Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Pindah Rumah dan Hukuman Mas Sakti


__ADS_3

Aku dan Mas Sakti terperanjat melihat Bu Sukma dan Wa Rasih datang dengan rasa penasaran. Segera kami berdua membenahi posisi kami, Mas Sakti bangkit dan akupun sama.



"Mama....!" Bu Sukma tersenyum seketika, seakan merasa bahagia melihat keadaan kami barusan. Padahal itu gara-gara Mas Sakti yang tadi menggelitik aku sampai aku ambruk di ranjang.



"Ayo... apakah kalian akan bengong disana dan mencari alasan kenapa kalian tadi di dalam sana?" ucap Bu Sukma diiringi senyum. Aku segera mendahului Mas Sakti keluar kamar, namun rasa malu di depan Bu Sukma tidak mampu aku sembunyikan, wajahku merona merah bak tomat ceri. Mas Sakti ikut berdiri seraya meraih tanganku. Dan kami keluar kamar dengan berpegangan tangan.



"Sekarang, apa keputusan kalian? Mama rasa kalian sudah baikan."


"Nafa, bersedia diajak pulang Ma. Tapi, dia masih ingin bekerja di butik ini," ujar Mas Sakti.


"Itu tidak masalah selama kandungan kamu baik-baik saja. Asal jangan memaksakan. Jika kamu tidak kuat, lebih baik tidak usah bekerja. Biar Sakti yang bekerja."


"Tidak, Bu...! Nafa masih ingin bekerja, sebab selain ini pekerjaan Nafa, Nafa sekalian menyalurkan hobi dan kemampuan Nafa di bidang fashion."



"Wahh... ini semua gaun rancanganmu, sayang?" Bu Sukma melihat kagum dengan gaun hasil rancanganku yang kebetulan masih berada di Mess dan belum dipajang di butik.


"Iya, Bu."


"Sayang... jangan panggil saya Ibu terus dong. Mulai sekarang, kamu panggil Mama," protes Bu Sukma.


"Tapi, Bu....!"


"Sudah... kamu harus terbiasa. Mama ini kan Mamamu juga."


"Baik, Ma....!" ucapku masih ragu.


"Jadi, gaun-gaun ini mau di kemanakan? Ini sungguh keren. Dan kamu, nampak seperti perancang profesional. Hasil rancangannya keren, detilnya juga Ok, sempurna. Hebat banget menantu Mama." Bu Sukma atau Mama mertuaku masih terpesona dengan gaun hasil rancanganku yang berada di Mess.



"Ini akan dipanjang besok di butik, Ma. Dan ini akan segera launching."


"Pantas ya, butik ini tiba-tiba terkenal. Beberapa bulan yang lalu butik ini tidak disebut oleh orang-orang, tapi semenjak ada kamu kayaknya butik ini makin dikenal orang."


"Mama bisa saja, butik ini bisa dikenal orang karena kesolidan semua pegawai butik, Ma. Bukan karena Nafa," tepisku merendah dan merasa malu.

__ADS_1


"Sayang... kamu itu merendah. Padahal hasil rancangan kamu ini OK. Dan ini pasti banyak anak muda yang berminat. Ini pasti sasarannya anak muda. Sebab gaun ini gaun malam yang modelnya kekinian dan anak muda banget. Mama kalau pakai ini pasti akan kelihatan muda, ya, hahahaha....!" ujar Mama diakhiri tawa, mungkin membayangkan jika Mama memakai gaun ini pasti jatuhnya seperti anak muda.



"Mama..., kalau Mama pakai gaun ini pasti banyak lelaki yang menginginkan Mama. Mama mau ganjen, ya?" Sergah Mas Sakti tidak suka.


"Tidaklah Sakti... Mama kan hanya bercanda. Cinta Mama buat Papa kamu tetap di sini," kata Mama sambil menunjuk dadanya.


"Terus ini bagaimana, Sayang? Kita sekarang harus segera pulang ke rumah Mama, nanti keburu siang. Mama takut Rafa keburu pulang dan mencari Mama."


"Iya, Ma. Nafa kemas-kemas dulu. Membereskan apa-apa yang harus dibawa."


Selesai mengemasi barang yang akan aku bawa ke rumah Mama mertuaku, yaitu Bu Sukma. Kami segera meninggalkan Mess yang sudah dua bulan ini aku tempati. Biarlah nanti setelah agak tenang, aku akan bicara pada Bu Delia bahwa aku sudah memiliki tempat tinggal.



Hanya kurang lebih 20 menit, kami sampai di rumah Mama Sukma. Mobil Mas Sakti memasuki gerbang bercat hijau. Setelah mobil terparkir sempurna. Kami satu persatu turun. Aku dibantu Mas Sakti turun dan dipapahnya layaknya orang sakit.



