Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Diusir


__ADS_3

Sudah setengah jam sejak pesan singkat itu ku kirim, namun belum dibaca juga oleh tuan Angga. Aku memutuskan untuk tidur. Tubuh ku memang lelah, beberapa kali aku menguap. Namun aneh nya sukar sekali untuk terlelap.


Kupandangi adik- adik ku yang tertidur lelap. Aku tersenyum melihat mereka. Aku tidak akan biarkan mereka sampai putus sekolah. Sebisa mungkin aku akan menyekolahkan mereka sampai lulus kuliah. Itu tekat ku dari dua tahun lalu saat aku gagal lanjut kuliah karena tidak ada biaya.


Aku jatuh tertidur, rasanya hanya beberapa saat saja aku terlelap. Dan terbangun saat mendengar suara ribut - ribut dari depan rumah kontrakan. Emak dan adik- adik juga ikut bangun. Kami berempat segera keluar dari kontrakan.


Di depan sudah menunggu ibu pemilik rumah dan dua orang pria bertubuh besar.


"Akhirnya kalian bangun juga. Saat ini juga aku minta kalian pergi dari rumah ini! Cepat... pergi sekarang juga!!" Kata si pemilik kontrakan sambil berkacak pinggang.


"Bu Tini... saya mohon... jangan usir kami. Kemana kami akan pergi?" Emak segera menghampiri bu Tini dan memohon ke padanya.


"Air mata mu tidak ada guna nya. Aku sudah cukup baik menerima kalian menyewa rumah ku. Sudah banyak gosip ku dengar tentang keburukan kalian. Aku menebalkan telinga, menganggap itu semua cuma fitnah. Tapi ini sudah ada bukti, kalau kalian benar- benar keluarga yang sangat buruk. Kamu pasti mendidik anak mu tidak benar karena kamu pun bukan wanita baik- baik. Kamu sengaja mengajari anak mu jadi pelakor??? Ibu macam apa kamu ini!!! Sekarang aku mau kalian semua angkat kaki dari rumah ini. Sekarang juga!! Aku tidak mau kena sial karena ada pelakor menyewa rumah ku.!"


"Bu Tini... ku mohon jangan usir keluarga saya. Kalau Ibu tidak suka pada saya, biarkan saya saja yang pergi dari rumah ini. Ku mohon Bu. Kasihani mereka tidak bersalah. Kemana mereka nanti akan pergi? Tolong lah bu... kumohon biarkan emak dan adik- adik saya untuk sementara tinggal di sini sampai saya bisa mencari rumah baru." Aku pun ikut- ikutan memohon belas kasihan dari bu Tini.


"Cepat kalian pergi dari sini. Aku tidak mau lagi ditipu oleh kepolosan kalian. Dasar munafik...!" Cih... Bu Tini sengaja meludah di dekat kami. Hati ku jadi panas. Aku tidak mau Emak ku di permalukan orang lain sedemikian rupa.


"Bu Tini, kenapa ibu sampai memperlakukan kami seperti ini? Kami memang belum membayar uang kontrakan satu bulan ini. Kami baru dapat uang Bu, saya akan bayar sekarang juga." Aku hendak masuk ke dalam rumah saat bu Tini menahan tangan ku.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti sama sekali. Ana.. kamu sudah kuanggap anak sendiri. Aku juga yang selalu meminta Sella untuk bisa berteman dengan mu. Tapi aku benar- benar tidak menyangka kalau kamu tidak punya moral sama sekali."


Bu Tini meluapkan rasa kecewa nya pada ku. Aku benar- benar di buat bingung oleh nya.


"Apa maksud bu Tini?" Tanya ku memprotesnya.


"Lihat ini baik- baik, apa kamu masih bisa memberi penjelasan?"


Bu Tini menyodorkan hp nya yang sedang memutar vidio pertikaian ku dengan mak lampir kemarin siang.


