Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Aksi diam Mas Sakti


__ADS_3

"Masuk....!" ucap Mas Sakti yang telah membukakan pintu mobil. Aku masuk mengikuti perintahnya dan duduk dengan perasaan bersalah.


"Aduhh... bagaimana ini, kok Mas Sakti jadi marah begini?"


Deru mesin mobil mulai terdengar lalu mobil mundur dan keluar dari parkiran, Mas Sakti melajukan mobilnya keluar dari Supermarket besar tempat Nara bekerja. Aku diam menyadari Mas Sakti sedang mode marah.



Saat didiamkan begini, aku ingat Nara yang tadi ditinggalkan di food court. Aku harus segera menghubungi Nara, supaya Nara tidak salah paham.



"Mau telpon siapa? Simpan HPnya!" titahnya menatap tajam ke arahku lalu kembali fokus dengan kemudinya.


"Aduhhh... bagaimana ini. Nara sendirian di sana?" Aku menjadi salah tingkah karena kasihan pada Nara yang pastinya mencari aku.


Akhirnya karena Mas Sakti diam saja dan hanya fokus ke kemudi , aku menelungkupkan kepala di bantalan jok kemudian mencoba untuk tidur. Dan akhirnya benar-benar tidur. Sampai mobil tibapun aku tidak tahu.



Aku terbangun ketika sebuah tangan berusaha membangunkanku, menggoyangkan bahuku sedikit kencang.


__ADS_1


"Hoammm....!" Aku menggeliat dan masih menguap tanda masih ngantuk.


"Bangun... kita sudah sampai!" titah Mas Sakti membuyarkan rasa ngantukku.


Aku turun dari mobil tanpa bantuan Mas Sakti, lalu melihat sekeliling yang pemandangannya sungguh menyejukkan mata.



Kota *Dingin* dan di sinilah aku berada. Kota yang pernah aku tinggali pertama kali saat Mas Sakti membawa aku secara paksa sepulang dari Butik Delia. Keadaan Bungalow masih seperti pertama kali aku datang, asri dan bunga-bunganya semakin subur dan merekah.



"Mas....!" panggilku saat Mas Sakti meninggalkan aku. Aku menjadi bingung dengan sikap Mas Sakti yang tiba-tiba begitu. Akhirnya dengan langkah yang gontai aku mengikuti Mas Sakti.




Pukul 8 malam aku benar-benar terbangun dengan tubuh yang terasa vit, mungkin karena tadi tidur kelamaan tanpa gangguan. Bahkan saking marahnya entah gara-gara apa, Mas Sakti tidak berani menggangguku.



Tiba-tiba pintu kamar dibuka tanpa ucapan salam. Baru saat sudah masuk suara orang yang membuka pintu terdengar. "Non Nafa, diperintahkan Den Sakti untuk segera ke meja makan!" berita Bi Surti yang segera berbalik badan. Aku segera berdiri dan membuka pintu kamar, lalu menuju meja makan sesuai arahan Bi Surti.

__ADS_1



Di meja makan sudah ada Mas Sakti yang duduk gagah menunggu, menunjukkan kuasanya sebagai seorang kepala rumah tangga sekaligus raja yang harus selalu dipatuhi.



Aku duduk di sebrang Mas Sakti, namun Mas Sakti menatapku tajam dan memberi kode supaya aku pindah ke sampingnya. Aku perlahan berdiri dan berjalan menuju kursi di samping Mas Sakti, dan aku mendudukinya.



"Makanlah yang banyak, aku takut janin yang kamu kandung kenapa-kenapa," titahnya seraya mulai menuangkan nasi ke dalam piringnya disertai lauk yang lainnya. Akupun menuangkan nasi dan dan lauk ke dalam piringku.



Setelah makan malam, aku segera beranjak dan kembali ke kamar. Sementara Mas Sakti masih di meja makan dan mulai menyalakan korek api dan mulai merokok mengepul-ngepulkan asapnya ke udara.



Aku segera ke kamar mandi lalu membersih diri dan gosok gigi. Saat keluar dari kamar mandi, aku sempat terkejut karena melihat penampakan Mas Sakti yang sudah duduk di tepi ranjang dengan lampu kamar yang remang-remang.



Semakin mendekat jantungku semakin berdetak cepat, nafasku semakin memburu. Tiba-tiba tangan Mas Sakti meraih pinggangku lalu memelanting tubuhku sehingga terbaring sempurna di ranjang. Mas Sakti diam tanpa basa basi, namun aksinya sangat cepat. Adegan selanjutnya yaaa silahkan imajinasi sendiri.

__ADS_1


__ADS_2