yang menyakitkan hatinya. Mendadak tubuhnya seakan tak punya daya. Ia membuka frame foto. Ia berencana menyobek-nyobek foto itu.
Dibukanya perlahan foto kesayangannya yang selama ini menjadi penyemangatnya dalam bekerja. Menghiasi meja kerjanya sekian tahun.
Perlahan dilepasnya penutup frame. Hingga tertinggal selembar kertas foto yang sudah mulai pudar warnanya. Foto masa kecilnya terlihat bahagia. Senyuman ceria menghiasi foto nya. Apakah ini juga cuma sandiwara? Pertanyaan menyakitkan itu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.
Apakah mungkin selama ini ia telah dimanipulasi oleh mama Sherly? Angga mere-mas foto di tangannya. Menyalurkan kegeraman yang membakar hatinya. Jarinya tak sengaja menyentuh sesuatu. Seperti manik kecil dipermukaan kertas foto. Angga mengamatinya. Ia seketika tertegun melihat benda kecil yang menempel di permukaan kertas foto.
__ADS_1
Sebuah kamera micro yang sangat canggih. "Jadi selama ini gerak-gerik ku di mata-matai?" Sesaat Angga termenung memikirkan langkah apa yang seharus nya dilakukannya.