Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Rahasia mulai Terkuak


__ADS_3

Angga menjadi emosi saat mendengar perkataan paman nya. Apakah kedatangan nya saat ini di Rosseta Cafe hanya jebakan paman Danu?


Angga memilih duduk manis di bangku depan paman nya. Ia memperlihatkan senyuman dingin.


Paman Danu masih asyik menikmati rokok nya. Sepertinya tidak perduli pada Angga yang menanti nya dari tadi.


"Paman..." Geram Angga mencoba mengintimidasi paman nya.


Paman Danu membuang rokok nya yang baru setengah dinikmatinya. Di hancurkan nya di sebuah asbak di atas meja.


"Angga, sekian lama aku selalu mendapat teror. Namun baru kali ini aku benar- benar merasa gentar. Aku sangat mencemaskan keselamatan mu. Hhhhh." Desah paman Danu membuang nafas nya seakan ada ganjalan yang mengganggu jalan nafas nya.


Angga hanya mengamati ekspresi paman Danu. Ia mencoba menilai kebenaran kata- kata paman Danu.


"Hampir dua puluh delapan tahun, aku menyimpan rapat- rapat rahasia ini. Saat ini aku merasa tidak ada gunanya menutupi ini semua. Karena lambat laun, pembunuh papa mu juga akan mengincar mu juga." Kembali paman Danu menghela nafas berat.


"Angga, ketahuilah. Dua salinan surat yang kuberikan pada mu siang tadi benar adanya. Papa mu meninggal karena diracun, bukan karena serangan jantung. Juga ibu kandung mu telah meninggal bersamaan dengan kematian papa mu. Namun kematian ibu mu lebih mengerikan. Ia diculik dari rumah nya, diperkosa dan dibunuh dengan sangat keji." Kata paman Danu, dengan kepedihan tergambar nyata di kerut wajahnya yang mulai menua.


Angga hanya terdiam. Ia membiarkan paman Danu mengatakan apa saja yang dimaui nya.


"Sherly adalah kesalahan besar papa mu." Pernyataan paman Danu seketika membakar emosi Angga. Bagaimana mungkin wanita yang sangat baik itu menjadi kesalahan bagi papa nya. Pasti ini akal- akalan paman Danu untuk memisahkannya dengan mama yang sangat disayanginya.


"Sherly tidak sebaik kelihatannya. Wanita itu seorang monster berbungkus wajah cantik dan suara lembut. Kenyataan nya seorang monster tetaplah monster." Paman Danu menghapus air mata yang menitik di ujung matanya.


"Aku sempat menyalahkan kak Lesmana karena meninggalkan Sherly yang ku kenal sebagai bidadari. Aku memusuhi kak Lesmana bertahun- tahun sampai aku mendengar kematiannya. Ia meninggalkan seorang istri lain yaitu ibumu dan seorang anak laki- laki berumur dua tahun." Suara paman Danu bergetar menahan kesedihan.


"Meskipun saat itu aku membenci Kak Lesmana, aku tidak memungkiri kalau aku masih menyayangi kakak ku itu. Aku mulai menyewa detektif swasta untuk memastikan penyebab kematian kakak. Aku sangat terkejut melihat hasil penyelidikan mereka. Kakak meninggal karena diracuni. Istrinya pun dibunuh dengan keji. Sementara anak laki- laki mereka raib tak berbekas. Saat itu pertama kalinya aku bertemu dengan mu di rumah Sherly. Ia mengatakan kalau mengambil mu dari panti asuhan. Tapi firasat ku mengatakan kalau anak kecil itu adalah anak mendiang kakak yang hilang. Aku berhasil mendapatkan hasil tes DNA mu. Kamu adalah anak kandung kak Lesmana."


Kata paman Danu seraya menepuk pundak Angga.


