
Nita menggigil kedinginan, bibir nya sangat pucat. Aku segera menggendong nya, membawa nya ke kamar emak. Sepanjang jalan Nita menggigau tak jelas. Aku takut setengah mati. Aku takut terjadi sesuatu pada Nita. Kulit tangan nya yang melingkar di leher ku terasa sangat dingin.
Ku abaikan tubuh ku yang sebenarnya sangat letih. Aku paksakan kaki ku untuk terus melangkah. Membawa Nita ke tempat emak untuk segera mendapat perawatan.
Aku segera bergegas menuju kamar emak, emak langsung terbangun saat kami datang. Doni terlihat sudah tidur nyenyak. Kompres nya pun sudah dilepaskan dari keningnya.
"Nita... untunglah kamu ketemu nak..." Emak membantu menurunkan Nita dari gendongan ku dan segera membaringkan nya di kasur ekstra. Badan Nita masih terlihat menggigil. Emak langsung mengompres Nita, dan menyuruh Nita meminum parasetamol yang tadi ku beli. Rupa nya Nita masih cukup sadar. Ia berbisik pada emak.
"Mak... Nita lapar." Kata nya perlahan.
Emak langsung mendudukkan Nita, dan menyuapi makanan. Baru dua sendok dimakan nya, Nita protes kalau makanan yang dimakannya terasa pahit. Emak dengan sabar memberi pengertian pada Nita agar tetap mau makan, makanan nya.
Aku sudah terlalu capek, badan dan kaki ku terasa pegal. Juga perut ku terasa tidak nyaman. Aku memutuskan berbaring di samping Doni. Tak berapa lama aku tertidur lelap.
Emak membangunkan ku saat sarapan diantarkan ke kamar kami.
"An... bangun, sarapan dulu nak. Supaya kamu gak sakit." Kata emak seraya membukakan nasi kotak untuk ku.
"Mak... Ana belum mandi, belum cuci muka." Kata ku menolak nasi kotak yang disodorkan emak. Sebenar nya aku tidak bernafsu sama sekali. Mulut ku rasanya pahit dan rasa mual terus menggelitik perut ku.
"Ya udah cuci muka saja dulu, setelah itu langsung makan. Mumpung nasinya masih hangat jangan dibiarkan dingin nanti gak kemakan." Kata emak mengingat kan.
Aku mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi yang cukup sempit. Aku hanya mencuci muka, karena belum punya peralatan mandi. Aku berencana segera membelinya pagi ini. Supaya emak dan adik- adik ku juga bisa mandi.
"Gimana Nita dan Doni Mak?" Tanya ku sekembali dari kamar mandi. Sejak tadi aku melihat Doni dan Nita belum bangun juga.
"Demam mereka sudah sembuh, biarkan saja mereka beristirahat dulu untuk memulihkan keadaan nya. Lagian mereka belum pernah naik kapal laut sebelumnya, emak takut Doni dan Nita mabuk perjalanan." Aku mengangguki kata- kata emak, dan segera memakan jatah nasi kotak ku.
Rasa nya aku ingin memuntahkan makanan ku. Semua terasa sangat asin dan pahit. Apakah memang seperti ini rasanya?
"Mak, sayur emak asin gak?" Tanya ku mencari tahu.
"Enggak Ra... makanan emak enak banget. Sini cobain, emak suapi." Aku membuka mulut ku menerima suapan emak. Rasa nya sama, sangat asin dan pahit.
Sepertinya tubuh ku yang salah. Apakah ini tanda- tanda kalau aku akan jatuh sakit? Tidak, aku tidak mau sakit sekarang. Aku harus cepat sehat. Aku tidak mau menyusahkan emak. Bagaimana mungkin emak akan merawat kami bertiga? Kesadaran itu membulat kan tekat ku untuk menghabiskan jatah makan ku.
Tak berapa lama setelah makanan yang ku telan turun menuju lambung. Tiba- tiba rasa mual seketika menyerang ku. Aku pun lari menuju kamar mandi. Rasa mual tak dapat ku tahan, hingga isi perut ku terkuras habis. Menyisakan muntahan terakhir, sebentuk cairan kuning terasa sangat pahit.
