
POV Author
Kota Kaktus, di sinilah Nafa kini memulai usahanya. Terlebih Sakti, suaminya sangat mendukung dan memberi tempat untuknya membuka sebuah butik. Butik yang perlahan dirintis bekerjasama dengan Butik Delia ini menunjukkan perkembangan pesat.
Butik Delia khusus memesan eksklusif gaun malam yang dirancang Nafa. Butik Delia bukan tidak bisa mengeluarkan gaun semacam itu, namun sentuhan kreatif tangan Nafa mampu menjadikan gaun malam rancangannya digandrungi kaum muda. Nafa begitu bersemangat, meskipun dia saat ini sedang hamil, namun kegigihannya untuk maju dan mendirikan sebuah butik sangat besar.
Akhirnya seiring berjalannya waktu, butik yang dirintis Nafa, kini memiliki nama Naufara Butik, begitulah Nafa menamai butiknya. Butiknya yang kini perlahan-lahan mulai dilirik peminat dari berbagai kalangan, walaupun belum seramai butik Delia, namun itu semua tidak menjadikan Nafa patah semangat. Justru itu memicunya menjadi lebih bersemangat berkarya.
Kerjasamanya dengan Butik Delia ataupun Butik Syafana semakin erat. Terlebih kedua butik tersebut memasok gaun malam dari Naufara Butik. Tidak merasa ada saingan atau cemburu sosial di antara mereka, sebab semua kerjasama ini saling menguntungkan.
Raka yang menjadi Suplier kain di Butik Syafana maupun Delia, kini juga merambah menjadi Suplier kain di Naufara Butik. Sakti yang sudah luluh kini mengijinkan Raka untuk bekerjasama dengan istrinya, namun pengiriman kain tidak sering dilakukan Raka. Raka lebih mengutus bawahannya untuk mengirimkan kain ke Naufara Butik. Jadi kecemburuan Sakti kini tidak beralasan. Terlebih Raka kini semakin disibukkan dengan proyek barunya, yaitu membangun sebuah gudang kain di kota *Kaktus* yang skalanya besar. Dan, Raka kini menjadi Suplier yang sangat diperhitungkan di kancah perbutikkan. Hampir semua butik di kotanya maupun luar kota bekerjasama dengan Raka sebagai Supliernya.
"Assalamualaikum ... Nafa ....!" Nafa kedatangan tamu yang tidak asing lagi bagi Nafa, saat itu dia sedang berada di ruang penjahitan. Nafa segera menghentikan aktifitasnya dan menyambut tamunya.
"Nara ....!" pekiknya tidak menyangka. Kedua sahabat tersebut saling berpelukan menumpahkan rasa rindu yang lama tersimpan. Namun, kini keberadaan mereka semakin dekat karena satu kota.
"Hebat kamu Naf, sudah bisa mendirikan butik," puji Nara sembari melihat ke arah perut Nafa yang kini semakin membesar. "Perut kamu makin membesar, Naf. Kamu jangan terlalu kecapaian, istirahat sejenak jangan butik jadi prioritas utama," nasihat Nara nampak khawatir.
"Ah ... tidak cape kok, Nar. Lagipula aku cuma mendisain saja gaun yang akan dirancang, selebihnya cuma ngecek detail, kerapihan, dan jalan-jalan doang memeriksa barang yang kurang. Wanita hamil juga butuh jalan-jalan, Nar, jangan duduk saja," sanggah Nafa sambil tersenyum.
__ADS_1
"Bukan itu maksud aku Naf, tapi kan untuk memeriksa barang masih ada orang yang bisa kamu suruh, masalahnya debu kain itu tidak baik untuk kesehatan kamu dan bayi dalam perut kamu," ujar Nara gemas.
"Tenang saja, Nar, aku sudah antisipasi kok. Aku selalu menggunakan masker kalau ke ruangan produksi maupun ruangan pemasaran. Di ruangan aku saja aku pakai masker kok. Tapi, sekarang masa tenang bagi aku, para pegawai hanya tinggal menotong dan menjahit bahan serta memasang detail payet atau yang lainnya, tugasku hanya ngecek doang," tuturnya nampak berbinar.
"Syukurlah Naf, aku senang dengarnya. Aku tidak merasa khawatir sekarang," ungkap Nara pada sahabatnya tulus. Nafa yang mendengar Nara begitu perhatian, sangat terharu dan berkaca-kaca, sehingga tidak segan dia memeluk Nara sambil terisak.
"Nara ... makasih banyak ya kamu peduli sama aku, sudah baik dan selalu mendukung aku. Kamu sahabat yang tidak pernah lelah menghibur aku disaat aku sedih mendapat masalah. Kenapa sih kamu perhatian banget sama aku, padahal yang lain tidak begitu?" Nafa masih memeluk sahabatnya yang diiringi tangis haru.
