
Mas Sakti tiba-tiba mendapatkan telpon dari seseorang, rupanya dari Kak Aldin. Entah apa yang dibicarakan, yang jelas nampaknya sangat penting.
"Iya, Al... Ok. Aku segera kesana." Mas Sakti segera menutup telponnya setelah merasa tidak ada hal penting lainnya dari Aldin.
"Sayang... Mas, harus pergi dulu, ada hal penting yang harus Mas selesaikan di kota Kaktus. Ini menyangkut kemajuan restoran yang Mas kelola disana. Rupanya ada investor yang ingin menanamkan modalnya di Rafasya Restoran. Restoran itu kini sedang dalam perluasan, karena pengunjungnya yang semakin banyak. Jadi progresnya ke depan semakin baik," jelas Mas Sakti dengan raut wajah yang sendu.
"Berapa lama, Mas?"
"Mungkin hanya dua hari. Dan kamu baik-baik ya disini. Besok jika mau ke butik, Mas sudah perintahkan Supirnya Mama untuk antar jemput kamu," sahut Mas Sakti lagi.
"Iya, Mas!" jawabku. Mas Sakti memelukku erat, seakan tidak rela jauh dariku. Baru saja bisa bersama di kota yang sama, tapi sudah ada kesibukan lain yang memaksa kami berpisah untuk sementara. Sorenya Mas Sakti pergi ke kota Kaktus yang mampu aku antar di depan pintu rumah. Ada rasa sedih ketika Mas Sakti akan pergi, namun aku tidak bisa berbaut apa-apa.
"Sayang... masuklah... biarkan Sakti pergi. Besok juga dia pulang," Mama membujuk dan mmembawa lenganku ke dalam.
"Tante... Rafa senang Tante ada di rumah Nene. Rafa senang jadi ada temannya. Tante jangan pergi lagi ya. Tante harus janji tinggal disini bersama Papa dan kita," rengeknmm333ya memelas. Aku mengangguk senang sambil menyambut tubuh bocah 6 tahun itu.
__ADS_1
Ada perasaan lega baru beberapa hari tinggal disini. Sambutan Mama dan Rafa membuat aku merasa lega dan mulai bisa beradaptasi.
Besoknya aku kembali bersiap-siap untuk pergi bekerja ke Butik Syafana. Supir yang dijanjikan Mama datang dan bersiap mengantar jemput aku ke butik Syafana.
"Ma... Nafa berangkat dulu ya....!" pamitku dengan masih malu-malu.
"Benar kamu mau bekerja, sayang? Apakah tidak apa-apa dengan kandunganmu? Mama khawatir dengan kandunganmu," ucap Mama nampak was-was.
"Tidak, Ma. Nafa tidak apa-apa. Ini juga sehat kok. Nanti kalau ada apa-apa, Nafa langsung hubungi Mama," ujarku menenangkan kekhawatiran Mama.
Tiba di butik, aku bekerja seperti biasanya. Gaun yang kemarin dititip di Mess, kini sudah terpajang. Etalase utama terpajang juga dengan gaun hasil rancanganku. Alangkah bahagianya hatiku, hasil karyaku dihargai dan banyak diminati banyak kalangan muda.
__ADS_1
Tiba saatnya jam istirahat, aku pamit pada Santi untuk istirahat di Mess.
"San, saya istirahat di Mess ya," ucapku memberitahu Santi.
"Ohh... ya udah Naf, istirahatlah," sahut Santi.
Aku keluar dari samping pintu butik. Namun baru beberapa langkah mau menuju Mess, aku seakan melihat bayangan dua orang yang aku kenal.
"Seperti... Mbak Meta dan ibunya.... " Dan aku segera melangkah menuju Mess untuk menghindari pertemuan dengan mereka jika benar itu mereka.
"Mbak Meta, mau apa dia ke butik ini? Apakah dia hanya berniat membeli gaun, atau sebenarnya sudah tahu aku disini?"
Aku merasa lelah pikiran dan hati. Sejenak aku baringkan tubuhku ini untuk merilekskan keadaan tubuhku yang sedikit penat. Pikiranku mulai kemana-mana dan tidak tenang. Rupanya pergi ke kota ini juga masih saja bertemu Mbak Meta. Ada apa dengan takdir kehidupanku ini. Aku hanya bisa mendesah lelah.
__ADS_1
Bersambung... maaf babnya pendek!