Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Tanpa Identitas


__ADS_3

Seketika kami menoleh ke arah suara. "Emak..." kata kami serempak. Mobil itu berhenti tepat di depan kami.


"Ana, Nita, Doni... ayo cepat masuk!" Perintah emak mendesak, agar kami bersegera masuk ke dalam mobil. Masih dengan ketidak percayaan, kami pun masuk ke dalam mobil.


Setelah beberapa waktu mendengar cerita emak. Barulah aku tahu kalau mobil itu sengaja dirental emak untuk perjalanan kami selanjut nya. Menuju ke sebuah tempat yang belum pernah kami tahu.


"Kita kemana Mak?" Tanya ku penasaran. Karena kelihatannya emak sudah punya sebuah rencana buat kami.


"Kita akan ke Batu Licin, di sana kita akan berladang. Menanam singkong dan sayuran." Kata emak mantap. Padahal aku tahunya emak bukan lah seorang petani. Apakah kami bisa bertahan hidup di sana? Entahlah... semoga saja ada jalan untuk kami di sana. Yang terpenting kami bisa pergi sejauh mungkin dari mama Serly juga Angga. Itu saja tujuan ku satu- satu nya saat ini.


Tempat tujuan kami ternyata cukup jauh. Sudah hampir empat jam perjalanan, namun belum juga sampai di tujuan. Sopir travel menghentikan mobil nya di sebuah rumah makan sederhana. Rumah makan nya dibangun diatas sungai. Dinding- dinding nya terbuat dari papan. Juga lantainya pun terbuat dari kayu ulin. Kami pun mengikuti sang sopir memilih meja tersendiri untuk makan siang yang kesorean.


Emak memesan sup ikan patin, Doni memesan ayam goreng, Nita memesan ikan nila goreng. Sementara aku memesan ikan nila bakar. Baru kali ini aku makan ikan bakar yang lezat namun sayang nya nasi terasa karau. Kata pedagang nya, nasi kegemaran orang banjar memang berjenis beras karau. Semisal beras siam unus dan mutiara. Meskipun begitu aku tetap melahapnya.


Doni beberapa kali kesedak. Untung nya Emak langsung memberikan minum pada nya. Sehingga ia pun bisa melanjutkan makan nya kembali. Semua piring kami bersih ludes. Baik nasi, lauk, sayur juga sambal tak tersisa sedikit pun. Hanya tulang- tulang saja yang tertinggal. Mungkin karena kami memang sudah kelaparan.


Selesai makan, kami sempatkan berbelanja. Emak belanja peralatan kebersihan, peralatan masak, mulai dari kompor, panci, wajan penggorengan, piring, dan sendok. Juga dibelinya segala macam bumbu dapur, minyak goreng, gula, kopi, teh dan beras. Untunglah semua keperluan ada di pasar dekat rumah makan itu. Hingga kami tidak perlu mencari- cari ke tempat lain.


Tak ketinggalan, kami membeli beberapa potong pakaian juga dua buah matras juga seprei dan selimut. Saat melihat toko pertanian Emak langsung masuk dan membeli beberapa jenis benih sayuran. Kata nya untuk di tanamnya di halaman rumah nanti.


Aku hanya tersenyum melihat emak memilah- milah biji- biji apa saja yang akan dibelinya. Rupa nya emak kebingungan. Aku beri masukan agar emak membeli semuanya. Siapa tahu ditempat baru tidak ada toko pertanian. Ternyata nasehat ku diterimanya. Emak memborong semua jenis biji- bijian sayur dari semua jenis. Ada hampir dua puluh bungkus dibelinya.


Setelah dirasa semua keperluan sudah terbeli, kami pun melanjutkan perjalanan. Mobil Avansa itu penuh dengan barang- barang belanjaan kami. Membuat si sopir sedikit menggumam kesal. Namun toh ia membantu juga saat kami kesulitan mengaturnya dalam mobil.