"Aduuh ... jangan lebay deh Naf, aku kan sahabat sejati bukan sahabat yang mau makan hati, hahaha ....!" ujarnya diimbuhi tawa renyah. Nafapun ikut tertawa mendengar Nara berkata.
"Apaan sih Naf, kok Nyonya Aldin? Maksudnya Kak Aldin?" Nara heran. Nafa dengan cepat mengangguk sambil tersenyum yang bagi Nara itu senyuman yang aneh.
"Sudah jangan protes, aku ada rencana menjodohkan kamu sama Kak Aldin si pria dingin itu. Jadi mulai hari ini aku belajar dengan menyebut kamu Nyonya Aldin. Ucapan itu doa lho, jadi aku biasain dulu, supaya jadi doa yang terkabul," ucap Nafa seakan niat banget menjodohkan Nara dengan Aldin.
"Gegabah kamu Naf, jangan begitu dong. Aku tidak pantas bagi Kak Aldin, dia pasti punya selera tinggi, bukan seperti aku yang sederhana, yang hanya seorang kasir di sebuah mall," Nara merendah dan merasa tidak pantas dijodohkan dengan Aldin sepupu suaminya Nafa.
__ADS_1
"Apanya yang tidak pantas, kamu pantas kok. Kamu cantik dan baik, jadi Kak Aldin pantasnya didampingi cewek kayak kamu. Nggak neko-neko dan urakan," puji Nafa, lagi-lagi membuat hati Nara sangat malu.
"Kenapa sih malu-malu begitu Nar, orang Kak Aldinnya tidak di sini juga. Ohhh ... aku tahu, sebetulnya kamu malu karena kamu ada hati, namun kamu tidak PD dan merasa tidak pantas," celetuk Nafa lagi membuat Nara semakin malu dan mukanya memerah bak kepiting rebus.
"Husss ... sudah dong, Naf, gangguin akunya. Katanya kamu mau traktir aku di food court mall, jadi nggak?"
"Jadi dong, kalau begitu ayo kita pergi. Tapi sebentar, aku telpon Mas Sakti dulu meminta ijin," ucap Nafa sembari meraih HPnya dan menghubungi Sakti suaminya. Telepon terhubung dan Nafa diijinkan Sakti untuk jalan bersama Nara, mencari makan siang.
"Tapi Naf ... makannya jangan di food court mall tempat aku kerja, ya! Aku malas kalau harus bertemu Supervisor food court mall itu," tahan Nara.
"Lho, kenapa?"
"Aku tidak suka, sebab Supervisor itu kelihatannya menyukai aku, sedangkan dia sebentar lagi mau menikah. Bahkan dulu sering ketemu sama calon istrinya, mereka sering jalan berdua dan bahkan sekarang sudah mau menikah dan menyebar kartu undangan, tapi masih saja lirik-lirik perempuan lain. Kan kesal!" gerutu Nara nampak kesal. Nafa paham dengan sikap Nara, dia memang tidak suka didekati lelaki yang sudah beristri ataupun akan menikah, karena akan ribet urusannya, seperti yang pernah menimpa Nafa.
"Ok deh aku paham, Nar. Kamu menghindari apa yang terjadi sama aku lebih awal. Itu bagus Nar, jangan sampai kamu seperti aku, yang bahkan sampai saat ini aku merasa bahwa aku ini seorang pelakor, padahal kenyataannya bukan. Lebih parah lagi orang-orang sekitar ikut campur dan menghakimi keadaan aku. Bahkan cap pelakor malah terlanjur melekat pada diri aku." Nafa menunduk dan kini berubah sedih.
"Ya sudah deh Naf, jangan sedih begitu. Katanya kamu mau traktir aku. Karena obrolan kita tadi, kamu malah jadi sedih. Maaf, aku tidak bermaksud mengungkit masalah yang pernah terjadi sama kamu. Senyum dong ... mana nih yang mau mentraktir?" Nara mencoba mengalihkan perhatian Nafa yang tiba-tiba sedih. Nafa mendongak, wajahnya masih sedih.
"Gimana kalau kita ke mall yang dekat kampus Buana saja, di sana makanannya juga enak-enak," ucap Nara mengalihkan kesedihan Nafa. Dan akhirnya Nafa mau dan mulai tersenyum kembali.
__ADS_1
"Ok ... kita berangkat. Kita pesan grab dulu." Merekapun akhirnya berangkat dengan menaiki grab yang telah dipesan Nafa menuju mall yang dituju.