
Angga menyambar hand phone nya ia segera membuat panggilan.
"thut.... thut... thut..." panggilan terhubung, beberapa saat kemudian suara asistennya terdengar parau.
"Ya tuan.... ada apa?" Suara Deni terdengar lemah, ia pun menguap menahan kantuk. Sebenarnya ia sangat terganggu dengan panggilan telephon bos nya yang tak kenal waktu. Namun ia tidak bisa mengabaikan nya, bagaimana pun juga ia hanyalah seorang karyawan. Ia harus meladeni Angga, suka atau tidak suka.
"Mana hasil pencarian mu? kenapa sampai lebih seminggu belum juga dapat kabar mengenai Ana? Sebenar nya kamu kerja apa tidak sih? Kalau besok tidak juga ada laporan. Kamu pasti ku pecat!!!"
Angga langsung memutus panggilan nya. Ia sangat marah, tidak biasanya Deni selambat ini. Biasanya Deni lah yang dapat diandalkan nya dalam segala situasi. Kerja nya cepat dan akurat.
Tapi kenapa hanya urusan seorang wanita lemah seperti Anarista, ia tidak bisa menemukannya? Bahkan sampai dua minggu tidak ada kabar sedikit pun? Ia termenung di pinggir ranjang nya. Mengingat mimpi yang barusan dialaminya.
Ia bermimpi melakukan hubungan dengan Ana. Aneh sekali rasanya begitu nyata. Bahkan ada cairan basah membekas di celana dalam nya.
"Ana... kemana kamu pergi? Ana... aku merindukan mu. Kembalilah An... aku tidak akan berbuat jahat pada mu lagi. Aku hanya ingin bersama mu selalu." Desah nya sambil melihat foto- foto Ana di galeri hand phone nya.
Angga menciumi foto Ana. Dua minggu ini ia seperti orang gila. Ada kerinduan yang mengganggunya, membuatnya gusar. Tidak bisa melakukan apa pun dengan benar.
Bayangan Ana selalu datang, seakan Ana ada dimana- mana namun ia tidak bisa menjangkau nya.
Jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia tidak bisa lagi memejamkan matanya. Akhirnya ia memutuskan meminum segelas wine koleksinya. Bukan Wine biasa melainkan wine dengan harga selangit. Henry Jayer Cros Parantoux, hadiah yang didapatnya dari kolega nya di Inggris. Sebotol fermentasi anggur itu berharga fantastis, sekitar enam puluhan juta.
Kali ini wine mahal itu tidak bisa memberi ketenangan baginya. Ana lah penyebab nya. Yang telah membuat nya dimabuk cinta. Membuatnya galau dankehilangan semangat saat jauh dari nya.
Apa sebab nya Ana tiba- tiba lari dari nya? Angga tidak benar- benar ingat apa yang terjadi sebelum nya. Ia hanya ingat, kalau ia cemburu pada Ana. Di saat makan siang Ana bertemu dengan mantan kekasih nya. Angga melihat dengan jelas, bagaimana pria itu merayu istrinya.
Bahkan yang paling mengesalkan, Ana menangisi pria itu. Itulah yang paling menyakiti hati nya. Angga merasa dijatuhkan harga diri nya, bagaimana mungkin istrinya menangisi pria lain?
Sekali lagi Angga mengisi gelas nya yang hampir kosong. Ia menatap nanar foto pernikahan mereka. "Ana sangat cantik, senyumnya, tubuhnya... " desah Angga ia terhuyung hampir jatuh saat melangkah mendekati foto itu.
"Ana kenapa engkau meninggalkan ku? Apakah engkau lari dengan pria itu?" Geram Angga sambil memukulkan tangan nya di samping foto Ana.
Angga terduduk... ia menangis tergugu, seperti seorang anak yang kehilangan mainan kesayangan nya.
"Ana... kembalilah An... aku merindukan mu..., pulang lah An.... aku akan mencintai mu, aku akan memberi kebahagiaan lebih dari yang dapat diberikan pria itu!" Teriak nya kalut.
Hatinya sudah dikuasai oleh obsesi nya pada Ana. Dan saat Ana pergi dari nya, ia begitu terpukul. Seakan hidupnya tidak ada artinya lagi.
