Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Atasan dan Bawahan


__ADS_3

"Gimana laporan dan presentasinya sudah siap?" Tanya bu Dea minta laporan ku.


"Sippp... sudah beres Bu," lapor ku.


"Bagus deh...!" Bu Dhea segera mengecek dokumen yang ku berikan padanya dan juga Power point yang baru ku buat.


"An... tahu gak? Sebentar lagi bos besar akan datang. Sebaiknya kamu berdandan cantik siapa tahu ada asisten nya yang melirik mu nanti." Saran bu Dhea pada ku.


"Kenapa gak sekalian menggoda Pak Angga aja? Lumayan kalau dapat big boss." Canda ku. Toh Angga sudah syah jadi milik ku.


"Ana... Anarista... jangan menghayal terlalu tinggi, nanti kalau jatuh sangat sakit. Kau tahu, tuan Angga itu orang nya cuek banget sama cewek. Tahu gak... manager personalia kita, Ibu Dita? Masih muda dan energik, sudah memiliki jabatan tinggi, sangat cantik, lulusan luar negeri. Tidak juga dianggap sama sekali oleh tuan Angga. Apalagi kamu?" Kata bu Dea sambil tertawa.


"An... sebenar nya kamu cantik. Tapi jangan berharap mendapat kan cinta tuan Angga. Soal nya ada isu beredar kalau tuan Angga penyuka sesama cowok. Pernah ada Majalah gosip membahas itu. Jadi lebih baik kamu memilih pria biasa yang jelas. Ngerti..."


Sebuah gosip yang membuat ku merasa tidak nyaman. Mana mungkin suami ku seperti itu? Aku harus mengorek lebih dalam mengenai gosip itu. Apakah ada bukti atau hanya gosip semata.


"Siapa pacar tuan Angga?" Tanya ku penasaran.


"Ya ampun An... kamu percaya pada gosip itu? hahahah itu cuma isapan jempol. Yang benar tuan Angga begitu sempurna, hingga ia sangat sulit mencari pasangan yang sesempurna dia. Jadi wanita- wanita yang sakit hati karena diacuhkannya membuat gosip yang seperti itu. Udah- udah.. ayo kita siapkan dulu ruang meeting!" Ajak bu Dhea. Padahal aku masih pingin tahu banyak pandangan orang terhadap suami ku.


Aku dan Bu Dhea segera berjalan menuju ruang meeting. Di sana sudah hadir beberapa orang dari perwakilan tiap Devisi. Juga ada bu Dita yang barusan kami gosipkan tadi. Saat ku lemparkan senyum pada nya. Ia pura- pura tidak tahu dan berpaling dengan gaya sombong nya. Benar- benar belagu umpat ku dalam hati. Ternyata bu Dhea memperhatikan interaksi kami. Ia menyenggol ku dan berbisik.


"Hari ini, kamu mesti balas si siluman Barbie itu. Biar ia menelan kesombongan nya." Kata- kata bu Dea memprovokasi aku.


"Bagaimana cara nya Bu?" Tanya ku asal.


"Buat tuan Angga melemparkan senyum pada mu. Kalau perlu buat agar beliau mengajak mu makan siang." Kata bu Dhea berapi-api. Rupanya bu Dhea menaruh dendam terpendam pada bu Dita. Dan berniat memakai aku untuk balas dendam? Sebuah kebetulan yang sangat pas.


Ku lirik jam, masih setengah sebelas. Ada waktu setengah jam lagi, aku perlu minum kopi. Baru terasa badan ku cukup lelah setelah pergulatan kami sepanjang malam. Juga satu ronde yang kami lakukan di pagi hari. Aku segera ijin bu Dhea, untuk mengambil kopi.


Pantry ada dilantai tiga, jadi aku harus turun dua lantai. Aku sedang berdiri persis di depan lift yang bertepatan membuka. Aku sangat terkejut, ternyata yang di dalam lift Angga dan Deni. Angga segera keluar lift, saat itu aku memutuskan akan kembali ke ruang meeting. Namun tangan ku di tarik Angga masuk ke dalam lift.