"Aku sempat merasa lega bahwa kamu sudah di tangan orang yang tepat. Yaitu Sherly. Namun aku salah, tahun- tahun pertumbuhan mu kamu dicuci otak oleh Sherly dan dijadikan monster yang sama seperti diri nya. Aku ingat suatu hari melihat Sherly mengajarimu melakukan hal yang sangat keji. Umur mu belum lima tahun, kamu diajari membunuh seekor kucing lucu. Saat itulah seketika pandangan kagum ku pada Sherly berubah total. Aku kembali menyelidiki kehidupan kak Lesmana dan Sherly." Paman Danu menghirup nafas dalam- dalam.


"Orang suruhan ku menemukan sebuah jurnal milik papa mu. Sebuah catatan harian dengan sandi yang hanya aku dan papa mu yang tahu. Di jurnal itu tersingkap semua kekejaman Sherly. Bagaimana ia sengaja menjatuhkan papa mu dari tangga hanya untuk mendapatkan kesenangan. Waktu itu papa mu sampai luka parah, salah satu kakinya lumpuh membuatnya keluar dari kesatuan dan mencoba merintis usaha. Hingga saat ini berkembang berkat kerja keras mu."


"Papa mu memilih untuk memaafkan Sherly. Namun kenyataan nya Sherly tidak berubah. Ia sangat kejam dan sadis. Saat itu kak Lesmana memilih untuk menceraikan Sherly. Ia pergi dari rumah tanpa membawa apa- apa dan menikahi ibu mu. Bersama ibu mu, kak Lesmana menemukan kebahagiaan. Namun aku yang masih muda saat itu begitu naif. Tidak bisa melihat ketulusan ataupun kelicikan. Sherly merayu ku dengan air matanya hingga ku beritahukan keberadaan papa mu. Dan tak berapa lama ku dengar kematian nya yang membuat ku merasa sangat kehilangan."


"Angga, Sherly tak sebaik yang kamu kira. Berhati- hatilah dengan nya. Kalau suatu saat nanti ada sesuatu terjadi pada ku. Rahasia papa mu ada di brankas Bank XZ kodenya sandi nama ibu mu." Kata paman Danu seraya berjalan keluar dari Rosseta cafe.


Angga masih duduk tercenung, mencoba mencerna semua informasi yang diberikan paman nya. Ia belum bisa mempercayai kata- kata paman nya. Semua ini terlihat mengada- ngada. Tidak mungkin mama Sherly yang lembut itu sanggup melakukan kekejaman seperti yang dikatakan paman Danu. Namun sebaiknya ia berhati- hati.


Drrrtttt.... drrrrtttt


Ada panggilan masuk dari mama Sherly. Angga mengacuhkan nya. Ia belum siap berbicara dengan nya karena mulai ada prasangka menyusup masuk dalam pikirannya.

__ADS_1


Angga menegak sedikit anggur dari dalam gelas nya. Namun saat ia merasakan kehangatan mengalir di tenggorokannya. Ia ingat Ana istrinya. Ia memutuskan untuk berhenti minum, mungkin Ana saat ini dalam bahaya.


Angga keluar dari Rosseta cafe, ia bermaksud naik angkutan umum. Namun langkah kaki nya terhenti saat ia melihat kerumunan orang banyak di pinggir jalan. Di dorong rasa penasaran ia menyibak kerumunan orang itu. Sesosok tubuh bersimbah darah terbujur kaku di tengah kerumunan.


Angga mengenalinya sebagai paman Danu. Seketika alarm bahaya menggaung dalam kepalanya. Angga memilih menjauhi kerumunan itu dan langsung mencari angkutan umum.


Bukannya ia tidak memperdulikan nasib paman nya namun ia ingin menyelamat kan keluarganya yang masih hidup.


Ia menelephon Erika, kakak iparnya. Saat mendapat sahutan dari seberang. Angga segera bicara singkat. "Selamatkan nyawa kakak dan anak- anak, paman tak tertolong."


Kata singkat Angga sempat membuat Erika terpaku. Namun ia tahu, ini adalah masa genting baginya. Ia segera mengambil sesuatu dari brankas. Menguncinya dan bergegas menjemput anak- anak nya dari sekolah. Erika harus tegar, agar ia bisa membawa anak- anak nya ketempat yang aman. Sebuah pelarian yang sudah lama dirancang matang- matang oleh suaminya. Dan sekarang ia harus benar- benar melarikan diri.


