Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Kantor Adrian Wood


__ADS_3

Mas Sakti membawaku ke dalam mobil, membukakan pintu dan mempersilahkan masuk. Aku melihat Mas Sakti diam saja tidak heboh seperti biasanya. Aku yakin sikap Mas Sakti tidak lepas dari apa yang dilihatnya tadi. Mas Sakti cemburu. Dan Mas Sakti salah paham. Kenapa juga aku selalu dipertemukan dengan Mas Raka?


"Mas, kita mau ke mana?" tanyaku heran karena Mas Sakti tidak mengarahkan mobilnya ke arah kota Dingin. Mas Sakti diam tidak menjawab. Aku jadi serba salah dan salah tingkah dibuatnya.


"Aduhhh...awwww.... sshh....!" Aku tiba-tiba mengaduh diiringi desisan orang yang biasa merasakan kesakitan. Mas Sakti tiba-tiba menghentikan dan mobilnya. Dia terlihat sangat was-was dan panik.


"Kenapa, sayang?" tanyanya sambil meraih tanganku lalu meraba perutku, diusapnya perlahan dan aku seketika merasakan kenyamanan saat jemari Mas Sakti mengusap perutku yang belum buncit.


Bibirku senyum-senyum dibalik aksi peduli dan panik Mas Sakti. Wajah tampan itu mendekat dan semakin dekat. Rupanya berdekatan dengan orang tampan dan wangi itu sangat menyenangkan, aku seperti ingin menciumnya, lalu....


"Cuppp....!" Ciuman panjang itu aku labuhkan di pipi bercambang tipis milik Mas Sakti. Rasanya seperti mencium seorang pacar. Deg-degan dan jantung bergejolak. Memang, saat pertama kali Mas Sakti mendekatiku, aku begitu menyukainya karena dia pria yang wangi dan tampan, terlebih saat itu Mas Sakti sangat berani mendatangi rumah dan melamarku pada Ibu. Sehingga waktu perkenalan yang cuma dua bulan dirasa cukup, dan Mas Sakti segera melamarku.


Mas Sakti sangat terkejut sekaligus senang mendapat serangan mendadak dariku. Dia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah manis dariku. Kurang lebih 30 detik aku mencium pipi Mas Sakti. Rasanya tidak ingin aku lepaskan, namun karena ini sedang di jalan, jadi terpaksa aku lepaskan.


Mas Sakti membetulkan posisi duduknya dan kembali sudah berada di belakang kemudi.


"Kamu nakal ya! Awasss nanti pulang ke rumah, giliran Mas menghukum kamu. Lihat saja nanti, kamu tidak akan berkutik, sayang!" ancam Mas Sakti membuat bulu kudukku meremang.


"Jadi, sekarang kita kemana Mas?" Mas Sakti melirikku sejenak lalu fokus kembali dengan kemudinya.


"Adrian Wood," jawabnya singkat.


"Perusahaan atau merek dagang, Mas?" tanyaku kurang paham.

__ADS_1


"Itu sebuah perusahaan, Sayang. Perusahaan milik Papanya Aldin yang kini turun temurun. Dan inilah saatnya Aldin memegang tampuk kekuasaan sebagai CEO.


"Memangnya perusahaan yang Kak Aldin pimpin, bergerak di bidang apa, Mas?"


"Tumben kamu banyak nanya, kamu mau ikutan gabung dengan Adrian Woods?".


"Tidak, Nafa hanya bertanya," elakku merasa kesal. Mas Sakti merasa menang atas sikap keselku.


"Sayang... kenapa sih kamu tambah gemas, Mas jadi tidak sabar untuk segera pulang ke rumah," celetuk Mas Sakti seraya menatap wajahku yang sudah merah padam.


"Mas awas.... !" pekikku membuat Mas Sakti terkejut dan menghentikan mobilnya mendadak.


"Ada apa sayang....!" Mas Sakti mengerutkan keningnya penuh tanda tanya.


"Sayang... kamu nipu aku lagi ya? Awas ya, nanti pulang ke Villa, Mas lahap habis!" Mas Sakti mengancam lagi dengan muka yang berubah BT. Aku merinding ketakutan sekaligus ketawa hambar.


Mobil memasuki sebuah bangunan persis pabrik. Bangunan berlantai tiga itu memiliki nama Adrian Wood. Dari pintu belakang keluar truk pengangkut kayu hilir mudik. Pernah mendengar, perusahaan Adrian Wood ini adalah sebuah perusahaan kayu terbesar di kota ini dengan pengiriman barang sampai ke pelosok negeri. Bahkan ke mancanegara. Rupanya salah satu pemiliknya adalah keluarga terdekat dari suamiku, Mas Sakti.



Mobil telah terparkir dengan baik di halaman parkir. Mas Sakti segera turun dan memutar lalu membukakan pintu untukku. Manis banget, seperti dalam adegan drakor saja. Jemariku diremat dan menaut satu sama lain. Jadilah kami sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara berjalan memasuki gedung pabrik.


__ADS_1


Memasuki gedung pabrik, saat melewati ruangan Resepsionis, Mas Sakti mengisi dahulu daftar buku tamu. Lalu kami kembali berjalan menuju lantai tiga, ruangan CEO. Untuk menuju ruangan CEO kami harus melewati ruangan office. Sejenak Mas Sakti bertegur sapa dengan salah satu staf Office tersebut.



"Selamat siang Pak Sakti!" sapanya hormat. Mas Sakti membalas dengan anggukan lalu berlalu menuju lift.


"Mas... jangan!" Cegahku ketika Mas Sakti akan menekan tombol angka 3 di pinggir lift.


"Nafa kan sedang hamil muda, Nafa takut ada guncangan yang bisa meng....!"


"Sudah... jangan bicara yang tidak-tidak!" potong Mas Sakti cepat lalu segera masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


Lift berhenti tepat di lantai 3. Aku mengucap Syukur sebab saat di lift tadi tidak terjadi hal yang menakutkan, terlebih Mas Sakti meremat jemariku memberiku kekuatan.



Kami memasuki sebuah lorong menuju ruangan CEO, butuh waktu 3 menit dari lift, kami sudah tiba di depan pintu CEO. Pintu terbuka otomatis dan kami langsung memasuki sebuah ruangan yang bagus dan keren. Ruangan yang didominasi warna gold ini kesannya sangat mewah namun metalik, mirip karakter Kak Aldin yang kadang metal. Tidak jarang jika sudah bersentuhan dengannya aku selalu dibuatnya kesal dan BT, namun CEO yang satu ini tidak terbantah. Bahkan aku lebih takut pada Kak Aldin daripada ke Mas Sakti suamiku sendiri. Kak Aldin memang menyeramkan.



"Sakti....!"


"Halo Bro....!"

__ADS_1


"Nafa... kenapa dia ikut?" tanyanya antagonis.


__ADS_2