"Kenapa lari saat melihat ku?" Kata Angga dengan sikap datar nya.


"Engkau kan atasan ku dan aku bawahan mu. Jadi ya gak enak kalau masuk dalam lift yang sama." Kata ku membela diri. Namun Angga sepertinya tidak mempercayai kata- kata ku.


"Sebenarnya aku mau buat kopi, sambil menunggu kedatangan mu. Ternyata Darling dah datang? Jadi aku bermaksud kembali ke ruang meeting." Kata ku dengan sedikit menekankan kalau aku batal ngopi karena ia datang kecepatan.


"Aku jadi pingin ngopi, temani ya?" Rayuan Angga tak kuasa ku tolak.


Kami masih saja menjaga jarak. Antisipasi pada kamera cctv yang terpasang dalam lift. Lift berhenti di lantai sepuluh. Lantai khusus yang hanya bisa diakses oleh pimpinan perusahaan pusat, tepatnya oleh Angga saja.


Saat kami keluar dari lift, serta merta Angga mengangkat dan membopongku masuk kedalam satu- satunya ruangan yang tersedia. Sebuah ruangan yang di desain menyerupai apartemen.


Angga menjatuhkan ku diatas ranjang nya yang empuk.


"Suami ku... kita kan cuma mau minum kopi? Tapi kenapa kesini?" Tanya ku keheranan, karena aku baru tahu ada ruangan besar memenuhi satu lantai, dan itu adalah sebuah kamar besar?


Angga menuntun tangan ku untuk menyentuh senjatanya yang terkokang dan siap untuk dilepaskan. Membuat ku tersenyum geli.

__ADS_1


"Jr sudah kangen." Kata Angga manja.


"Darling, kasihan orang- orang menunggu kita di ruang meeting." Kata ku mencoba meredam nafsu nya.


"Biar..." kata Angga cuek. "Harus nya hari ini kita masih menikmati malam pertama, tadi Honey paksa aku tetap kerja. Jadi sebagai gantinya kasih dulu penyemangat." Kata Angga mengulum senyum nakal nya.


Tak dapat dihindari, waktu setengah jam kami pakai untuk saling memberi kepuasan.


"Honey... lapar" Kata Angga manja setelah ia berhasil terpuaskan.


Aku mengecek persediaan makanan di dapur dan kulkas. Hanya ada mie ramen. Aku segera memasak dua porsi. Juga membuatkan dua gelas lemon tea. Angga bingung melihatnya.


"Honey... kenapa gak bikin kopi?" Tanya Angga.


"Ramen nya dah panas, jadi cocoknya minumnya dingin." Kami pun menikmati ramen dengan lahap. Mungkin karena sudah habis tenaga setelah bertarung satu ronde. Selesai makan, aku segera membersihkan diri di kamar mandi. Lagi- lagi Angga tidak mau tinggal. Ia pun mencuri- curi kesempatan untuk kembali memeluk dan mencumbu ku.


Aku harus tegas. Supaya Angga tidak menyerang lagi. Jadi selesai membersihkan diri dan merapikan rambut. Aku segera kabur meninggalkan Angga.


"Ana... kamu dari mana saja?!" Bu Dhea langsung melabrak ku begitu aku duduk di samping kursinya.


"Baru makan mie." Kata ku cuek.


"Mana kopi nya?" Tanya bu Dhea lagi.


"Maaf..." Kata- kata ku terpotong saat Angga dan asisten nya memasuki ruang meeting. Yang membuat aku jengah, senyuman aneh dari asisten yang berjalan di belakang nya. Seperti senyuman menuduh. Lebih tepat nya senyuman menggoda ku. Jangan- jangan ia tahu apa yang barusan kami lakukan. Aku malu sekali, kutundukkan muka ku. Berpura- pura mengecek kelengkapan dokumen yang ku bawa.


