
Nara berontak seraya mendorong tubuh kokoh Aldin yang menindih tubuh rampingnya. "Kak Aldin, awas, Nara mau bangkit," teriak Nara saat dirinya tersadar dari *shocknya* tadi. Sepertinya Nara, tadi saat terpelanting dan kakinya bertaut pada kaki Aldin, shock dan panik sehingga membuat dia terkejut dan untuk beberapa saat tidak menyadari apa yang dirinya alami atau yang dirinya lakukan.
Aldin yang akan bangkit, merasakan sakit di kakinya yang berpaut dengan kaki Nara. Sementara kaki Aldin yang berpaut dengan kaki Nara, secara bersamaan membentur lantai terlebih dahulu. Sehingga Aldin mengalami sakit yang lumayan nyeri.
"Bagaimana aku mau bangun, kaki aku ini sakit, gadis kecil. Lagipula apa yang kamu bayangkan tadi sampai muka panikmu berubah manis seperti itu," protes sekaligus tudingan berhasil Aldin lontarkan untuk Nara. Sementara itu di saat yang bersamaan, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak yang tiba-tiba meronta mencari sarangnya.
"Shittt, kenapa ini bisa bangun?" umpatnya kesal sembari berusaha bangkit dari tubuh Nara. Perlahan Aldin bangkit dan menahan mata kakinya yang terasa sakit.
"*Kenapa tadi aku membayangkan bahwa Kak* *Aldin menciumku, dan itu seakan nyata*," batin Nara kesal pada dirinya.
"Dan, apakah ini yang menusuk-nusuk?"
Batin Nara merasa heranheran seraya melihat ke arah yang terasa menusuknya. Nara cukup tercengang dibuatnya setelah melihat apa sebetulnya yang menusuk itu. Dia pura-pura tidak tahu dengan apa yang dilihatnya barusan.
.
__ADS_1
Perlahan Aldin mengangkat tubuhnya dengan menahan sakit di sekitar betis ke bawah.
"Awww," ringisnya. Dan tubuh Aldin berhasil bangkit. Kemesraan tidak disengaja itu akhirnya usai seiring keduanya saling menyadari.
"Awww, gara-gara kamu kakiku jadi sakit." Aldin masih merutuk kesal, juga meringis kecil. Nara menunduk seakan merasa malu.
"Lagipula buat apa kamu berada di dapurku? Bukankan minuman sudah aku siapkan di kamar tadi?" Aldin berkata dengan sedikit ketus.
"Nara lapar, itu sebabnya Nara ke dapur. Tapi tidak menemukan makanan. Apakah Kak Aldin selama di gedung ini tidak pernah makan?
"Kamu lapar? Kalau begitu, segera selesaikan laporan keuangannya. Jangan berkhayal yang tidak-tidak!" tegasnya sambil menatap Nara garang. Nara kembali ke kamar dan membereskan map-map itu.
"Semua sudah Nara kerjakan, dan sekarang Nara ingin pulang. Tolong antarkan Nara pulang," pinta Nara seraya merapikan dandanannya.
__ADS_1
"Sebentar, aku harus memeriksa apakah hasil laporan keuangannya sudah benar atau masih salah."
Aldin memeriksa hasil laporan keuangan yang Nara buat, dan hasilnya benar-benar menakjubkan. Aldin benar-benar terpana dengan hasilnya tidak ada yang melenceng sedikitpun.
"Ayo bersiap-siap!" ajaknya membuat Nara tersentak. Aldin membawa Nara keluar dari apartemennya menuju lift.
Sepanjang jalan menuju parkiran mobil, Aldin memperhatikan Nara takjub. Selain cantik rupanya Nara cerdas. Aldin tersenyum penuh arti.
Singkat cerita mobil Aldin tiba di sebuah Cafe. Aldin mengajak Nara turun untuk mentraktirnya makan.
"Pesanlah makanan yang kamu suka, bukankah tadi kamu lapar?" ucap Aldin seraya memberi buku menu untuk dipilih Nara. Nara meraih buku menu dan dan memilih makanan yang akan dipesannya.
Sepuluh menit kemudian pesanan Aldin dan Nara siap, seorang pelayana mengantar pesanan mereka. Aldin dan Nara makan dalam diam, meskipun demikian Aldin masih sempat memperhatikan Nara yang baginya hari ini begitu cantik dan luar biasa, sebab Nara sudah bisa mengisi laporan keuangan perusahaannya dengan benar.
__ADS_1