Ada rasa yang tidak biasa saat aku menginjakkan kaki di depan rumah Mama Sukma kali ini. Dulu aku datang kesini, tidak lain karena undangan Mama Sukma semata. Juga keinginan Rafa yang kata Mama Sukma selalu menginginkan ketemu aku. Tapi kini, aku datang kesini dengan status baru yaitu sebagai menantu Mama Sukma. Ada perasaan canggung yang tiba-tiba menyeruak dalam dada.




"Duduklah dulu sayang, kita makan siang dulu. Bi Nia sudah menyiapkan makanan di meja makan." Mas Sakti menahanku untuk makan siang bersama pertama kali dengan keluarga Mas Sakti. Aku nurut saja apa yang dikatakan Mas Sakti baru saja.



Makan siang kali ini tidak dihadiri Rafa anak Mas Sakti, sebab dia sedang bersekolah dan mungkin saja sebentar lagi akan pulang.



Benar saja, ketika kami setengah jam yang lalu menyudahi makan siang. Rafa, pulang dijemput Pak Supir.


"Assalamu'alaikum... Papa....!" ucapnya sedikit berteriak. Mas Sakti menangkap tubuh kecil Rafa kemudian diangkatnya. Mereka berdua sungguh pasangan ayah dan anak yang kompak dan serasi.


"Tante... ada Tante Nafa," teriak Rafa berontak dan melepaskan pelukan Mas Sakti, dia menuju kearahku dan merangkulku.


"Sayang, hati-hati... ada dede bayinya lho di perut Tante Nafa....!" peringat Mas Sakti khawatir.


"Bayi... Tante Nafa punya bayi?"

__ADS_1


"Sudah... sekarang Rafa ke kamar dulu ya, ganti baju dibantu Bi Nia. Lalu makan siang. Setelah itu Rafa harus bobo siang," peringat Mas Sakti lagi.



"Tapi... bobo siangnya boleh ditemani Tante Nafa, ya, Pah?" Rafa meminta.


"Kalau Tante Nafanya tidak keberatan, boleh-boleh saja."


"Sakti, bawalah dulu Nafa ke kamar. Mama rasa dia kelelahan."


"Baik, Ma. Tapi... nanti jika Rafa belum paham, Mama bantu Sakti jelaskan ya!" Mama Sukma mengangguk. Aku tahu apa yang dimaksud pembicaraan Mama Sukma dan Mas Sakti.


Aku dipapahnya menuju tangga, sebab kamar yang ditempati Mas Sakti berada di atas. Tiba di sebuah kamar bernuansa putih, mataku langsung disuguhkan berbagai toples asinan. Untuk siapakah ini?



"Masuklah sayang, jangan sungkan!" ujar Mas Sakti. "Asinan itu milik Mas, sebab entah kenapa sudah dua bulan ini Mas ingin sekali makan asinan sama rujak. Dan Mama merasa curiga. Sejak itulah Mas jujur tentang kamu dan kehamilanmu yang masih muda. Dan Mama sempat kaget mendengarnya," terangnya saat mataku melihat ke arah asinan yang berada di toples yang berjejer di meja, tanpa aku meminta penjelasan.



"Jadi... Mas Sakti ngidam?"


"Iya, sayang. Mas, kadang-kadang pagi sering mual-mual dan merasa tidak enak badan," terang Mas Sakti yang berhasil membuat aku tersenyum.


"Kenapa tersenyum?"


"Mas Sakti kena morning sickness. Jadi, Nafa yang hamilnya dan Mas Sakti yang mengalami ngidamnya."


"Senang banget kayaknya ya kamu mendengar suamimu ini mengalami ngidam? Awas ya, Mas kasih hukuman," ujar Mas Sakti seraya meraih pinggangku dan menjatuhkannya di ranjang. Tubuh aku dihimpitnya dengan Hati-hati. Aku merasa ketakutan, namun tidak kuasa menolak pesona yang diberikan wajah tampan di hadapanku ini.



"Mas, jangan...!" cegahku saat satu persatu di badanku berhasil dilucutinya.


"Ini hukuman. Lagipula Mas sudah lama memendam rasa rindu ini. Ayo sayang... Mas sudah tidak tahan," ucapnya berkabut gairah.


"Nanti ada Rafa, Mas!" Aku masih berusaha mencegah niat Mas Sakti, namun gagal. Tubuhku sudah dikuasainya. Dan bibirku sudah dibungkamnya penuh kelembutan.


"Sayang... boleh ya Papa nengok kamu, Papa sudah kangen ingin bertemu kamu!" ucap Mas Sakti sembari mengusap perutku sebelum melepas rasa rindunya yang dalam. Aku tidak bisa menolak lagi, lagipula aku memang mempunyai rasa rindu yang dalam juga pada Mas Sakti.



Dan siang ini, hukuman Mas Sakti dia jatuhkan padaku, yang hanya bisa pasrah menerima hukuman itu dengan rasa bahagia.

__ADS_1


"I love you, sayang!" bisiknya seraya bergerak cepat.


__ADS_2