Angga melemparkan gelas kosongnya ke sembarang arah. Ia pun berteriak penuh kemarahan.
"Aaaaaaa....ghr!!!" Geram Angga membahana.
Saat ini ia begitu geram sekaligus putus asa karena tidak berhasil melacak keberadaan Ana.
Di luar pak Jodi sudah bersiap di depan pintu. Ia terbangun saat mendengar suara kaca pecah dari kamar tuannya. Ia melihat ke dalam kamar Angga dari celah pintu yang tak tertutup rapat. Pak Jodi menghela nafas melihat tuan nya mabuk. Sudah seminggu ini Angga telah kembali menjadi Angga yang terpuruk seperti setahun lalu.
Air mata menitik membasahi pipi nya yang mulai keriput. Ia sudah mengenal Angga sejak bayi. Bahkan ia sudah menjadi pembantu di rumah keluarga Wijaya sejak orang tua Angga menikah. Ia juga yang menjadi saksi bagaimana Angga kecil menghadapi masa- masa sulit. Saat orang tuanya bertengkar, ia juga yang selalu jadi sasaran.
"Tuan Angga.. semoga engkau segera menemukan nona Ana, dan hidup bahagia bersama nya." Bisik lirih pak Jodi. Ia segera kembali ke kamar nya, setelah memastikan keadaan Angga baik- baik saja.
Angga terduduk lesu, kadar alkohol dalam darah nya belum juga membuatnya pingsan. Ia masih terjaga dan bayangan Ana menghampirinya. Ana memberikan ciuman malu- malunya pada bibir nya.
Angga bahagia, ia memeluk Ana erat. Hingga ia tertidur beralas karpet.
***
__ADS_1
Pagi hari yang cerah di desa Segumbang Batulicin. Suara kokokan ayam jantan menyambut semburat mentari diujung timur.
Warga desa sudah berbondong- bondong berangkat ke kebun mereka. Ada yang menyadap karet dan ada yang berkebun sayuran.
Suasana di rumah kecil paling ujung jalan pun tak kalah heboh. Pagi- pagi benar emak sudah mengeluarkan jurus kungfunya. Gemelotak di dapur lah tandanya.
Sepertinya hobi emak tak pernah berubah. Mulai kami tinggal di Jakarta sampai kami terdampar di desa kecil ini, beliau selalu berisik saat masak. Dengan sengaja diketok- ketokkan nya alat penggorengan. Atau kalau sedang mencincang bumbu sengaja dilakukan nya dengan kekuatan super. Apalagi kalau emak sedang cuci piring, pasti berisik banget. Semua itu dilakukan untuk membangunkan kami.
Aku pun terpaksa bangun dari tidur ku. Padahal semalam- malaman aku memimpikan suami monster ku itu. Baru subuh tadi aku bisa sebentar terlelap. Mata ku masih berat saat aku nyamperin emak di dapur.
Biasanya aku dilarang ke dapur. Emak paling tidak suka dibantu saat masak, katanya dapur terlalu sempit membuatnya tidak bebas bekerja kalau ada yang di dapur juga.
"Mak... pagi benar sudah masak?" Tanya ku berbasa- basi.
"Iya, supaya pagi ini kita bisa mulai membersihkan halaman depan. Rumputnya terlalu tinggi, takut nya dibuat sarang ular." Kata emak masih dengan kesibukannya memasak.
Ia menggoreng ikan asin, sambil menguleg sambel. Aromanya menyebar ke mana- mana membuat perut ku terasa lapar. "Ku bantu ya mak... sepertinya emak repot sekali." Kata ku sambil meraih sotil.
"Gak usah An... cuci muka aja sana dan mulai bersihkan rumput di halaman depan!" Perintah emak tak dapat ku bantah. Aku segera ke kamar mandi sederhana di belakang rumah mencuci muka. Nita dan Doni di belakang ku mengikuti.
Kami bertiga mulai membersihkan rumput. Aku menyabit rumput, sementara Nita dan Doni mencabut rumput yang tinggi.
Rasa kantuk yang tadi menggelayut di pelopak mata langsung sirna. Suasana desa sangat jauh berbeda saat kami masih di kota. Di sini udara terasa sangat sejuk, membuat nafas terasa lega. Di balik kesederhanaan dan terpencilnya desa ini namun sekaligus menawarkan kedamaian yang tak pernah ku rasakan di kota.