Kali ini perjalanan kami cukup berat. Jalanan yang kami tempuh tak lagi beraspal. Hanya ada jalanan tanah berbatu, yang bergelombang di sana- sini. Si sopir dengan tidak sabaran membawa mobil dengan sembarangan. Hingga membuat kami tergoncang setiap kali mobil melewati lobang. Meskipun jalanan nya tidak bagus, ia terus melaju dengan kecepatan tinggi. Alasannya mengejar waktu supaya tidak kemalaman di jalan.


Terserah lah. Umpat ku dalam hati, saat nasehat ku untuk tidak ngebut diabaikannya. Membuat ku ingin merebut stir mobilnya. Namun itu hanya angan ku, karena kenyataan nya aku tidak bisa bawa mobil sama sekali.


Aku menyembunyikan kekesalan ku dengan memalingkan wajah melihat pemandangan di luar jendela mobil. Di kanan kiri jalan terhampar ladang karet dan sawit menghijau. Suasana asri yang menyejukkan mata. Membuat kekesalan ku sedikit terobati. Semakin jauh jalan yang kami tempuh, rumah penduduk semakin jarang.


Perjalanan baru berakhir setelah menempuh tiga jam perjalanan yang cukup berat. Ada sebuah perkampungan kecil. Tidak lebih dari dua puluh rumah papan. Tersebar cukup berjauhan. Emak memberi tahu pada sang sopir untuk berhenti di rumah yang ada pohon rambutan lebat di halaman depan nya.


Sebuah rumah papan bercat putih menjadi tujuan kami. Emak mengetuk pintu memastikan apakah tujuan nya sudah benar? Seorang Bapak yang sudah berumur lanjut namun tubuhnya terlihat masih bugar, keluar dari dalam rumah. Ia terlihat kaget.


"Cari siapa?" Katanya dengan logat jawa yang kental.


"Apa ini rumah pak Sugeng?" Tanya emak.


"Ya... saya sendiri." Jawab pak Sugeng dengan masih keheranan. Ia mengamati kami satu persatu, mungkin sedang mengingat- ingat apakah kami ini keluarganya yang sudah lama tak bertemu?


"Gini pak, Perkenalkan nama saya Romlah, saya dapat alamat bapak dari pak Wawan sopir truk. Katanya ada rumah bapak yang mau disewakan?" Tanya emak mengkonfirmasi info yang didapatnya saat di kapal.


"Iya... ada, tapi... rumah nya sangat sederhana." Kata pak Sugeng ragu.

__ADS_1


"Tidak apa- apa pak, yang penting kami ada tempat bernaung." Jawab emak gembira.


"Rumah nya di ujung jalan, ayo saya antar untuk melihatnya." Kata pak Sugeng sambil beranjak dari tempatnya berdiri.


Ia mengantar kami ke rumah yang dimaksud. Sebuah rumah kayu papan hampir serupa dengan rumah pak Sugeng. Di halaman depannya dikelilingi pagar bambu.


Sepertinya rumah itu sudah lama tak berpenghuni. Terlihat dari semak rumput yang tumbuh subuh dihalaman rumah. Juga saat pintu rumah dibuka, banyak sarang laba- laba di dinding dan plapon juga debu tebal menempel di lantai kayu.


"Ini rumah anak ku. Setelah mendapat pekerjaan bagus di perusahaan, mereka pindah ke komplek perusahaan. Jadi nya rumah ini telantar, tidak ada yang menempati. Kalau kalian mau tinggal disini, tidak usah membayar. Asalkan rumah ini dibersihkan dan dijaga itu sudah lebih dari cukup buat saya." Kata pak Sugeng dengan luapan kebahagiaan.


"Kalau begitu... trimakasih banyak Pak buat bantuannya. Memperbolehkan kami menempati rumah ini. Kami akan membersihkan nya dan malam ini kami akan mulai menempatinya." Emak sangat senang mendapat rumah sekaligus tanpa harus membayar uang sewa.


"An.. suruh sopirnya bawa barang- barang ke sini. Kita akan segera membersihkan rumah supaya bisa cepat beristirahat!" Perintah emak pada ku. Aku segera berlari ke rumah pak Sugeng dan menyampaikan perintah emak.


