
Saat mobil di parkiran, Nara turun dengan dibukakan pintu oleh Aldin. Nara diam dan berdiri di muka pintu sehingga Aldin susah untuk menutup pintu mobil. Nara sepertinya protes dengan sikap Aldin yang memaksa membawanya ke apartemen.
"Ayo, ikuti aku!" ajak Aldin setengah membujuk.
"Tapi buat apa Kak, Nara dibawa ke sini? Nara sedang bekerja lho."
"Sudah, santai saja, kamu sudah aku mintai ijin sama Leader kamu supaya kamu tidak masuk." Nara merengut dan tidak menyahut lagi perkataan Aldin, dia terlanjur kesal.
Aldin meraih tangan Nara supaya menjauh dari pintu mobil. Saat itu Nara ingin berlari, akan tetapi cekalan tangan Aldin terlanjur kuat.
"Jangan lari, patuhlah! Atau kalau kamu masih ingin berontak, akan aku cium kamu di sini biar orang-orang tahu." Aldin sengaja mengancam Nara supaya Nara diam dan patuh. Nara menatap mata Aldin kesal, ingin protes tapi tidak bisa. Nara takut Aldin menciumnya.
Aldin berhasil membawa Nara ke depan pintu apartemen. Bersamaan bunyi klik, pintu apartemen Aldin terbuka. Nara digiring ke dalam dan dengan otomatis pintu itu tertutup kembali.
Nara bernafas kasar, dia tidak suka diperlakukan Aldin seperti ini.
"Duduklah dulu di sofa. Aku akan buatkan kamu makanan dan minuman. Atau kalau kamu takut aku meracuni kamu, alangkah baiknya kamu ikut aku ke dapur. Supaya kamu bisa melihat bahan racun apa yang aku masukkan ke dalam makanan kamu." Nara menatap jengah ke arah Aldin, dia malas berdebat lagi dengannya. Sekarang Nara tidak peduli lagi Aldin mau menaruh racun atau apa dalam masakan atau minumannya.
Melihat Nara diam, Aldin langsung beranjak ke dapur dan membuat dua gelas minuman buatnya dan Nara. "Minumlah, supaya kamu tidak tegang!" titahnya seraya meletakkan gelas itu di meja. Nara masih diam. Ini memang kebiasaan Nara, diam kalau dia sedang marah. Aldin sudah mengetahui itu dan dia tidak lagi membujuk Nara, Aldin membiarkan Nara tenang dulu.
"Apa alasannya Nara dibawa ke sini?" Akhirnya Nara bersuara.
"Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan, bantuan apa?"
Aldin beranjak menuju kamarnya, lima menit kemudian dia membawa setumpuk map yang langsung disodorkan ke hadapan Nara. Nara mengerutkan kening tanda bingung.
"Apa ini Kak, kenapa banyak banget?" Nara sangat heran.
"Ini pekerjaan untuk kamu. Ini ada laporan keuangan bulan lalu dan bulan-bulan sebelumnya, aku minta cek dan cocokkan dengan proposal. Jika ada yang tidak sama, maka laporkan sama aku," titah Aldin.
"Sebanyak ini, Kak?" Nara merasa tidak percaya bahwa Aldin memberikan tugas sebanyak itu padanya.
"Aku tidak menyuruhmu membuat laporan keuangan, aku hanya menyuruhmu memeriksa, dan jika ada yang ganjil maka kamu harus laporkan sama aku," titahnya kembali semena-mena.
"Kak Aldinnnnn!" Nara mengerang menyebut nama Aldin tanda sangat kesal.
"Lakukanlah, aku akan memberikanmu imbalan yang pantas dengan semua pekerjaan ini. Dan kerjakan yang benar, jangan karena kamu sedang kesal, kamu mengerjakannya asal-asalan," peringatnya sembari meraih lengan Nara dan membawanya ke ruangan yang pada saat itu Nara pernah mengerjakan laporan keuangan milik perusahaan Aldin.
__ADS_1
"Kerjakan di sini. Aku akan keluar sebentar. Dan jangan macam-macam, sebab kalaupun macam-macam, kamu tidak akan bisa apa-apa!" peringat Aldin lagi seraya ngeloyor meninggalkan Nara yang masih kesal.
Walaupun hati Nara kesal dan marah dengan sikap Aldin, akan tetapi Nara dengan terpaksa melakukan tugas yang diberikan Aldin. Memeriksa laporan keuangan dan mencocokkannya dengan proposal.
...----------------...
Sementara itu, Aldin kini menuju kantor Adrian Wood. Tanpa memberitahu Asisten Rifki, Aldin menuju ruangannya dengan menggunakan lift. Tiba di ruangannya dia masuk tanpa memberitahu Shera, Sekretarisnya. Sepuluh menit kemudian, Aldin keluar dari ruangannya, ingin memastikan kantor tidak seperti biasanya sepi.
Aldin berjalan menuju lorong yang menghubungkan dengan gudang. Tiba di sana, dia berdiri di muka pintu di sambut Dion salah satu pekerja bagian gudang, yang tugasnya mengatur letak kayu sesuai jenisnya.
"Yon, bagaimana, aman?"
