Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Berpisah


__ADS_3

Aku hanya mengangguk lemah. Apakah mama Angga berbeda dengan anak nya? Ku lihat mama Angga cantik, kata- katanya lembut. Kenyataan itu membuat ku lebih tenang.


"Ana... maaf kan anak mama ya. Maafkan Angga, semua ini salah mama. Seandainya masa lalu bisa diperbaiki, mama ingin mengubah masa lalu Angga." Sejenak mama Angga mengambil nafas dalam.


"Almarhum papa Angga seorang tentara, ia sangat disiplin dan keras dalam mendidik Angga. Itulah sebabnya Angga menjadi seperti ini." Mama Angga menjeda ceritanya lagi. Kali ini raut mukanya terlihat sangat sedih dan kehilangan.


"Semasa kecil, papa nya sering menghajar Angga. Kau tahu kan, seorang tentara yang dapat tekanan di tempat tugas. Membawa masalah nya ke rumah. Dan yang jadi korban adalah istri dan anak nya. Itulah sebabnya Angga bertumbuh menjadi seorang yang arogan, pemarah dan sering lepas kendali. Ana, mama terus berusaha untuk mengobati masalah mental Angga. Berbagai macam terapi sudah tante lakukan untuk nya. Namun sampai sekarang belum membuahkan hasil. Malah sepertinya gangguan mental Angga semakin parah." Mama Angga menangis tersedu-sedu.


"Ana... mama gagal mendidik Angga. Mama sudah sangat putus asa. Tahun lalu Angga hampir membunuh tunangannya. Bersyukur mereka gagal bertunangan, sehingga Ratih tidak perlu menderita. Rupanya tanpa sepengetahuanku Angga menikahi mu. Membuat mama tidak bisa menghentikan kekejaman nya pada mu An..." Mama Angga, kembali terisak, ia membelai rambut ku dan mengecup dahi ku. Ada setitik air matanya jatuh mengenai pipi ku.


"Ana... apakah kamu mencintai Angga?" Tanya mama Sherly tiba- tiba. Membuat ku kebingungan untuk menjawabnya. Aku terdiam. Beberapa hari lalu aku memang jatuh cinta pada Angga yang memperlakukan ku dengan sangat baik. Tetapi setelah mengetahui kekejamannya pada ku, rasa cinta ku yang mulai tumbuh seketika layu. Menyisakan rasa sakit yang membuatku hanya bisa membenci Angga.


Aku menggeleng kuat- kuat. "Pernikahan kami hanya sebuah keterpaksaan," ucap ku putus asa. Aku merasa mama Sherly tersenyum tipis. Aku tidak mengerti arti senyumannya.


"Ana... kamu beruntung, setidaknya kamu bisa dengan mudah meninggalkan Angga. Kalau kau tetap bertahan disisinya, entah kegilaan apa lagi yang akan dilakukannya pada mu. Kalau engkau menganggap ku sebagai mama, kamu mau kan mendengar nasehat mama. Tinggalkan Angga. Ini untuk kebaikan mu. Mama tidak mau kamu mengalami nasib yang lebih buruk." Mama Sherly membelai rambut ku.


"Ma... bagaimana cara ku menjauhi Angga? Aku takut, dengan kekuasaannya ia akan dengan mudah menemukan ku. Juga ada emak dan adik- adik ku yang tidak ku tahu dimana mereka berada saat ini." Kata ku dengan keraguan yang tidak bisa ku sembunyikan.


"Mama akan membantu mu. Percayalah pada mama dan kamu akan bahagia hidup jauh dari gangguan Angga." Kata- kata mama Angga memberikan sebuah harapan buat ku.


"Tiga hari lagi, setelah kamu pulih, kamu dan keluarga mu akan ku kirim ke suatu tempat yang tidak akan dapat di temukan Angga. Sekarang kamu harus banyak istirahat. Agar tubuh mu cepat pulih dan siap melakukan perjalanan panjang." Mama Sherly kembali mencium kening ku, sebelum ia pergi meninggalkan ku sendiri.


Disini kembali aku sendiri, menatap langit- langit kamar. Mengingat semua kejadian yang ku alami beberapa waktu belakangan ini. Satu minggu terakhir ini hidup ku benar- benar seperti roller coaster. Ada saat hidup ku diangkat begitu tinggi dengan semua perhatian yang diberikan Angga pada ku. Dan serta merta dijatuh kan nya aku dengan kekejaman Angga yang hampir merenggut nyawa ku.