Si sopir yang sedang santai minum kopi ditemani istri pak Sugeng segera minta diri. Ia mengendarai mobil nya dan membawa nya ke rumah kami.


Tak berapa lama, semua barang dapat kami turunkan. Semua barang untuk sementara kami tumpuk di teras. Setelah si sopir mendapat bayaran nya, ia melanjutkan perjalanan nya kembali ke kota.


Pak Sugeng masih penasaran dengan kami, Ia bertanya banyak hal. Membuat kami sedikit merasa was- was dan takut. "Kalian ke sini tanpa ada suami?" Tanya nya tidak percaya.


"Iya pak... beberapa tahun lalu suami ku meninggal. Sementara Ana, anak sulung saya menikahi pria yang tidak benar. Suami nya suka memukul, itulah sebabnya saat ada kesempatan kami melarikan diri ke sini. Menantu saya itu tak segan mengancam saya juga adik- adik Ana. Sampai kami tidak sempat membawa apapun, bahkan kartu pengenal. Pak bisakah menolong kami agar bisa tinggal di sini?" Pinta emak dengan sangat.


"Baik lah saya akan bantu. Saya juga tetua di kampung ini. Nanti akan saya bantu membuatkan kartu identitas baru supaya anak- anak mu bisa kembali bersekolah dan Ana juga bisa cari pekerjaan yang bagus di perusahaan."


Kata- kata Pak Sugeng seperti air minum di padang gurun. Benar- benar menyejukkan hati kami.


"Iya sama- sama, kita hidup di perantauan ini memang harus saling tolong menolong." Kata Pak Sugeng lagi.


"Sebaik nya segera beres- beres, hari sudah semakin petang. Oh iya nanti saya antarkan lampu minyak. Di sini belum ada listrik, jadi hanya lampu minyak saja." Kata pak Sugeng.


"Iya pak.. terimakasih." Kata kami serentak.


Emak segera membagi tugas pada kami. Supaya acara beres- beres rumah cepat selesai.


"Ana tugas mu sapu lantai, dulukan dapur. Nita sikat lantai. Doni bantu emak membersihkan kamar mandi." Kami segera mengerjakan tugas masing- masing sehingga pekerjaan kami selesai dengan cepat. Emak membersihkan kamar mandi dan memasak nasi dengan kompor minyak yang baru dibelinya tadi.


Di rumah papan ini ada dua buah kamar yang bisa kami pakai. Emak sekamar dengan adik bungsu ku Doni dan Aku sekamar dengan Nita. Untunglah ada lemari kayu di setiap kamar jadi kami bisa menyimpan baju yang tidak terlalu banyak ke dalam nya.


Pekerjaan sudah selesai, kami bergiliran mandi. Karena kamar mandinya hanya berdinding anyaman yang sudah banyak lobang nya, aku dan Nita bergantian berjaga. Saat aku mandi, Nita berjaga di luar dan sebaliknya.


Semua sudah mandi, rumah sudah bersih dan makanan juga sudah siap. Kami pun makan bersama. Nasi putih dengan lauk ikan asin dan sambal. Rasa nya sangat lezat. Air mata ku seketika menitik di ujung mata ku. Sampai kapan kesulitan hidup akan terus kami alami?


"Ana... kepedesan ya?" Tegur emak saat melihat ku menangis. Aku hanya mengiyakan saja. Saat ini aku hanya bisa mensyukuri bahwa Tuhan masih memberikan kami hidup. Dan kami masih bisa berkumpul bersama keluarga ku yang ku cinta. Itu lah kebahagiaan ku terbesar.

__ADS_1


Baru saja kami selesai makan, Bu Sugeng mendatangi kami.


"Bu Romlah.. ini saya antarkan lampu minyak." Kata bu Sugeng sambil menyerahkan lampu itu pada emak.


"Trimakasih bu," Kata emak dengan penuh kebahagiaan. Semoga orang- orang di kampung ini bisa menerima kami dengan baik seperti keluarga pak Sugeng. Emak dan bu Sugeng berbincang- bincang ramah di teras depan.


