
Steak Ayam yang ku pesan rasanya seperti sandal jepit. Benar- benar, aku tidak bisa menikmati makan siang pertama ku bersama Angga. Semua ini karena keganjenan Bu Dita yang terus menerus menggoda suami ku.
Aku ingin menarik Dita menjauhi Angga. Tapi itu tidak mungkin kulakukan, karena aku hanya seorang istri simpanan. Bisa dikatakan istri rahasia, Bos Besar Angga. Aku hanya bisa mendengus marah dalam hati, berusaha tetap tenang dihadapan orang lain. Aku mulai berfikir, berapa lama aku harus berpura- pura seperti ini?
Berpura- pura tidak ada hubungan dengan Angga, membuat wanita- wanita ganjen itu seperti lalat yang datang mengerumuni Angga. Menggodanya tanpa rasa dosa. Angga pun sepertinya menikmati saat aku menahan cemburu karena ulah wanita- wanita itu.
Aku harus lebih sabar agar bisa melakukan peran ku dengan baik. Di rumah Angga memang suami ku, tapi di luar rumah dia adalah bos besar ku. Aku tidak boleh melakukan hal- hal aneh. Karena itu bisa membuat orang curiga pada ku. Sehingga mereka akan terus mengorek kebenaran ku. Dan ini akan menempatkan ku pada kesulitan yang tidak perlu. Sebaiknya memang aku harus segera pergi dari sini, sebelum aku melakukan kesalahan. Tapi belum ada celah yang bisa ku gunakan sebagai alasan. Agar aku bisa meninggalkan foodcenter ini, membuat ku tidak nyaman dan serba salah.
Aku hanya bisa berpura- pura menikmati makan siang ku, walaupun rasanya seperti menelan duri. Beberapa kali Bu Dita menghapus bibir Angga dengan tissue. Berpura- pura membantu membersihkan bibir Angga yang sebenarnya tidak kotor sama sekali.
Melihat keganjenan bu Dita, membuat ku ingin meledak. Namun ku kuatkan hati, ini semua untuk kebahagiaan ku dan Angga kelak. Bu Dita melebarkan senyuman nya pada ku yang terpaku melihat keberaniannya. Aku merasa bu Dita seakan berkata kepada ku. "Lihat.. aku berhasil memikat tuan Angga, kau mestinya tahu diri, hei wanita berstatus rendahan."
Aku mengerjapkan mata, berusaha membuang segala pikiran yang mengintimidasi dan membuat ku tak percaya diri. Ku coba mencuri pandang pada Angga. Ia begitu ramah meladeni candaan Dita. Benar- benar membuat ku jengkel. Apakah Angga tidak menyadari kalau bu Dita sengaja melakukan pendekatan padanya? Atau kah ini memang disukai Angga?
Ada desir perih dalam hati ku. Apakah ini yang nama nya cemburu? Tidak... aku tidak boleh menunjukkan kecemburuan ku. Aku tidak mau dipandang rendah karena berani mencemburui Angga. Aku percaya, Angga tidak akan menghianati ku.
Tiba- tiba hp ku berdering. Panggilan dari Angga. Membuat ku jengah, padahal kami duduk berhadap- hadapan. Apa maksud Angga menelephon ku? Mungkin ia bermaksud mengusir ku dari sini? Aku segera berdiri dan minta ijin pada mereka untuk menerima panggilan.
"Maaf... tuan, ibu Dita...saya permisi dulu ijin terima telephon" Pamit ku kepada mereka. Angga hanya mengangguk samar, ibu Dita tersenyum penuh makna seperti baru memenangkan kompetisi, sementara Deni tersenyum lebar, sepertinya sengaja menggodaku. Aku berjalan keluar menerima telephon dari Angga. Dari balik kaca kuamati Angga yang dengan santainya menelephon ku di depan bu Dita dan Deni.
"Ya... Honey kenapa menelephon ku? Mau ngajak aku makan siang? Ini aku lagi makan siang bersama karyawan ku." Kata Angga nyerocos sendiri.
__ADS_1
"Darling.....? Ada apa?" Tanya ku bingung.
"Oke... aku segera menjemput mu!" Angga mengakhiri panggilannya. Aku benar- benar gak habis mengerti, apa sih maksud Angga. Tiba- tiba aku merasa ingin buang air kecil. Aku sudah akan segera ke toilet, saat ada orang menyapa ku.
"Ana.... kamu disini juga?" Sapa seorang pria saat berpapasan dengan ku. Suara nya familier. Sepertinya aku mengenal suara lembut dan dalam itu. Aku segera menolehkan kepala mencari sumber suara yang memanggil ku.
Aku terpaku, tidak percaya pada penglihatan ku. Pria di depan ku adalah Rio, teman semasa SMA. Lebih tepat nya, cinta pertama ku. Namun sayang waktu itu aku hanya bertepuk sebelah tangan. Aku menyatakan cinta saat acara perpisahan sekolah, namun Rio menolak cinta ku.
