Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Orang yang Ingin Mencelakai Nafa Masih POV Author


__ADS_3

Nafa keluar dari butik Syafana, diawasi Sakti yang kini mulai menyeberangi jalan dengan pakaian yang sudah diganti.



Nafa berhenti di tepi jalan seperti biasa, kini dia menunggu suaminya menjemput. Namun setelah mencari, rupanya mobil Sakti belum nampak. Terpaksa Nafa masih berdiri disana.



Nafa tidak sadar bahwa Sakti sebetulnya sudah berada di sekitar situ mengawasi dirinya. Namun Nafa tidak melihat Sakti.



Sakti mengutak-atik Hpnya lalu menghubungi nomer Nafa. Nafa segera mengangkat telpon, yang ternyata dari Sakti. "Assalamu'alaikum, Mas! Ohh.... Nafa nyebrang Mas? Ya sudah, tunggu di sana ya!" ucap Nafa mengakhiri teleponnya.



Nafa melihat kiri kanan jalan, setelah merasa aman dia mulai melangkahkan kakinya. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah....



"Cekittttt....!"

__ADS_1


Secepat kilat tubuh Nafa ditangkap sempurna oleh orang berperawakan tinggi menggunakan cadar. Nafas Nafa tersengal-sengal, detak jantungnya berdetak cepat. Sakti melihat dengan jelas mobil sekaligus nomor polisi yang tertera. Sudah merasa mengantongi informasi yang akurat dan jelas, Sakti tidak mengejar mobil itu karena percuma. Lebih baik sekarang dia menenangkan Nafa dulu yang panik.


"Bu... terimakasih banyak atas pertolongannya," ucap Nafa seraya menatap wajah wanita bercadar yang menolongnya. Wanita itu tidak menjawab, dia hanya memberi isyarat untuk menyebrang jalan. Nafa mengikuti wanita itu. Lalu tanpa basa basi, wanita itu membukakan pintu mobil dan memberi isyarat untuk masuk. Nafa masuk dengan raut wajah penasaran. Namun Nafa merasa kenal desa mobil yang kini dia naiki.



"Ini kan mobil Mas Sakti. Tapi kemana Mas Sakti?" Batin Nafa bertanya-tanya. Pintu samping tiba-tiba dibuka dan rupanya wanita tadi masuk. Dengan santainya wanita itu duduk di balik kemudi tanpa rasa canggung.



Nafa bengong tanpa ngomong. Dia melihat ke arah wanita tadi yang menolongnya.


"Mas Sakti....!" serunya.


"Iya, ini aku sayang....!" ucap wanita itu sembari membuka cadar yang menutup wajahnya. Nafa terbelalak tidak percaya. Rupanya yang memakai cadar adalah Sakti suaminya.



"Mas Sakti....?" kejutnya tidak percaya. Sakti membuka penutup wajahnya sembari tersenyum puas. "Jadi... yang nolong Nafa tadi bukan ibu-ibu bercadar?" Sakti mengangguk seraya mesem-mesem.


__ADS_1


"Kenapa Mas lakukan hal tadi? Padahal ini sangat membahayakan bagi Nafa dan janin Nafa?" tanya Nafa khawatir.



"Mas tahu sayang, tapi itu semua adalah sebuah jebakan buat orang yang ingin mencelakakan kamu."


"Mencelakakan Nafa, kenapa? Kok orang itu sadis? Memangnya orang itu siapa Mas?" Nafa. begitu penasaran.


"Mas masih menyelidikinya. Dan Mas akan ungkap dalam satu hari siapa orang yang ingin mencelakaimu," ujar Sakti seraya melanjukan perlahan mobilnya.



Tiba di halaman rumah, Sakti segera memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Nafa turun perlahan dari mobil yang baru Sakti parkirkan. Baru saja turun, tiba-tiba Nafa mendengar kasak kusuk orang-orang sedang membicarakannya.



"Oh... ini rupanya perempuan perusak rumah tangga orang itu. Tidak tahu malu ya, sesama perempuan masa tega menyakiti," umpat salah satu wanita berumur seray mendelik ke arah Nafa.


Nafa menatap bengong ke arah beberapa orang yang merupakan tetangga rumah Mama Sukma.


Nafa menarik nafasnya dalam. Terulang lagi, kisah dirinya yang dihina dan direndahkan sebagai pelakor oleh orang lain. Nafa seakan tidak menapak, tubuhnya terasa ringan tidak bernyawa, lalu tanpa disadarinya tubu Nafa ambruk dan terjatuh, untung ada Sakti yang memeluknya dan menahan bobot tubuhnya. Sepertinya Nafa tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2