"Siap, aman, Pak. Untuk jenis kayu dan jumlahnya sesuai dengan laporan yang ada," lapor Dion membuat Aldin lega.
"Ohhh, Ok. Saya ke bagian pengeluaran barang dulu, ya." Aldin pamit dan menuju ke bagian pengeluaran barang.
Tiba di sana, Aldin tidak mendapati Wira di mejanya, kemudian Aldin berkeliling melihat kayu-kayu yang sudah siap akan dikirimkan ke luar daerah. Namun saat kakinya semakin masuk ke dalam ruangan penyimpanan, Aldin mendengar suara orang yang sedang ngobrol. Perlahan Aldin mendekati arah suara itu. Dan di sana Aldin mendapati Wira dan Doni sepertinya sedang berbicara dengan serius. Tanpa bermaksud menguping, tiba-tiba Aldin menghentikan langkahnya saat mendengar Doni berbicara yang seakan penting seraya memperlihatkan sebuah kertas bermap.
"Lakukan saja tugas dari Mbak Shera, aku saja terpaksa melakukannya. Kalau tidak, aku terancam dikeluarkan dari perusahaan ini."
"Apa yang mereka bicarakan? Shera? Mengancam? Jadi selama ini yang bermain curang di belakangku adalah Shera dan orang-orang ini?" Hati Aldin tiba-tiba bergemuruh marah, ingin rasanya dia melabrak dua orang di depannya kini. Namun Aldin tahan dulu untuk mengetahui langkah yang harus diambil ke depannya seperti apa. Aldin akan menyelidikinya secara diam-diam. Aldin tidak menggertak atau melakukan apapun terhadap Wira dan Doni. Yang jelas, dengan sigap dia telah menyimpan bukti rekaman obrolan Wira dan Doni. Biarlah ini jadi bukti yang akan dikumpulkannya dulu untuk penyelidikan selanjutnya.
Aldin kembali ke depan ke tempat dimana Dion berjaga. "Yon, apakah selama ini tidak ada hal yang mencurigakan?"
Dion mengkerut mencerna arah pembicaraan Bosnya.
"Maksud Bapak?"
"Ada hal lain yang ganjil, tidak, menurut kamu?"
__ADS_1
Dion diam seakan sedang berpikir. "Emmm, saya tidak ingin menyimpulkan, Pak. Hanya saja, sudah tiga kali Bu Shera kepergok mendatangi gudang, khususnya ruangan Wira. Saya pikir Bu Shera ada hubungan khusus dengan Wira, itu makanya saya tidak ambil pusing," jelas Dion seadanya.
Aldin mengangguk mencoba memahami penjelasan Dion dengan mencoba menghubung-hubungkan obrolan Wira sama Doni tadi.
"Ok, deh, Yon. Lanjutkan kerjamu. Kerja yang baik dan jujur." Aldin berlalu menyimpan tanya di hati Dion. Namun Dion tidak ambil pusing, dia kembali dengan pekerjaannya.
Aldin kembali ke ruangannya, saat akan membelokkan tubuhnya, dari arah berlawanan muncul Rifki sang Asisten. "Pak Aldin, rupanya sudah datang. Kenapa tidak memberitahu saya?"
"Tidak semua kedatanganku harus laporan sama kamu, kan, Rif?"
"Apakah Pak Aldin butuh kopi, kayaknya mukanya mumet begitu?"
"Bawakan ke ruanganku, aku tunggu. Sekalian ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Rifki segera berlalu memenuhi permintaan Aldin sang Bos.
Tidak berapa lama, Rifki masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. "Masuk!" titah Aldin. Rifki masuk dengan satu cangkir kopi latte favorit Aldin. Sejenak Rifki melihat ruangan Bosnya yang penuh dengan asap. Rifki bisa menebak Bosnya sedang menghadapi masalah.
Rifki meletakkan kopi latte di samping meja Aldin. "Silahkan, Pak!"
Aldin mematikan puntung rokok dengan menekan ke dalam asbak. Perlahan asap rokok mulai hilang dan berkurang.
"Bagaimana, Rif, apakah penemuan kamu bisa dijadikan bukti?"
"Tapi ... saya belum bisa menyimpulkan apa-apa, Pak. Hanya kecurigaan saja, tapi belum menemukan bukti apa-apa," sahut Rifki menyayangkan.
"Dion hanya memberikan kesimpulan bahwa Shera ada hubungan khusus dengan Wira, sebab Shera pernah ketahuan mendatangi gudang." Aldin bersuara.
"Apa perlu saya selidiki langsung pada Wira dan Doni, Pak? Kalau mereka tidak mau jujur, maka saya akan bergerak cepat."
"Jangan dulu, Rif. Aku mau tahu sampai di mana loyalitas mereka, dan siapa sebenarnya yang mereka takuti, Shera atau ada orang lain lagi yang ikut campur masalah penggelapan dana ini. Sementara kita biarkan dulu," pungkas Aldin sambil menyeruput kopi lattenya.
"Rif, titip dulu ya, aku ke resto Kakak aku dulu, ada hal lain yang harus aku urus di sana." Aldin berpamitan pada Rifki.
__ADS_1
"Jika ada klien, kamu hadapi dulu," Sambungnya sambil beranjak.
"Siap, Pak!"