Itu lah pertama dan terakhir aku berani ngomong perasaan ku pada seorang cowok. Membuat ku takut membuka diri pada pria mana pun, takut sakit hati lagi menerima penolakan. Juga rasa malu yang seakan aku tidak ada harga diri lagi.
"Ana... Kamu lupa pada ku?" Rio kembali bertanya. Membuat ku tergagap, sadar dari lamunan ku.
"Hei... i... iya aku ingat, aku di divisi dua." Jawab ku kebingungan memilih kata.
"Ehm... aku baik. Ya seperti ini." Jawab ku kaku. Ini sebuah pertemuan yang canggung buat ku. Meskipun sudah tiga belas tahun berlalu. Aku belum bisa pulih dari rasa malu karena penolakan itu.
"Aku tidak menyangka, kamu jadi semakin cantik An." Kata Rio penuh penyesalan. Aku merasa jengah dengan pujian Rio. Aku menunduk, memainkan jari- jari ku, mencoba menghalau rasa canggung yang tiba- tiba mengganggu.
"Sudah menikah An?" Tanya Rio menyelidik. Aku bingung harus menjawab apa. Aku hanya menggeleng lemah. Bagaimana pun pernikahan ku adalah sebuah rahasia yang harus ditutup kepada semua orang. Tak terkecuali Rio. Karena kalau rahasia ini sampai terbuka, bisa- bisa aku yang dapat kesulitan sendiri.
Saat aku menggelengkan kepala ketika Rio menanyakan apakah aku sudah menikah, Terlihat ada kelegaan terpancar dari raut muka Rio. Aku meragukan penglihatan ku, mungkin saat ini Rio menertawai ku. Karena sejauh ini ia berfikir aku belum bisa move on darinya.
__ADS_1
"Aku baru seminggu dipindahkan kesini. Untunglah akhirnya kita bertemu. Membuat ku tidak benar- benar sendiri." Kata Rio dengan kelegaan yang tidak di tutup- tutupinya. Ia memamerkan senyum manis nya. Senyum yang dulu seperti air yang menyejukkan bagi ku.
"Sudah makan siang?" Tanya Rio sambil menunjuk food center dibelakang ku. Aku tersadar, ada Angga di dalam dan mungkin sedang mengamati ku.
"Ehm... sudah... saya baru selesai makan. Oh iya saya harus segera kembali ke ruangan. Sampai jumpa lagi." Kata ku sambil berlalu. Ku langkah kan kaki cepat- cepat aku harus segera ke toilet. Panggilan alami yang tidak dapat ku tahan lagi.
"An... Ana...." Panggilan Rio membuat ku enggan untuk menanggapinya. Namun ia berhasil menangkap tangan ku dan menggenggamnya erat. Membuat ku terpaksa untuk berhenti. Perlahan ku lepaskan genggaman tangan nya. Aku takut Angga melihat ku dan ia salah paham nantinya.
"Iya ... ada apa?" Tanya ku tak sabar.
"An... boleh minta nomer hp?" Pintanya dengan tatapan tulusnya. Tatapan yang telah memikat ku bertahun- tahun lalu. Setiap kali ada kesulitan tugas, Rio selalu siap membantu ku. Saat aku sedih, dia juga bersedia menghibur ku. Ia juga selalu memberi semangat saat nilai pelajaran ku kurang bagus.
Perhatian dan perlakuan istimewanya pada ku, membuat ku salah mengartikan kebaikannya. Waktu itu ku kira Rio juga mencintaiku. Ternyata aku salah. Dia hanya menganggap ku sebagai teman biasa. Semua baru ku ketahui saat ia menolak cinta ku.
Cinta pertama ku kandas dan layu, saat bunga dihati ku sedang mekar- mekarnya.
Namun aku sudah punya suami yang aku cintai sekarang. Jadi aku tidak perlu lagi sosok Rio. Jadi dengan halus ku tolak permintaannya. Aku tidak ingin membagi no telephon ku padanya. Karena aku sudah punya Angga, dan itu sudah lebih dari cukup.
"Maaf, aku tidak bisa membagikan nomer telephon buat mu. Maaf..." Aku segera berjalan cepat meninggalkannya. Aku takut kenangan menyakitkan itu datang kembali.
Rio terus memanggil nama ku. Namun tidak ku hiraukan. Aku benar- benar sudah kebelet. Aku ingin cepat- cepat ke kamar mandi. Aku ingin menenangkan hati ku yang terasa nyeri. Aku baru menyadari penolakan Rio waktu di SMA benar- benar menorehkan luka yang terlalu dalam. Hingga sampai saat ini masih terasa nyeri saat ia kembali hadir dengan cara yang tak ku duga.
__ADS_1
Aku melampiaskan rasa sakit hati ku dengan menangis. Ya... aku menangisi Rio. Beberapa lama kuhabiskan stok air mata ku untuk memuaskan kesedihan ku. Setelah hati ku terasa lega, segera ku perbaiki make up dan merapikan rambut ku. Aku merasa fresh kembali. Dan memutuskan untuk segera menemui Angga kembali.