Dalam waktu singkat, halaman depan bersih dari rumput liar. Bersamaan emak memanggil kami untuk segera makan.
Menu sarapan kami masih sama seperti kemarin. Nasi putih, ikan asin goreng dan sambal. Namun pagi ini sedikit berbeda karena ada rebusan daun singkong. Kami makan sangat lahap. Rasa makanan kami disini sangat lezat. Padahal ini menu kami sehari- hari di Jakarta.
Mata ku berkaca- kaca melihat Doni dan Nita yang dengan lahap menghabiskan makanan nya. Beberapa waktu lalu kehidupan kami sempat baik dengan pertolongan Angga. Namun saat ini kami harus menjalani kehidupan berat seperti ini lagi?
"Ana... makan yang banyak..." tawar emak menyodorkan sayuran ke depan piring ku. Aku hanya mengangguk.
"Hari ini kita akan mulai berkebun. Halaman belakang itu kata pak Sugeng boleh ditanami. Orang- orang sini jarang yang bertanam sayur karena mereka lebih suka menggarap sawit perusahaan. Kata pak Sugeng di belakang juga ada sungai kecil yang airnya tidak pernah kering meskipun kemarau. Sangat bagus memelihara Nila goreng." Kata emak bersemangat. (autor ngantuk jadi salah ketik, mana bisa pelihara Nila goreng? tapi lucu juga kalau dilanjut heheheh langsung semangat ngetik lagi ini)
"Mak... kalau gitu bisa langsung dimakan?" Tanya Doni keheranan.
"Ah... emak salah ngomong, maksud nya ikan Nila." Ralat emak. Membuat kami langsung tertawa.
"Pelihara ikan nya gimana mak? Apakah bisa dapat bibit sama pakan nya disini?" Tanya ku memastikan rencana emak.
"Mungkin mesti beli ke Banjar." Kata emak meragu. "Nanti ku tanya sama pak Sugeng aja. Siapa tahu dekat- dekat sini ada yang jual bibit ikan." Kata emak penuh ide.
"Iya mak... nanti ikan nya di bakar terus di kasih kecap. Pasti enak ya mak, kayak waktu kita makan di restoran." Doni langsung membayangkan makanan yang pernah dimakan nya direstoran saat ia sakit.
"Iya.. kalau ikan nya sudah besar baru bisa kita masak." Kata emak.
Nita segera membawa piring kotor untuk di cucinya di sumur. Aku yang membantu menimba air. Di sini belum ada PDAM bahkan listrik juga belum ada. Jadinya semua harus dilakukan dengan manual. Seperti menimba air ini. Telapak tangan ku terasa sakit karena tergesek tali karet katrol timba.
"Mak... kamar mandinya berlubang semua. Bagaimana kalau ada yang mengintip saat kita mandi?" Keluh ku saat kami istirahat di teras depan.
"Kita buat penutup dari daun kelapa. Nanti kita minta seseorang mengambilkan daun kelapa. Sementara Ana dan Nita gantian saling menjaga saat mandi." Kata emak memberi solusi.
Emak mengambil cangkul dari belakang rumah. Cangkul milik anak pak Sugeng yang sengaja ditinggal.
Emak mulai mencangkuli tanah. Baru tiga kali cangkulan tampak terengah- engah. Aku menggantikan nya mencangkul tanah. Sampai tengah hari kami hanya berhasil membuat satu balur. Kalau diukur kurang lebih satu kali enam meter.
__ADS_1
Punggung ku terasa pegal sekali. Matahari juga menyengat kulit. Kami pun memutuskan untuk beristirahat. Karena capek, aku dan emak tertidur sampai sore.
Saat aku bangun, emak sudah heboh di dapur. Saat ku lihat apa yang dimasak emak membuat ku melongo. Emak memasak jantung pisang. Apakah bisa dimakan? Tanya ku dalam hati. Karena selama ini belum pernah aku memakan nya.
Saat masak jantung pisang itu lebih mirip orek teri. Awal nya agak sangsi saat mulai memakan nya. Tapi ternyata enak juga. Membuat ku nambah terus. Sementara Doni lebih memilih ikan asin nya.