Badan ku terhuyung lemah. Kepala ku terasa sangat pusing. Inilah akhirnya, aku jatuh sakit. Mungkin mag ku kambuh lagi.
"An.... kamu kenapa nak? Buka pintu nya. Ini emak bawakan minyak kayu putih." Suara emak dari balik pintu, menyadarkan ku. Aku membuka pintu memberi jalan buat emak untuk bisa membantu memijat kening ku yang pusing. Emak juga membantu mengoleskan minyak kayu putih di perut, punggung dan juga pelipis ku.
"Mak... Ana mau baring aja. Ana pusing banget mak." Aku sudah tidak tahan dengan rasa pening dikepala ku. Aku takut jatuh pingsan, jadi aku harus segera berbaring di tempat tidur.
"Ayo An, pelan- pelan. Pegangan pada bahu emak." Emak memapah ku menuju tempat tidur. Rasanya lega bisa berbaring di kasur.
Saat sakit begini, rasanya sangat tidak nyaman. Apa lagi pada masa pelarian seperti ini. Bagaimana kalau kami nanti tertangkap. Dan orang- orang jahat itu menyakiti kami? Atau bahkan menghabisi nyawa kami? Tidak... aku tidak mau hal itu terjadi pada kami. Aku harus cepat sehat, supaya bisa pergi sejauh mungkin dari jangkauan Angga dan mama Sherly.
__ADS_1
Namun apa daya, saat ini aku hanya bisa terkapar pasrah karena sakit ku.
"Udah An... jangan terlalu banyak pikiran. Percayalah Allah pasti menolong dan melindungi kita." Kata- kata emak membuat ku lebih tenang. Aku mulai memejamkan mata ku. Berusaha melupakan rasa mual yang kadang masih juga datang mengganggu ku.
Aku merasakan di perut ku menempel sesuatu yang hangat. Membuat ku merasa nyaman dan akupun jatuh tertidur.
Tidur nyenyak dengan mimpi yang aneh. Ada sebuah bola kecil memantul, semain lama pantulannya semakin tinggi dan bolanya semakin besar. Aku seperti mendengar suara- suara yang menggema. Dan tiba- tiba saja bola besar itu memantul dan mengenai ku. Hingga aku tertindih bola raksasa itu.
Seketika aku terbangun. Nita dan Doni duduk di dekat tempat tidur ku.
Mereka berteriak bahagia saat melihat aku mulai bangun dari tidur ku.
"Akhirnya kak Ana bangun. Kak, emak tadi keluar katanya mau beli sesuatu. Kakak mau minum ya?" Tawar adek ku Nita. Sembari ia mengambilkan ku sebotol air mineral.
"Kak minum dulu." Nita tidak menyerah pada penolakan ku. Dan kali ini membuat ku tidak tega melihat Nita menunggu.
Aku pun menerima air mineral itu dan langsung meminumnya.
Badan ku rasanya dingin menggigil. terlebih saat ada sesuatu yang basah menempel di dahi ku. Hampir saja ku buang. Namun saat ku lihat, itu adalah kain kompres, maka kubiarkan saja.
Ya, ternyata sekarang giliran ku sakit. Aku pasrah dengan keadaan ini. Aku akan gunakan waktu untuk benar- benar istirahat. Sebelum kapal bersandar di pelabuhan.
Doni dan Nita dengan telaten merawat ku. Aku sangat bersyukur, meskipun dalam keadaan terpuruk seperti ini. Kami masih bisa bersama untuk saling menguatkan satu sama lain. Air mata ku tiba- tiba mengalir begitu saja. Aku masih belum bisa menerima mengapa nasip kami seburuk ini. Dan semua ini gara- gara aku.
Apakah aku penyebab segala kemalangan ini? Mulai saat kami diusir dari kontrakan, gara- gara kebodohan ku. Hadir nya Angga dalam hidup ku, juga gara- gara kecerobohan ku. Kami nyaris mati tenggelam, gara- gara kebencian mama Sherly pada ku. Dan kami yang harus menjadi pelarian seumur hidup, juga gara- gara aku.