"Hari ini, kedatangan saya khusus untuk memberikan apresiasi pada karyawan berprestasi. Yang membawa perusahaan Star Light tahun ini berhasil mencapai target. Selain apresiasi berupa uang, karyawan berprestasi juga akan menerima promosi kenaikan jabatan. Sebelum Apresiasi saya berikan, terlebih dahulu saya mempersilahkan perwakilan setiap Devisi untuk mempresentasikan laporan nya juga visi untuk setahun ke depan."


Selesai Angga menyampaikan pembukaan. Setiap Devisi menyampaikan laporan. Saat giliran Devisi personalia, ibu Dita yang menyampaikan presentasinya. Gestur tubuhnya sangat menarik, lebih seperti seorang pembawa acara menyampaikan berita.


Melihat penampilan ibu Dita yang cemerlang membuat ku tiba- tiba merasa cemburu. Aku melihat, bu Dita sengaja berpakaian seksi. Memakai kemeja ketat hingga menonjolkan sepasang gunung nya. Berkali- kali aku memergoki bu Dita sengaja melemparkan senyum pada Angga. Dan yang paling menjengkelkan ku, saat Angga begitu serius mengikuti presentasi dari bu Dita.


Drrrtttt... drrrtttt....


Ada vc masuk. Saat ku lihat panggilan dari Angga. Ngapain ia vidio call di ruangan meeting? Tanya ku keheranan. Aku enggan untuk mengangkatnya. Namun Angga tak juga berhenti menghubungi ku.


Ada pesan masuk dari Angga.


"Kenapa honey kelihatan kesal? Apakah karena aku melihat dada besar wanita ini?" Bunyi pesan masuk dari Angga, ia pun mengirimkan foto bu Dita.


"Ya," jawab ku.


"Kau cemburu?" Balas Angga.


"Risih aja melihat mata lelaki yang tak berkedip," balas ku.


"Kau tahu... di belakang bu Dita ada kaca, Aku bisa melihat jelas pantulan wajah mu. Juga kaki mulus mu di bawah meja. Buka dikit donk... biar ku lihat warna dalaman mu!" Goda Angga membuat pipi ku langsung bersemu merah.


"Jangan macam- macam, ini ruangan meeting. Nanti aja saat di rumah." Jawab ku.

__ADS_1


Angga segera bangkit dan bertepuk tangan. Membuat semua peserta meeting terbengong keheranan. Jelas- jelas presentasi bu Dita belum selesai tapi sudah di potong nya?


"Trimakasih atas presentasi dari Devisi Personalia. Saya minta maaf memotong presentasinya. Karena saya terganggu bila ada peserta rapat yang sibuk dengan hp nya." Angga mengedarkan pandangan pada kami semua. Serta merta jantung ku berdetak kencang. Jangan- jangan Angga sengaja mengerjai ku?


"Nona berbaju putih dari devisi keuangan, saya minta untuk mempresentasikan laporannya!" Angga melemparkan senyum puas. Ia benar- benar mau membunuh ku. Aku hanya staff rendahan saja. Kalau menyusun laporan aku bisa. Tapi untuk mempresentasikan nya dihadapan Direksi juga CEO PT Star Group??? Keringat dingin membasahi kening dan telapak tangan ku. Padahal ruangan ber AC sangat dingin.


Suasana menjadi sepi mencekam. Apa yang harus ku lakukan? Minta maaf pada kesalahan ku? Aku tidak bersalah. Mempresentasikan laporan? Aku tidak biasa. Saat aku menimbang- nimbang keputusan apa yang ku buat. Angga kembali mengultimatum ku.


"Bagaimana nona Anarista? Nama mu masuk dalam list karyawan yang mendapat promosi. Kalau Anda tidak bisa menunjukkan performa mu, mungkin promosi ini harus saya pertimbangkan lagi. Atau mungkin nona sudah bosan kerja di sini?"


Kata Angga berwibawa, namun bagi ku seperti teror yang mencekik leher ku.


Aku berdiri dengan goyah. Rasa grogi seakan mau memisahkan sendi- sendi tubuh ku.