"Kamu bingung dari mana aku bisa dapat vidio itu bukan? Asal kamu tahu vidio mu sudah viral dimana- mana. Sukurlah aku tahu sekarang, kalau lebih lama lagi aku tidak tahu pengaruh buruk apa lagi yang kamu berikan pada Sella." Kata- kata bu Tini sangat menyakitkan ku.


"Bagus benar ya otak mu... Sella sudah sering kali membantu mu. Berapa kali Sella memunjamkan uang pada mu tapi tak juga kau kembalikan. Sella tidak pernah menagih mu bukan? Dan sekarang kau malah menjelek- jelek kan Sella??!!"


"Sudah... keluarkan semua barang pelakor ini. Saat ini juga mereka harus keluar dari rumah ku.!" Teriak bu Tini menyuruh kedua orang tukang pukulnya.


Dua orang itu langsung masuk ke rumah, menyeret semua baju- baju dan barang- barang kami keluar rumah. Aku hanya bisa menangis, hati ku teriris pilu. Aku tidak menyangka sama sekali kalau Sella yang kuanggap sahabat. Memfitnah ku sebegitu rupa. Aku menangisi satu- satu nya orang yang kuanggap sahabat itu. Sella masih ada hutang pada ku dua juta. Itulah sebabnya aku belum bisa membayar uang kontrakan. Tapi dia malah membalik kan fakta kalau aku yang punya hutang pada nya.


Emak dan adik- adik ku terus menangis sambil mereka merapikan barang- barang kami yang telah dikeluarkan dari rumah. Aku hanya bisa terdiam, kebaikan ku telah dibalas kejahatan oleh Sella. Kenyataan itu benar- benar melukai ku terlalu dalam.

__ADS_1


"Kunci pintunya!" Kata bu Tini begitu melihat semua barang- barang kami telah dikeluarkan dari rumah.


"Dengar ya Ana... jam tujuh, kalian harus sudah pergi dari sini. Kalau kalian masih juga berkeliaran di kampung ini. Aku akan menyuruh orang sekampung untuk mengusir kalian!" Bu Tini dan kedua tukang pukulnya berlalu begitu saja.


Setelah mendengar ancaman bu Tini, seketika badan ku lemas. Aku tidak tahu kemana akan membawa keluarga ku pergi. Kami tidak ada keluarga satu pun di Jakarta ini. Keluarga besar kami di Semarang. Apakah kami lebih baik kembali ke Semarang?


Tidak... kami tidak bisa pergi dari Jakarta. Sebelum meninggal bapak telah memberi wasiat kepada kami untuk tetap bertahan di Jakarta apa pun yang terjadi. Beliau mengatakan, kehidupan kami akan membaik nanti asal kami bisa bertahan di ibu kota.


Air mata ku mengalir deras. Aku terisak mencoba menahan tangis keluar dari bibir ku. Emak segera memeluk ku memberikan semangat kepada ku. Nita dan Doni ikut- ikutan memeluk ku, membuat ku semakin terharu. Tangisan kami pecah.


Tiba-tiba ada panggilan masuk di hand phone ku. Aku benar- benar kesal saat melihat tuan Angga mem-vc ku. Terpaksa ku angkat panggilan nya.


"Ada apa?" Tanya tuan Angga begitu ku angkat panggilannya. Rupanya tuan Angga melihat mata ku bengkak efek tangisan ku.


"Hiks...hik... kami di usir dari kontrakan." Kata ku spontan.


"Tunggu setengah jam, Ku suruh Deni ke sana!" tuan Angga langsung mematikan vc nya.


"Emak, Nita, Doni maafkan Ana... semua ini terjadi karena kesalahan Ana." Aku tak kuasa saat menyampaikan penyesalan ku pada keluarga ku. Karena kebodohan ku. Mempercayai seorang Sella, keluarga ku menjadi korban.

__ADS_1


__ADS_2