"Nita, apa yang terjadi pada mu tadi malam dek? Kami sangat cemas mencari mu dek." Kata ku sambil melihat manik matanya yang sudah mulai berbinar.
"Aku lihat kok saat kakak, emak dan Doni mencari ku. Aku mengikut di belakang." Kata Nita gembira.
"Kenapa kamu diam aja Nit? Padahal kami sampai ketakutan tidak dapat menemukan mu!" Kata ku mengeram marah.
"Kakak jangan marah dulu, biar Nita cerita ya. Oke!" Kata- kata Nita spontan membuat ku terdiam. Selama ini aku menganggap Nita adik ku masih kecil dan sering kuomeli untuk segala kesalahan nya. Kali ini kebalikan nya, gantian aku yang terdiam kena omelannya.
"Waktu aku terjatuh, aku melihat ada seorang pria yang dengan sengaja membuka pintu kapal. Ia juga membiarkan mobil box kita tanpa pengaman. Nita menyadari kalau pria itu sengaja membuat mobil kita tenggelam. Aku sudah ingin memberi tahu kakak, namun saat aku lihat kakak, emak dan Doni keluar dari mobil box membuat aku lega. Tapi saat aku mau mendekati kakak, si pria jahat itu berjalan dekat ke arah ku. Jadi nya aku sembunyi. Trus, waktu aku cari kakak dan emak sudah tidak ada lagi. Aku mencoba mencari kemana- mana tapi tidak ketemu. Tubuh ku terasa dingin banget dan kepala ku pusing. Jadinya aku sembunyi di bawah tangga. Syukurlah saat aku membuka mata, kakak sudah menggendong ku." Cerita Nita panjang lebar. Membuat ku merasa kagum pada nya.
"Syukurlah Nit... kamu tidak apa- apa ya dek," kata ku penuh syukur.
"Iya, kakak sekarang istirahat saja. Oh ya apakah air dalam botol sudah dingin? sini biar Nita ganti dengan yang baru." Kata Nita sambil menunjuk ke arah perut ku. Langsung membuat ku menyadari. Rupanya botol itu yang membuat perut ku merasa lebih baik sekarang. Aku mengambil botol dari balik baju ku.
Sempat kaget, karena yang dipakai untuk kompres perut ku ternyata botol vodka. Tapi aku maklum mungkin hanya itulah botol yang berhasil ditemukan emak. Aku melihat kesekeliling ruangan kamar. Aku tidak melihat emak. Sementara Doni masih tidur nyenyak di kasur nya.
"Nit... emak ke mana?" Tanya ku meluapkan rasa penasaran ku.
"Emak pergi sebentar katanya mau beli perlengkapan mandi." Jawab Nita sambil sibuk mengisikan air panas dari dispenser ke dalam botol.
"Oh iya kak, tadi emak berpesan katanya kakak disuruh makan." Nita mengambil sebuah cup styrofoam dan mendekat kan kearah ku. Aku mengulurkan tangan untuk meraih cup itu. Tapi Nita tidak juga memberikannya pada ku.
__ADS_1
"Emak berpesan, kakak tidak boleh bangun dulu. Jadi biar Nita saja yang menyuapi kakak." Kata Nita sambil mencari tempat duduk dekat dengan ku. Ia menyuapi ku dengan telaten. Umur kami memang terpaut jauh. Namun hubungan kami sangat dekat sebagai kakak dan adik.
"Makasih ya dek..." Aku sangat bangga melihat adik ku yang sangat perhatian pada ku.
"Tringgg....." pengeras suara di kamar berbunyi. Mengagetkan ku juga membangunkan Doni yang sebelumnya sedang tertidur pulas.
"Perhatian buat seluruh penumpang, agar mempersiapkan barang bawaan nya. Dan segera menuju ke pintu keluar. Karena sebentar lagi kapal akan berlabuh di pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Kehilangan barang berharga tidak menjadi tanggung jawab kami. Trimakasih."