***


Angga memilih untuk kembali ke hotel Permata Inn. Ia memilih jalan masuk rooftop dan kembali ke kamar sebelum nya. Angga mengganti bajunya dengan setelan jas yang dipakainya tadi siang.


Ia pun segera turun dari kamarnya di lantai tujuh. Ia sengaja berjalan menuju resepsionis dan menanyakan, adakah pesan untuk nya? Rupanya ada panggilan dari mama Sherly yang memintanya untuk menghubungi nya.


Angga mengeluarkan hp nya dan membuat panggilan kepada mama Sherly. Sesaat panggilannya mendapat jawaban.


"Mama mencari ku?" Tanya Angga datar.


"Angga di mana? Mama kawatir. Tadi sekretaris mu kasih kabar ke mama kalau kamu baru saja bertengkar dengan paman Danu?"


"Oh .. begitu, dia paman mu Angga. Mungkin semua itu dilakukan karena paman Danu belum juga mendapat posisi yang diinginkan nya." Kata Sherly memprofokasi Angga. Namun Angga tidak terpengaruh. Ia malah semakin muak dengan mama angkat nya itu.


"Aku sedang menenangkan diri di hotel ma. Aku kecewa dengan paman Danu." Kata Angga. Ia berusaha menguasai diri, agar tidak membuat mama Sherly curiga.


"Mama jemput kah?" Tanya mama Sherly dengan nada kuatir.


"Tidak usah ma... aku juga ada acara meeting dengan klien nanti malam. Jadi sekalian nginap di sini." Jawab Angga menolak dengan halus.


"Paman Danu tidak ngomong macam- macam sama kamu kan nak?" Tanya mama Sherly mengintrogasi Angga.


"Menyebalkan sekali sekalipun sudah ku tunjukkan bukti- bukti kebusukan nya paman Danu mengelak dan mengatakan kalau ia tidak bersalah sama sekali. Bahkan dengan berani ia akan membuka rahasia masa lalu. Katanya ada bukti- bukti yang mau ditunjukkan nya. Ia meminta bertemu malam ini. Tapi aku tidak mau membuang waktu untuk mendengar kebohongan paman Danu."


Kata Angga berbohong. Padahal ia baru bertemu dengan paman Danu dan menjadi saksi kematian paman nya sendiri.


Diseberang telephon, Sherly bernafas lega karena sudah berhasil menyingkirkan Danu sebelum membuka rahasia pada Angga.


"Iya nak, paman Danu tidak bisa dipercaya, lebih baik kamu menjauhinya. Ia penyebab kematian papa mu. Entah niat buruk apa lagi yang disiapkan nya untuk keluarga kita." Kata Sherly dengan nada lega. Sherly tidak mengira kalau Angga ternyata sudah tahu rahasia hitam nya.


"Ma... klien ku sudah datang. Aku tutup dulu telephonnya." Kata Angga segera ia mematikan telephon nya. Tanpa menunggu jawaban Sherly.

__ADS_1


Angga memesan taxi on line untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Sebelum nya ia sempatkan diri berkeliling melewati gang kecil kontrakan Ana sebelumnya.


Angga sangat merindukan istrinya. Ada ruang kosong di hatinya sejak kepergian Ana. Dua bulan telah berlalu tanpa kehadiran Ana. Membuat Angga lemah. Apalagi saat- saat berat yang baru saja dialaminya. Paman nya terbunuh di depan matanya. Ia mendengar perkataan orang- orang yang berkerumun, bahwa paman nya ditembak orang bertopeng saat akan memasuki mobilnya.


Angga benar- benar terpuruk, tidak ada seorang pun teman yang bisa diajak nya bertukar pikiran. Ia ingin segera menemukan Ana, istrinya.


