
Rasanya seperti mimpi. Hari ini tiba- tiba saja aku sudah menikah. Bukan nikah siri. Tapi pernikahan resmi KUA. Hati ku sangat bahagia. Tuan Angga, benar- benar menepati perkataan nya. Padahal baru Kemarin malam aku meminta dinikahi walau hanya nikah siri.
Sungguh beruntung nasib ku, hari ini aku menikah resmi dengan nya. Sebuah hadiah yang tidak ku sangka sama sekali. Namun pernikahan kami tidak dihadiri oleh satu orang pun dari keluarga tuan Angga. Aku menahan diri untuk tidak menanyakannya. Ku pikir lebih baik kalau menunggu tuan Angga bercerita sendiri.
"Honey... hari ini kamu cantik banget, terimakasih kamu sudah bersedia jadi pengantin ku." Tuan Angga ikut- ikutan merebahkan badan nya di samping ku.
"Harus nya aku yang mengucapkan terima kasih, Darling sudah banyak membantu kami. Aku juga sangat bahagia, karena Darling juga telah berikan aku status yang jelas. Makasih banyak."
"Oh ya Darling.... ini rumah mu?" Tanya ku mengalihkan pembicaraan.
"Bukan, tapi ini rumah kita yang kita tempati bersama anak- anak kita nanti." Jawaban tuan Angga membuat ku tersentuh bahagia.
"Honey... apakah engkau bahagia?" Tanya tuan Angga sembari memeluk ku erat.
"Ya... darling, aku bahagia." Kata ku bersungguh- sungguh. Aku memiringkan tubuh ku menghadap tuan Angga. Tangan tuan Angga menyusuri wajah ku. Membelai pipi dan bibir ku. Memberikan sentuhan lembut yang sengaja menggoda ku.
"Honey... kamu satu- satunya wanita yang ku nikahi." Pengakuan tuan Angga mengejutkan ku.
"Benarkah?" Tanya ku ragu. "Jadi aku bukan pelakor? Bukan wanita simpanan?" Tanya ku antusias.
"Kamu istri syah ku, kamu bukan pelakor, tapi kamu masih akan jadi istri simpanan ku?" Aku menggenggam tangan tuan Angga menghentikannya untuk tidak terus menggerayangi wajah ku yang membuat ku geli.
"Apa maksud Darling, mengatakan kalau aku masih jadi istri simpanan?" Tanya ku tidak mengerti.
"Aku punya seorang ibu yang posesif, beliau terlalu protektif. Setahun lalu aku bertunangan dengan wanita yang sudah kupacari diam- diam selama lima tahun. Saat acara pertunangan berlangsung, mama datang dan mengacaukan nya. Acara pertunangan itu gagal berantakan. Ratih sangat marah pada ku. Dia tidak memberi kesempatan pada ku untuk memperbaiki nya. Dia pergi begitu saja meninggalkan ku. Terakhir kali aku dengar dia sudah bertunangan. Aku merasa dikhianati. Dua orang wanita terdekat dalam hidup ku menyakiti hatiku."
Ada setitik air mata keluar dari ujung mata tuan Angga. Aku ikut terharu mendengar kisah nya.
__ADS_1
"Awalnya niat ku memaksa mu untuk menjadi wanita simpanan ku adalah untuk membalas mama. Dengan menikahi seorang pelakor, pasti mama akan merasa kecewa. Namun setelah aku tahu latar belakang kehidupan mu bersih, juga bagaimana beratnya hidup yang kalian jalani sangat berat. Aku sangat kagum pada mu. Dan aku tidak mungkin menjadikan mu sebagai alat balas dendam ku pada mama."
Kata Angga jujur. Membuat ku seketika merasa kasihan padanya.
Aku memberanikan diri menangkup kedua belah pipi tuan Angga.
"Darling, tidak ada seorang ibu yang menjahati anak nya. Mungkin ada maksud dibalik semua yang telah mama lakukan pada mu. Kita harus berusaha untuk tetap berbakti padanya. Karena bagaimanapun juga ia wanita yang telah melahirkan mu." Kata ku mencoba menghibur tuan Angga.
"Aku tidak salah memilih mu sebagai istri. Apakah honey bisa melakukan satu hal?" Tanyanya dengan memohon, membuat ku luluh dan menganggukkan kepala ku.
"Untuk sementara biarlah hubungan kita menjadi rahasia. Honey bisakan berpura- pura jadi wanita simpanan? Setidaknya sampai kita punya anak. Dan saat anak kita lahir aku akan membawa mu pada mama. Semoga cucu nya nanti akan bisa meluluhkan hati mama." Kata tuan Angga penuh harap.