Pengeras suara berhenti bersuara. Namun membuat ku sangat bingung karena emak belum juga kembali ke kamar. Jangan- jangan ada sesuatu telah terjadi pada emak? Seketika kepanikan langsung menyergap pikiran ku. Bagaimana ini? Bagaimana kalau kami terpisah lagi?
Saat seperti ini aku harus tenang. Tidak boleh gegabah karena imbasnya akan teerjadi pada keselamatan kami semua.
Ku hirup udara banyak- banyak, aku pun segera bangkit dari tidur ku.
"Ayo... kita semua siap- siap, kita sudah sampai di tempat tujuan. Kita akan turun disini." Kata ku berusaha tetap tenang.
"Kak... Emak bagaimana?" Tanya Nita kebingungan dan terlihat sangat cemas. Membuat Doni ikut- ikutan cemas.
"Kita akan menunggu emak di pelabuhan." Kata ku dengan penuh keyakinan. Emak pasti bisa menjaga diri. Emak pasti baik- baik saja. Namun di hati kecil ku ada seberkas kecemasan yang ku tekan jauh ke dalam dasar nya. Aku mau menyugesti adik- adik ku agar mereka tidak mencemas kan emak.
"Tok...tok... tok..."
Suara ketukan pintu memberi ku sebuah harapan.
"Dek buka pintu nya, apakah itu emak?" perintah ku pada Nita yang masih duduk tercenung di pinggir ranjang ku.
Seorang pria nampak berdiri di depan pintu. Pria itu memakai seragam petugas kapal.
"Selamat siang dek, kapal sudah berlabuh. Harap segera keluar dari kamar, dan tolong diperiksa bawaan nya jangan sampai tertinggal." Kata pria itu mengingatkan.
"Iya, trimakasih sudah diberi tahu. Maaf kami ketiduran." Jawab ku memberi alasan.
Aku segera bersiap- siap dan mengajak adek- adek ku untuk keluar. Saat petugas itu meninggalkan kami.
Aku menghela nafas berat dalam hati aku bergumul. "Dimana emak? Ya Tuhan jangan pisahkan kami lagi." Doa ku dalam hati.
Meskipun kepala ku masih terasa berat karena rasa pusing kembali menyerang ku. Namun ku kuatkan diri. Aku tidak boleh sampai tumbang. Keselamatan adik- adik ku sekarang tergantung pada ku.
Kami pun berjejal- jejal bersama penumpang lain. Mengantri untuk keluar dari kapal. Baik aku dan dua adik ku berusaha mencari emak di tengah- tengah kerumunan penumpang.
Saat ada seorang wanita di depan ku memiliki ciri seperti emak, aku langsung menarik tangan adik- adik ku untuk berjalan lebih cepat. Berdesakan mencari jalan untuk mendekati wanita itu. Namun saat kami berhasil mendekatinya, kami kecewa.
Wanita itu bukan emak. Kami sudah keluar dari kapal, banyak kuli kapal dan calo angkutan menarik- narik penumpang lain. Hati ku gentar. Bagaimana kami bisa menghadapi mereka?
Nita mengambil alih, ia menerobos mencari jalan hingga kami keluar dari pelabuhan. Kami berhenti di pinggir jalan raya. Aku kebingungan. Bagaimana ini, kemana kami harus pergi? Bagaimana dengan emak? Dimanakah Emak, apakah sudah keluar dari kapal atau jangan- jangan masih tertinggal di dalam kapal.
Ya Tuhan... aku benar- benar putus asa. Tidak tahu harus berkata apa. Aku menangis dalam hati. Dan aku berdoa kepada Tuhan, agar kami bisa tetap bersatu.
__ADS_1
Beberapa lama kami duduk- duduk di trotoar yang ternaungi pohon akasia. Aku belum tahu apa yang harus kami lakukan. Jadi kami hanya menunggu, menanti keajaiban dari Tuhan. Tiba- tiba ada suara wanita memanggil kami, dari sebuah mobil.