Nita dengan cekatan mencuci piring dan perlengkapan masak. Sementara aku, menyimpan sisa makanan dan lauk di dalam lemari di dapur. Aku menyeduh teh untuk bu Sugeng, namun saat teh sudah mau kuantar ke depan bu Sugeng sudah pamit pulang.


"Minum aja An... Emak sudah terlalu kenyang habis makan." Kata emak menolak teh hangat yang ku berikan pada nya. Akhirnya teh itu ku berikan pada Nita dan Doni.


"Mak... Ana istirahat dulu ya.. rasanya ngantuk sekali." Pamit ku pada emak yang masih sibuk merapikan barang- barang di dapur.


"Iya An... istirahat saja." Jawab emak. Aku segera merebahkan tubuh ku yang terlalu lelah. Tidak perlu waktu lama aku pun tertidur pulas. Dalam tidur ku aku bermimpi bertemu Angga.


"Ana.. kenapa engkau meninggalkan ku An? Apakah kamu tidak tahu kalau aku mencari mu kemana- mana?"


Tanya Angga dalam mimpi ku. Tidak ada rasa takut atau pun benci. Yang ada dalam perasaan ku hanya rasa rindu yang menggebu.


"Ana... kenapa engkau diam saja? Engkau masih cinta pada ku kan?"


Desak Angga kembali. Lidah ku gagu. Aku hanya bisa diam, aku ingin menjerit menyatakan isi hati ku "Aku sangat merindukan mu Angga." Bisik ku lirih.


Angga mendekat, memberikan kecupan hangat di kening ku. Membuat tubuh ku serasa tersetrum.


Tangan nya berpatroli, memberikan sentuhan pada bagian- bagian tubuh ku yang sensitif. Kami pun saling mendekat dan bergelung sama- sama saling memberikan kepuasan. Hingga puncak kenikmatan itu berhasil kami dapatkan bersama. Tubuh ku melenting, keluar lenguhan kenikmatan dari bibir ku.


"Kak... kak Ana, bangun!" Suara Nita mengintrupsi mimpi basah ku.


Aku membuka mata, saat menyadari kalau peristiwa barusan hanya lah mimpi, membuat ku seketika kecewa.


"Maaf Nit... Kak Ana mimpi buruk." Kata ku malu. Aku melihat Nita sepertinya tidak bisa tidur, apakah ia tidak tertidur karena mendengar ku ngelindur saat tidur?


"Kak... Nita tidur sama emak aja ya. Kak Ana gak papa tidur sendiri?" Tanya Nita tiba- tiba.


"Nita gak mau tidur sama kakak?" Tanya ku heran.


"Nita gak bisa tidur kak." Kata Nita sedih. Mungkin karena seminggu ini Nita selalu tidur bersama emak. Jadi nya saat tidur bersama ku, ia tidak bisa tidur. Aku memakluminya.


"Ya Nit... gak papa." Ku biarkan Nita keluar dari kamar ku. Sekarang aku sendiri, Aku merutuki mimpi ku. Kenapa aku merindukan Angga? Seorang monster yang nyaris membunuh ku?


Tidak... apapun yang terjadi aku tidak akan pernah kembali pada nya. Namun tekat ku tidak sinkron dengan hati ku. Aku telah terlanjur jatuh cinta pada pria monster itu. "Tidak... tidak... akan ku bunuh cinta ku. Aku bukan Anarista yang lemah. Aku yang lama telah mati. Sekarang aku adalah Anarista baru yang akan menutup rapat- rapat hati ku pada pria manapun, terlebih Angga." Geram ku dalam bisikan.


***

__ADS_1


Di rumah mewah milik Angga. Tampak Angga mondar- mandir di dalam kamar nya. Ia terlihat sangat kesal dan gusar.


"Ana... kau di mana? Awas kalau aku berhasil menemukan mu! Aku akan menyiksa mu hingga kamu akan mencium kaki ku meminta ampun." Geram Angga penuh kemarahan.


__ADS_2