"Selamat siang, saya atas nama pribadi memohon maaf yang sebesar- besar nya karena menerima pesan pribadi saat meeting. Dan saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan di lain waktu. Trimakasih saya ucapkan kepada Bapak Angga sebagai CEO PT Star Group yang membawahi perusahaan kami, telah memberi kesempatan pada saya untuk menyampaikan laporan." Kulemparkan senyuman termanis dihadapan Angga.


"Berikut laporan keuangan perusahaan selama tahun 2020."


Segera ku nyalakan Aplikasi Presentation yang baru ku buat pagi tadi. Semua laporan keuangan ku rangkum dalam tiga menit dengan dukungan vidio singkat, juga diagram dan statistik. Dan kutegaskan dalam presentasi itu bahwa hanya dengan kerjasama yang solid antar devisi lah yang membuat PT Star Light tahun ini berhasil melebihi target.


Dan pastinya sedikit kusisipi bagaimana devisi keuangan punya andil cukup besar di dalamnya tanpa mengecilkan peran devisi yang lain. Kuakhiri presentasiku dan kualihkan pada bu Dhea, bagaimana pun beliau adalah atasan ku.


"Ibu Dhea akan menjelaskan mengenai program kerja sekaligus target devisi keuangan di tahun berjalan."


Bu Dhea segera mengambil alih. Ia melemparkan tatapan tanda tanya dan kesal??... Waduh gawat... pikir ku, jangan- jangan bu Dhea belum membaca file yang sudah ku ajukan minggu lalu.


Aku segera menyerahkan lap top pada bu Dhea. Dengan lancar bu Dhea menyelesaiakan presentasi kami. Tepuk tangan meriah menutup presentasi Devisi Keuangan.


Acara meeting hari ini, cukup memuaskan semua pihak. Tidak ada celah yang memancing amarah Angga. Membuat jajaran Devisi dan staff bisa bernafas lega saat acara meeting ditutup.


Sudut mata ku menangkap kejanggalan pada ibu Dita. Ia terlihat bolak- balik bercermin. Dan saat Angga hendak keluar ruangan ia segera menghampirinya. Mengajak ngobrol yang aku tidak tahu obrolan apa. Tetapi sepertinya obrolan akrap. Karena baik ibu Dita maupun Angga bergantian melemparkan tawa. Kenapa hati ku terasa sakit ya? Apakah ini yang namanya cemburu?


Aku segera menghindari kedua orang itu dengan mengambil jalan lain. Baru satu langkah keluar pintu. Deni memanggil ku.


"Nona Anarista... Bisa bicara sebentar?" Suara Deni menghentikan langkah ku. Ia menanyakan seputar presentasi ku tadi. Aku sempat kesal, karena sepertinya Deni hanya bertujuan menahan ku bukan benar- benar menanyaiku.


"Maaf Pak Deni, apa tidak sebaiknya seret bos mu itu. Dan segera ajak pulang?" Ku luapkan kejengkelan ku.


"Tuan Angga scedul Anda selanjutnya sudah menunggu." Kata Deni keras- keras. Kesannya tidak sopan, membuat ku jadi merasa gak enak.


Angga segera mengakhiri pembicaraannya dengan bu Dita. Saat ia melangkah mendekati kami, Bu Dita masih juga mengekori Angga. Benar- benar membuat ku kesal. Namun aku harus menyimpan perasaan ku baik- baik supaya tak ada seorang pun yang curiga.


"Tuan Angga, apa tidak sebaik nya kita makan saja di food center lantai satu? Karena kalau makan keluar sepertinya tidak akan sempat." Kata Deni sambil memberi kode pada atasannya.


"Baik lah... kita ajak saja Nona Dita dan Nona Ana..." Kata Angga menjeda.


"Nona Anarista tidak keberatan bukan menemani tuan Angga makan?" Tanya Deni beramah tamah. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.


Suasana canggung langsung menyergap ku saat kami saling berhadapan dalam satu meja. Rasanya gak enak banget apalagi ada Bu Dita yang terang- terangan cari perhatian dan menggoda Angga. Makanan yang dipesan, tidak ada satu pun yang menggugah seleraku. Ini pasti gara- gara hatiku yang dipenuhi rasa cemburu.

__ADS_1


__ADS_2