***


Ana sedang berbaring lemah di kamar nya. Dua hari ini ia mengalami muntah dan pusing. Perutnya juga mulas dan terasa tidak nyaman. Rasa sakitnya akan berlangsung di pagi hari. Sementara di malam hari, tubuh nya kembali bugar dan nafsu makan nya bertambah.


Emak yang tidak tega melihat kondisi Ana yang memprihatinkan, segera memanggil tukang urut. Tukang urut hanya ada di kampung sebelah. Membuat emak harus berjalan beberapa jam, hingga sampai di tempat tukang urut.


Seorang wanita berumur cukup lanjut. Namun panca indranya masih berfungsi dengan baik. Bahkan saat berjalan bersama, emak sempat kewalahan harus menyusulnya dengan berlari kecil.


Rumah sakit dan puskesmas cukup jauh di kota. Perlu waktu lima jam untuk ke sana. Hingga emak memutuskan untuk memanggil tukang urut saja. Ia mengira aku sakit karena kecapekan.


"Ini, ada isi nya." Kata nenek tukang urut mengagetkan kami.


"Isi apa nek?" Tanya emak. Ia mengira si nenek tukang urut akan kasih tahu kalau aku terkena guna- guna atau sejenisnya.


"Ini, anak mu sedang hamil muda. Ada janin kecil di perutnya. Janinnya sehat dan tempat nya juga sudah bagus." Kata nenek tukang pijat gembira.


"Benarkah aku hamil nek?" Tanya ku tidak percaya. Apakah ini jawaban mimpi ku beberapa hari ini? Ada seorang anak kecil yang berlari mengejar ku dan memanggil ku mama. Seketika ada perasaan bahagia menelusup dalam hati ku.


"Ya... kemungkinan sudah jalan dua bulan. Jangan terlalu capek supaya tidak membahayakan kandungan mu. Banyaki makan sayur, ikan dan tempe supaya anak dalam kandungan mu tumbuh sehat dan kuat." Nasehat nenek pada ku.


Emak di depan pintu langsung menghambur dan memeluk ku. "Ana... sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu. Emak juga akan segera jadi nenek." Emak menangis bahagia.


"Lha... ini bapak nya kerja dimana?" Tanya nenek tukang pijat.


"Suaminya menceraikan anak ku. Ia mengira anak ku mandul jadi ia menceraikan nya. Tak di sangka, anak ku akhir nya punya anak juga." Kata emak berbohong.


Aku memaklumi keputusan emak berbohong, karena kalaupun ia berkata jujur tidak akan ada orang yang percaya pada kami.


Setelah mengetahui bahwa aku hamil. Aku memutuskan untuk lebih berhati- hati menjaga kehamilan ku mulai saat ini. Sejahat- jahatnya Angga, anak dalam kandungan ku tidak bersalah. Dia adalah berkah Tuhan untuk keluarga ku.


Sejak mengetahui kehamilan ku emak menjadi semakin sibuk. Ia memotong baju- baju dasternya yang mulai koyak untuk dijadikan popok untuk bayi ku kelak. Saat ke pasar subuh menjajakan sayur emak pulang membawa baju- baju bayi yang baru di beli nya. Membuat ku sangat terharu.


Nita dan Doni pun tak kalah heboh. Mereka menjaga ku sangat ketat tidak boleh sedikit pun bekerja. Sekalipun itu hanya mencuci piring bekas makan ku. Nita dengan sigap mengambilnya dari tangan ku.


Aku merindukan Angga, ayah kandung bayi ku. Apakah ia masih ingat pada ku? Setelah sekian lama kami berpisah. Sepertinya hubungan kami benar- benar berakhir. Masa- masa mengidam ku terasa sangat berat. Karena yang kuinginkan adalah merasakan pelukan suami ku. Satu keinginan yang mustahil aku dapat kan. Dan kenyataan itu membuat ku sangat tersiksa. Kadang aku harus menangis dalam diam saat mata ku tak juga terlelap di malam hari.


Lingkaran hitam mengelilingi kelopak mata ku. Membuat emak mengkawatirkan keadaan ku.

__ADS_1


__ADS_2