"Belum tidur non ?" sapa perawat saat masuk ke kamar ku. Ia segera memeriksa tekanan darah juga suhu tubuh. Semua normal. Perawat itu tersenyum pada ku.


"Tensi dan suhu sudah normal. Pemeriksaan darah tadi pagi juga sudah bagus. Banyak istirahat ya non." Perawat itu sudah akan pergi. Aku menahan nya, karena ada beberapa pertanyaan yang aku mau tanyakan pada perawat.


"Sust... berapa lama saya tidak sadarkan diri?" Tanya ku pada suster itu.


"Tiga hari non, Untunglah nona mendapat pertolongan tepat waktu." Jawab perawat itu.


"Selama tiga hari ini apa tuan Angga datang menengok ku?" Entahlah apa yang ku pikirkan. Meskipun aku benci pada perlakuan Angga pada ku. Aku masih mengharapkan Angga.

__ADS_1


"Hanya nyonya Sherly saja yang rutin menjenguk nona di sini." Kata si perawat.


"Apakah ini rumah bu Sherly?" Tanya ku memastikan.


"Ini villa punya nyonya Sherly di Bogor." Perawat itu kembali menjelaskan.


"Nona, saya ijin pergi dulu. Kalau saya berlama- lama di sini, nyonya bisa marah. Istirahat saja ya Non." Perawat itu segera pergi keluar dari kamar ku. Aku kembali sendiri dalam kesunyian. Rasanya tidak nyaman sendirian tanpa teman. Kamar ini tidak ada televisi untuk mengusir sepi. Terpaksa aku hanya berbaring dalam diam. Aku terlalu sibuk dengan pikiran mengembara tanpa tujuan.


Terdengar rintik- rintik hujan memainkan melodi indah. Membuat ku merasa nyaman dan tertidur pulas.


Pagi hari aku dikejutkan dengan sentuhan di tangan ku. Saat ku buka mata ternyata perawat sedang memeriksa tekanan darah ku. "Maaf membangunkan nona," Kata nya seketika saat melihat aku terbangun.


"Nggak papa... aku tidur sangat pulas semalaman." Kata ku berusaha membuat si perawat tidak terbebani dengan rasa bersalah.


"Nona, kenapa engkau berusaha bunuh diri?" Tanya si perawat sambil terus sibuk mempersiapkan keperluan ku. Pertanyaan si perawat membuat ku tertegun. Aku tidak pernah punya niatan bunuh diri. Mengapa aku harus melakukannya? Benarkah perawat ini tidak tahu kalau anak majikannya yang sudah berusaha membunuh ku? Ya, bisa jadi ini untuk menjaga nama baik Angga.


Aku hanya diam, tidak ingin menanggapinya. Aku takut salah ngomong.


Si gadis perawat memegang jemari tangan ku. Menyalurkan semangat pada ku. Aku hanya mengangguk. Aku tidak ingin meluruskan kesalah pahaman nya. Bagaimana pun Angga masih suami ku. Aku tidak ingin memburukkan nama nya.


"Nona, bagaimana kalau saya bantu membersihkan diri?" Kata si perawat menawarkan bantuan nya.


"Trimakasih, sepertinya aku harus belajar mandiri. Aku bisa mandi sendiri." Kata ku menolak tawaran bantuannya dengan halus.


"Baik lah... kalau nanti nona perlu bantuan, jangan segan memanggil saya. Tekan tombol merah. Saya pasti segera datang." Si perawat segera keluar kamar setelah menyimpan baju ganti ku di atas nakas.


Hari ini tubuh ku terasa segar. Aku berniat ke kamar mandi karena tadi kateter ku sudah di lepas. Semalam kabel- kabel yang tertempel di dada ku juga sudah di copot. Rasa nya seperti merasakan kebebasan.


Aku segera menurunkan kaki ku dari ranjang. Belum juga kaki ku menapak di lantai, seluruh tubuh ku bergetar. Kedua kaki ku kram dan mati rasa. Hampir saja aku terjatuh, untungnya kedua lengan ku sigap memegang pinggir ranjang.


Aku tidak menyangka, untuk turun dari ranjang saja perlu perjuangan keras. Kedua kaki ku masih terus gemetaran. Aku tidak boleh menyerah. Dengan sekuat tenaga ku langkahkan kaki ku perlahan. Dengan terus menguatkan pegangan pada tembok dan semua benda yang dapat ku pakai pegangan. Akhirnya aku berhasil sampai ke dalam kamar mandi.


