Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Makan Malam


__ADS_3

Tidak berapa lama, Aldin tiba di restoran Sakti, kebetulan Sakti ada di sana.


"Al, bagaimana kabar Adrian Wood? Kusut banget wajahmu, Al?" tegur Sakti pada Aldin. Aldin tidak menjawab, dia menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan lesu.


"Ada apa sih, Al? Jangan bilang kamu baru putus cinta sedangkan pacar saja kamu tidak ada," tegur Sakti lagi diakhiri dengan sebuah ejekan.



"Sudah tahu Aldin tidak punya pacar masih saja kamu ejek," dengusnya kesal. Sakti menggeser duduknya mendekati Aldin, sang sepupu.


"Kalau bukan masalah pacar, lantas ada masalah apa sih, bro?" Sakti penasaran.


"Ada sedikit masalah di Adrian Wood," ujar Aldin akhirnya.


"Masalah, masalah apa?" Sakti semakin dilanda penasaran.


"Penggelapan dana?"


"Apa, penggelapan dana? Siapa yang kamu curigai?" Sakti terbelalak tidak percaya.


"Sementara ini masih diselidiki, aku dan Rifki belum bisa menyimpulkan. Kami masih mencari bukti kuat untuk menyeret tersangka utamanya," jelas Aldin.



"Kurang ajar, siapa yang berani berbuat curang pada Adrian Wood?" Sakti ikut emosi.


"Kuat dugaan ada keterlibatan orang dalam."

__ADS_1


"Orang dalam! Jika ada keterlibatan orang dalam, harusnya kalian bisa dengan cepat mengungkap dan menangkapnya."



"Kami bukan tidak bisa menangkapnya lebih cepat, Bro. Tapi semua perlu proses dan penyelidikan. Kalau asal tangkap tanpa penyelidikan, salah-salah bisa salah sasaran."



"Oke deh, aku setuju pendapatmu. Semoga bisa cepat terbongkar dalang di balik penggelapan dana itu. Mereka benar-benar orang yang tidak bertanggungjawab dan loyal. Jika kamu temukan siapa dalangnya, maka jangan diberi ampun, Al," sungut Sakti geram.



"Lihat saja apa yang bisa Aldin lakukan jika dikhianati!" pekiknya murka.




"Tidak Sak, aku bungkus saja. Daripada makan di sini bikin kuping panas mendengar ejekan recehanmu." Sakti tertawa mendengar ucapan Aldin.



"Masuklah ke dalam Al, pesanlah banyak-banyak buat makan kamu seminggu." Mendengar ejekan Sakti, Aldin segera ke dalam untuk memesan makanan untuk di bawa ke apartemen. Dia ingat Nara yang di apartemen belum makan.



Setelah memesan makanan di restoran Sakti yang tanpa bayar, lumayan sih kalau beli makanan di restoran saudara, bisa gratis tiap hari.

__ADS_1


Aldin segera beranjak dan pamit pada Sakti.


"Sak, aku pulang," pamit Aldin.


"Hati-hati, Bro!"


Aldin melajukan *Corolla Crossnya* dengan sedikit cepat menuju apartemennya. Dia khawatir Nara kelaparan.


Tiba di apartemen, Aldin mendapati Nara sedang melaksanakan sholat Isya. Aldin sedikit terperangah sekaligus bangga, rupanya gadis kecil ini rajin ibadah juga. Aldin merasa salut walaupun awalnya tidak percaya.


"Kak Aldin!" Tiba-tiba Nara menegur Aldin yang kebetulan sudah selesai melaksanakan sholat Isya. Aldin mendongak melihat ke arah Nara.



"Kak, Nara sudah selesaikan tugas dari Kak Aldin semuanya. Apakah sekarang Nara sudah boleh pulang?"



"Pulang, tugas kamu saja belum selesai."


"Tugas apa lagi, Kak?" Ini semua, kan sudah," dengus Nara sebal.


"Tugas kamu menemani aku makan malam, di sini. Ayaolah kita makan dulu aku sudah lapar. Apakah kamu tidak lapar juga?"


"Lapar sih, Kak."


"Ya sudah makanlah. Ambil piring di rak sana, kita akan makan aku sudah lapar," tukas Aldin jutek. Nara patuh dan segera mengambil piring dan menuangkan makanan ke dalam piringnya.

__ADS_1


__ADS_2