"Ya Darling... akan kulakukan untuk kebahagiaan kita." Jawab ku.
"Honey... mungkin kamu meragukan aku, tapi terus terang... Aku telah jatuh cinta pada mu. Honey I love you." kata tuan Angga sambil mengecup kening ku.
Aku tidak percaya, saat umur ku hampir tiga puluh tahun aku dipertemukan dengan jodoh ku. Hanya hitungan jam, hati kami bisa menyatu. Seperti magnet yang menarik besi. Seperti itulah kisah cinta ku.
Tidak perduli bagaimana perbedaan latar belakang kami yang sangat berbeda. Yang lucu adalah bukan saat wajah ku mulus hasil perawatan salon, aku bertemu jodoh ku. Bahkan saat muka ku hancur dicakar mak lampir lah, Alloh mempertemukan aku dengan Angga Lesmana, yang menjadi suami ku sekarang. Aku langsung meraba wajah ku, baru teringat pada cakaran mak lampir.
"Wajah mu sudah mulus, dokter sudah kasih perawatan saat kamu pingsan." Kata Angga sambil melabuhkan ciuman panas nya di bibir ku.
Malam ini, menjadi malam penyatuan bagi kami. Angga benar- benar perkasa di atas ranjang. Ia berhasil membobol keperawanan ku. Awalnya memang terasa sakit namun seiring berjalan waktu penyatuan kami menjadi suatu kenikmatan. Hingga beberapa kali kami melakukannya sampai tak terasa hari sudah menjelang pagi.
Matahari sudah mulai menyulurkan berkas- berkas cahaya nya menembus horden kamar. Aku mengerjap dan langsung terbangun. Aku tidak percaya, hari ini aku bangun kesiangan. Aku langsung bangkit dari ranjang dan berniat ke kamar mandi. Namun...
"Aduhhhh...." tubuh bagian bawah ku terasa ngilu sekali. Efek percintaan kami semalaman. Angga terbangun mendengar ku mrngaduh.
__ADS_1
"Honey... kenapa? Apakah sakit?" Tanya nya langsung menghampiri ku.
"Iya... ngilu sekali." Kata ku sambil menitikkan air mata. Tanpa ku minta, Angga langsung membopong ku ke kamar mandi. Ia menduduk kan ku di closed. Sementara ia sibuk mengisi bathup dengan air hangat dan sabun.
"Berendamlah supaya reda rasa sakit mu." Angga mengecup dahi ku dengan sayangnya.
"Aku mandi di kamar sebelah. Nanti kalau Honey selesai panggil saja aku. Pintunya jangan di kunci.!" perintahnya tegas.
"Iya Darling, trimakasih."
Aku segera membuka baju tidur ku yang tipis, saat Angga sudah keluar dari kamar mandi. Aku segera berendam. Rasanya nyaman sekali. Rasa letih dan ngilu yang kurasakan tadi mulai menghilang. Rasanya menenangkan sekali saat memejamkan mata. Tanpa sadar aku tertidur. Dan saat aku membuka mata, aku sudah diatas ranjang. Badanku pun sudah tertutup baju tidur.
"Sudah bangun Honey, kamu tertidur di bathup. Untung saja pintu nya tidak terkunci. Ini minum dulu..." Kata Angga sambil menyodorkan segelas susu hangat ke dalam tangan ku.
"Darling... maaf kan aku merepotkan mu." Kata ku penuh penyesalan.
"Tidak Honey, aku senang membantu mu. Pingin sarapan apa? Ini sudah ku bawakan roti bakar sama bubur ayam." Angga menawarkan sarapan untuk ku. Rasanya aku seperti seorang ratu. Dilayani pria tampan. Membuat ku tersanjung.
"Darling... jangan seperti ini. Harus nya aku yang melayani mu." Kata ku merasa bersalah.
"Gak papa ... Kamu kan masih lemah. Jadi hari ini aku akan melayani mu." Kata Angga lembut.
Membuat ku sangat bahagia. Suamiku sangat baik seperti malaikat. Aku jadi kagum padanya. Kesan pertama ku tentang Angga berbanding terbalik. Dua hari lalu aku mengenal Angga sebagai tuan yang sombong, jahat dan suka mengancam. Tapi hari ini, Angga telah jadi suami ku, sangat lembut dan penuh perhatian.
'Pyar...' Terdengar suara barang pecah dari depan kamar.
"Suara apa itu?" Tanya kami berbarengan.
__ADS_1