Air mata ku serta merta tumpah membasahi ke dua belah pipi ku saat aku berhasil mencapai closet dan duduk diatasnya. Apakah ini suatu keberhasilan, saat aku tidak jadi mati di tangan Angga? Semua uneg- uneg yang selama ini mengganjal dalam hati ku, ku tumpahkan semuanya. Berharap semua kepahitan ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir saat pagi datang menjemput.

__ADS_1


Pagi ini pertama kalinya aku merasa hidup ku sudah hancur. Kehancuran ini karena cinta ku telah dipermainkan Angga. Aku benar- benar terpuruk, sepertinya tidak ada harapan baru yang bisa ku raih kembali. Aku merutuki kebodohan ku. Aku terlalu naif, mempercayai seorang bos besar dengan mudah jatuh cinta pada ku? Mengapa cinta tidak pernah mau berpihak pada ku?


Beberapa lama aku hanyut dalam kesedihan. Aku mengguyur badan ku dengan air shower hangat. Ingin melarutkan segala kepedihan dan kekecewaan ku pada Angga. Ya ... aku bertekat untuk berpisah dengan Angga untuk selamanya. Aku akan segera minta cerai pada nya, agar aku bisa meniti hidup ku yang baru. Segera ku selesaikan mandi ku. Baju tidur ku basah kuyup tersiram air shower.


Saat ku buka pintu kamar mandi bersamaan suster juga berniat sama.


"Nona... mengapa baju nona basah kuyup?" tanya suster terkejut dan penuh kecemasan melihat betapa berantakan nya aku.


"Aku tidak apa- apa. Aku hanya tidak sabar karena kesulitan melepas baju." Kata ku berbohong pada nya.


"Mari nona, saya bantu untuk ganti baju." Kata nya sambil dengan cekatan membantu ku berganti baju.


"Nona Ana cantik sekali memakai gaun ini." Puji perawat itu saat selesai menggantikan bajuku dan mendandani ku.


"Trimakasih pujian nya," kata ku tulus.


"Kenapa nona tidak minta bantuan saat kesulitan di kamar mandi?" Tanya si perawat kembali mengintrogasi ku.


"Gak papa... aku hanya mau cepat pulih dan mandiri." Kata ku.


"Nona sudah cantik, segera makan ya non... tadi nyonya berpesan, sore ini nona akan berangkat. Sebisa mungkin, nona harus cukup makan dan istirahat." Nasehat suster itu pada ku. Aku hanya mengangguk.


Menu pagi sudah tersedia di meja, nasi dan sop ayam. Aku segera memakan menu sarapan pagi ku. Baru satu kali menelan, perut ku seketika terasa perih. Aku meringis kesakitan.


"Nona... cairan pembunuh serangga yang nona minum, membuat lambung dan saluran perncernaan nona luka. Itu lah sebabnya setiap ada makanan keras masuk dalam perut akan memicu rasa sakit. Untuk sementara nona harus benar- benar menjaga makan nona." Nasehat perawat itu pada ku.


Lagi- lagi membuat aku bingung. Aku tidak pernah minum racun serangga, bagaimana mungkin mereka menemukan racun di lambung ku? Jangan- jangan ini kerjaan Angga yang benar- benar ingin membunuhku? Apakah dia memberikan ku racun setelah aku tak sadar kan diri setelah ia tenggelamkan aku di bathup?


Aku tidak tahu pasti dan sebenarnya percuma juga aku mencari tahu. Yang pasti ini semua ulah Angga karena ia gangguan mental.


Aku kembali memakan nasi sup ayam, setelah rasa sakit di lambungku mereda. Suster itu hanya mengamati ku makan. Ia duduk di sofa memperhatikan ku.


"Nona, jaga kesehatan ya. Nanti di luar sana jangan makan sembarangan. Kalau bisa makan bubur aja, juga untuk kuah dan sayur nya jangan pakai bumbu yang berasa tajam, supaya lambung nona cepat sembuh." Pesan si perawat sungguh- sungguh. Aku mengangguk. Meskipun aku baru mengenal nya, juga ia tidak pernah mau menyebutkan nama nya. Aku merasa sudah akrab dengan si perawat. Gadis itu mungkin usia nya jauh di bawah usia ku. Namun ia terlihat sangat dewasa dan pandai merawat ku.

__ADS_1


__ADS_2