Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Season 2 Kemarahan Aldin


__ADS_3

Aldin senang melihat Nara makan begitu lahap. Rupanya Nara sangat lapar. Tadi ditinggal di apartemen, Nara tidak ditinggali makanan. Hanya beberapa bahan sayuran dan ikan mentah di dalam kulkas.



"Bagaimana, racun dalam minumannya apakah sudah bereaksi?" Melihat minuman yang disajikan Aldin tadi sore sudah hilang ditelan bumi, Aldin mencoba menjahili Nara. Nara diam, tadi saat mengerjakan tugas dari Aldin dia sangat haus dan lapar. Namun tidak ada makanan yang tersisa di dalam kulkas, terpaksa Nara meminum minuman yang dihidangkan Aldin walau dengan perasaan takut dan ragu.



Saat diminum sampai tandas, Nara tidak merasakan reaksi apa-apa. Maksudnya reaksi yang sering dia baca seperti adegan di novel-novel terkenal. Dimana si lelaki menjebak perempuannya dengan segelas minui yang dibubuhi obat pingsan atau sejenisnya akan tetapi setelah kurang lebih setengah jam, keadaan Nara masih sehat dan bugar. Malah dia nampak segar dan tenggorokannya tidak kering lagi.



Nara menunduk malu tidak berani menatap wajah Aldin yang sedang menatapnya. "Minumannya segar, makasih ya, Kak," ucap Nara akhirnya.



"Kamu sangat lapar ya?" Nara merasa jengah ditanya Aldin terus. Dia hanya mengangguk. "Bicaralah, jangan menunduk dan hanya mengangguk. Aku di sini dan bukan di lantai yang kamu lihat itu!" sergah Aldin membuat Nara kaget.



Nara perlahan mendongak dan sekilas menatap Aldin. "Kenapa kamu malu-malu, jawab saja pertanyaanku."


"Pertanyaan yang mana, Kak?" Nara memberanikan diri.

__ADS_1


"Sepertinya, tadi kamu sangat lapar sampai-sampai makannya begitu lahap?" Mendengar Aldin berkata seperti itu membuat Nara semakin malu saja.



"Iya, Nara sangat lapar, Kak. Habisnya di rumah mewah ini tidak ada makanan. Orang kaya tapi makanan saja pelit," jawab Nara telak mengena ke dalam hati Aldin.


"Mulai berani dia," guman Aldin dalam hati.


Sebetulnya Aldin suka dengan gaya cuek dan apa adanya Nara. Nara tidak jaim dan sangat bersahaja. Itu nilai plus Nada di mata Aldin.



"Kamu, tadi sholat?" Nada mendongak dan menatap ke arah Aldin. Hati Nara bertanya-tanya kenapa Aldin menanyakan itu.



"Tidak apa-apa, aku hanya tidak yakin kamu taat melakukan ibadah," bantah Aldin yang berhasil membuat Nara tersinggung.


"Nara Muslim, Kak. Jadi setiap Muslim wajib melaksanakan ibadah lima waktu," balas Nara membuat Aldin menatap salut.


"Mengenai laporan keuangan tadi, apakah kamu menemukan kejanggalan?" Aldin mengalihkan pertanyaan.


__ADS_1


"Banyak, dan hampir seluruh map mengalami kejanggalan," tukasnya membuat Aldin terbelalak.


"Benarkah, seperti apa itu?"


"Dana yang masuk tidak sesuai dengan barang yang dikeluarkan," sahut Nara apa adanya.


"Kurang ajar, siapa yang berani bermain-main dengan Aldin Aldama?" Aldin mengepalkan tangannya kesal. Amarahnya terlihat memuncak. Nara khawatir Aldin akan ngamuk di situ.



"Kak Aldin!" Nara mencoba membuyarkan pikiran Aldin. Nara takut tiba-tiba Aldin ngamuk kesetanan, dia takut kena sasaran ngamuknya Aldin.



"Kak Aldin, antarkan Nara pulang!" mohon Nara ketakutan.


"Diamlah, aku sedang pusing. Jadi, kamu diam dulu. Masalah pulang itu bisa diatur. Kamu bisa pulang jam 10 malam disesuaikan dengan jam kepulangan di Supermarket," jelas Aldin. Nara tidak bisa membantah lagi, sebab memang pada kenyataannya kepulangan dia dari Supermarket adalah jam 10 malam. Apa jadinya jika dia pulang sebelum jam segitu, bisa dipastikan Bapak dan Ibunya curiga. Dan dipastikan akan banyak bertanya.


"Aku akan memberimu bayaran yang setimpal, jadi bersabarlah untuk minta pulang sampai jam 10 malam," tukas Aldin. Nara hanya bisa patuh walaupun hatinya kesal.



"Pergilah tidur, kamu bisa tidur dulu di kamar aku. Dua jam lagi aku antar kamu pulang," titah Aldin tidak bisa dibantah. Akhirnya Nara menuju kamar yang tadi dipakainya memeriksa laporan keuangan perusahaan Adrian Wood.

__ADS_1


__ADS_2