"Mak... ternyata berat ya nyangkul?" Kata ku membuka percakapan, saat kami sudah duduk santai di teras rumah.
"Ya... berat jadi petani, perlu perjuangan panjang sebelum memetik hasil nya." Jawab emak memberi semangat.
Emak melanjutkan merapikan galuran yang baru selesai di buat tadi. Dibuang batu- batu dan rumput- rumput kering nya. Aku hanya mengawasi dari teras rumah. Badan ku benar- benar sakit semua.
Pak Sugeng datang membawakan sekarung pupuk kandang. Ia mengatakan pada emak untuk mengambil sendiri di kandang kambing pak Sugeng kalau masih kurang.
Tak berapa lama, bu Sugeng datang menyusul. Ia membawa sepiring singkong rebus. Kelihatannya enak sekali tapi karena perut ku sudah terlalu kenyang. Membuat ku urung memakan nya.
Sepanjang sore, aku hanya berbaring di kamar merasakan pegal di sekujur tubuh ku.
***
"Tuan baru ini hasil yang kami dapat" kata Deni sambil menyodorkan sebuah amplop coklat seukuran kertas kuarto.
Angga segera menerimanya dan memeriksa isinya. Dua buah foto yang tidak terlalu jelas. Sepertinya diambil dari kamera cctv.
"Apa ini?" tanya Angga minta kejelasan dari Deni. Padahal disetiap foto sudah diberikan keterangan lengkap.
Angga sepertinya tidak puas dengan laporan tertulis saja. Ia ingin laporan yang levih terperinci dan jelas. Hal ini sering membuat Deni jengkel, kalau saja gajinya tak sebesar yang sekarang ia pasti memilih pekerjaan lain. Lebih tepat nya bos lain.
"Foto itu diambil dari kamera cctv. Foto yang pertama itu berlokasi di kawasan pertokoan A. Tanggal dan jam sesuai yang tertera di keterangan foto.
Angga mengeryit tidak mengerti, jelas- jelas gadis di dalam foto berambut pendek tidak seperti rambut istrinya yang panjang.
"Ya... sejauh ini baru itu info yang kami dapatkan. Kemungkinan nya nona Ana dan keluarga nya menyamar untuk keluar kota. Para detektif yang kita sewa terus berusaha menggali informasi sebanyak- banyak nya. Bila ada perkembangan, mereka nanti akan segera memberi kabar." Lapor Deni.
"Baik lah... sekarang kamu bisa kembali ke kantor, bereskan semua urusan. Besok aku akan kembali kerja." Kata Angga sambil menyambar amplop coklat itu. Dibawanya menuju ke kamar tidur nya.
Deni mengumpat kesal melihat bos nya yang seenak nya sendiri. Ia pun cepat- cepat pergi dari rumah Angga. Ia sudah punya acara kencan, hari ini ia akan pulang lebih cepat. Masa bodo dengan Angga, ia pun ingin menikmati masa muda nya.
Deni melaju kencang menuju ke sebuah rumah mewah di kawasan Kelapa Gading.
"Selamat sore tuan Doni," sambut pelayan saat membuka pintu.
"Nyonya di mana?" Tanya Deni pada pelayan yang membukakan pintu.
"Di kamar nya tuan. Apakah perlu saya panggilkan?" Tanya sang pelayan lagi.
"Tidak usah, tadi nyonya sendiri yang menyuruh ku langsung ke kamarnya." Jawab Deni seraya melangkah menuju kamar utama.
Deni berhenti agak lama sebelum mengetok pintu. Ia perlu mengatur nafas demi terlihat berwibawa di depan nyonya rumah.
"Tok...tok...tok..." ketuk Deni perlahan. Ia tidak ingin membuat nyonya tuan rumah marah.
Pintu dibuka perlahan, menampilkan sosok wanita cantik dengan gaun tidur transparan. Seketika Deni mengangakan mulut nya. Dari balik gaun tipis itu membayang manik kembar menonjol seakan menantang Deni.
"Sherly... kamu cantik sekali." Desah Deni menahan hasrat yang telah menjalar sampai ke ubun- ubunnya.
__ADS_1